jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Jangan Jadi Sebab Terhambatnya Hidayah

Monday, August 22, 2016
Di sela-sela hujan yang tidak lagi rintik karena derasnya dan obrolan singkat dengan suami yang tengah menyelesaikan pekerjaannya, dahi Anjali mengernyit hingga kedua alisnya bertemu. Jarinya berhenti dari pergerakan naik turun scrolling timeline Facebook.

"Sayang, lihat deh ini.", Anjali menyodorkan handphonenya pada suaminya, Rahul, yang disambut dengan suara berdehem panjang. Hmmmmm...

Pada layar handphone Anjali, tampak postingan seorang teman yang mereka berdua kenal, Tina, yang menegur dengan nada sindiran tentang isi ceramah ustad Khan karena dinilai tidak sesuai dengan pemahaman golongannya. Ke bawah, muncul postingan Ajay yang menegur seseorang dengan cara serupa, menyindir, dan tentu saja tanpa tag seseorang yang dimaksud.

Anjali menghembuskan nafas panjang.

Dia teringat masa-masa yang disebutnya zaman kegelapan, zaman ketika hidayah belum menyapa, Allah dan Islam sungguh jauh terasa. 

"Mas Hul," panggilan sayang Anjali pada suaminya yang berwajah mirip Shah Rukh Khan itu, "aku ngga suka deh sama postingan yang provokatif kaya tadi punya Tina sama Ajay. Kalau aku baca postingan kaya gitu dua tahun lalu, mungkin aku malah jadi ilfil sama Islam, bukannya tercerahkan."

"Iya sih, yang kaya gini nih yang bikin orang ilfil dan mikir kalau Islam isinya orang-orang yang ngeributin perbedaan kecil, trus lupa sama PR besar kita di akhir jaman.", jawab Rahul.

"Makanya aku nahan diri ngepost yang beginian, yang kontroversial gitu loh Mas. Ngga ngerti kan yak gimana penerimaan dan pemahaman orang. Ngeri ugak kalo aku jadi sebab terhalangnya orang dapet hidayah."

Kemudian obrolan singkat itu berakhir karena keduanya mengunyah pisang goreng hangat ditemani hujan yang berirama menghentak genting rumah mereka.

***

Sadar atau engga, provokasi ada di mana-mana. Ngga cuma di media massa atau saat demonstrasi menuntut Presiden memenuhi janji-janji surga kampanyenya, provokasi juga ada sangat dekat dengan kita. Dilontarkan sebagian orang yang kita kenal dan bisa kita lihat lewat kotak kecil bernama henpon. Di timeline gw sendiri aja, ngga sedikit yang menegur dengan nada sindiran tanpa mention atau tag orang yang ingin ditegur, ada juga yang menjelek-jelekkan pemahaman saudara sesama muslim hanya karena berbeda golongan. To be brief, ngga sedikit yang salafi nyindir-nyindir tarbiyah, yang tarbiyah nyindir-nyindir HTI, yang HTI nyindir-nyindir tarbiyah, yang Muhammadiyah nyindir-nyindir NU, daaan seterusnya dan seterusnya. Oh yes gw sebut merk dengan jelas karena memang begitu kenyataan yang gw temui.

Padahal......

Satu, Islam mengajarkan pengikutnya untuk selalu husnudzon atau berprasangka baik. Jauh sebelum di Indonesia dikenal asas praduga tidak bersalah, Islam hadir 1400an tahun lalu udah ngajarin kita buat menerapkan asas praduga tidak bersalah sampe terbukti memang salah. Jadi, di mana aplikasi husnudzon yang didenger setiap pengajian kalau kita lebih banyak berprasangka buruk sama muslim yang lain?

Dua, Islam mengajarkan cara menegur yang ahsan. Imam Syafii pernah bilang "Nasihati aku ketika aku sendiri, jangan nasihati aku di kala ramai. Karena nasihat di kala ramai bagai hinaan yang melukai hati.". Dan buat hal ini, postingan di media sosial jelas bukan definisi dari "sendiri" kecuali lo memakainya buat ngejapri. Sependek pemahaman gw, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menegur di depan umum seseorang yang dateng ke masjid lalu tampak ngga akan shalat 2 rakaat dulu. Beliau menegur langsung di depan umum karena jika ditunda, orang tersebut ngga akan shalat 2 rakaat. Artinya, boleh menegur di depan umum buat hal yang mendesak, kalau ngga langsung ditegur bakal terjadi kesalahan, dan tegurannya ngga bisa ditunda. 

Tiga, pada dasarnya ngga ada orang yang seneng mengetahui dirinya salah. Kalaupun pada akhirnya dia berterima kasih dan merasa senang telah diingatkan, pastilah ada proses dan waktu yang berperan.

Empat, sindir-menyindir dan saling menjelekkan terhadap orang lain yang ngga sepaham berpotensi menghambat datangnya hidayah. Yeah you might say hidayah itu dari Allah, ketika Allah berkehendak maka kun fayakun. Tapi kalau kita bisa jadi sebab datangnya hidayah, bisa juga dong kita jadi sebab terhambatnya hidayah? Berapa banyak orang yang tadinya udah berniat mau diskusi serius soal Islam karena pengin tahu lebih dalam jadi batal karena lihat postingan lo yang nyindir sesama muslim? Jawabannya adalah you never know. Bisa aja ngga ada, tapi bisa juga ada 100 orang. Nah loh.

Lima, PR kita banyaaakkk. Gw inget banget kata ustad Fariz, guru les bahasa Arab di masjid Salman ITB, di sela-sela materinya. Beliau cerita kalau Syaikh Al Buthi pernah berkata dalam ceramahnya, yang dimaksud Islam ada 70 golongan dan hanya ada 1 golongan yang akan masuk surga itu.....golongan yang dimaksud bukan NU, Muhammadiyah, tarbiyah, salafi atau golongan lain you may say. Satu golongan yang dimaksud adalah kita in syaa Allah, yang berpegang pada Al-Qur'an dan as-sunnah. Jadi udah bukan masanya lagi saling menghujat, menyindir satu sama lain. Energi besar yang Allah beri bukan buat itu seharusnya kita habiskan, masalah yang nunggu urun pikiran dan tangan kita buanyaakkkk kisanak *elap keringet pake kerudung*.

Ehem... 

Sebagai makhluk yang terlahir dibekali akal, manusia punya kemampuan berpikir, mencerna informasi dan memilih. Mencerna informasi yang sampai lewat berbagai indera, memutuskan mana yang sesuai dengan nurani, lalu memilihnya; termasuk soal menilai benar atau salah. Benar atau salah, relatif di mata makhluk tapi bernilai mutlak di hadapan Allah Pencipta semesta. Bukankah ngga ada yang mengetahui soal benar dan salah lebih baik daripada yang mencipta segalanya?

Segitu sulitkah menemukan alasan buat berbaik sangka dengan sesama muslim yang lain?

dari serial Omar

Baydewey, judulnya gw bikin ala judul artikel masa kini ah. Ngga asing kan pasti sama artikel dengan judul sepanjang jalan kenangan kita saling bergandeng tangan yang ketika dibuka ternyata zooonk....... isinya cuma 3 kalimat, itu pun kalimat pertamanya sama plek ketiplek ama judulnya. Oh man!

Jatuh Cinta (Lagi)

Thursday, August 18, 2016
Beberapa tulisan dibuat untuk menebar manfaat, beberapa untuk pengingat diri bahwa ada hari-hari yang membahagiakan, untuk dibaca lagi ketika tua nanti. Bukankah momen akan terus hidup melalui cerita?

Bagaimana caranya mendeskripsikan cinta?
Pada tangan yang letih bekerja, kaki yang kaku lantaran berdiri di kereta.
Pada mata sayu yang terpaksa masih terbuka ketika tengah malam tiba,
atau pada senyum yang berat namun tidak dipaksakan.

Bagaimana caranya menerjemahkan bahasanya?
Karena dia bukan lelaki yang pandai bermesra lewat kata,
apalagi romantika ala film India.
Cerita seperti drama Korea? Wah jauh sekali rasanya.

Tapi, bahkan tanpa bahasa pun ternyata mudah membaca dia membahasakan cinta. Lewat senyumnya di penghujung hari yang melelahkan, dengan mata sayu dan terkadang permintaan pijatan sejenak, beberapa menit sebelum dia terlelap mendengar ceritaku yang masih menggantung. 
Lewat refleks tangannya yang berhasil menemukan jari-jariku yang tersembunyi di balik bantal ketika kami membiarkan badan ditelan malam agar hilang lelah dan peluh.

Lalu aku menyadari,
beginilah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Padahal dulu kami punya cerita, bukan, bukan romantika remaja di masa mahasiswa. Di antara ribuan orang yang kudaulat menjadi teman, adalah dia salah satu dari ribuan tersebut. Jauh sebelum aku paham bagaimana batasan pria dan wanita yang diatur langsung oleh Pencipta kita, dia hadir sebagai salah satu sahabat terbaik, salah satu tempat berbagi resah terbaik dan tentu saja salah satu sebab terbaik hadirnya tawa. Berbagi beban dengannya memang tak selalu mendapat solusi, namun setidaknya terasa lebih ringan di hati. Persahabatan kami, seperti halnya persahabatan muda mudi lainnya, memiliki banyak tawa dan banyak celaan khas anak muda. Tergabung dalam satu divisi di organisasi menjadikan kami punya lingkaran main sendiri, bersama orang-orang yang menjadi keluarga ketika di rantau, dengan semboyan "hanya ada dua kondisi, senang atau senang sekali". Maka jangan bertanya-tanya kalau kau mendapati banyak foto lama kami bersama, atau banyak status dan tweet lama kami berbalasan. Dia memang sudah hadir sejak lama dalam lingkaran pertama orang-orang yang aku cari ketika aku butuh solusi atau sekedar butuh tertawa.

jualan di stand BEM pas penerimaan mahasiswa baru


ho-li-day yay!
geng "cuma ada dua kondisi: senang dan senang sekali"

Menjadi sahabatnya, dipercaya mendengar cerita yang tak banyak ia bagi karena ia tak suka orang tahu masalah pribadinya; adalah kehormatan besar.
Dipilih menjadi istrinya dari sekian banyak wanita, juga adalah kehormatan dan kebahagiaan besar. Eh, tapi bukankah dia pernah menenangkanku dengan nasihat "Tenang Mak, perempuan itu memilih kok." dalam suatu cerita patah hati? Berarti dia yang sangat bahagia akhirnya aku memilihnya. Ha!

Di setiap cerita sejarah, selalu ada perbedaan rasa antara pelaku dengan pembaca. Sama, cerita ini akan menjadi biasa saja untuk sebagian orang tapi jelas luar biasa untuk pelakunya. Setidaknya, untuk yang sedang menulis blog ini sambil menunggu sahabat terbaik yang sekarang bergelar suami pulang dari tempat kerjanya.

Walaupun waktunya lebih banyak tersita di tempat kerja dan aku hanya mendapatinya di sisa-sisa malam dengan mata sayu lelah berkereta, dia tetap yang tertampan, dengan kaos rumahan dan celana pendek yang itu-itu saja. Jelas bukan aku yang bisa lama memandangi dia tampil rapi dalam kemeja dan celana jeans yang kami beli bersama. Tapi, cinta juga soal menerima dan bertoleransi. Betapa hebatnya dia yang sabar melihat istrinya tiap hari memakai gamis rumahan yang (juga) itu-itu saja, bonus basah kena ompol dan eek dari bayi tiga minggu yang kami beri nama Afiqa. Maka aku tak menemukan alasan untuk tidak bersabar pula.

Beginilah, indahnya jatuh cinta setiap hari berkali-kali pada orang yang sama. Sahabat sendiri.

Rupanya, dulu tak pernah aku terlintas akan Allah pasangkan menjadi jodoh laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang sekarang kupanggil abang.

Bertemu dengannya adalah takdir, berteman dengannya sudah seharusnya, tapi menikah dan mencintainya melibatkan keputusan dengan banyak pertimbangan. Yang kutahu, aku bersyukur Allah menghadirkanmu untuk bersama kita menghabiskan usia. Semoga sampai surga. Mencintaimu di dunia yang fana saja sangat membahagiakan, apalagi di surga-Nya yang kekal dan indah luar biasa. 

Terima kasih sudah mengijinkanku memiliki opsi untuk memilihmu.


***

Bogor, 18 Agustus 2016 21.46
dengan satu bayi berumur 19 hari yang sedang ngulet-ngulet,
untuk laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang kupanggil abang <3

Keluarga Pak Ghazali: No Handphone Near Kids

Wednesday, August 10, 2016
Seperti halnya negara punya peraturan dan undang-undang sendiri, yang berbeda dengan negara lain;
seperti halnya perusahaan berhak memutuskan jam operasional pegawainya;
seperti halnya resep soto, yang berbeda bumbunya antara soto Padang dengan soto Semarang;
begitu pula keluarga, ia berhak memiliki aturan-aturannya sendiri.

Sejak Afiqa masih dalam kandungan, gw dan suami banyak berdiskusi tentang seperti apa kami akan mendidik anak-anak kami. Walaupun sebagian besar berakhir tanpa kesimpulan karena tergoda obrolan dengan topik lain atau karena ketiduran setelah belasan menguap hoam hoam, seenggaknya kami tahu, ke jalan mana Afiqa dan adek-adeknya akan kami arahkan.

Salah satu rule yang kami sepakati adalah "No handphone near kids". Sebenernya no gadget sih, tapi karena gadget yang paling handy buat gw dan suami cuma henpon jadi yaa begitulah jadinya undang-undang keluarga pak Ghazali pasal 4 nomor 1 tentang Perlindungan Anak. Sebab awalnya adalah penjelasan super panjang dan teknis tentang neuron, dendrit, akson, tempurung kepala dan perkembangan otak anak yang mostly gw udah lupa dari buku Welcome to Your Child's Brain-nya Sandra Aamodt hasil riset belasan tahun. Intinya, otak anak masih sangat sangat sangat rentan terhadap paparan radiasi, terlebih newborn yang tempurung kepalanya belum bersatu. 

Akhirnya....
Disepakati jarak 2 meter. Boleh ambil foto atau ngerekam video dari jarak dekat dengan prasyarat henpon di-airplane mode dulu. Boleh naroh di deket bayi dengan prasyarat serupa. The good thing is, kalo lagi sama Afiqa, kami fokus sama dia. Selain karena alasan teknis per-otak-an, kami juga ngga pengin jadi orangtua yang hadir raganya namun tidak jiwanya. Kami pengin hadir seutuhnya. 


Is it easy? No, I'm telling you it's not easy. Di jaman di mana manusia sangat attached sama henpon, hal sesimple ini pun butuh perjuangan. Tapi apalah artinya hidup tanpa perjuangan, yakan?

Finally! Welcome Baby Afiqa!

Tuesday, August 09, 2016
Seorang perempuan bernama Rahma, dia percaya momen akan abadi dengan dua cara, foto dan tulisan. Maka dengan ini, dia ingin momennya abadi, dan inilah kisahnya............................

Jumat minggu lalu, 29 Juli, kembali gw kontrol rutin ke rumah sakit Karya Bhakti Pratiwi (ini bukan endorse :p). Hasil USG menyatakan usia kehamilan gw baru 37 minggu. And yes that means we still have a couple weeks until the estimated due date. Sepulang dari rumah sakit, dan selagi masih bisa leluasa keluar, ngga lupa gw menyambangi bebek Haji Slamet yang super duper lezat dan tersohor itu (ini juga bukan endorse). Lalu malam pun tiba. Jelang tengah malem, perut gw bergejolak. Firasat gw mengatakan "waduh salah nih jangan-jangan makan sambel bebek slamet tadi" tapi makin lama gejolak perut gw makin aneh. Mulesnya tak sekedar mules kebanyakan sambel biasa yang bikin merinding kalo ditahan. Mules ini dateng dan pergi beberapa menit sekali. Akhirnya suami yang udah tidur duluan sejak berjam-jam sebelumnya langsung siaga, kantuk hilang seketika walaupun muka ngantuknya masih nyisa. Setelah geal-geol di gym ball sekitar satu jam, setengah tiga dini hari kami meluncur ke rumah sakit karena pas gw cek, ternyata udah keluar flek.

Ini paasssss banget, siangnya pas gw kontrol, dokter Giana sangat menekankan tiga kondisi darurat yang mengharuskan gw langsung ke IGD. Satu, ada cairan ketuban pecah, tanda gampangnya pokoknya asal ada cairan keluar dan itu bukan pipis, langsung ke IGD. Dua, keluar flek. Tiga, perutnya kenceng dan mules dengan interval 4-7 menit sekali selama 4 jam.

Setelah dicek bidan di IGD, ternyata.......masih bukaan 1 sodarah. Perjalanan masih panjang. Makin siang mulesnya makin nyata dan makin durasinya makin lama. Ternyata begini perjuangan mau menjadi ibu, pantesan Rasulullah menyebut ibu tiga kali sebelum ayah. Sampe jam 3 sore, bukaan stuck di angka 2, dan ternyata ketuban udah rembes. Dokter ngasih dua opsi, induksi atau caesar. Dengan alasan-alasan yang ngga bisa gw ceritakan, akhirnya dipilih opsi caesar. 

Setelah dua bulan, gw kembali memakai baju hijau bertali belakang itu, masuk ke ruangan dingin itu, dan berbaring di bed yang sama. Dokter-dokter di ruang operasi dan perawat ruangannya bahkan masih inget sama gw, tapi jelas itu bukan prestasi walaupun diingat orang memang menyenangkan. Punggung bawah disuntik. Kebas dimulai dari kaki, menjalar sampai ke perut. Dingin makin menjadi. Lalu...gw diajak ngobrol yang gw jawab setengah mengigau. "Tuh kan ketubannya udah ijo!" suara dokter Giana tertangkap oleh indera pendengaran yang makin melemah karena ngantuk. Lalu.....

Eekk..ekk..oeeeekkkkk.....
Eh gimana sih nulisin bayi nangis kenceng pertama kali?
Lalu gw kembali tertidur.

Jatuh cinta. Pada tangis pertamanya, pada rambut lebatnya, pada jari tangannya yang mungil, pada dagunya yang lancip, pada matanya yang bisa membelalak, pada bibirnya yang menguncup kecil. Beginilah Allah sempurnakan nikmat pada hambaNya. Dia berikan bayi mungil yang tangisnya memenuhi ruang operasi, dan terlebih lagi memenuhi level kebahagiaan ibunya. Dia cantik, setengah ayahnya setengah ibunya. Bayi yang kami beri nama Afiqa, perempuan cerdas. Nama lengkapnya belum selesai dirumuskan hingga Afiqa berumur 4 hari.

Afiqa Taqiyya Amanina. Perempuan cerdas, bertaqwa, yang menjadi harapan kami. Doakan bayi cantik ini tumbuh sesuai arti namanya :)

Anak gw, baru lahir udah banyak yang ngajak main sama makan oreo! Sebabnya pasti iklan oreo yang dibintangin Afiqa. Bukan terinspirasi, karena kami baru tahu nama Afiqa oreo itu Amanina Afiqa Ibrahim justru setelah nama Afiqa kami, selesai dirumuskan.

Hari-hari setelahnya dipenuhi dengan aktivitas emak-emak baru. Nyusuin, cuci popok, gantiin popok, cium-ciumin anak. And I'm telling you, being a mom needs extra energy. Punya anak ngga cuma soal seneng-seneng anaknya lucu bisa difoto-foto, diciumin dan diupload-upload. Ada drama puting lecet pas nyusuin, kudu melek tengah malem di saat biasanya bisa enak-enakan tidur, ikutan nangis pas anak rewel dan susah mimik, daaaan drama-drama lainnya. Tapi, ada kelegaan yang ngga bisa diceritakan pas ngeliat anak bobok pules sambil senyum-senyum khas bayi newborn. Ada kebahagiaan yang ngga bisa dideskripsikan pas selesai mimikin sampe anak kenyang. Ada kebahagiaan dalam tiap detik yang dihabiskan bersamanya. Dan terlebih lagi, ada tanggung jawab besar atas titipan ini untuk mendidiknya dengan benar, mengenalkannya pada Rabb semesta alam, dan menjaganya dari dunia yang semakin buas.

So yes, welcome baby Afiqa!
Ayah dan ibu superluvvvv sama kamuuuu :*