jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Toilet Training Uni (Bonus Printable Alur Pipis)

Tuesday, April 23, 2019

Toilet training.....
Fyuuhhh.. lebih susah daripada sapih dan GTM ya? Sini kita pelukan dulu 😇 Nggak cuma kalian kok, banyak ibu-ibu lain merasakan hal yang sama. Uni, anak pertama aku, sekarang hampir tiga tahun dan belom lama ini bisa kubilang tuntas toilet training. Sebelumnya udah pernah bisa pipis di kamar mandi, tapi karena pergi-pergi terus dan tiap pergi dipakein pospak (popok sekali pakai), jadi mendadak kaya lupa aja gitu anaknya. Ngompolan lagi haaaaaaahhhhh. Dan buruknya, level sabar aku makin tipis dari proses toilet training pertama karena aku merasa "Dih ini anak udah pernah bisa, artinya udah bisa dong. Masalahnya tu cuma MAU atau GAK MAU."

Jadi kali ini aku pengin cerita soal proses toilet training Uni sampai kaya sekarang, bisa minta pipis di kamar mandi walaupun lagi pakai pospak. Semoga jadi penyemangat dan nambah referensi cara toilet training karena dulu aku merasa butuh teman sesama pejuang TT yang ga lulus-lulus, gagal maning gagal maning son, dan aku butuh referensi cerita sukses TT tanpa bikin aku merasa terintimidasi hahaha.

Sebenernya cerita TT ini udah pernah aku bahas di igstory yang judulnya Toilet Training. Cerita di highlight itu keberhasilan TT tahap satu, yang bubar jalan lalu harus kuulangi di TT tahap dua 😭😭 

Melatih anak buang air besar/pup di toilet

Ngelatih pup Uni jauuuh lebih gampang daripada ngelatih pipis di kamar mandi. Sejak umur setahun, Uni udah bisa ngasih tanda-tanda kalau dia mau pup. Yang dulu kubaca, tanda ini berbeda di tiap anak, ada juga yang nggak kelihatan tandanya sehingga orangtuanya sering kecolongan. Tapi kayanya pasti ada deh tandanya, cuma kitanya aja yang kurang observasi dan niteni.

Aku inget banget tiap mau pup Uni selalu berdiri diem sambil lirik-lirik orang di sekitarnya, mungkin berharap ditanya "Kenapa?". Setelah aku hafal tanda-tanda ini, tiap dia diem sambil lirik-lirik, langsung aku angkat ke kamar mandi, dudukin di kloset, tungguin sampai keluar.

Apakah langsung sukses? Jelas enggak. Keluar duluan di pospak atau batal kebelet mah udah makanan sehari-hari. Tapi biarpun udah keluar pupnya duluan, Uni tetap kuangkat ke kamar mandi biar dia familiar dan paham bahwa pup harus di kamar mandi. Pas awal-awal pembiasaan pup di kamar mandi ini, Uni belum bisa ngomong jadi ajakanku panjang lebar cuma dibalas bubbling-bubbling ala anak setahunan aja.

Pernah juga keluar duluan setelah pospak dilepas, sebelum duduk di kloset, kebayang kan? 😂😂😂 Oh trust me, we're in this together strong mamaaaa!

Alat bantu anak buang air besar di toilet

Yang paling berjasa adalah kloset anak, nggak perlu yang mahal-mahal, yang penting membantu bikin anak yakin bahwa duduk di kloset ini aman, dia nggak akan jatuh kecemplung.


Tips: pilih yang ada pegangannya kaya di gambar.
Alhamdulillah, dari umur setahunan itu Uni udah kunyatakan lulus pup di kamar mandi, yeey! 😂

Melatih anak pipis di kamar mandi

Ambil nafas panjaaaaang, hembuskan perlahaan...
Buat aku, ini yang dramanya ngalahin konflik sinetron-sinetron. Soalnya sinetron kita cuma nonton, yang ini mikir sendiri ngalamin sendiri 😜

Awalnya aku pakai cara konvensional, setiap satu jam ajak Uni pipis di kamar mandi. Awal-awal, kuajak pipis bareng biar dia lihat cara dan adab buang air kecil. Lanjut kutatur sejam sekali, kucatet jam pipisnya buat niteni anak ini pola pipisnya kaya apa. Di masa latihan ini, aku pakein training pants biar nggak bocar-bocor ke karpet. Sungguh aku nggak sanggup bayangin pipisnya berceceran kemana-mana, ngepel berkali-kali sehari, karena pada kena ompol. 

Dengan training pants, seenggaknya pipis yang bocor nggak sebanyak kalo pake celana dalam biasa karena ada lapisan handuk dan kaos tebal yang menahan ompol. Tapi kalo pipisnya banyak tentu saja tetep netes saudaraaa. Training pants beneran penyelamatku dari emosi marah-marah karena ompol berceceran, oh thank you dear training pants inventor!


Mahal ya training pants? Oh tenang aku sudah menemukan yang termurah dibanding merk lain. QIANQUHUI training pants, ada di hampir semua marketplace. Harganya kisaran 20an ribu.

Penyelamat selanjutnya adalah printable yang aku laminating dan tempel di pintu kamar mandi. Alur gambarnya aku jelasin berkali-kali ke Uni sampai dia bisa mengulangi cerita yang sama. Sebenernya awalnya suamiku nggak yakin cara ini akan ampuh, tapi semuanya layak dicoba kan demi kelulusan pipis tanpa ngompol? 



Aku juga ngeprint tabel sukses pipis, yang ini dapet dari web lain ya nggak bikin sendiri. Kalau nggak ada stiker, bisa digambar happy face aja pakai spidol.


Satu hal penting yang harus dijaga adalah ekspektasi. Pasti semuanya berekspektasi dilatin TT trus sukses, ya  kan? Kita lupa untuk berekspektasi gagal juga sehingga pas anak ngompol, kita senewen. 

Daan, selamat praktek! Cerita ya di kolom komentar 😊

Menjaga Harga Diri Anak bagian 1

Sunday, April 14, 2019

Aku habis baca instastory Jouska, eh tahu kan Jouska? Itu loh financial adviser yang lagi hits karena konten instagramnya kece dan edukatif banget. Nah tadi dia upload dongeng tentang keuangan keluarga yang tadinya stabil mendadak runtuh gara-gara anaknya yang SMA bermasalah. Dia depresi dan pake narkoba sampai harus pindah sekolah empat kali.



Berat?
Pasti lah! Bahkan sampai ditulis, rasanya kaya pengin punya bayi dan nyusuin lagi aja daripada ngurusin remaja yang bermasalah.

Aku jadi inget kasus yang lagi viral, bullying Audrey. Ngikutin nggak? Aku sih enggak karena aku merasa terlalu banyak drama. Baca, oh cukup tahu sampai sini aja. Nggak kepo lebih lanjut. Nah yang bikin aku tiba-tiba inget kasus ini adalah karena keduanya punya kesamaan, antara dongeng Jouska sama bullying ini.

Sama-sama dilakukan oleh remaja, sama-sama tidak bisa diterima oleh norma dan agama. Kalau udah kejadian gitu, siapa yang jadi punya PR banyak? Ya siapa lagi kalau bukan emak bapaknya.

Tapi, aku sering baca dan ngerasain sendiri, punya bayi itu berat dan kadang ngeluhnyaaaa ngalahin gerbong KRL hahaha. Padahal bayi itu lahir dengan undangan, kita yang ngundang. Lewat doa, lewat ikhtiar. Sebenernya ketika ngeluh gitu bukan berarti nggak bersyukur sih, kadang ngeluh itu buat buang sampah aja. Setelah ngeluh, tahu bahwa ada temen yang mengalami hal sama, rasanya plooong dan bisa langsung on fire menghadapi drama anak bayi dan balita lagi.

Nah yang sering kita lupa, ngurus bayi dan balita ternyata jauuuhhh lebih gampang daripada ngurus anak remaja. Yaiyalah lupa orang anaknya aja baru tiga tahun, jelas belom ngalamin punya anak remaja, gitu kan yaa? Aha, aku bisa baca pikiranmu! hahaha.

Remaja bermasalah itu nggak tiba-tiba bermasalah loh.


Pasti udah ada sebabnya dari berbulan-bulan sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun yang kemudian terakumulasi sampai batas yang nggak bisa kita toleransi. Depresi, narkoba, mem-bully teman contohnya. Sungguh aku ngeri sendiri bayangin sepuluh tahun lagi akan seperti apa lingkungan pergaulan Afiqa, umur-umur mau masuk SMP kalau nggak didampingi dengan benar, nggak diinstal software baik sama orangtuanya, ya lingkungan yang akan melakukan tugas instal software itu. Masalahnya kita nggak bisa menjamin software yang diinstal lingkungan itu sesuai dengan value keluarga kita.

Mulai dari rumah, karena anak yang punya harga diri rendah akan berusaha bikin harga dirinya naik dengan memaki dan merendahkan orang lain. Sepenting apa sih urusan lain sampai kita nggak sempet main dan ngobrol sama anak? Buat kita, main itu sepele tapi buat anak bermain itu dunianya. Masa iya kita nggak mau invest waktu dan perhatian buat hadir sepenuhnya ngajak anak main.

Yuk peluk anak kita, peluk yang kenceng. Jangan gengsi untuk memuji plis, biar mereka nggak cari pujian di luar rumah dari orang-orang yang nggak jelas. Kalau anaknya perempuan, ayahnya jangan gengsi buat obral kata cinta. Biar dia nggak cari pengakuan dari laki-laki lain yang nggak jelas. Aduh ngeri sendiri aku ngetiknya.

Yuk ajak anak kita ngobrol, ngobrol ya bukan dikasih nasihat satu arah. Dengarkan apa perasaannya biar mereka nyaman curhat sama kita. Aku dulu selalu curhat sama ibuk tentang sekolah, temen-temen dan bahkan aku lagi naksir siapa. Setelah kuinget-inget lagi sekarang, kayanya karena ibuk nggak judgemental, ibuk mau mendengar aku cerita sampai selesai bukan menginterupsi di tengah-tengah dengan nasihat dan dalil.

Daripada bayar di belakang, mending bayar di muka. Bersusah-susah dulu sekarang, semoga Allah jaga anak-anak kita dan kita nggak harus berurusan sama kasus-kasus remaja yang bisa bikin cepet ubanan :(

Always, it's always easier said than done.
Tapi hal baik selalu layak diperjuangkan, kan?

-rahmadjati-

Agar Anak Tidak Penakut

Thursday, April 11, 2019

Tahu nggak kenapa anak satu setengah tahun lompat dari kursi tinggi? Atau kenapa mereka suka eksperimen masukin jarinya ke colokan listrik? Atau kenapa mereka mau lihat anjing tetangga yang dikurung dalam pagar dengan tulisan "Awas Anjing Galak" dari dekat? Karena anak-anak nggak kenal rasa takut.

Bayi terlahir hanya dengan dua rasa takut alami. Satu, takut dijatuhkan; dua takut suara keras. Itulah kenapa bayi-bayi nangis ketika mereka ditaruh, merasakan sensasi mau jatuh dan ada suara keras. Tapi, lama-lama mereka tumbuh dari bayi menjadi balita, dan kita kerap menemukan balita punya terlalu banyak rasa takut yang menurut kita nggak perlu. 

Seperti anak dua tahun yang takut naik tangga perosotan, pun setelah dibantu sampai atas, dia juga nggak berani meluncur sampai-sampai orangtuanya harus berbusa-busa "Ayo dong dek merosot nih syuuut kaya teman-teman."

Atau anak tiga tahun yang nggak berani pipis sendiri karena lampu kamar mandi belum nyala, katanya dia takut gelap nanti ada badut.

Kenapa ada anak-anak yang takut pada banyak hal, padahal mereka terlahir tanpa rasa takut alami? Apalagi kalau bukan karena orangtuanya yang menakut-nakuti. Ya cuma kadang-kadang kita tu nggak sadar ajaaa pak buk kalau sedang membangun rasa takut di jiwa anak. Kita beralasan sedang membuat anak awas dan hati-hati, padahal nyatanya......... emang iya?

Awas jangan lompat, keseleo kalau jatuh nanti.
Naiknya jangan tinggi-tinggi ya, ngerii.
Hati-hati gelasnya jatuh, pecah nanti.
Jangan pegang kompor, awas panas! 
dan seterusnya
dan seterusnya

Ya kan, dalam hati kita pasti punya alibi bahwa kalimat itu meluncur demi kebaikan si anak. Padahal, nggak sering semuanya justru membentuk rasa takut dalam diri si anak.

Kita terlalu sering fokus pada the worst possible outcome, kaya manjat maka jatuh, dekat kompor maka kena panas, berenang maka tenggelam, pegang gelas maka jatuh dan pecah; makanya yang keluar dari mulut kita pas mau ngingetin anak ya begitu juga. Padahal, kalau kita fokus pada the best possible outcome, wow perbedaannya luar biasa loh. Manjat tinggi wah berarti harus hati-hati, dekat kompor jadi tahu oh kompor ini ada apinya, api itu panas, semuanya tanpa harus ditakut-takuti dengan kemungkinan terburuk.

Abang nih sering banget ingetin aku untuk jangan banyak melarang dan jangan banyak owas-awas aja. Gara-garanya waktu main di taman, ada anak yang lebih besar dari Afiqa nggak berani main perosotan sampai ayahnya beeeerrrrkali-kali nyuruh dan nyemangatin si anak buat naik. Anaknya ciut aja, nggak mau. Langsung dong abang ngasih kultum selama di perjalanan pulang, jangan sampai kita banyak melarang dan nakut-nakutin trus akhirnya anak-anak jadi kaya gitu.

Oh iya tentu saja pointed cause bahwa si anak yang takut tadi dulunya sering dilarang itu cuma prediksi kami berdua. Hahaha. Ya nggak mungkin juga lah aku tanya "Permisi pak kenapa kok anaknya nggak berani main perosotan? Dulunya sering dilarang ya pak?". Siapa elu, kenal juga kagak!

Tapi bener kan?
Makin besar, makin banyak hal yang kita takutkan. Kita takut ditolak, takut nggak diterima, takut berbeda pendapat, takut nggak kelihatan cantik, takut kalo jerawatan, takut gendut, takut kurus, takut gelap, takut sakit, dan banyaaaaakkkk takut-takut lainnya. Rasa takut ini bukan takut alami, tapi kita bentuk seiring kita bertambah usia.

Buktinya, bayi senang ditatap lekat walaupun hidung mereka meler dan eeknya beleber kemana-mana, plus belom mandi. Orang dewasa? Jerawatan aja banyak yang pake masker karena malu bukan karena biar nggak terpapar debu.

Jadi, gimana biar anak nggak penakut?
Ya jangan ditakut-takuti.

Afiqa kubiarin manjat teralis pintu dan pagar sampai paling atas, sampai aku nggak bisa megangin. Loncat dari kursi tinggi juga sudah mulai kubiarin karena aku tahu dia sudah cukup lincah. Pegang panas juga kubiarin. Pakai gunting tajam juga sudah. Matiin kompor juga semangat tiap dengar ceret bersiul tanda air mendidih. Biar apa? Biar nggak tumbuh jadi anak penakut, toh kalau sakit atau terluka juga dia akan merasakan sendiri.

Pernah nggak jatuh dari teralis? Pernah lah hahaha.
Nangis nggak? Jelas.
Tapi seenggaknya dia belajar sendiri bahwa ada yang namanya risiko, yang bisa terjadi kalau kurang hati-hati. Bukan ciut sendiri karena ditakut-takuti.

Jangan didik anak menjadi penakut, tapi didik mereka menjadi anak yang tahu konsekuensi.

Kalian gimana gaes, ada pengalaman berhadapan sama rasa takut anak nggak? Cerita ya di kolom komentar :D