Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Adab Wali Murid terhadap Guru Anak-anaknya

Saturday, July 25, 2020
Kita hidup di dunia yang tidak lagi bersekat. Dengan sekali klik, batas-batas tiada. Waktu, jarak, kelas sosial, jabatan, semuanya nggak lagi jadi masalah. Kalo dulu rakyat jelata ngefans sama artis, caranya ya berkirim surat ke PO Box yang ditulisin di tabloid mingguan. Sekarang, siapa aja bisa komen di instagram artis atau public figure dan berkesempatan dibales. Bisa lihat kesehariannya lewat story, bisa tahu real time mereka lagi apa. Sekat dan batas-batas luruh. Tapi ada hal besar yang aku pertanyakan. 

Apa adab nggak lagi berarti karena tidak adanya sekat?

Nggak sekali dua kali aku baca screenshot chat yang diupload ke media tentang orang tua yang komplain ke guru anaknya. Ngeluh sekolah di rumah ribet lah, nanyain tugas lah, nanya nilai lah, you name it segala ada! Ada yang salah sampe sini? Nggak dong. Semua boleh beraspirasi, semua boleh berpendapat, tapi caranya udah bener atau belum?

Ya kalo kamu chat di grup yang ada guru TK atau SD anakmu kaya begini
Bu Guru: Assalamu'alaikum bunda shalihah, pembagian rapor akan dilaksanakan drive thru pada tanggal 25 Juli 2020. Karena itu harap hadir di sekolah pada pukul 08.00 karena antrean pengambilan rapor berdasarkan nomor kedatangan. Berikut surat undangan resminya.
Ibu A: Yaahh.. nggak bisa disatuin sama SMP aja bu? Aku ambil kamis gitu 😂
Ibu B: Besok aja yu A, pulangnya mampir ngabaso heula
Ibu C: Eh ikut doong bakso
Ibu A: Hayu weehh
Ibu B: Gw dateng jam 9 ya, pada tungguin! Awas loh kalo duluan
Ibu A: Oke, 

Etis nggak?
Sebelum ngomongin adab, dilihat dari kacamata mana pun, obrolan kaya gitu nggak pantes ada di grup formal yang anggotanya juga guru.

Di Islam, terkenal banget kalimat "Adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal.", yang artinya sebelum menuntut ilmu, belajar ada dulu hey! Sebelum melakukan sesuatu atau beramal, harus tahu dulu ilmunya hey! Ulama-ulama besar terkenal lebih lama belajar adab dibanding ilmu, soalnya dari adab itu lahir sikap menghormati guru, mau ngosongin gelas buat nampung ilmu baru, menghormati orang lain yang beda pendapat dan nggak debat kusir.

Karena buah dari belajar adab itu akhlak, bukan angka-angka di rapor atau ijazah.

Nah, sekarang sebagai ibu-ibu, ngapain belajar adab dulu baru belajar ilmu? Yah gengs, kalo nggak belajar adab ya jadinya kaya obrolan grup WhatsApp di atas deh jadinya 😏 Ada guru yang berani negur tapi pasti banyak juga guru yang nggak enak hati mau negur so the out of topic and casual chats keep going.



Jadi harus gimana dong adab ke gurunya anak-anak? 
Nih ya, aku jembrengin biar kita jadi ibu keren yang bisa menempatkan diri.
  1. Gunakan bahasa formal saat chat dengan guru
    Meskipun kalo ketemu bahasa ngobrolnya casual, kalo chat tetap perhatikan bahasa ya! Jangan pake gue-lo, jangan juga disingkat-singkat. Cerita susahnya ngajak anak belajar di rumah boleh, ngeluh boleh, lah setiap orang pasti pernah ngeluh kan? Tapi gunakan bahasa yang proper, nggak kaya lagi chat sama temen.

  2. Jangan OOT di grup, apalagi asal forward-forward broadcast, foto dan video
    Paham dong tujuan dibikin grup resmi guru dan orang tua itu tujuannya buat apa, buat menyalurkan info sekolah kan? Bukan buat ajang lomba forward atau upload foto out of topic tentang Covid, politik atau hal lain yang udahlah nggak nyambung sama grup, nggak jelas pula hoax apa enggak.

  3. Kalo anak mau ijin nggak masuk sekolah, sampaikan ijin dengan pantas
    Inget nggak, jaman kita sekolah ijin itu harus pake surat ditulis tangan orang tua, bertanda tangan. Ada amplopnya, pake tulisan "Kepada Yth. Ibu Guru" dan ada penjelasan alasannya. Kenapa pake amplop, kenapa harus dilipat, nggak kertas binder aja nggak usah dilipat? Ya karena etika, gengs! Nggak sopan kalo nggak pake amplop. Nah sekarang kenapa ijin cuma kaya berkabar ke neneknya kalo si anak nggak jadi main?
    "Bu, uni nggak masuk ya soalnya demam."
    Heeyyyy!
    Kan bisa ditulis lebih sopan
    "Assalamu'alaikum Bu Guru, punten mau mohon ijin Uni hari ini tidak bisa berangkat sekolah karena sedang demam. Terima kasih."

    Lebih enak mana?
    Lebih sopan mana?

  4. Perhatikan emoticon!
    Ada emoticon yang sopan dipakai untuk konteks formal dan ada yang enggak. Di forum guru dan orang tua, hindari pake emoticon ketawa ngakak kepala miring. Ah nggak ada nih di blogspot, tapi tahu kan maksudku? Ya pokoknya jangan sembarang pake emot aja lah!

  5. Ingat! Guru adalah orang yang kita percaya buat jadi partner mendidik anak
    Hormati guru selayaknya kita pengin anak kita bersikap ke gurunya. Karena ini juga, chat sama guru harus beda dong gaya bahasanya dibanding chat sama sesama ibu wali murid.

Gimana gimana, nggak susah kan?
Mulai sekarang yok! Kita jadi orang tua yang kooperatif sama guru, yang bisa menempatkan diri, dan mau belajar adabnya dulu sebelum melakukan sesuatu.

Xoxo,
Rahma Djati 
 


Bahagia Nanti Kalau...

Tuesday, June 02, 2020
Langit kelabu meski matahari sedang terik-teriknya. Bukan karena mendung apalagi polusi karena asap pabrik jelas berkurang sejak pandemi, melainkan karena suasana hati yang sedang banyak berkhayal "bila nanti..".



Mengapa kita meletakkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum pasti, sesuatu bernama masa depan yang mensyaratkan "nanti kalau.." Apakah kita tidak cukup bahagia dengan semua atribut yang melekat di diri kita saat ini?

Aku pasti akan lebih bahagia nanti...
  • kalau sudah tinggal di rumah sendiri
  • kalau punya handphone baru yang kameranya bagus dan tidak lemot
  • kalau bekerja di ranah publik sehingga tidak pusing mendengar tangisan anak tiap hari
  • kalau punya mobil sendiri sehingga tidak usah menunggu grab lama dan ribet begini
  • kalau bisa mendapat pekerjaan di luar negeri
  • kalau gaji sudah dua digit
  • kalau sudah lulus kuliah
  • kalau sudah punya anak
  • kalau followers instagram sudah 10k jadi bisa swipe up *eeeehhhh 😜
Apakah ada jaminan kita akan lebih bahagia dibanding saat ini?

Bisa jadi, kondisi yang kita angankan akan membawa kebahagiaan justru mendatangkan masalah-masalah baru yang tidak pernah terbayang saat ini. Katanya, bahagia ada pada hati yang bersyukur. Di tengah berbagai keterbatasan selama pandemi dan banyaknya rencana yang tidak bisa terealisasi karena harus diubah lagi dan lagi, tidakkah kau tergoda membuktikan bahwa bahagiamu ada jika hatimu bersyukur?

Salam,
Rahma Djati

Kriteria Idaman

Saturday, January 25, 2020
Sejak kecil, pasti kita punya, deh, yang namanya gambaran jodoh idaman. Tipe ideal gitu nggak, sih, nyebutnya? Hahahaha. Oh sungguh memalukan sekali ya kalau diingat-ingat. Efek apa lagi kalau bukan tontonan masa kecil?! Sebagai generasi yang tumbuh bersama serial Cina kaya Kera Sakti, Kembalinya Pendekar Rajawali alias Yoko, Putri Huan Zhu, Meteor Garden; dan film-film Bollywood pada masa keemasannya, biasanya tipe idealnya nggak jauh-jauh dari situ.





Yaa, namanya juga anak SD dan SMP, kriterianya pasti sebatas fisik dan hal-hal umum aja, lah, seperti baik, perhatian, murah senyum, pintar, dsb. Mana ada kepikiran tipe idealnya yang shalat subuhnya selalu di masjid, ea.

Lalu, kita tumbuh. Bukan lagi anak SMP yang baru pertama tahu rasanya berdebar-debar saat berpapasan dengan kakak kelas. Kita tumbuh menjadi remaja, dengan lingkaran pergaulan yang lebih luas. Tapi, diam-diam kriteria jodoh idaman tersebut masih kita simpan tanpa disadari.

Lalu, tiba saatnya kita menemukan seseorang yang mengambil tanggung jawab ayah kita. Laki-laki ini, dalam satu kalimatnya, mengguncang singgasana Penciptanya lantaran besar janji yang ia ucap dan ia tanggung. 

Akad. 
Mungkin, laki-laki yang sekarang kita sebut suami jauh dari tipe ideal, kriteria jodoh idaman yang berawal dari tontonan di tivi sewaktu kecil ditambah dengan pengalaman-pengalaman masa remaja. Tapi, pada akhirnya kita sama sekali tidak keberatan menikahinya meskipun ia bukan tipe ideal kita.


K E N A P A ?
Karena kita tumbuh, dan kita menyadari beberapa kriteria yang kita jaga sejak SMP itu bersifat permukaan, bisa ditoleransi, nggak apa-apa kalau nggak kesampaian, nggak saklek. Misalnya aku yang dulu berkhayal dapet laki-laki model Raj Aryan Malhotra gitu, lah. Tercapai? Enggak! Hahaha. Eh, pada tahu Raj Aryan Malhotra nggak, sih? Itu, loh, Shah Rukh Khan di film Mohabbatein 😂😂




Lalu, apakah aku kurang bahagia setelah menikah dengan orang yang persamaannya dengan Raj cuma sama-sama pakai kacamata? Enggak, tuh.

Ternyata setelah menikah, Allah hadirkan cinta yang sepaket sama rasa tenang, damai dan nyaman kalau di dekat suami. Sepaket rasa yang membuat ingin pulang dan memantik rindu kala berjauhan. Rumah tangga bukan lagi soal tipe ideal yang daftarnya pernah aku tulis di buku diary 😂

Dalam perjalanannya, pasti ada adu pendapat dan debat. Pasti pernah ada kecewa, pasti pernah marah, pasti rasa bosan juga pernah mampir. Tapi satu hal yang aku ingat kenapa aku mengiyakan ajakannya menikah dulu adalah karena aku merasa cukup saat ada Banggez, yaa dulu sih masih Gheza manggilnya, kan sohib 😜

Aku memilihnya karena aku merasa cukup, tidak lagi butuh tempat lain untuk bercerita atau mencari apresiasi.

Find your why, semoga alasan itu tetap menyala dan menjadi penerang saat rumah tangga terasa redup.


Love,
Rahma Djati

p.s. ditulis dengan backsound OST Saawariya, coba deh cari di YouTube, suara Shreya Goshal adem beneeerrr ngalah-ngalahin air es

Menggugurkan Kewajiban, Dilakukan Hanya Agar Selesai

Friday, January 24, 2020

Pernah nggak, sih, melakukan sesuatu hanya supaya selesai? Ya, cuma biar berlalu dan selesai aja gitu, menggugurkan kewajiban. Bukan dilakukan karena menikmati betul. Pernah?

Dua minggu yang lalu Uni, anak pertama aku, cerita.

Uni  : Buk, tadi di sekolah, kata bu guru disuruh bobonya sendiri. Nggak usah dikelonin, bobo sendiri aja, kan udah gede.
Aku : Oh, gitu? Emang temen-temen Uni bobonya sendiri?
Uni  : Iya.
Aku : Uni juga, dong, kalau gitu.
Uni  : Nggak, ah. Aku kan suka dikelonin, aku nggak mau bobo sendiri.
Aku : Gitu? Afiqa suka dikelonin Ibuk?
Uni  : Iya, dikelonin, dipeluk, digaruk-garuk pantatnya *ngomong sambil tertawa geli sendiri*.

Btw, iya Uni ngomongnya memang sudah lancar banget. Kosakatanya sudah banyak dan sudah bisa bilang R, wow bangga! 😆 Aku merasa menuai benih membaca buku yang kutanam sejak Uni 5 bulanan.

Nah, back to topic. Setelah ngobrol itu aku jadi berpikir, wah jangan-jangan selama ini banyak kegiatan dan hal yang penting menurut anak-anak, tapi aku justru menyepelekan. Tidur dikelonin, misalnya. Aku lebih banyak menganggap menidurkan anak-anak sebagai hal yang "ayo, dong, cepet tidur, biar selesai urusan Ibuk",  karena setelah mereka tidur aku merasa selesai tugas hari itu. Bebas mau ngobrol sama Banggez, mau makan, mau baca buku, mau nonton, mau belajar, apa aja, lah!

Itu juga sebabnya ketika sedang makan malam dan salah satu anak terbangun, aku selalu refleks "Aduuh!", yang selalu dibalas dengan "Sabaar." oleh Banggez. Karena saat ada yang terbangun artinya aku harus menghentikan aktivitas apa pun yang sedang kulakukan, kembali ke kamar, lalu kembali menidurkan mereka. Ada banyak masa di mana aku merasa itu beban, sampai terlontar

"Abang bilang sabar-sabar aja, capek, tau!"
"Loh, iya, tugasku emang bilang sabar. Ya aku bisa bantu apa, coba? Kan nggak mungkin aku bilang ayo Buk marah Buk, kesel Buk. Aku tahu capek, aku tahu kesel, makanya aku bilang sabar."

Hmmm... yajugak!
Karena anak-anak yang kebangun setengah sadar ini pasti nangis dan marah kalau yang datang ayahnya, bukan ibuknya, jadi Banggez memang nggak bisa bantu apa-apa kecuali bilang sabar dan pause makan, menunggu anak-anak bobo lagi. Kenapa harus ditunggu? Karena aku selalu makan sepiring berduaaaa, kalau Banggez lanjut makan, ngambek lah aku 😤

Sejak obrolan bareng Uni itu, aku jadi lebih menikmati momen ngelonin anak-anak. Rasa sebel dan capek karena mereka nggak tidur-tidur bisa dikikis karena tahu mereka menikmati momen itu. Daripada aku kesel, kenapa aku nggak ikut menikmati dan happy aja?
Hal-hal yang kita, orang dewasa, anggap kecil seperti memandikan, membacakan buku, mengantar sekolah atau ngaji bisa jadi adalah hal-hal yang berarti penting dan dinikmati oleh anak-anak kita. 

Jadi, kenapa nggak mulai menikmati aja? Dilakukan dengan dinikmati, bukan dilakukan cuma supaya selesai. Bisa, kan? Yuk!


Love,
Rahma Djati