jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Selamat Tinggal Baju Besi Kebanggaan!

Tuesday, September 26, 2017
Semalem adalah malam kesekian gw ngerasa gelisah karena butuh untuk lebih produktif. I mean, creating something for outside world that maybe out of my reach right now. Akhirnya gw ubek-ubek hape dan berakhir nginstal game asah otak setelah scroll game tapi ngga tega mau instal keinget Afiqa.

Loh katanya produktif kok malah instal game?
Kan asah otak, otak tajam akan berguna buat dunia toh?
Hahaha excuse I know.

Nah dari game tersebut, pagi ini gw baca artikel yang menohok banget judulnya SHEDDING YOUR COAT OF ARMOR, yap you read it right, Menanggalkan Baju Besi Anda. 

Gw yakin ngga cuma gw doang yang pernah mengalami hal ini, and I found it really really good to know so here I am sharing it all with you my angsajenius readers (cailah!).

DILEMA

Coba bayangin nih kita udah lulus kuliah cumlaude, pengalaman magang dan penelitian oke, record organisasi berlembar-lembar, trus keterima kerja di perusahaan besar. Setelah beberapa lama, kita masih diperlakukan kaya pegawai baru, kerjaannya juga masih entry-level. 

Atau, kita yang pengalaman kepanitiaannya udah level steering commitee dan join kepanitiaan baru, tiba-tiba dikasih kerjaan yang menurut kita low-level, banyak praktek daripada mikirnya, yang menurut kita ah cincai lah sepele.

Ngga butuh waktu lama buat otak kita terbersit "Kenapa gw diperlakukan kaya gini? Kenapa gw ngerjain ini? Harusnya, dengan kapasitas dan skill gw, gw ngerjain sesuatu yang ada di level atas, bukan kaya gini. I deserve to be treated better."

Nyatanya, pemikiran kaya gitu, yang kita sebut fixed mindset, ngga akan bikin kita berkembang dan ngga akan membuat kerjaan atau suasana kerja jadi lebih baik. Yang kita butuhkan adalah growth mindset, which I'll tell you later on. Lebih parahnya nih, kalo udah punya fixed mindset gitu, pemikiran negatif yang lebih dahsyat bakal gampang banget hinggap. Misalnya, wah bos gw kayanya ngerasa terancam nih sama skill gw makanya gw ngga dipromosiin atau dikasih kerjaan yang posisinya strategis. Atau bos gw ngga bisa ngelihat skill gw karena dia ngga tahu caranya kerja sama orang kaya gw. Atau dia mikir gw bersikap kurang baik, tapi kan itu gara-gara gw kerja bareng orang-orang yang kurang kompeten.

Waw!

Feeling superior doesn't get you anywhere, guys!
Kalo kita punya growth mindset, kita bakal dengan sadar berpikir bahwa kerjaan sibuk dan di entry-level memang bagian dari bekerja. Toh, ngga ada hal besar kalo ngga disokong hal-hal kecil yang tampak sepele, ya kan? Justru kerjaan yang tampak sepele ini adalah peluang buat nonjolin skill yang kita punya dengan nunjukin alternatif metode yang ngga kepikiran oleh orang lain. Yang penting lagi, kita bisa belajar menikmati kerjaan yang numpuk dan sibuk tanpa risau bakal dikasih reward atau recognition atau engga. Lebih enteng kan?

Seenteng kerupuk aci bolong-bolong seribuan.

sumber

Contoh paling nyata adalah perempuan-perempuan yang telah berpeluh sekolah, ada yang SMA, atau sarjana, atau jenjang di atasnya, lalu dengan mantap shedding their coat of armor for being stay at home moms. Setelah baju besi kebanggaan semasa sekolah dilepas dengan tegas, let me tell you, you all are awesome and great and worthy! Di awal mungkin berat, tapi setelah berkali-kali mengasah rasa, lama-lama ngga ada pikiran "Gw terlalu berbakat deh buat sekedar ngepel, nyuci baju, masak dan ngajak main anak tiap hari."

Take It Off!

Jadi, kalo lo masih sering ngerasa terlalu berbakat, terlalu berpengalaman, terlalu oke untuk ngerjain sesuatu, coba itu baju besi kebanggaan dicopot dulu. Because for years, you've been wearing your specialness coat of armor to make you feel safe and worthy in threatening situations. Of course you are unique and special, but from a growth persepective, so is everyone else.
Special doesn't mean better or more worthy than others.


Feel Better

Sunday, September 17, 2017
Setiap dari kita butuh merasa lebih baik. We do need to feel better. Terkadang, feel better membuat kita lebih bersyukur walaupun tak jarang justru menumbuhkan benih kesombongan. Tapi terlepas dari keduanya, kita butuh untuk feel better.

Kaya.......
Pas ketemu ibu stay at home yang anaknya susah makan, kita feel better karena qadarullah anak kita ngga susah makan padahal kita kerja yang artinya porsi pendampingan dan variasi makanan mungkin ngga sewow ibu stay at home.
Pas ketemu ibu-ibu dengan anak sepantaran yang qadarullah belum lancar jalan, kita feel better karena anak kita udah lari-lari.
Pas ketemu pasangan yang makannya seporsi berdua, kita feel better karena makannya masing-masing seporsi.
Pas temen cerita gajinya udah dua digit juta, kita feel better karena kita bisa nyampe rumah lebih cepet walaupun gaji kita cuma setengahnya.
Pas lihat temen posting foto liburan di instagram dan kita udah lamaaa pengen ke sana, kita feel better karena kita udah bersuami & anak walaupun jadi ngga fleksibel mau jalan-jalan.
Pas lihat temen selfie cantik banget hah setara Dian Sastro, kita feel better dengan mikir ah si itu mah keliatan cantik karena make up aja, aslinya gw kenal biasa aja deh.

Hayo ngaku dalam hati deh, pernah ngga ngalamin kaya di atas? Kalo gw sih jelas...
...
....
.....
......
Pernah 😂😂

Kadang alasan-alasan yang muncul buat feel better itu hanya ilusi, pembenaran aja biar kita ngga sedih. Sah aja kok, namanya juga feel better. Kita butuh alasan buat merasa lebih baik, dan feeling better muncul karena pemicunya adalah sesuatu yang kita inginkan tapi ngga kita miliki saat ini ATAU kita membandingkan kondisi orang lain trus kita merasa lebih oke, padahal belum tentu.

Karena bisa aja anak dari ibu stay at home yang keliatan susah makan asupan gizinya lebih berkualitas daripada anak kita yang doyan makan segala.
Bisa aja si anak yang belum lancar jalan udah lancar bicaranya.
Bisa aja pasangan yang makan seporsi berdua emang sengaja biar romantis, bukan karena duitnya ngga cukup.
Bisa aja temen yang gajinya dua kali lipat itu memang bahagia walaupun pulang larut tiap hari.
Bisa aja temen yang jalan-jalan itu emang belum pengin nikah dan dia baik-baik aja dengan hal tersebut.
Dan, bisa aja temen yang selfie emang aslinya cantik banget ya gimana dong 😂

Nyatanya, alasan-alasan feel better muncul hanya satu arah, ke arah kita, untuk membahagiakan kita. But that's okay too, because what else feel better could do better?

Jangan jumawa, jangan terlalu membandingkan. Yang tampak di feed instagram dan media sosial cuma hal yang pengin orang tampilkan, bukan keseluruhan hidup seseorang. Feel better ngga harus melibatkan orang lain, feel better bisa dirasakan dengan membandingkan betapa hari ini lebih banyak kebaikan dibanding kemarin. Kalau nyatanya hari ini lebih buruk, feel better-lah karena kita masih diberi waktu untuk melakukan sesuatu supaya hari ini lebih baik daripada hari kemarin.




Kepada Para Istri, Adinda Belahan Hati

Monday, September 04, 2017
Kepada semua perempuan bersandang gelar istri.

Orang Jawa menyebutnya garwa, sigaraning nyawa yang artinya separuhnya nyawa, belahan jiwa. Usai salaman antara bapak si perempuan dengan lelaki yang dag dig dug mengucap ijab, usai saksi-saksi berkata "Sah!", maka dunia ikut bersaksi, lelaki dan perempuannya telah menjadi jodoh.

Masih ingat dengan senyum tersipu pada salaman pertama usai akad hari itu?
Masih ingat dengan betapa kikuknya menjelang tidur setelah sepagian akad lalu menerima ratusan ucapan selamat?
Masih ingat dengan obrolan sambil malu-malu ketika jalan berdua di trotoar samping tukang sate berjudul bulan madu dalam kota?
Masih ingat ketika mengganti nama di kontak hape menjadi suami dengan emot dua sejoli?
Masih ingat betapa rona memerah di pipi tak sempat bersembunyi saat tetangga memanggil dengan sebutan "istrinya si A"?
Masih ingat semangat menggebu-gebu mencari resep demi mendulang pujian "Masakan istriku paling jos!"?

Lalu setahun berlalu. Setahun berganti menjadi dua tahun. Lalu menjadi lima tahun. 

Dari sepasang sejoli pemilik dunia yang rasanya cuma berdua, menjadi sepasang manusia yang saling membutuhkan dan ketergantungan.



"Duhai adinda, sudilah menggaruk punggungku yang gatal ini.", padahal tangannya sendiri bisa menjangkau setiap inchi tubuh sendiri.

Lalu, rasa bosan hinggap kadang-kadang. Seperti nyamuk di musim kemarau, sudah diusir masih datang lagi. Sudah pakai obat nyamuk bakar, masih berisik nguing-nguing berkelakar. Agak modern, sudah pakai obat nyamuk elektrik, masih menclok membuat gatal walau setitik. Sudah disemprot dengan obat anti nyamuk mujarab terlaris di iklan televisi, tetap saja ada yang menerjang berusaha terbang walaupun hampir mati. Begitu pula bosan, duhai para istri, adinda dari para suami. Sudah diusir, ia sirna sejenak lalu balik datang lagi. 

Ketika kebosanan melanda, entah itu karena terlalu banyak melihat kehidupan tetangga melalui sosial media terutama instagram sehingga tak sadar membanding-bandingkan, atau karena setiap hari yang tampak di depan mata hanyalah anak dan sederet jobdesc harian, tak ada teman berkeluh kesah di siang bolong selain piring yang minta dicuci dan baju yang menjerit minta disetrika. Sialnya, bosan datang tak pernah permisi minta ijin. Tahu-tahu di depan pintu. Tahu-tahu duduk di ruang tamu.

Sialnya lagi, banyak istri yang punya masalah mengendalikan emosi. 

Suami yang membuatnya tersipu setiap pulang kerja di depan pintu, sekarang menjadi sasaran pelampiasan emosi negatifnya. Kata mereka yang menyebut dirinya sebagai konsultan rumah tangga, hal itu tak mengapa. 

Wajar lah istri melampiaskan emosi pada suami, pada siapa lagi kalau bukan suami? Asal tahu batasan, jangan kebablasan.
Ceunah.

Tapi, pertemuan singkat setiap hari, apalah rasanya bagi para suami jika yang mereka temui adalah wajah masam adinda belahan hati?

Seorang suami konon pernah berkata ia menikah karena ingin mendapat kebahagiaan, rasa tenteram dan damai di rumahnya. Setiap hari ia bekerja dari jam enam pagi dan baru bisa melihat kembali wajah adinda belahan hati setelah jam sembilan malam. Mengobrol beberapa saat, lalu matanya akan terkantuk. Berat ujarnya. Oh malangnya jika beberapa saat sebelum terlelap, bukannya bahagia dan tenteram yang ia dapatkan tapi malah wajah istrinya yang masam. Lupakah si adinda belahan hati, jika surganya saat ini adalah lelaki yang ia panggil suami? 

Waktu bertatap muka yang tak sampai tiga jam sebelum keduanya kembali ke peraduan, tidakkah terlalu berharga jika dihabiskan dengan muka masam, kata-kata yang meluncur sudah campur bisikan setan, mood terjun bebas kaya perosotan, rambut awut-awutan, belum mandi bau asam, dan tangan masih bau bawang. Tidakkah terlalu berharga? 

Sesungguhnya, menulis semua ini dalam rangka berbicara pada diri sendiri. Mengingat lagi bahwa suami adalah salah satu tiket ke surganya para istri, di umur pernikahan menjelang dua tahun dan umur sang adinda belahan hati-nya bapak Ghazali yang menjelang duapuluh enam tahun.

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)







Wisuda Matrikulasi IIP, Nasihat dari Pak Dodik dan Bu Septi

Saturday, September 02, 2017
Hola!

Lama banget nih gw ngumpet, cuma nongol buat update tugas IIP yang super pendek dan apa adanya huf. Jadiiii, yang kangen sama postingan angsajenius mana suaranyaaaa? 😛

Nah di kemunculan gw kali ini setelah sekian bulan ngumpet dari perbloggingan, gw mau cerita tentang acara IIP minggu lalu, seminar sekaligus wisuda matrikulasi IIP Bogor batch 4. Yang bikin gw super excited sejak poster acara seminar + wisuda keluar adalaaahhh....

Pengisi seminarnya pak Dodik dan bu Septi. Woah!

Ngga ada member IIP yang ngga excited sepertinya kalau yang ngisi adalah beliau berdua. Bu Septi kan founder IIP trus pak Dodik adalah suaminya, pasti super penasaran sama apa yang bakal beliau sampein doong, ya kan ya dong.

Dua minggu lalu, untuk pertama kalinya gw bakal dateng bareng abang di event parenting dan per-suami istri-an (is that even a word?). Motoran berdua aja dari rumah ke lokasi rasanya kaya manten baru deh. Apalagi pake bonus ban bocor trus kudu mampir ganti ban dulu jadi makin berasa kaya manten baru gitu deh enak buat jalan, ngga jlak-jluk kalo kebentur aspal. Eh loh ini mah rasa ban baru bukan rasa manten baru 😂

Setelah gas rem gas rem nyelip angkot sana sini dan menerjang padetnya kendaraan di Sempur, maka sampailah kami di lokasi seminar yang ternyata udah mulai. Langsung kami masuk dan, emang bener ya early birds get the worms, kami yang dateng telat dapetnya duduk di belakang. Ngga enaakkkk guys, kaya kuliah trus duduk di belakang gitu lah rasanya. Mau merhatiin, kehalang banyak kepala. Mau lihat slide, buram-buram gitu deh karena mata minus tapi ngga pake kacamata sejak ngga kuliah lagi. 😥

Gw bakal ceritain apa yang disampaikan pak Dodik dan bu Septi satu-satu sesuai catetan yah.. Kalau ada yang kelewat atau salah, maklum lah namanya juga duduk di belakang, apalagi sebelahan sama laki yang naksir gw 😂😂 mana fokus ya kaaan?

***




AYAHKU, GURUKU DAN IMAMKU by pak Dodik Mariyanto

Dalam berkeluarga, suami yang Allah amanahi menjadi imam, menjadi pemimpin. Dari sekian banyak definisi pemimpin, yang penting cuma satu: semua anggota keluarga sepakat dengan definisi yang dipake dan berlaku di keluarga. Ngga penting menurut pendapat mister A, bapak B, pakde C dll dsb dkk. Yang penting adalah antara bapake, ibuke dan anak-anake semuanya menyepakati definisi yang sama.

Trus pak Dodik ngasih definisi yang beliau suka dan beliau pake di keluarganya yaituuu....
A leader is the one who:
💛 knows the way, dia tahu keluarganya mau dibawa ke mana, mau ngapain aja.
💛 show the way, dia tahu cara mengajak keluarganya mencapai hal tersebut.
💛 goes the way, dia konsisten dan berupaya mencapai tujuan keluarganya.

TIPS. Coba suami tuliskan tujuan dan apa yang ingin dicapai keluarga dalam 2 menit. Kalau belum bisa, berarti tujuan keluarga belum jelas mau dibawa ke mana, mau mencapai apa. Trus kalau belum jelas gimana dong? It's okey, terima dulu bahwa memang tujuan keluarga belum terumuskan dengan baik. Trus karena udah tahu kalau belum jelas, bikin lah family forum sama istri dan anak-anak untuk merumuskan tujuan keluarga.

Pak Dodik juga menekankan pentingnya gadget-free zone. Tujuannya apalagi kalau bukan meningkatkan bonding keluarga, supaya ngga sibuk masing-masing sama gadgetnya, nunduuuk aja padahal di sebelah ada keluarganya duduk bisa banget diajak ngobrol. Gadget-free bisa dimulai dengan gadget-free time, misalnya jam 8-9 malam semua handphone harus diletakkan. Lalu bisa juga dikembangkan menjadi gadget-free area, misalnya ketika di meja makan dan di mobil ngga ada yang boleh memegang gadgetnya. 

Sulit ngga? Buat emak-emak millenial yang grupnya bisa ratusan dan bapak-bapak yang butuh hiburan setelah suntuk kerja, gadget-free jelas menantang sekali. Ngga terkecuali dengan gw dan abang. Tapi ketika pak Dodik nanya, "Ada ngga yang pengin anaknya kecanduan gadget?" kami tahu, kami pun dalam hati menjawab "Tidak".

Daripada sibuk sama gadget, perbanyak family forum, ngobrol bareng, main bareng, beraktivitas bareng. Ngga usah yang serius-serius, ngobrol santai apa aja justru bisa mempererat bonding toh?

Nah kalau sudah punya tujuan keluarga yang jelas dan tahu gimana cara mencapainya, sekarang tinggal jalanin aja dengan disiplin! Disiplin!

MENJEMPUT KEMULIAAN DENGAN RIDHO SUAMI by bu Septi Peni Wulandari

Mantra paling manjur adalah rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari. Gimana caranya kita tahu kita udah mendapat kemuliaan? Cara ngecek paling gampang adalah dengan jawab pertanyaan ini:

  • Apakah kita bahagia?
  • Apakah suami dan anak kita bahagia?
Kalau dua pertanyaan tersebut jawabannya YES, in syaa Allah kita ada di track yang benar menuju kemuliaan. 

By the way catetan gw panjang bener deh mau jembrengin satu-satu kenapa jadi malays aaaahhh 😕

Teruuuss sebagai ibu, kita pasti ngga cuma berurusan sama hal-hal di luar rumah ya kan ya dong. Ada yang kerja, ada yang dakwah, ada yang bisnis, ada yang aktif di organisasi sosial. Trus pernah ngga sih galau, duh ini keluarga gw terlantar ngga ya, duh ini porsi aktivitas di luar rumah kebanyakan ngga ya, dan sederet kegalauan lainnya. Gampang guys! Kalau suami udah protes, artinya lampu kuning nih, harus hati-hati dan lebih selektif lagi, evaluasi lagi aktivitas di luar rumah kita. Trus kalau anak udah protes, stop. Lampu merah. 

Gitu kata bu Septi, gw sendiri kebayang sih ketika lagi seneng-senengnya aktif di luar rumah trus misal anak gw protes dan gw seketika harus menyudahinya, ohhhh that would be so hard. Pasti susah, pasti melibatkan gejolak batin. Aahh tapi gw belum ngalamin sih jadi belom bisa banyak cerita.

Etapi gw terkesan banget deh sama proses pendidikan di keluarga bu Septi. Bukan karena ketiga anaknya homeschool, tapi karena suami berhasil mentransformasi istri menjadi pribadi yang lebih baik.

Dari doyan sinetron jadi pensiun nonton sinetron.
Dari ngga suka baca sama sekali jadi bisa melahap buku dengan cepatnya.
Dari ngga bisa ngomong depan umum sekarang jadi public figure yang speechnya ditunggu banyak orang.

Karena, kalau dalam satu keluarga hanya suami yang sukses maka sesungguhnya proses pendidikan di keluarga itu belum selesai. Dan ketika kita mendidik orang lalu masih terbersit rasa ingin dikenal orang, sesungguhnya proses pendidikan diri kita sendiri belum selesai.

***

Beres acara, gw udah bisik-bisik sama abang apa yang harus dibenahi dalam keluarga kami. Nyatanya, hidup memang harus selalu belajar. Apalagi hidup berkeluarga, di mana ilmunya ngga diajarkan selama sekolah dari SD sampai sarjana.