jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

IIP: Learning to Learn #NHW5

Sunday, February 26, 2017
Setelah 7 bulan pertama kehidupannya Afiqa ngga pernah sakit, sekarang dia sakit dong aakkk. Sedih hati mamak 💔💔💔 Tadinya seminggu ini gw udah plot agenda mau ini mau itu, tapi akhirnya balik kanan kapten. Malem aja ngga sempet nyalain leptop karena doi ngga bisa ditinggal. Kudu dikelonin maknya ampe pagi. Tapi di waktu-waktu saat Afiqa ngga mau gw balik badan sekedar cuci tangan itu lah, gw sadar bahwa saat ini Afiqa adalah orang yang PALING membutuhkan gw, dan peran ini ngga bisa ditunda atau digantikan oleh orang lain. Tesis bisa nunggu minggu depan (padahal deadline makin horor rasanya), mules bisa ditunda beberapa jam 😓, lapar bisa dituruti saat ia terlelap, NHW bisa dikerjain hari Minggu. Tapi Afiqa? Lewat tangan gw Allah merawat Afiqa, ngga mungkin gw balik kanan dari peran ini.

Sampe di NHW5 berarti udah 5 minggu gw ikut IIP, tapi ada pertanyaan yang belum bisa gw jawab. Kenapa gw merasa belum memprioritaskan IIP? Kenapa notif IIP suka gw skip, ah baca ntar aja pas mau tidur, dan mendahulukan nyimak obrolan grup sebelah? Proses yang berjalan membantu gw menemukan lagi letak bintang yang ingin gw raih, tapi belum sampe pada tahap memberikan perubahan hidup yang signifikan atau dramatis. Atau gw yang belum take it seriously? 😕 

Nah balik lagi ke NHW kelima.
Minggu kelima ini berisi materi tentang learning to learn. Buat gw pribadi, tahu caranya belajar ngga kalah penting dibanding belajar itu sendiri. Gw ngga bisa belajar dengan senyap, karena gw bakal ketiduran. Kalo gw ngga tahu hal tersebut, ya bubar jalan sudah belajar gw. Apalagi di lingkungan yang stereotipe belajarnya itu ya duduk diem baca buku di tempat yang hening.

Baydewey, yang paling gw suka dari materi minggu kelima ini adalah prinsip belajar yang TINGGIKAN GUNUNG, JANGAN MERATAKAN LEMBAH. Lejitkan potensi, bakat dan passion yang ada, bukan malah menutupi kekurangan yang dipunya.


Sejak baca kriteria NHWnya, gw berpikir nanti mau googling dulu gimana desain pembelajaran itu. Pasti ada somewhere on the internet 😅😅 Tapi di last minute begini gw tiba-tiba keinget sesuatu.

Lah Mak, tesis lo kan tentang pembelajaran abad 21. Ada pengembangan media pembelajaran pake metode ilmiah, lah ya itu bisa dipake dong! So yes, here it is ADDIE buat desain pembelajaran keluarga, gw ambil tidak semuanya karena disesuaikan dengan dunia nyata.


Namanya ADDIE, singkatan dari Analysis Design Development Implementation Evaluation. ADDIE ini adalah model yang paling banyak dipake buat bikin media pembelajaran yang menjamin bahwa media yang dibikin sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Disesuaikan dengan kondisi keluarga bapak Ghazali, di mana target audience belajarnya adalah abang, gw dan Afiqa (dan adek-adeknya nanti in syaa Allah), makaaa....

ANALYSIS
Ini tahap awal yang harus dijawab dengan tepat. Karena salah analisis akan berakibat fatal ke belakangnya. Domino effect, you might say. Di tahap analisis ini, gw jabarkan poin rincinya.
  1. Need analysis
    Berangkat dari perintah untuk menjaga anggota keluarga dari api neraka (At-Tahrim/66:6), konsekuensi dari ayat ini sungguh dahsyat. Menjaga dari api neraka itu butuh ilmu duniawi iya, jaminan makanan halal iya, ilmu agama iya, akhlak yang baik juga iya. Makanya setiap anggota keluarga bapak Ghazali wajib belajar ilmu untuk ke surga dan ilmu untuk di dunia.
  2. Target audience analysis
    Tentu sajaaa, setiap anggota keluarga bapak Ghazali mulai dari ayah, ibu, Afiqa dan adek-adeknya nanti 😊
  3. Task & topic analysis
    Yang wajib dipelajari berbeda sesuai peran dalam keluarga.
    Ayah: pendalaman ilmu Islam, ilmu menjadi ayah seperti yang Rasul teladankan, dan menambah serta mendukung ilmu parenting yang ibu pelajari.
    Ibu: parenting, kerumahtanggaan (is that even a word? 😖), kepenulisan seperti yang diazzamkan di NHW1.
    Afiqa: tauhid, life skill dan ilmu-ilmu yang dibutuhkan sesuai fase usianya.

    Rasanya masih sangat general ya? Ya iyalah! Hidup emang butuh banyak penguasaan ilmu. Emang kita bisa bertahan hidup dengan bahagia cuma modal ilmu parenting aja (misalnyah). Tapii, to make it more specific, dihubungkan dengan prinsip jangan meratakan lembah tapi tinggikanlah gunung, maka topik yang akan dipelajari menjadi:
    Ayah: engg.....apa ya hobi dan passion ayah 😕
    Ibu: tulis menulis dan literasi
    Afiqa: bermaiiinnn dengan panduan milestone sesuai usianya. Gw pake patokan milestone dan stimulasi dari buku Rumah Dandelion dan Rumah Main Anak 1. They help a lot.
DESIGN
Di tahap desain, dirancanglah media pembelajaran yang sesuai sama hasil analisis itu kaya apa. Kalo dijabarkan lagi, jadinya:
  1. Learning objectives
    Tujuan pembelajaran berdasarkan topik spesifik adalah menjadikan kami masing-masing insan yang bermanfaat ngga cuma buat diri sendiri atau keluarga tapi juga untuk ummat.
  2. Delivery strategy
    Strategi penyampaiannya disesuaikan dengan masing-masing style belajarnya. Abang ngga terlalu suka baca buku, artinya untuk belajar beliau butuh media lain seperti video, komunitas atau praktik langsung. Sedangkan buat gw yang ekstrovert dan doyan baca walaupun belakangan ini bacaan gw nguplek aja seputar bayi dan MPASI, bisa digunakan media buku, komunitas juga, bacaan online yang terpantau karena kalo mandiri gw sering hilang motivasi di tengah jalan, atau praktik langsung yan juga terpantau. Nah buat anak kicil kami Afiqa, penyampaiannya tentu sajaa dengan cara bermaiiin! Gw berniat memfasilitasi dia dengan waktu dan pendampingan di saat-saat mainnya, bukan cuma nyodorin mainan. Dan semoga di challenge Indonesia montessori berikutnya gw bisa ikutan, aw excited!
  3. Evaluation strategy
    Evaluasi paling gampang sih buat anak wedok, hahaha, tinggal cek checklist dari buku Rumah Dandelion sama Rumah Main Anak. Buat gw sama abang, evaluasi paling applicable adalah dengan ngobrol empat mata. Eh, atau enam mata? Anak kami ini memang ngga suka ditinggal sendirian uuu~
DEVELOPMENT
Ini adalah tahap pembuatan media pembelajaran. Di tahap ini, ayah ibu membuat courseware atau media pembelajaran untuk kami bertiga belajar. Saling memfasilitasi, terutama untuk anak kicil kami. Bentuknya masih akan kami godhog sampe mateng dan lezat selezat nasi godhog Bakmi Jowo Dipati Ukur. Duhh! I miss Bandung layf 😋

IMPLEMENTATION
Media pembelajaran yang udah dirancang dan dibikin akan dipake, dan ini butuh pengawasan. Buat kami berdua yang masih susah lepas dari gadget dengan sejuta alasan, pengawasan ini penting banget. Padahal pengin Afiqa ngga banyak screen time atau kecanduan gadget, tapi buat ngerem aja masih susah. Ini salah satu PR terbesar gw dan abang memang. 😌😌 

EVALUATION
Seperti yang ada di tahap desain, evaluasi dilakukan dengan checklist dan ngobrol berdua antara gw dengan abang. Yang diukur bukan cuma berhasil atau enggaknya, tapi juga seberapa jauh kami enjoy dengan proses belajar itu sendiri. Kaya yang bu Septi bilang, gampang untuk bikin anak menguasai suatu subjek tapi untuk bikin anak suka tentu ada tantangan yang lebih besar. Tampaknya gw dan abang pun butuh bikin checklist keberhasilan deh supaya lebih terukur 😏

Jalan-jalan ke Pariaman
Di jalan nemu pohon rambutan kerdil
Sekiaaan, mau bikin closing statement kok kelamaan
Bapake anak kicil udah manggil-manggil

IIP: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah #NHW4

Sunday, February 19, 2017
When it comes to our children, we always want to give the best we could, but we often fail because we don’t know what’s best.

Di dunia yang semakin mengerikan dan pesat perubahannya dibanding 20 tahun lalu, ada kurikulum pendidikan yang ngga akan pernah lekang oleh waktu, ngga akan pernah tertinggal dan berubah hingga akhir jaman.

Pendidikan anak dengan kekuatan fitrah. Metode ini adalah proses panjang untuk membangkitkan, menyadarkan dan menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Di NHW4, ada tujuh pertanyaan yang harus gw jawab. Tapi sebelumnya, ada hal yang masih menggantung dari NHW3 minggu lalu. Misi spesifik keluarga, kenapa Allah jodohkan gw dengan abang dan menempatkan kami dengan kondisi kami sekarang. Gw merasa, Allah ingin kami berkolaborasi dan belajar dari satu sama lain. Gw belajar lebih sabar, dan abang belajar lebih terbuka. Gw mendapat dukungan dan inspirasi, dan abang mendapat insight-insight dunia luar. Gw menyampaikan hasil diskusi dan inspirasi dari abang, dan abang terus menyuplai gw dengan cara pandang baru. Allah ingin kami belajar dari perbedaan yang kami punya, lalu sementara gw menceritakannya ke dunia luar, abang terus memberi sudut pandang baru dalam setiap hal yang kami temui.

sumber gamber
And here they are, pertanyaan yang harus gw renungkan bukan untuk sekedar mengerjakan NHW tapi untuk kelangsungan keluarga kami yang lebih baik.

Satu. Tentang jurusan yang gw pilih untuk tekuni di universitas kehidupan, jawaban gw masih sama. Yes, gw masih memegang tali yang sama, gw masih ingin mendalami dunia tulis menulis. Kalo kata iceberg theory, tulis menulis itu hanya apa yang tampak di permukaan. Di bawahnya, gw perlu memperdalam subjek yang ingin gw tulis. Allah berikan kecerdasan, jemari dan mata untuk melihat, mengamati, merenungkan dan menceritakan kembali agar orang lain mengambil hikmah. Ya, tulisan gw harus mengandung hikmah, karena gw ingin menjadikannya peninggalan yang masih terhitung nilai kebaikannya bahkan setelah gw tiada.

Dua. Gw kudu mengevaluasi program yang gw susun di NHW2. NHW2 yang isinya checklist ibu professional belum terlaksana dengan optimal. Gw masih membuat excuse, gw masih beralasan ini itu, which is I know is wrong. Seharusnya ngga ada excuse, seharusnya ngga ada tapi tapi. Hoah!

Tiga. Apa peran hidup yang akan gw jalani berkaitan erat dengan nemuin jawaban kenapa Allah menciptakan seorang Rahma satu paket lengkap seperti ini. Berdasarkan tes DISC yang udah khatam banget sejak gw magang di Career & Development Center IT Telkom (yayaya dulu belom jadi Tel-U!) sehingga gw bisa membaca orang tanpa harus nyuruh dia tes, gw ini tipe DI sejati.

Kombinasi dominant influence. Kalo dijabarkan ke personality pribadi Rahma Djati, hasil di antaranya adalah:
·         Suka ngatur
·         Suka bikin aturan sendiri
·         Suka ngelanggar aturan orang lain hzz
·         Suka tampil
·         Suka ketemu orang
·         Suka kegiatan yang rame-rame
·         Sukanya ngerjain apa-apa pake caranya sendiri
·         Suka ngga dengerin nasihat orang sampe ngebuktiin sendiri akibatnya
·         Cepet bosen, tapi sekalinya suka sama sesuatu bakal passionate abizzz
·         Ambisius dan berkemauan kuat
·         Gampang terpengaruh lingkungan sekitar
·         Agak susah dengerin alias nyimak cerita orang, maunya orang yang dengerin cerita gw dengan seksama
·         Ngga teliti, tapi maunya dapet hasil memuaskan.

Yaaa gitu deh. Agak ribet emang berurusan sama orang DI. Liat aja personalitinya. Nah berdasarkan personality di atas plus betapa sukanya gw bercerita dan didenger plus keberadaan suami yang selalu siap jadi pegangan tali sementara gw terbang, bismillah gw mantap menentukan pilihan berikut.

Misi hidup: menjadi insan yang bermanfaat dengan bercerita dengan hikmah, memberikan inspirasi pada dunia untuk menjadi lebih baik, supaya bisa menjadi pahala kebaikan yang terus mengalir ketika raga tak lagi bisa berkarya.

Bidang: personal development

Peran: penulis dan tukang cerita.

Semoga Allah kabulkan, semoga Allah ridhoi, semoga Allah jaga niat gw supaya tetap lurus. Bukan mencari popularitas, bukan mencari rekognisi, melainkan upaya untuk menjadi insan yang bermanfaat. Allah beri begitu banyak nikmat, malu kalo gw cuma make buat kepentingan diri sendiri aja.

Rasanya hati gw bergetar kalo inget cita-cita buku gw ada di rak best seller Gramedia dan toko-toko buku di Indonesia. Buku yang isinya membuat orang membatin “Hmm iya juga ya, gw mau berbuat baik juga ah!”.

Empat. Nah untuk mencapai peran yang gw inginkan, tentu butuh modal berupa ilmu, waktu dan kegigihan. Kalo di-breakdown berdasarkan kategori di IIP, jadinya adalaah…..
Bunda sayang: ilmu parenting dan being the good wife
Bunda cekatan: ilmu manajemen waktu dan rumah tangga
Bunda produktif: ilmu kepenulisan, bisnis dan mempertajam indera untuk menangkap hikmah dari setiap kejadian
Bunda shaleha: ilmu tentang berbagi manfaat

Lima. Gw kudu menetapkan milestone untuk target ilmu di atas. Teorinya, untuk jadi profesional dan expert di suatu bidang, kita kudu mencapai 10.000 jam teori dan praktek di bidang tersebut. 
KM 0 - 1: Tahun pertama, menguasai ilmu bunda sayang (5 jam sehari) dan bunda cekatan (3 jam sehari)
KM 1 - 2: Tahun kedua, menguasai ilmu bunda cekatan
KM 2 - 3: Tahun ketiga, menguasai ilmu bunda produktif
KM 3 - 4: Tahun keempat, menguasai ilmu bunda shaleha.

Saat ini, ilmu tersebut masih sebatas "belajar kalo sempet", sehingga hasilnya memang belum maksimal. Fokus! Lalu mari kita terbang bersamaaaa~

IIP: Segalanya Bermula dari Keluarga Bapak Ghazali #NHW3

Sunday, February 12, 2017
Assalamu'alaykum!

👆 eits ayok dijawab dulu 😝 

Kembali lagi bersama Rahma dalam kelanjutan tugas IIP. Kalo lo bertanya kenapa yang ada langsung NHW3 tanpa NHW2, selamat! Berarti anda pembaca setia angsajenius yeeey 👏 *crowd cheering*. NHW2 gw kerjakan di Gdocs karena ketunda-tunda terus hingga 2 jam menjelang deadline. Gw harus akui, bukan sama sekali ngga ada waktu atau kesempatan tapi gw yang memang ngga meluangkan waktu. Busy is not an excuse, isn't it?

Materi minggu ketiga IIP judulnya MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH. Berat ya kesannya? Because yesss, the responsibility of having family is super wow! Ketika Allah kasih kita anak, bukan berarti kita boleh seenak hati memperlakukannya. Sebagai orangtua, sebisa mungkin kita kudu berusaha mendidik anak sesuai kehendakNya, Allah, yang nitipin amanah tersebut. Kaya kata suami (yang selanjutnya di tulisan ini akan gw sebut abang) yang selalu ngingetin setiap kali gw naik nada lantaran kesabaran mulai menipis "Sabar..Afiqa ngga bisa milih to punya kita jadi orangtuanya? Jangan sampe seandainya dia bisa milih, dia ngga mau jadi anak kita." 

Ada kalimat yang sangat gw suka dari materi IIP minggu ini.
Ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Peran spesifik keluarga. Pasti ada rahasia kenapa Allah sandingkan gw dengan abang, lelaki yang kepribadiannya berbeda 180 derajat sama gw. Perihal tersebut emang jarang kami bahas belakangan ini, jadi ketika IIP ngasih tugas buat mikir dan bikin catatan tersendiri, we were like.....this is the right time! Rutinitas harian yang menguras tenaga dan pikiran menyisakan beberapa jam di rumah dengan mata berat yang rindu terpejam seringkali membuat kita lupa untuk memformulasikan ulang tujuan dan mengevaluasi program yang sudah berjalan.

Tugas pertama NHW3 ini adalah jatuh cinta lagi kepada suami, trus dituangkan dalam bentuk surat cinta. Bukan tugas sulit untuk dikerjakan, because I love him more each and every day 💝. Bahkan dengan wajah lelah dan jaketnya yang bau kereta sepulang kerja. Tapi lewat surat itu, gw jadi ingat lagi alasan-alasan jantung berdegup lebih cepat, binar mata yang ngga bisa disembunyikan, dan senyum yang tak pernah berhenti terkembang. Ghazali Al Nafi, orang yang membuat gw kagum jauh sebelum kami menikah dengan kemauannya membantu temannya, memiliki terlalu banyak alasan yang membuat gw jatuh cinta. Lagi. Kepada orang yang sama.

Kepada tatapan mata penuh perhatiannya ketika gw bicara, kepada senyum hangatnya yang tak bersebab, kepada usapan menenangkannya ketika gw panik dan sedih, dan kepada banyak alasan lain yang ngga bisa gw utarakan. 

Trus kalo lo nanya apakah semua hal dari diri kami klop? Oh tentu tidak.
💢 Gw yang banyak bicara dan selalu meminta abang cerita padahal abang memang hemat kata.
💢 Gw yang suka hal-hal spontan tanpa rencana dan abang yang harus merencana segalanya hingga detail dan menanyai gw rencana detail yang sering gw jawab dengan mulut maju a.k.a. manyun.
💢 Gw yang suka ketemu orang banyak dan abang yang ngga suka ketemu orang kecuali yang udah dikenal baik.
💢 Gw yang apa-apa minta ditemenin dan abang yang selalu komentar "Halaaah semuanyaa minta ditemenin, sukanyaa deket-deket padahal kursi masih banyak" sambil bergeser memberi gw tempat untuk berbagi kursi.
💢 Dan gw yang suka nyetel video seminar serta memaksa abang yang lagi main clash royale ikutan nonton. 😅😅

Tapi pasti, pasti Allah punya maksud menyandingkan kami untuk hidup bersama. Abang yang selalu bilang buat gw maju melakukan hal yang gw suka, beliau akan jadi orang terdepan yang mendukung. Beberapa keinginan pun muncul. Nulis buku, aktif lagi di Peduli Jilbab karena sejak lahiran gw belum pernah hadir lagi, buka bisnis baru, ngajar lagi selepas lulus; semuanya abang dukung. Gw jadi merasa punya tali yang mengikat ke tanah setinggi apapun gw terbang, sehingga gw ngga lupa ke mana gw harus berpijak dan ngga kuatir gw akan hilang kendali. Kami disandingkan untuk berkolaborasi. Gw belajar hidup dengan ritme teratur, dari sebelumnya yang grasa-grusu dan impulsif.

Balik ke surat cinta yang langsung ketauan kalo itu tugas IIP, gimana respon abang setelah baca? Jadi hari itu gw lagi demam dan pusing tujuh keliling ehlebay, jadi surat 4 lembah HVS tulis tangan gw taroh di meja rias kamar kami. Gw ngga tahu beliau pulang, gw juga ngga tahu beliau membaca tulisan itu. Paginya, ada binar mata yang ngga bisa disembunyikan. "Aku seneeng, terharuuu...hehehe." 👈 kenapa harus pake hehe 😒 

Ngga cuma surat cinta buat suami, NHW3 juga mengharuskan gw melihat bayi 6 bulan yang baru bisa duduk sendiri ini dan memindai apa potensi kekuatannya. Sebelum dapet tugas IIP, gw semacem take her for granted gitu loh. Gw ngga pernah berpikir kenapa rahim gw yang Allah pilih untuk tempat tumbuhnya Afiqa, kenapa gw dan abang yang Allah tunjuk menjadi orangtuanya, punya misi apa Allah amanahkan anak dalam keluarga kami. Sampai postingan ini diketik, kami belum sepenuhnya menemukan jawabannya. Terlalu dini melihat potensi bayi berusia 6 bulan. She can do anything, she can be anything! Afiqa yang gigih luar biasa belajar merangkak, dan bisa makan dengan rapi tanpa belepotan hanya dalam 3 hari, ngga banyak bersuara dan lebih sering tertawa tanpa gigi (ya karena giginya belom ada hahaha!), dengan fisik yang sempurna. Kecerdasannya luar biasa, ketika gw bilang "Afiqa sekarang jam 6, hari ini Afiqa bobo jam 8 ya, 2 jam lagi ya, nanti jam 8 udah bobo pules, ibu mau ngerjain tesis ya." dan simsalabim! jam 8 teng dia udah bobo demikian pulasnya 💤💤.

Jarinya yang sempurna dan tatapannya yang tajam mungkin menjadikannya pengamat handal dan penulis hebat. Kegigihannya akan menjadikannya wanita kuat yang mandiri, tidak gampang menyerah. Kecepatan belajarnya bisa menjadikannya hafizah di usia kanak-kanak, dan seperti Imam Syafi'i yang menguasai hafalam Al-Quran dan hadits di usia remajanya, gw berharap Afiqa bisa menyampaikan ilmu yang dia punya dengan santun. Afiqa, perempuan cerdas yang bertaqwa dan menjadi harapan kami, orangtua, keluarga dan umat muslim sedunia. Tugas gw dan abang sebagai ayah ibunya tentu berat. Menjadikan anak tumbuh sesuai fitrahnya, menjaga dari dunia yang semakin mengerikan bukan hal mudah. Doakan kami dimampukan 💪.

Ngga cuma sampe situ materi IIP bikin gw mikir. Gw masih harus mikir kenapa Allah menempatkan gw di lingkungan sekarang. Di Bogor, tempat yang tadinya ngga pernah masuk ke daftar kota idaman untuk ditinggali. Ah bahkan setelah setahun lima bulan menikah dengan lelaki ber-KTP Bogor pun rasanya masih ada potongan hati gw yang tertinggal di Bandung. Sejuknya, udaranya, airnya, jalan yang membelah kotanya, kampusnya, tempat wisatanya, kenangannya, makanannya, dan..........seblaknya. Seblak yang gw propose buat beli ke suami tapi selalu ditolak ngga dikasih ijin. Bogor menyajikan harapan kehidupan keluarga kami ke depan. Gw banyak belajar dan ditempa di Bandung, dengan banyak kegiatan, teman-teman, kajian dan peluang-peluang, semoga gw bisa memanfaatkannya di Bogor. Soon!

Anyway bukan sekali gw galau dengan kesibukan yang nguplek di rumah aja, karena setiap buka socmed banyak gw temui teman-teman sibuk dengan dunia sosialnya. Lalu di suatu hari yang sudah sangat sumpek, gw curhat ke Umahat Peduli Jilbab. Dan respon mereka bikin gw berkata dalam hati dengan mantap
"Mak, lo di rumah bukan berarti lebih ngga berharga atau kalah dengan wanita-wanita karir di luar sana. Lo punya waktu 24 jam sama anak yang banyak wanita karir inginkan. Lo punya kesempatan meraih surga di setiap surut rumah. Akan tiba saatnya kita bisa berkegiatan di luar dengan cemerlang, tapi sekarang Afiqa adalah orang yang paling membutuhkan waktu dan perhatian lo, melebihi semua rekognisi yang bisa dunia beri."
It takes a village to raise a child. And to raise her well, it starts from her mother. I am a proud momma!


Kalimat terakhir dari materi IIP minggu ini adalah Kelak anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak bukanlah sesuatu yang terpisahkan sehingga harus ada yang dikorbankan. Pernyataan itu bikin gw terbersit mendalami teknologi untuk anak usia dini di penelitian disertasi nanti. Hah, disertasi? Tesis lo aja belom kelar maaakk! 👈 Iya makanya didoain, in syaa Allah bentar lagi tuntas kok 😇

Mulutmu, Surga atau Nerakamu

Saturday, February 04, 2017
Seperti halnya setiap partikel debu terkecil yang terbang diketahui oleh Raja dari segala raja, setiap gerak tubuh kita pun tak luput dari pengawasan-Nya. Ketika tangan menyentuh jari-jari manusia lain yang tidak seharusnya. Ketika mata menatap sengaja paras manusia lain yang tidak seharusnya. Ketika ruas ibu jari mengetik kalimat-kalimat cinta kepada manusia yang belum menjadi hak kita. Allah melihat segalanya.

Ketika lambung bekerja menghancurkan makanan yang baru saja kita telan. Ketika jantung berdetak mendorong darah mengalir rata tanpa ada pembuluh yang terlewat. Ketika paru-paru mengembang dan mengempis untuk mendapatkan udara. Ketika sel-sel otak saling bersambungan demi menyimpan memori baru atau untuk memanggil kembali kenangan lama. Allah melihat segalanya. Dia melihat hal-hal yang tak kita lihat, bahkan tak kita pahami cara kerjanya.

Ah tapi manusia emang tempatnya lupa ya. Lupa kalo lagi diawasin, lupa kalo segala tindaknya pasti dicatat, entah oleh malaikat kanan atau malaikat kiri. Gimana mungkin mau inget catatan malaikat yang jelas-jelas ngga keliatan, kalo perasaan orang lain di depan mata aja dicuekin.

"Eh gendutan deh lo sekarang."
"Mak lo bukannya rajin ngegym ya, ko ngga kurusan?"
"Itu anaknya udah setahun kok belum bisa jalan?"
"Aduh aduh adek nangis ya...sini sini sama tante aja. Kenapa sayang, dinakalin ya sama mama?"

Daaaan banyak contoh lain, silakan bayangin sendiri. Baydewey contoh terakhir ini berdasarkan survey di grup ibu-ibu muda adalah kalimat yang bikin dongkol si ibu ketika anak tantrum trus ada sosok yang sok-sokan jadi pahlawan. Padahal sama ibunya sengaja didiemin supaya anak belajar, tapi bubar jalan gara-gara ada yang menginterupsi. Oh, dan ibu waras mana sih yang nakalin anaknya?

Berkata baiklah atau diam, begitu Rasul mengajarkan.
"Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. [HR Bukhari, Tirmidzi & Ibnu Majah].
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” [HR Bukhari Muslim].
sumber
Gw rekomen sekali buat baca buku Dahsyatnya Bahaya Lisan Wanita di atas, I really do. Lengkap banget dan nusuk penjelasannya, bukunya tipis dan ukurannya kecil, jadi ga berat-berat amat buat diberesin dalam 3 hari.

Tapi gw akui, rem mulut perempuan emang sering blong. Nanya tentu boleh, tapi sebelum nanya atau komentar, coba cek dulu:
  1. Kenapa gw nanya? Benar-benar perhatian atau cuma kepo doang?
  2. Apakah perkataan gw akan menyakiti orang lain?
  3. Penting ngga gw nanya, ada manfaatnya ngga?
kalo jawaban ketiganya adalah NO, you better look for another things to talk.