jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Potensi Patuh Seorang Istri

Tuesday, July 16, 2019
Pagi ini sembari makan bakso ramai-ramai, aku, bunda (ketika kusebut bunda berarti itu adalah mertuaku), teteh yang bantu di rumah bunda dan teteh yang bantu di rumahku terlibat pembicaraan hahahihi yang pada akhirnya bikin aku berpikir dalam-dalam.



Apa yang kita cari dari sosok seorang istri? ya atau menantu perempuan.

Sebutlah rupa yang jelita, tapi ini akan habis dikikis oleh waktu. Menyisakan garis-garis bukti kecantikan di masa lalu. Keluarganya yang baik asal-usulnya, hartanya yang banyak atau berpotensi menjadi banyak, agamanya yang baik. Ketika semua hal rasanya sudah sesuai kriteria, ada satu hal yang sering kali luput dipertimbangkan.

Potensi patuh pada suami.

Idealnya, kalau baik agamanya maka ia akan patuh pada suaminya karena wanita ini paham betul bagaimana posisinya dalam rumah tangga. Yang tidak keberatan ketika suaminya ingin ia di rumah, yang seketika patuh saat suaminya melarang memakai parfum di luar rumah, yang bergegas mengambil kerudung saat suami melirik karena ada pak satpam di depan rumah.

"Kalau cari mantu, bunda pengin anak bunda jadi raja di rumahnya. Tentu bukan raja yang otoriter, tapi dia punya kuasa atas rumahnya, istrinya mau patuh apa kata suaminya.", begitu kata bunda tadi pagi.

Always, it's easier said than done. Ada masa-masa menjadikan suami raja itu susahnyaaaa bukan main, karena sebagai perempuan anak pertama yang udah terbukti di berbagai tes kepribadian aku orangnya dominan, rasanya kalau ada yang nggak sesuai sama kriteria aku jadi rungsing aja. Nyuruh suami ini itu supaya sesuai sama mauku. Misalnya minta tolong oles-oles minyak kemiri ke kepala Zara sebagai ikhtiar agar rambutnya tumbuh lebat. Bang Gheza akan jawab oke dengan enteng pada permintaan pertama, tapi setelah lima menit nggak dilaksanakan aku akan nanya lagi, dan okenya berubah nada. Ketika sampai limabelas menit belum juga dilaksanakan, aku berubah jadi nyuruh. Dan suruhan itu adalah kalimat keenam yang bunyinya kurang lebih "Bang adek udah dioles minyak? / bang kasih minyak sekarang / bang adek mau mandi bentar lagi, minyaknya biar meresap sih cepetan dipakein." Permintaan berubah jadi perintah, dan raja mana yang suka diperintah? Eits.

Maka seninya menjadi istri juga meliputi merintah tanpa membuat suami merasa disuruh-suruh. Misalnya ketika bang Gheza main PUBG dan aku akan nanya lima menit sekali "bang lagi apa? / bang masih lama nggak? / bang kok ga mati-mati gamenya?" teruusss sampai berubah jadi "bang udahan dong mainnya, stop sekarang, aku mau ngobrol.", yang ujungnya ya tetep aja nunggu beres satu cycle game sih 😕

Selagi masih proses pencarian, wahai perempuan, carilah laki-laki yang kamu tahu kamu bisa patuh padanya. Berbeda tipe kepribadian bukan masalah asal kita bisa mengukur diri sendiri bahwa kita bisa patuh pada orang tersebut, kaya aku dan bang Gheza misalnya. Aku dominan sedangkan dia kalau di DISC tipenya S dan C, tipe orang yang menghindari konflik dan cenderung nurut dan cari aman.

Kalau udah menikah dan baru tahu kalau ternyata kita sulit nurut dan patuh sama suami gimana? Aku nggak menemukan solusi yang lebih baik selain ngaji, belajar agama. Supaya kita paham posisi dan kedudukan istri di hadapan suaminya.

Pasti bukan tanpa alasan Rasulullah pernah berkata seandainya manusia boleh saling bersujud niscaya para istri akan disuruh sujud di hadapan suaminya.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9