jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Sedikit Oleh-Oleh Kajian Pendidikan Seks dalam Islam

Saturday, July 27, 2019
Lagi rame Dua Garis Biru yaaa di mana-mana. Aku jelas belum nonton lah karena aku nggak bisa ke bioskop. Lebih tepatnya banggez nggak akan ngasih ijin ninggalin anak buat nonton doang. Dulu aku sedih banget pas nggak dikasih ijin kaya begini, beberapa kali sampai nangis saking kepenginnya nonton huhuhu. Tapi sekarang tidak lagiiii. Ya sabar aja lah nunggu filmnya ada di iflix atau hooq. Ehem.



Nah saking ramainya, di komplekku sampai ada pengajian ibu-ibu TK yang temanya pendidikan seks dalam Islam dikaitkan sama film ini. Jadi plot story filmnya adalah anak SMA yang hamil, jelas di luar nikah lah namanya juga anak SMA. Dan ya, selamanya kita berdoa anak-anak kita nggak seperti ini. Huhuhuhu.
Poin yang dijelaskan sih dasar banget ya tentang ngajarin aurat, ngajarin mana mahram mana yang bukan, hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu tapi kadang macet aja praktiknya.

Termasuk dalam ngajarin aurat adalah dengan nggak mandiin anak di shower umum terbuka setelah berenang. Please ke kamar mandi ya buk, ribet memang. Paham banget aku. Tapi hal kecil kaya gini penting banget karena anak akan kenal rasa malu dan konsistensi orang tuanya ngajarin menutup aurat itu kaya gimana. Coba bayangkan gimana bingungnya si anak kalau di rumah kita gembar-gembor "Pakai baju di kamar, tidak boleh keluar kalau belum memakai baju." tapi ketika di kolam renang, anak diijinkan mandi di tempat terbuka. Bisa jadi anak justru berkesimpulan kalau di rumah nggak boleh tampak aurat, di kolam renang dan di luar rumah boleh. Kan kachaw.

Tapi mengajarkan aurat dan mahram adalah poin ketiga dan keempat. Poin pertamanya adalah dengan bahasa cinta.Apa itu bahasa cinta? 

Begini ilustrasinya. Berapa banyak anak menjelang puber yang nggak berani cerita ke orang tuanya karena takut dimarahi? Aku pernah dapat chat WhatsApp dari sepupuku umur 12 tahun, yang intinya dia nanya, gimana ya caranya cerita ke ibu suatu kesalahan tanpa dimarahi. Karena penasaran aku tanya apa salah yang baru aja dia perbuat, dan akhirnya aku mendapat jawaban setelah sebelumnya berkelit-kelit sepupuku enggan menjawab. Makan di mall habis 100 ribu, pakai uang bayar SPP, karena nggak tahu itu all you can eat dan nggak tahu harganya segitu. I was like....wow! That could happen to me as well in the future. Sangat mungkin nanti Afiqa dan Tazara melakukan kesalahan serupa, trus mereka nggak mau bilang ke aku karena takut ku marahi. Dhuer! 

Kalau istilah abah Ihsan, kita terlalu banyak ngomongin anak bukannya ngomong sama anak. Komunikasinya searah, dan kita kebanyakan ngasih nasihat. Akibatnya anak nggak mau cerita detail tentang kehidupan pribadi ke orang tuanya, tapi justru ke teman-temannya. Ya kalau kuingat-ingat lagi, memang masa remaja aku lebih banyak cerita ke teman-teman sih dibanding ke orang tua. Kenapa? Karena takut dimarahi dan dianggap salah lalu dinasihati begini dan begitu. 

Balik lagi bahasa cinta. Untuk bisa ngobrol sama anak ini, dibutuhkan cinta. Ngobrol pakai bahasa cinta, artinya kita musti paham dulu tipe anak ini gimana pendekatan bahasanya. Soalnya aku lagi ngerasain sendiri betapa berbedanya dua anak dari sisi karakter dan cara ngpbrol. Afiqa tipe anak periang yang banyak bicara, vokal dan ambisius, dan sukanya mimpin. Ngobrol sama dia harus pakai negosiasi, kalau main suruh-suruh aja dia akan marah. Sedangkan Tazara, yang baru 8 bulan, adalah tipe anak yang nggak banyak ngomong dan lebih kalem. Nangis hanya kalau ditinggal atau sakit karena jatuh, kejedug atau digigit uninya. Ngobrol sama Zara harus lebih halus, yaa seenggaknya sampai saat ini. Nggak tahu deh beberapa tahun ke depan bakal kaya gimana. Jadi benar-benar harus kenal dulu seperti apa tipikal anak supaya kita bisa ngobrol dengan bahasa cinta yang paling sesuai.

Setelah bahasa cinta, adalah aqidah. Dan termasuk dalam aqidah adalah dengan nggak nakut-nakutin anak dengan dosa atau "Nanti Allah marah loh." karena ini cuma akan bikin anak berpikiran wah susah amat sih beragama, Allah gampang marah, nanti dosa. Padahal anak-anak sebelum baligh kan nggak dosa, ya kan? Tumbuhkan cinta, sampaikan bahwa Allah sayang sama kita makanya Allah suruh kita begini dan begitu.

Terdengar mudah?
Yes because it's always easier said than done. Ya tapi nggakpapa lah, namanya jadi orang tua memang harus berjuang. Hadiahnya aja surga. Kalau nggak berjuang nanti hadiahnya cuma kipas angin. 
Satu lagi. Dan ini penting, jadi kalau kalian menemukan saudara atau teman masih melakukan ini please dikasih tahu supaya nggak keterusan.

Perlakukan anak sesuai jenis kelaminnya. Jangan pernah, jangan pernah memakaikan baju perempuan ke anak laki-laki dan sebaliknya meski hanya untuk lucu-lucuan. No. Anak harus paham bahwa jika dia laki-laki maka dia harus bertindak seperti laki-laki, dimulai dari cara berpakaian. Karena banyaaakk aku lihat di sosmed aku, anak laki-laki dipakaikan kerudung lalu difoto dan dipost. Lucu katanya. NO! ITU NGGAK LUCU! Dari hal begini, anak bisa memaklumi kalau ada laki-laki berdandan dan bertingkah gemulai seperti perempuan, lama-lama dia akan memaklumi transgender. No, stop please! Huhuhuhu.

Kita jadi baik sama-sama yuk. Mungkin di masa depan, anak-anak kita akan saling mengenal dan berteman. Alangkah tenangnya hati kita kalau anak kita berteman dengan anak-anak lain yang baik juga, hasil didikan orang tua yang peduli dan mau belajar. Mau kan?
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9