jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Kepada Para Istri, Adinda Belahan Hati

Monday, September 04, 2017
Kepada semua perempuan bersandang gelar istri.

Orang Jawa menyebutnya garwa, sigaraning nyawa yang artinya separuhnya nyawa, belahan jiwa. Usai salaman antara bapak si perempuan dengan lelaki yang dag dig dug mengucap ijab, usai saksi-saksi berkata "Sah!", maka dunia ikut bersaksi, lelaki dan perempuannya telah menjadi jodoh.

Masih ingat dengan senyum tersipu pada salaman pertama usai akad hari itu?
Masih ingat dengan betapa kikuknya menjelang tidur setelah sepagian akad lalu menerima ratusan ucapan selamat?
Masih ingat dengan obrolan sambil malu-malu ketika jalan berdua di trotoar samping tukang sate berjudul bulan madu dalam kota?
Masih ingat ketika mengganti nama di kontak hape menjadi suami dengan emot dua sejoli?
Masih ingat betapa rona memerah di pipi tak sempat bersembunyi saat tetangga memanggil dengan sebutan "istrinya si A"?
Masih ingat semangat menggebu-gebu mencari resep demi mendulang pujian "Masakan istriku paling jos!"?

Lalu setahun berlalu. Setahun berganti menjadi dua tahun. Lalu menjadi lima tahun. 

Dari sepasang sejoli pemilik dunia yang rasanya cuma berdua, menjadi sepasang manusia yang saling membutuhkan dan ketergantungan.



"Duhai adinda, sudilah menggaruk punggungku yang gatal ini.", padahal tangannya sendiri bisa menjangkau setiap inchi tubuh sendiri.

Lalu, rasa bosan hinggap kadang-kadang. Seperti nyamuk di musim kemarau, sudah diusir masih datang lagi. Sudah pakai obat nyamuk bakar, masih berisik nguing-nguing berkelakar. Agak modern, sudah pakai obat nyamuk elektrik, masih menclok membuat gatal walau setitik. Sudah disemprot dengan obat anti nyamuk mujarab terlaris di iklan televisi, tetap saja ada yang menerjang berusaha terbang walaupun hampir mati. Begitu pula bosan, duhai para istri, adinda dari para suami. Sudah diusir, ia sirna sejenak lalu balik datang lagi. 

Ketika kebosanan melanda, entah itu karena terlalu banyak melihat kehidupan tetangga melalui sosial media terutama instagram sehingga tak sadar membanding-bandingkan, atau karena setiap hari yang tampak di depan mata hanyalah anak dan sederet jobdesc harian, tak ada teman berkeluh kesah di siang bolong selain piring yang minta dicuci dan baju yang menjerit minta disetrika. Sialnya, bosan datang tak pernah permisi minta ijin. Tahu-tahu di depan pintu. Tahu-tahu duduk di ruang tamu.

Sialnya lagi, banyak istri yang punya masalah mengendalikan emosi. 

Suami yang membuatnya tersipu setiap pulang kerja di depan pintu, sekarang menjadi sasaran pelampiasan emosi negatifnya. Kata mereka yang menyebut dirinya sebagai konsultan rumah tangga, hal itu tak mengapa. 

Wajar lah istri melampiaskan emosi pada suami, pada siapa lagi kalau bukan suami? Asal tahu batasan, jangan kebablasan.
Ceunah.

Tapi, pertemuan singkat setiap hari, apalah rasanya bagi para suami jika yang mereka temui adalah wajah masam adinda belahan hati?

Seorang suami konon pernah berkata ia menikah karena ingin mendapat kebahagiaan, rasa tenteram dan damai di rumahnya. Setiap hari ia bekerja dari jam enam pagi dan baru bisa melihat kembali wajah adinda belahan hati setelah jam sembilan malam. Mengobrol beberapa saat, lalu matanya akan terkantuk. Berat ujarnya. Oh malangnya jika beberapa saat sebelum terlelap, bukannya bahagia dan tenteram yang ia dapatkan tapi malah wajah istrinya yang masam. Lupakah si adinda belahan hati, jika surganya saat ini adalah lelaki yang ia panggil suami? 

Waktu bertatap muka yang tak sampai tiga jam sebelum keduanya kembali ke peraduan, tidakkah terlalu berharga jika dihabiskan dengan muka masam, kata-kata yang meluncur sudah campur bisikan setan, mood terjun bebas kaya perosotan, rambut awut-awutan, belum mandi bau asam, dan tangan masih bau bawang. Tidakkah terlalu berharga? 

Sesungguhnya, menulis semua ini dalam rangka berbicara pada diri sendiri. Mengingat lagi bahwa suami adalah salah satu tiket ke surganya para istri, di umur pernikahan menjelang dua tahun dan umur sang adinda belahan hati-nya bapak Ghazali yang menjelang duapuluh enam tahun.

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)







Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih sudah membaca! Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9