jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Blogmu, Rumahmu

Monday, October 31, 2016
Dua hari lalu adalah hari blogger nasional. Setelah angsajenius lama gw diamkan dengan berbagai alasan, pas buka twitter kok ya paaaaaaaaassssss banget nemu tweetnya pak Nukman ini. 





Trus terjadilah dialog berikut dalam hati
Rahma: Halah mana katanya pernah komitmen one day one post.
Rahma: Loh tapi kan udah cerita di path, instagram sama twitter. 
Rahma: Ya tapi kan ngga semuanya tercover kalo di sana.
Rahma: Iya sih. Ini banyak kok ide tulisan gw simpen di Google Keep.
Rahma: Tapi gak ditulis, sama aja to? *lempar pisang goreng*
Rahma: *mangap*
Rahma: *nyingkirin piring pisang goreng dulu*
Monolog apa sih ini. Hhhhh.

Blogger aktif tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya pasti ngerasain kejayaan blogging. Blogwalking, saling visit, komen di postingan, saling follow, komen di chatbox, sibuk mempercantik tampilan blog, custom widget mulu, dan pasang banyak badge pluuusss ikut giveaway yang mengharuskan nulis dengan tema tertentu. Oh I miss the good old days! Enam tahun kemudian, fitur media sosial makin lengkap termasuk buat nulis cerita panjang.

Mendapati tweet pak Nukman seperti tamparan buat gw. Angsajenius dibuat tahun 2010 sebagai tempat gw cerita. Karena gw ingin tetap hidup meskipun cuma lewat cerita. Bukan sekali dua kali ada orang nanya kenapa gw ngga nulis tentang per-IT-an, dunia yang gw selami sejak 2008 masuk kuliah di IT Telkom. Tapi dari awal memang angsajenius ngga ada niatan ke sana, ini adalah tempat gw cerita. Bukankah kita bisa mengenal seseorang melalui ceritanya? Dan bukankah satu cerita bisa menumbuhkan gagasan dan ide-ide brilian yang baru?

Ngutip kalimatnya seorang temen blogger, karena nisan tidak memberikan apapun selain nama, tanggal lahir dan tanggal wafat. Maka blogginglah supaya tetap hidup, kita ngga pernah tahu kan dari tulisan mana orang terinspirasi untuk berbuat baik?

Blog memang rumah untuk ide, gagasan dan kisah. Facebook, instagram, path, twitter hanyalah jendela dan pintunya. Kita bisa memberi dengan mengulurkan tangan lewat jendela, tapi untuk memberi sambil berbincang maka masuklah ke rumahnya. Tengoklah isi rumahnya, jangan hanya berdiri di depan jendela.

Bahagia rasanya tiap mendapati postingan dibaca sampe seribu view, walaupun ngga jarang juga cuma 300an. Bahagia rasanya tiap nemu komentar di blog karena it takes more effort dibandingkan komen di media sosial. Bahagia rasanya diapresiasi, bukan berarti haus apresiasi tapi itu salah satu pelecut untuk terus bercerita. Sumbu utamanya tetep aja kemauan untuk punya rumah di dunia maya, yang kadang disiram bahan bakar dengan pertanyaan suami "Mana blognya kok ngga diupdate, nulis lagi dong." 


Gw sangat sadar banyak yang lebih senior di dunia perbloggingan, lebih rutin update, lebih bermutu kontennya, lebih tinggi hit-nya, tapi hidup tak selalu soal perbandingan. Lelah kapten kalau terus membandingkan. Lakukan yang lo bisa, bukan malah menggerutu karena kalah dari orang lain sebutlah namanya siapa.

Jadi, mau mengisi rumah dengan perabot bermutu atau terus sibuk memandang foto perabot tetangga lewat jendela, Rahma?

Minyak Telon Palsu, Sebuah Review

Sunday, October 30, 2016
Every parents want to give all the best they could for their children, that's the credo I believe. After having Afiqa, I realised that we need to learn a lot so that we know what's good, what's better and what's not proper.

Sekitar sebulan lalu gw beli minyak telon buat Afiqa di salah satu toko perlengkapan bayi di Bogor. Karena susah keluar lantaran weekend selalu macet huff maka masuklah 2 botol minyak telon Njonja Meneer ke keranjang belanjaan kami biar ngga keluar-keluar buat beli sampe 4 bulan ke depan. Ngga ada kecurigaan kami, jadi yaaa~ minyak telon itu terlibat lah dalam rutinitas mandi bayi kami yang lagi belajar angkat kepala itu. 

"Bang, coba deh cium minyaknya. Ko kaya minyak kayu putih ya baunya."
*suami fokus ciumin bau minyak telon*
"Ah nggak ah, sama aja.", katanya.
"Ih bener deh ini beda tau sama minyak telon yang abis kemaren."
blablabla. Suami masih insist sama aja, gw tetap insist ini beda. Akhirnya......... ya tetep dipake juga sampe beberapa minggu. Ngok.

Kecurigaan gw menjadi-jadi pas mendapati Afiqa udah ngga wangi telon lagi sekitar setengah jam abis mandi, dan tangan gw ngga ngerasa hangat sama sekali setelah makein minyak. Gw langsung googling perbedaan minyak telon Njonja Meneer asli dan palsu, tapi masih kurang mantap hasilnya. Rada susah bandingin langsung karena kemasan lama udah gw buang. Lalu gw bertanya ke grup segala-tahu, Umahat Peduli Jilbab. Jreeeng. Dari situ, yakin lah gw kalau gw udah beli produk palsu. Hzzz.



Iya fotonya blur semi remang-remang gitu iya, tahu kok. Ini foto diambil barusan, di kamar yang udah remang-remang karena baby syudah boboookk.

Jadi ya mak-emak, ini highlight yang bikin gw sadar bahwa minyak telon Njonja Meneer yang gw beli ini palsu.
  1. Aromanya ngga kaya minyak telon melainkan kaya minyak kayu putih.
  2. Sama sekali ngga ada hangat tersisa di tangan kita setelah balurin minyak ke badan baby. Kalo masih ragu-ragu, tes aja minyaknya ke badan kita atau ke area yang sensitif terhadap panas yaitu dekat mata. Hahaha baydewey cara ini pernah gw pake buat mengatasi problem tidur di kelas, tapi hasilnya justru gw ga bisa melek karena mata pedes setelah oles minyak kapak di alis -____-
  3. Warna minyak telon Njonja Meneer asli itu kuning cerah, yang palsu lebih hijau.
  4. Stiker label yang membalut botol telon Njonja Meneer asli itu kuning muda, yang palsu kuning kunyit.
  5. Gw lupa apakah di botol telon Njonja Meneer asli dicantumkan kode produksi dan tanggal kadaluwarsa apa engga (seharusnya sih ada ya), tapi di telon palsu ngga ada.
  6. Perhatikan gambar tutup botolnya, yang asli jarak antar garisnya lebih rapat dan garisnya lebih kecil, yang palsu gede-gede kaya di foto.
  7. Saluran buat ngeluarin minyak (apa lah ni nyebutnya ya), yang asli lebih kecil, yang palsu lebih gede.
  8. Kata suami setelah melakukan riset di internet, yang asli kardusnya berstiker hologram sedangkan yang palsu engga.
  9. Harga? Hahaha sama aja mak! 
Yang mengecoh lagi adalah botolnya persis sama ketika gw minta fotoin telon asli dari grup Umahat PJ, kode PTRnya juga sama. Syediihh maakkk. Anak gw ngga merasakan sensasi kehangatan setelah mandi selama 2 minggu gara-gara telon palsu :( Padahal sambil makein telon gw udah nyanyi-nyanyi "Pakai telon supayaaaa....hangaaaatttt~" 

Apa yang bisa kita lakukan?
  • Satu. Potong botol setelah minyak habis, baru buang. Botol yang masih utuh bisa disalahgunakan buat ngemas telon palsu. Yaa botolnya agak keras sih, gausah dipotong juga gapapa mak, disayat aja sampe bolong. Pokoknya rusak.
  • Dua. Ulangi langkah pertama seumur hidup kita buat kemasan-kemasan produk yang akan kita buang. Udah berapa juta kasus produk palsu cobak? Ngga cuma minyak telon, minyak goreng juga mungkin dipalsuin, orang minyak tanah aja dulu rame dicampur air baru dijual. Huuuuhhhhhh.
Cailah judul postingannya rada puitis gitu ya "sebuah review". Selamat mengecek minyak telon di rumah buibuuuukkk! 

Umahat Peduli Jilbab

Thursday, October 27, 2016
Ada yang tak pernah sengaja menyamakan langkah namun bisa berjalan beriring. Ada yang tak pernah mengadakan pertemuan untuk menyamakan persepsi namun ternyata bisa saling memahami.

Dari puluhan grup watsap, ada satu grup yang ngga pernah sepi. Dari hal sangat serius seperti diskonan popok sekali pakai (penting!) sampe remeh temeh seperti baru aja lewat tukang martabak, segalanya dibahas tuntas. Perihal vaksin anak, arisan, resep masakan, es krim Aice (yang gw belom pernah huhu, di Bogor di mana sih yang jual?), harga cluster perumahan Islami, dokter anak dan dokter kandungan, tips menjelang kelahiran, tips promil, cara ngatur keuangan keluarga, duh saking banyaknya gw sampe bingung kudu ngabsen dari mana :3

Bergabung ke grup Umahat Peduli Jilbab adalah salah satu hal terbaik dalam 25 tahun kehidupan gw. Sebagian besar member grup ini belom pernah secara langsung gw jabat tangannya, tapi rasanya bisa jauuuuhhh lebih deket dan kenal daripada yang udah pernah berjabat tangan langsung. Mereka bisa menjawab pertanyaan yang ngga bisa Google jawab, emak-emak ini lebih canggih daripada Google. Pertanyaan yang ngga berani gw tanyain ke siapapun, bisa gw tanyain ke mereka, dan dijawab!

Ngga ada celetukan seremeh apapun yang ngga direspon. Yang bisa bikin berkaca-kaca karena tertohok dan terharu, atau karena disadarkan bahwa iman sedang sangat rendah; tapi juga bisa bikin ketawa sampe sakit perut.





Dari sekian banyak grup Peduli Jilbab, cuma grup Umahat yang ngga pernah sepi. Allah tambah-kuatkan ikatan ukhuwah ini sehingga ngga cuma persoalan Peduli Jilbab yang menjadi concern kami, dan justru itu yang mengikat kami lebih erat. Curahan hati ditanggapi supaya terselesaikan secara syar'i, permasalahan dibantu menguraikan atau minimal mendoakan. Minimal banget menghibur dengan tawa yang tak harus dipaksakan, karena ada banyak hal yang bisa ditertawakan. 

Obrolan di UPJ berperan dalam proses pendewasaan gw menyelami peran sebagai istri dan ibu, sebagai wanita, sebagai makhluk Allah yang diberi sejuta potensi. Obrolan di UPJ ngga cuma menjadi penghibur sambil nunggu suami pulang kerja, tapi juga mencerdaskan dan mendewasakan. Kadang juga menguras saldo ATM karena kebanyakan promo diskonan dan jualan. Ah pokoknya I heart you allllllllllllll!

Kalau bukan atas kehendak Allah, pasti ngga ada ceritanya Rahma bisa tobat. Kalau bukan atas kehendak Allah, pasti lemari gw masih penuh sama jeans dan baju ketat-ketat plus kerudung paris yang tipisnya kaya saringan tahu. Dan mungkin gw masih males dateng kajian, masih males juga gaul deket-deket sama aktivis masjid. Alhamdulillah alhamdulillah gw dikasih kesempatan berubah dan memperbaiki diri, kemudian dipertemukan dengan Peduli Jilbab. Raga memang sedang terbatas untuk bergerak, tapi in syaa Allah segera, segera gw akan bergerak melaju lagi.

Wahai mamak-mamak UPJ, kalau nanti di surga kalian ngga nemuin aku, tolong cari aku. Semoga kita bisa bertetangga di Jannah-Nya :)