jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Sabar Tak Semudah Itu, Nona

Tuesday, November 21, 2017
Enambelas bulan menjadi ibu, enambelas bulan itu juga hidup gw berubah. So it’s true, people saying that motherhood changes your life, it’s true.


This cheerful little fella is the one who change my life. Dan satu hal yang paling paling paling gw sadari berubah dalam diri gw adalah kadar sabar. Iya sabar. Bersama gadis kecil ini, gw menjelma menjadi Rahma-versi-tersabar. If you know me for years, you will easily notice that I’m not that patient, that’s obvious. Maka, gw harus menggolongkannya sebagai prestasi.

Sungguh nona, bersabar tidak semudah yang kau baca dalam goresan tinta.
Bersabar ketika ia makan sambil berlarian.
Bersabar ketika ia merengek seharian karena sakit.
Bersabar ketika hasil eksperimen dapur berjam-jam dilepeh sempurna.
Bersabar ketika puting lecet lantaran digigit saat menyusui.
Bersabar ketika kerapian rumah tak bisa bertahan lama.
Bersabar ketika makanannya tumpah di bagian depan kerudung kita.
Bersabar ketika ia tantrum karena keinginannya tak kita penuhi.
Bersabar ketika ia memaksa minta nonton tv.
Bersabar ketika handphone ia lempar keras ke lantai.
Bersabar ketika DIY mainan untuknya rusak dalam hitungan menit.

Oh sungguh nona, bersabar tidak semudah itu.

Berkali-kali gw harus mengambil nafas panjang, geregetan sendiri, dan akhirnya tertawa sendiri agar ngga jadi merepet panjang yang orang sebut sebagai ngomel. Setelah jadi ibu, barulah gw sadari kenapa banyak ibu-ibu suka ngomel dibanding bapak-bapak. Dan sekali lagi nona, menahan untuk tidak ngomel tak semudah itu.

Tapi hidup adalah sekumpulan proses bukan?
Dalam berkali-kali ambil nafas panjang, geregetan sendiri dan tertawa sendiri itu, pelan-pelan gw belajar meningkatkan kadar toleransi gw. Bahwa ngga semua hal bisa kita kendalikan. Prioritas menyelesaikan pekerjaan bisa kita atur, tapi kapan anak eek ngga bisa kita jadwalkan. Iya kan?

Gw meningkatkan batas toleransi diri gw bahwa kerapian, hasrat dan target gw, semuanya harus disesuaikan dengan anak kecil ini, kesayangan Allah yang Ia titipkan ke gw dan suami. Kami yang memohon supaya dititipi anak kecil ini, lalu Allah kabulkan, trus gw masih mau ngga sabar gitu? 

Bahwa ia adalah prioritas. Menjaganya adalah prioritas. Mendidiknya sesuai fitrah adalah prioritas. Menjadikannya solehah adalah prioritas. Maka udah seharusnya gw sabar ketika hal lain, prioritas kedua dan seterusnya, harus mengalah sementara waktu. Maka Ya Allah, mohon mampukan kami, mohon selalu sabarkan kami.

Ditulis sebagai challenge Rumbel Menulis IIP Bogor November 2017.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9