Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Memberi Rekomendasi, Perlu Nggak Sih?

Monday, July 15, 2019
Assalamu’alaykum! ๐Ÿ™‚



Beberapa hari yang lalu aku buka question box di Instagram untuk ngumpulin data dokter dan bidan yang direkomendasikan menurut netizen buat membantu lahiran VBAC (vaginal birth after caesarean) alias lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar. Tujuannya tentu saja buat membantu ibu-ibu yang pengin VBAC tapi bingung nyari nakes yang bisa dan mau bantu VBAC, karena aku pernah banget bingung nggak tahu harus ke mana, harus ngapain dulu, belajar apa aja, referensinya dari mana. Pengin sih VBAC tapi clueless banget.

Data rekomendasi itu belum jadi aku publish karena ternyata bisa jadi boomerang buat bidan yang bersangkutan. VBAC harus didampingi dsog tapi nyatanya banyak dsog yang nggak mau pasiennya VBAC karena terlalu berisiko. Makanya orang pada lari ke bidan-bidan yang udah berpengalaman bantu VBAC. Nah loh gimana tuh ๐Ÿคญ๐Ÿคญ

Btw, ngomongin rekomendasi nih, aku jadi merenung setelah postingan tentang VBAC tadi aku hold sebagai draft. Rekomendasi. Kenapa ya kita suka memberi rekomendasi?

Polanya begini. Kita melakukan/menggunakan sesuatu ๐Ÿ”œ kita merasa puas ๐Ÿ”œ kita memberi rekomendasi. Tapi kali ini aku hanya akan menyoroti dua hal, menikah dan VBAC.

Pasti kalian familiar dengan konten media sosial pasangan pengantin baru yang memamerkan foto berbau "indahnya menikah, nikmatnya pacaran setelah halal, kenapa nggak dari dulu aja, kalian semua kudu cepet nikah juga.", mungkin nggak persis tapi bernada seperti itu. Seolah-olah mereka adalah duta pernikahan nasional yang tugasnya ngomporin orang-orang supaya cepat menikah. Yang juga mulai bikin males ketika seolah-olah permasalahan orang lain harus diselesaikan dengan solusi mereka, menikah. Ngobrol apa, ujungnya 'makanya nikah', ih nggak asik deh. Hal-hal kaya gini rasanya mustahil dilakukan pasangan yang udah menikah 3 tahun deh, karena setelah 3 tahun itu ada banyak hal terjadi dalam pernikahan, yang belum dialami pasangan pengantin baru. Tentang berkompromi, saling menurunkan standar demi menyesuaikan dengan pasangan, mentoleransi mimpi dan cita-cita, belum lagi drama finansial, pengasuhan dan hubungan sama mertua.

Kehati-hatian serupa yang berusaha aku jaga ketika aku mau share tentang VBAC yang Allah ijinkan berhasil delapan bulan lalu. Satu hal yang aku terus katakan pada diriku sendiri, VBAC itu baik tapi nggak semua orang harus VBAC jadi jangan menyarankan VBAC pada semua ibu yang anak pertamanya caesar. It's personal preference. Tentu aku seneng banget cerita dan berbagi tips VBAC berdasarkan pengalamanku, tapi aku mulai menyadari aku nggak bisa asal ngasih rekomendasi ke orang untuk VBAC karena kondisi aku dan orang lain jelas berbeda. Aku nggak boleh mencoba menyelesaikan masalah orang lain memakai standarku pribadi.

Nggak ada yang salah dengan memberikan rekomendasi. Yang salah itu mengukur hidup dan masalah orang lain memakai standar kita pribadi. Seperti umur 25 harusnya sudah menikah, kalau belum menikah maka kasihan. Padahal orang lain happy-happy aja dan nggak ada masalah apa pun, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Atau, harusnya lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar, nikmatnya beda deh berlipat-lipat kalau lahiran normal. Jika tidak lahiran normal maka kasihan. Hei, orang lain happy-happy aja caesar lagi, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Familiar? Pernah ketemu cerita kaya gitu nggak? Temen yang heboh merekomendasikan suatu hal hanya karena mereka berhasil dan menurut mereka baik. Cerita doong ๐Ÿ˜

Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9