jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

IIP: Ibu Sebagai Agen Perubahan #NHW9

Friday, March 24, 2017

Mendidik laki-laki artinya mendidik satu manusia,
sedangkan 
mendidik anak perempuan artinya mendidik satu generasi.

Sampe juga ke NHW9, makin ke sini materinya makin mengerucut. Suka deh! Trus sebagai orang yang sangat kurang disiplin, tugas mingguan begini membantu banget buat gw menyerap ilmu.

NHW9 ini judulnya ibu sebagai agen perubahan. Long before, I've heard this tagline. Mahasiswa adalah agents of change, remember? Aahh take me back to the old fashioned IT Telkom campus layf 😚

Cuplikan materi kesembilan ini bagus deh.

Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. 
Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.
Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat.
KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.
Menjawab kekuatiran ibu-ibu ngga sih, kita kan suka kuatir kalo di rumah aja bakal kurang produktif dan ga bisa berkarya, sedangkan kalo banyak aktivitas di luar rumah takut keluarga keteteran. 


Bismillah, semoga Allah ridhoi dan mudahkan.

Jadi Istri kok Sensian

Monday, March 20, 2017
20 Maret 2017

Satu setengah tahun limabelas hari, gw menjadi istri, gelar yang gw sandang yang lebih besar pertanggungjawabannya dibanding gelar sarjana. Satu setengah tahun limabelas hari, abang, yang dulu gw panggil Gesa, mengambil alih tanggungjawab Bapak.

Subhanallah alhamdulillah Allahuakbar, dalam waktu yang sangat singkat, sudah hadir perempuan kecil yang membawa kebahagiaan begitu besar buat keluarga kami. Afiqa, hampir delapan bulan kini usianya.

Dalam satu setengah tahun limabelas hari, perlahan gw menyadari bahwa ada begitu banyak hal berubah di antara gw dan abang. Masa peralihan dari hubungan pertemanan yang kami jalin sejak 2010 menjadi suami istri pada 2015 adalah masa yang ngga akan terlupa. Gw yang sering lupa bahwa ketika makan artinya ada orang yang harus gw ambilkan piring dan nasinya juga, dan gw yang juga sering lupa bahwa makan bersama itu ya bersama, bukannya curi-curi motekin daging.

Dalam satu setengah tahun limabelas hari ini pula, kami sangat sadar bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak ditentukan oleh megahnya pesta pernikahan. Foto hanya akan dipandang dan video hanya bisa diputar berulang-ulang, tapi sikap suami istri terhadap apa yang terjadi sehari-harilah yang menyebabkan hati tenteram 💗💗

Belakangan ini rasanya gw gampang banget tersulut. Lihat suami main game, bawaannya pengin ngomeeeellll aja, yang tentu saja mulut otomatis manyun. Gw selalu cari-cari alasan manggil-manggil abang biar ikut sibuk, apapun itu, asal ngga main game 😒 Gampang bener sensi, kadang pake alesan lagi PMS tapi sampe abis haid pun masih sensi. Berarti bukan PMS to? Sebenernya alesannya udah jelas sih kenapa istri uring-uringan. Ruhiyahnya kurang dicharge. Ya kalo ternyata mau beli lisptik belom kesampean ya mungkin itu juga sebabnya 😂😂 Tapi serius deh, ruhiyah kita pasti bermasalah kalo bawaannya sensiiii mulu.

Pernah gw curhat kalo ibadah rasanya kering, shalat cuma jadi penggugur kewajiban dst di grup yang siaganya kaya pemadam kebakaran 24/7, grup Umahat Peduli Jilbab, trus kata mba Amal, founder Peduli Jilbab adem bener deh, intinya gini "Shalat malam mba, trus nangis. Kalo ngga bisa nangis, paksain nangis, minimal nangis kenapa hati keras banget sampe gabisa nangis (nahloh bingung ga?)" 

Gw coba, dan efeknya luar biasa. Hati jadi adeeemmmmm. Nangis, minta maaf sama Allah. Nangis senangis-nangisnya, ngadu sama Yang Punya alam semesta.

Selain itu, gw tampaknya menemukan terapi kedua buat para istri yang lagi gampang sensi, apalagi kalo kerjaan sehari-hari sangat menguras energi. Apakah itu?

Emm...bentar bentar. Gw jadi bingung awalnya mau nulis apa akhirnya malah kemana 😂😂😂😂😂

Jadi ibu-ibu, gw baru aja nonton video ini. Proposalnya Justin Baldoni ke Emily. Justin ini adalah main cast di satu-satunya series yang masih gw ikutin yaitu Jane the Virgin. Di akhir videonya, Justin bilang bahwa Emily adalah orang yang paling menginspirasi dia, bahwa Emily adalah orang yang bikin dia pengen jadi orang yang lebih baik, bahwa Emily adalah orang yang ingin dia bahagiakan di sisa hidupnya. 



Nonton ini, gw jadi inget caption-caption instagram Justin Baldoni yang selalu so sweet, trus gw mikir.... Kalo ada pasangan yang se-passionate ini satu sama lain, kenapa gw malah gampang sensi? Abang seharusnya jadi orang yang paling bikin gw semangat, semangat menjalankan rutinitas dan semangat menjadi Rahma yang lebih baik. Abang seharusnya menjadi sumber inspirasi gw, bukannya sumber kesensian gw cuma gara-gara game.

Percayalah wahai pembaca, buat kami, perempuan yang udah jadi istri orang, praktekin ini ngga semudah ngebolak-balik tempe goreng biar ngga gosong.

Untuk menyadari lagi bahwa jadi istri yang selalu sedap dipandang bukan cuma perkara dunia, tapi juga perkara perjanjian dengan Rabb semesta.


IIP: Misi Hidup dan Produktivitas #NHW8

Sunday, March 19, 2017
Awriteeee..........
Since I skipped last NHW, the 7th, because I had a lot to do for my theses seminar, I need to catch up on the materials. And I got this pic as the result.


Gw ngga akan mengulas arti gambar di atas karena itu NHW7 (which I skipped 😕)

Salah satu kegiatan yang gw SUKA dan BISA yang gw lakukan dalam beberapa minggu terakhir ini adalah nulis. Selalu ada kepuasan setelah tanda titik terakhir, baik itu nulis di blog atau di buku catetan kecil. Terdengar klise banget ngga sih kalo gw suka dan bisa nulis, apalagi kalo lihat fakta bahwa blog gw begini-begini aja. Belakangan emang lagi fokus nulis di buku dan slide presentasi tesis jadi blog beneran jarang ditengok. Tapi kepuasannya tetep sama, ketika gw mengakhiri sesi menulis dengan tanda titik kemudian gw menutup laptop, rasanyaaa.......................ah lega.

Nah oke, so yes it is, NULIS.
Sekarang kalo ditanya tentang BE DO HAVE ini:
  1. Kita ingin menjadi apa ? (BE)
  2. Kita ingin melakukan apa ? (DO)
  3. Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
gimana jawabnya?


  • BE. Gw ingin jadi hamba Allah yang bermanfaat, sebaik-baik manfaat. Allah kasih fisik sempurna, otak cerdas (hey, mau protes? 😜), skill yang ngga dikasih ke semua orang, dan materi yang berkecukupan; kalo gw cuma pengin hidup bahagia atau fokus buat diri sendiri, rasanya gw sangat ngga bersyukur. Menebar manfaat adalah salah satu cara gw bersyukur atas nikmat yang ngga kehitung. Manfaat ini gw mulai dari bagian masyarakat terkecil yaitu keluarga, dengan jadi ibu profesional buat keluarga bapak Ghazali, lalu jadi ibu profesional untuk masyarakat dengan memberi inspirasi untuk terus berbuat baik. Caranya? Dengan menulis.
  • DO. Gw ingin membagi intisari setiap kejadian menjadi hikmah untuk menginspirasi orang berbuat baik juga. Gw ingin membaginya pada dunia, karena gw yakin selalu ada seseorang di tempat nun jauh di sana, membutuhkan cerita itu.
  • HAVE. Gw ingin punya keluarga yang utuh, bahagia dan merdeka secara finansial. Utuh karena setiap anggotanya saling menyayangi, bahagia karena setiap anggotanya tahu ke mana potensi manfaatnya harus dibagi, dan merdeka karena setiap anggotanya bisa membantu materi tanpa perlu berhitung soal sisa saldo di rekening. Dengan itu, kami bisa terus berbagi manfaat, terus produktif menulis dan berkarya sesuai bidang masing-masing.

Kemudian, kalo gw ditanya, apa yang ingin gw capai dalam kurun waktu kehidupan gw alias lifetime purpose gw?

Pertanyaan ini adalah salah satu kegelisahan gw sejak kuliah tingkat dua. Sejak itu, pandangan gw terhadap diri sendiri di masa depan masih ngga berubah. Gw pengin jadi orang yang banyak manfaatnya, ke dalam yaitu buat keluarga, dan ke luar yaitu buat masyarakat. Buat keluarga, gw bercita-cita menjadi ibu profesional yang bikin suami dan anak-anak tersenyum bangga. Itu ibu gw! 
Sedangkan buat masyarakat, gw berniat mendalami tentang anak dan teknologi selaras sama topik riset tesis gw, mendalami buat S3 nanti dan secara nonformal. In syaa Allah, gw akan berkarya di ranah tersebut lewat tulisan dan seminar kecil, kecil kecil lama lama menjadi bukit (loh?)

5 tahun pertama, in syaa Allah:

  • Terbit buku pertama
  • Angsajenius mencapai 1 juta view
  • Punya bisnis yang bisa memberi peluang kerja buat orang lain
  • Rutin membina kelompok untuk upgrade ilmu dan kapasitas diri
  • Menjadi dosen yang risetnya punya dampak positif untuk masyarakat
  • S3 di Eropa
  • Melaksanakan ibadah umroh bersama keluarga
  • Memiliki rumah tanpa cicilan riba di lokasi strategis, dengan gazebo atau ruang khusus untuk majelis, kamar tidur ekstra untuk memberi tumpangan inap, dan taman untuk bermain anak-anak
  • Menjadi donatur tetap masjid atau panti asuhan
  • Menjadi pengisi acara sesuai penguasaan bidang gw
  • Wakaf untuk masjid
1 tahun pertama, in syaa Allah:
  • Selesai 50% draft buku pertama
  • Mencapai 50 tulisan untuk angsajenius hingga akhir 2017
  • Mulai merintis bisnis yang mempekerjakan minimal 2 orang
  • Mengalokasikan tabungan umroh
  • Menjadi ibu profesional dengan lulus IIP


Bismillah. Sejatinya, rangkaian cita-cita adalah proposal untuk Allah, semoga diridhoi dan disetujui.

Tidak ada pilihan lain,
Kita harus berjalan terus,
Karena berhenti atau mundur
berarti hancur.
- Taufik Ismail

Mamaksiswa Ep.1: Akhirnya Seminar

Wednesday, March 15, 2017

Stay awake at this hour (02.37) is like my routine in the past 3 months. Punya bayi tujuh bulan yang butuh ibunya membersamai setiap hal setiap hari, pleus ini anak pertama jadi sebenernya si ibu juga masih belajar dan meraba-raba karena cuma berbekal teori; jadi begadang udah jadi makanan sehari-hari selain nasi deh. Ngga ada pilihan lain selain mengorbankan waktu tidur malam, tinggal siangnya ikutan tidur deh pas anak tidur 😎

Anywaaayy, akhirnya gw seminaaarrr!!
Senin 13 Maret kemaren gw seminar, yang ketunda entah berapa kali. Seminar tesis di ITB versi dosbing gw itu artinya tesis lo udah 99,99% kelar, semacem prasidang gitu lah. Artinya lagi, segala hal udah diantisipasi pas bimbingan sehingga ngga ada pertanyaan lagi dari pembimbing. Whoa alhamdulillah..

Tinggal di Bogor dan punya tanggungan kuliah yang belom kelar di Bandung, berarti gw ngga bisa lagi fleksibel ke kampus atau nginep-nginep di Bandung seperti pas masih single ataupun pas hamil. Walaupun kosan masih ada (buat nitip barang doang 😩 karena belom jadi jadi mau pindahan), alesan yang bikin ngga bisa menclok sana menclok sini emang cuma satu.......anak gw. Akhirnya gw ke kampus setiap Senin buat bimbingan. Literally bimbingan doang. Berangkat dari Bogor pagi-pagi banget, naik bus atau travel sebelum jam 7 yang biasanya sampe Bandung jam 11an. Naik gojek straight to the campus, mampir koperasi beli minum sama somay atau gorengan, nunggu antrean bimbingan, numpang pipis, shalat (yang kadang di kampus kadang di bus), pumping kalo sempet tapi seringnya sih ga sempet akhirnya pumping di bus, lalu jalan cepat ke gerbang nyamperin mamang gojek untuk kembali ke terminal atau pool travel. Waktu yang gw habiskan di kampus biasanya ngga sampe 3 jam.

Keburu-buru banget sih Mak?
Oh yes I do. I have to. Karena ketika gw ke kampus, artinya Afiqa gw titip ke either inyik/ucinya, dibantu teteh. Ngurusin anak bayi dari pagi sampe malem mulai dari mandiin, ganti popok kalo dia pup, ngajak main, ngeboboin, foto-foto bareng, dan sepaket sama ngecup-cup kalo lagi cranky. Karena itu gw harus selesaikan urusan di Bandung secepet mungkin dan kembali ke Bogor secepet mungkin pula.

Setelah beberapa bulan terakhir rutin bolak balik dan ganti topik, akhirnya dosbing gw mengeluarkan kalimat yang gw tunggu-tunggu sejak sebelum lahiran "Oke, udah bisa seminar." Excited? jelas! Nervous? Oh yes I was. Udah lamaaaa banget rasanya sejak gw ngomong di depan khalayak, apalagi untuk pemaparan ilmiah.

Malem sebelumnya gw latihan di depan suami dan hasilnya banyak a e a e plus usap-usap idung 😴 Alhamdulillah, tepat ketika gw terjadwal seminar, suami ada kerjaan ke Cimahi. Jadilah kami berangkat bareng dari rumah dan untuk pertama kalinya gw dianter sampe ke kampus 💖💖 Ih cintah deh! Setelah dikasih amunisi berupa burger, sepaket sama genggaman erat (cailah) dan tatapan memotivasi, gw melangkah memasuki gerbang kampus. Aaaaannddd it's a wrap! Yang nonton banyak bener deh sampe lab winner kursinya abis, soalnya anak-anak kelas tesis lagi pada ngumpulin jumlah nonton seminar sebagai syarat bisa seminar. Allah kasih lancar menjelaskan dan ngga ada pertanyaan, cuma masukan dari dosbing buat nambahin kata Multi User di judul. 

Seminar berakhir lancar dan melegakan......

Lalu, karena udah kebelet lulus, langsung dong gw tanya kalo sidang minggu depan hari Senin bisa apa engga. Dosbing bilang bisa, bagus hari Senin aja. TU bilang "Tapi periode sidang buat wisuda Maret udah ditutup dan buat periode wisuda Juli belom dibuka, Rahma."

Engg.......
Kecuali gw coba ngobrol ke kaprodi menyertakan alasan kenapa gw harus sidang cepet.
Engg.......
Supaya selesai urusan bolak balik gw?
Karena ada anak yang ngga bisa sering ditinggal?
Karena mau daftar kerja?
To be honest gw pun ngga punya alasan kuat dan meyakinkan semacem "Kontrak kuliah dari kantor saya sudah habis pak, saya harus masuk minggu depan." 

Masih kudu bikin jurnal yang targetnya tembus IEEE Transaction, masih kudu nyiapin sidang, semoga semuanya Allah ridhoi dan mudahkan.

Postingan ini adalah cara mengabadikan memori melalui potongan-potongan kisah. Seri Mamaksiswa in syaa Allah masih akan ada lanjutannya 😋

IIP: Belajar Jadi Manajer Keluarga Handal #NHW6

Sunday, March 05, 2017
Setelah disemangati bu Septi (link), akhirnya motivasi dan semangat gw kembali, ngga lagi datar sedatar kulit dadar gulung. Di minggu ke-6 ini, materi matrikulasi IIP judulnya IBU MANAJER KELUARGA HANDAL. Awal-awal gw nikah, di timeline facebook banyak banget postingan perdebatan mana yang lebih baik antara stay at home mom (SAHM) atau working mom (WM). Masing-masing ngepost dengan opini untuk menggiring publik agar menyetujui premis mereka. Entah waktu itu emang lagi marak atau waktunya aja yang pas kebaca sama gw lantaran baru nikah, entahlah. Tapi intinya, sempet terjadi banyak debat dari postingan semacam itu yang kemudian bikin banyak ibu-ibu baper.

Yang SAHM baper sama WM.
Sementara yang WM kepengin jadi SAHM.
Ah, hidup memang sawang-sinawang (saling pandang memandang, sehingga sering menyebabkan rumput tetangga tampak lebih hijau padahal kali aja itu rumput sintetis 😛)

Nah di materi keenam ini, ditekankan bahwa sejatinya, SAHM ataupun WM sama-sama ibu bekerja. Yang satu kerja di ranah publik, yang satu di ranah domestik.

Buat jadi manajer keluarga yang handal, ibu ngga boleh cuma menjalankan kegiatan sehari-hari yang rutin tanpa perencanaan. Makaa, di NHW6 ini, gw diharuskan bikin daftar berikut.

3 aktivitas yang paling penting buat gw:
  1. Ngurusin suami dan anak
  2. Beresin tesis
  3. Belajar dan upgrade kapasitas sebagai pribadi istri dan ibu

3 aktivitas yang paling ngga penting buat gw:
  1. Window shopping ke olshop
  2. Nonton film India dan Disney Princesses 😟 hiburan siih, tapi kalo udah over memang jadi mengganggu jadwal penting lainnya
  3. Scrolling socmed
Selama ini waktu gw paling banyak dihabiskan buat ngurusin Afiqa si anak kicil, mulai dari mandiin nyuapin mimikin, sampe nemenin main, bacain buku, nemenin Afiqa belajar merangkak yang kadang bikin gw ketiduran di karpet. Ulala! Alhamdulillah penggunaan waktu terbanyak gw udah sesuai dengan prioritas hal penting dalam hidup gw.

BERSAMBUNG.....
Karena gw kudu kejar tayang tesis hari ini buat disetor ke dosbing besok pagi.  

Disemangati Bu Septi

Thursday, March 02, 2017
Belum satu jam yang lalu, grup IIP gw dapet kejutan. 30 menit bersama dosen tamu yang siap menjawab aliran rasa (yang di dunia dikenal dengan istilah curhat 😌). Daaannn, guess whooooooooo!!

Dosen tamunya bu Septi dong! 💖💖💖 Kejutan banget ngga sih. Jadi ceritanya selama setengah jam peserta boleh nanya atau curhat apapun, bu Septi bakal jawab pertanyaan yang beliau pilih. Gw yang selama ini rasanya masih datar aja sama IIP, datar banget sedatar kulit dadar gulung, tiba-tiba kaya dikirimin suami sekilo duren kupas diem-diem pake gojek. Seneng dan excited!

Masih inget kegalauan gw di postingan IIP sebelum ini?
Hah pede amat si Rahma, wong yang baca postingan NHW paling cuma fasilitator IIP sama suami kok 😂😂😂

Okay, gw copas nih ya separagraf kegalauan gw.

Sampe di NHW5 berarti udah 5 minggu gw ikut IIP, tapi ada pertanyaan yang belum bisa gw jawab. Kenapa gw merasa belum memprioritaskan IIP? Kenapa notif IIP suka gw skip, ah baca ntar aja pas mau tidur, dan mendahulukan nyimak obrolan grup sebelah? Proses yang berjalan membantu gw menemukan lagi letak bintang yang ingin gw raih, tapi belum sampe pada tahap memberikan perubahan hidup yang signifikan atau dramatis. Atau gw yang belum take it seriously? 😕
Bertanyalah gw ke bu Septi. Biar ngga keduluan, gw udah ketik pertanyaannya di sticky notes sehingga gw tinggal copas 😝

Saya rahma, seorang mamaksiswa (mamak-mamak yang lagi berjuang menuntaskan status mahasiswanya). Sebelumnya jazakillah ibu sudah memprakarsai IIP, manfaat sekali programnya.

Tapi bu, saya masih galau sampai minggu ke-6 matrikulasi ini. Rasanya saya belum memprioritaskan belajar di IIP sehingga hasilnya pun tidak signifikan yg saya rasakan. Niat dan harapan saya besar padahal saat awal mendaftar IIP. Mohon motivasinya bu 😢

Dan bener dong, karena gw pertama nanya, pertama pula bu Septi jawab. 

Mbak Rahma, motivasi yang paling bagus adalah muncul dari dalam diri kita bukan dari luar. Maka pertanyaannya apakah ada bagian mimpi mbak Rahma yang ada di IIP? Kalau ya kejar, kalau ternyata tidak,  bisa segera putar haluan skala prioritasnya. Yang penting dalam hidup ini tidak boleh "sekedar menjalankan" apapun itu ✅

It was like a slap in the head!
Kenapa hampir dua bulan ini gw ngga kepikiran ya. Benar adanya, rutinitas bisa membunuh mimpi. Lo boleh punya rutinitas dan sibuk dengannya tiap hari, tapi sempatkan setiap malam untuk menengok kembali daftar mimpi yang ada. They keep you stay on track.

Gw cuma perlu menuliskan lagi mimpi-mimpi gw dan membuat garis korelasinya dengan IIP. Sesederhana itu. Singkat banget jawaban beliau, tapi sungguh bernas.



Terima kasih dan selamat malam!
Yang mau baca hasil semedi gw serta hasil diskusi sama suami tentang IIP, bisa klik pada tag IIP atau klik link ini.

Jangan lupa shalat isya yoh, one of the scariest thing ever existed is going bed without praying isya and waking up in your grave 😣😣