jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

IQRA

Friday, December 16, 2016
"Iqra" tanpa "Bismirabbika" berujung sekulerisme, atheisme, hedonisme, permisivisme.

"Bismirabbika" tanpa "Iqra"
berujung fatalisme, mistisisme, dukunisme, khurafatisme.
"Iqra" adalah aktifitas berfikir, mengkaji. "Bismirabbika" adalah aktivitas mendzikir, mengingat Allah dalam keadaan apapun. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
- Syaikh Tarbiyah (Alm) KH Rahmat Abdullah

Bertanyalah, Nona

Tuesday, November 15, 2016
Ada yang berjilbab sepanjang perut hingga dadanya tertutup, ada yang berjilbab sebatas leher, ada yang rambutnya terjuntai. Tidakkah itu membuat kita bertanya kenapa?

Ada yang selalu memakai gamis, ada yang memakai rok dan tunik longgar, ada yang memakai celana kulot, ada juga yang memakai celana jeans ketat yang ketika berjalan tampaklah jelas bentuk pantat. Tidakkah itu membuat kita bertanya kenapa?

Ada yang tiap minggu datang kajian, ada yang rutin bioskop menjadi tujuan, ada yang di rumah saja tidur-tiduran. Tidakkah itu membuat kita bertanya kenapa?

Ada yang telinganya familiar dengan ayat suci kitabnya, ada yang memilih mendengar lagu chart Prambors terkini. Tidakkan itu membuat kita bertanya?

Ada yang menyalakan televisi seperlunya, ada yang disetel hanya supaya rumah tidak sepi tanpa perlu dipandangi, ada yang rajin mengikuti infotainment gosip selebriti. Tidakkah itu membuat kita bertanya?

Ada yang lembaran merah seratus ribunya masuk ke kotak amal, ada yang diserahkan pada kasir cafe-cafe kekinian, ada pula yang berubah wujud menjadi pakaian. Tidakkah itu membuat kita berpikir?

Ada yang berdoa sebelum makan, ada yang mengambil fotonya lalu diupload ke instagram, ada pula yang membatin-batin layanan restoran. Tidakkah itu membuat kita berpikir?

Ada yang mulutnya banyak terdiam, ada yang sibuk bergunjing, ada pula yang tak pernah absen ketika ada tetangga berghibah. Tidakkah itu membuat kita berpikir?

***


Bukankah perbedaan tercipta supaya manusia menggunakan akalnya? Untuk berpikir mengapa kita berbeda, lalu mencari tahu mana yang seharusnya. Bukankah begitu, nona? 

Nona, tidak ada yang terjadi karena kebetulan, bahkan sehelai daun jatuh pun atas kuasa Tuhan. Berarti bukan kebetulan pula nona menemui orang-orang yang berbeda, yang tidak mau ke tempat karaoke, yang selalu menolak menonton infotainment televisi, atau yang tak pernah tampak mengenakan celana jeans lagi. Tidakkah nona ingin tahu alasan mereka apa? 

Jikalau nona sulit menebak-nebak alasannya, silakan bertanya. Senyum sumringah akan nona dapatkan sebagai bonus dari jawaban.

Blogmu, Rumahmu

Monday, October 31, 2016
Dua hari lalu adalah hari blogger nasional. Setelah angsajenius lama gw diamkan dengan berbagai alasan, pas buka twitter kok ya paaaaaaaaassssss banget nemu tweetnya pak Nukman ini. 





Trus terjadilah dialog berikut dalam hati
Rahma: Halah mana katanya pernah komitmen one day one post.
Rahma: Loh tapi kan udah cerita di path, instagram sama twitter. 
Rahma: Ya tapi kan ngga semuanya tercover kalo di sana.
Rahma: Iya sih. Ini banyak kok ide tulisan gw simpen di Google Keep.
Rahma: Tapi gak ditulis, sama aja to? *lempar pisang goreng*
Rahma: *mangap*
Rahma: *nyingkirin piring pisang goreng dulu*
Monolog apa sih ini. Hhhhh.

Blogger aktif tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya pasti ngerasain kejayaan blogging. Blogwalking, saling visit, komen di postingan, saling follow, komen di chatbox, sibuk mempercantik tampilan blog, custom widget mulu, dan pasang banyak badge pluuusss ikut giveaway yang mengharuskan nulis dengan tema tertentu. Oh I miss the good old days! Enam tahun kemudian, fitur media sosial makin lengkap termasuk buat nulis cerita panjang.

Mendapati tweet pak Nukman seperti tamparan buat gw. Angsajenius dibuat tahun 2010 sebagai tempat gw cerita. Karena gw ingin tetap hidup meskipun cuma lewat cerita. Bukan sekali dua kali ada orang nanya kenapa gw ngga nulis tentang per-IT-an, dunia yang gw selami sejak 2008 masuk kuliah di IT Telkom. Tapi dari awal memang angsajenius ngga ada niatan ke sana, ini adalah tempat gw cerita. Bukankah kita bisa mengenal seseorang melalui ceritanya? Dan bukankah satu cerita bisa menumbuhkan gagasan dan ide-ide brilian yang baru?

Ngutip kalimatnya seorang temen blogger, karena nisan tidak memberikan apapun selain nama, tanggal lahir dan tanggal wafat. Maka blogginglah supaya tetap hidup, kita ngga pernah tahu kan dari tulisan mana orang terinspirasi untuk berbuat baik?

Blog memang rumah untuk ide, gagasan dan kisah. Facebook, instagram, path, twitter hanyalah jendela dan pintunya. Kita bisa memberi dengan mengulurkan tangan lewat jendela, tapi untuk memberi sambil berbincang maka masuklah ke rumahnya. Tengoklah isi rumahnya, jangan hanya berdiri di depan jendela.

Bahagia rasanya tiap mendapati postingan dibaca sampe seribu view, walaupun ngga jarang juga cuma 300an. Bahagia rasanya tiap nemu komentar di blog karena it takes more effort dibandingkan komen di media sosial. Bahagia rasanya diapresiasi, bukan berarti haus apresiasi tapi itu salah satu pelecut untuk terus bercerita. Sumbu utamanya tetep aja kemauan untuk punya rumah di dunia maya, yang kadang disiram bahan bakar dengan pertanyaan suami "Mana blognya kok ngga diupdate, nulis lagi dong." 


Gw sangat sadar banyak yang lebih senior di dunia perbloggingan, lebih rutin update, lebih bermutu kontennya, lebih tinggi hit-nya, tapi hidup tak selalu soal perbandingan. Lelah kapten kalau terus membandingkan. Lakukan yang lo bisa, bukan malah menggerutu karena kalah dari orang lain sebutlah namanya siapa.

Jadi, mau mengisi rumah dengan perabot bermutu atau terus sibuk memandang foto perabot tetangga lewat jendela, Rahma?

Minyak Telon Palsu, Sebuah Review

Sunday, October 30, 2016
Every parents want to give all the best they could for their children, that's the credo I believe. After having Afiqa, I realised that we need to learn a lot so that we know what's good, what's better and what's not proper.

Sekitar sebulan lalu gw beli minyak telon buat Afiqa di salah satu toko perlengkapan bayi di Bogor. Karena susah keluar lantaran weekend selalu macet huff maka masuklah 2 botol minyak telon Njonja Meneer ke keranjang belanjaan kami biar ngga keluar-keluar buat beli sampe 4 bulan ke depan. Ngga ada kecurigaan kami, jadi yaaa~ minyak telon itu terlibat lah dalam rutinitas mandi bayi kami yang lagi belajar angkat kepala itu. 

"Bang, coba deh cium minyaknya. Ko kaya minyak kayu putih ya baunya."
*suami fokus ciumin bau minyak telon*
"Ah nggak ah, sama aja.", katanya.
"Ih bener deh ini beda tau sama minyak telon yang abis kemaren."
blablabla. Suami masih insist sama aja, gw tetap insist ini beda. Akhirnya......... ya tetep dipake juga sampe beberapa minggu. Ngok.

Kecurigaan gw menjadi-jadi pas mendapati Afiqa udah ngga wangi telon lagi sekitar setengah jam abis mandi, dan tangan gw ngga ngerasa hangat sama sekali setelah makein minyak. Gw langsung googling perbedaan minyak telon Njonja Meneer asli dan palsu, tapi masih kurang mantap hasilnya. Rada susah bandingin langsung karena kemasan lama udah gw buang. Lalu gw bertanya ke grup segala-tahu, Umahat Peduli Jilbab. Jreeeng. Dari situ, yakin lah gw kalau gw udah beli produk palsu. Hzzz.



Iya fotonya blur semi remang-remang gitu iya, tahu kok. Ini foto diambil barusan, di kamar yang udah remang-remang karena baby syudah boboookk.

Jadi ya mak-emak, ini highlight yang bikin gw sadar bahwa minyak telon Njonja Meneer yang gw beli ini palsu.
  1. Aromanya ngga kaya minyak telon melainkan kaya minyak kayu putih.
  2. Sama sekali ngga ada hangat tersisa di tangan kita setelah balurin minyak ke badan baby. Kalo masih ragu-ragu, tes aja minyaknya ke badan kita atau ke area yang sensitif terhadap panas yaitu dekat mata. Hahaha baydewey cara ini pernah gw pake buat mengatasi problem tidur di kelas, tapi hasilnya justru gw ga bisa melek karena mata pedes setelah oles minyak kapak di alis -____-
  3. Warna minyak telon Njonja Meneer asli itu kuning cerah, yang palsu lebih hijau.
  4. Stiker label yang membalut botol telon Njonja Meneer asli itu kuning muda, yang palsu kuning kunyit.
  5. Gw lupa apakah di botol telon Njonja Meneer asli dicantumkan kode produksi dan tanggal kadaluwarsa apa engga (seharusnya sih ada ya), tapi di telon palsu ngga ada.
  6. Perhatikan gambar tutup botolnya, yang asli jarak antar garisnya lebih rapat dan garisnya lebih kecil, yang palsu gede-gede kaya di foto.
  7. Saluran buat ngeluarin minyak (apa lah ni nyebutnya ya), yang asli lebih kecil, yang palsu lebih gede.
  8. Kata suami setelah melakukan riset di internet, yang asli kardusnya berstiker hologram sedangkan yang palsu engga.
  9. Harga? Hahaha sama aja mak! 
Yang mengecoh lagi adalah botolnya persis sama ketika gw minta fotoin telon asli dari grup Umahat PJ, kode PTRnya juga sama. Syediihh maakkk. Anak gw ngga merasakan sensasi kehangatan setelah mandi selama 2 minggu gara-gara telon palsu :( Padahal sambil makein telon gw udah nyanyi-nyanyi "Pakai telon supayaaaa....hangaaaatttt~" 

Apa yang bisa kita lakukan?
  • Satu. Potong botol setelah minyak habis, baru buang. Botol yang masih utuh bisa disalahgunakan buat ngemas telon palsu. Yaa botolnya agak keras sih, gausah dipotong juga gapapa mak, disayat aja sampe bolong. Pokoknya rusak.
  • Dua. Ulangi langkah pertama seumur hidup kita buat kemasan-kemasan produk yang akan kita buang. Udah berapa juta kasus produk palsu cobak? Ngga cuma minyak telon, minyak goreng juga mungkin dipalsuin, orang minyak tanah aja dulu rame dicampur air baru dijual. Huuuuhhhhhh.
Cailah judul postingannya rada puitis gitu ya "sebuah review". Selamat mengecek minyak telon di rumah buibuuuukkk! 

Umahat Peduli Jilbab

Thursday, October 27, 2016
Ada yang tak pernah sengaja menyamakan langkah namun bisa berjalan beriring. Ada yang tak pernah mengadakan pertemuan untuk menyamakan persepsi namun ternyata bisa saling memahami.

Dari puluhan grup watsap, ada satu grup yang ngga pernah sepi. Dari hal sangat serius seperti diskonan popok sekali pakai (penting!) sampe remeh temeh seperti baru aja lewat tukang martabak, segalanya dibahas tuntas. Perihal vaksin anak, arisan, resep masakan, es krim Aice (yang gw belom pernah huhu, di Bogor di mana sih yang jual?), harga cluster perumahan Islami, dokter anak dan dokter kandungan, tips menjelang kelahiran, tips promil, cara ngatur keuangan keluarga, duh saking banyaknya gw sampe bingung kudu ngabsen dari mana :3

Bergabung ke grup Umahat Peduli Jilbab adalah salah satu hal terbaik dalam 25 tahun kehidupan gw. Sebagian besar member grup ini belom pernah secara langsung gw jabat tangannya, tapi rasanya bisa jauuuuhhh lebih deket dan kenal daripada yang udah pernah berjabat tangan langsung. Mereka bisa menjawab pertanyaan yang ngga bisa Google jawab, emak-emak ini lebih canggih daripada Google. Pertanyaan yang ngga berani gw tanyain ke siapapun, bisa gw tanyain ke mereka, dan dijawab!

Ngga ada celetukan seremeh apapun yang ngga direspon. Yang bisa bikin berkaca-kaca karena tertohok dan terharu, atau karena disadarkan bahwa iman sedang sangat rendah; tapi juga bisa bikin ketawa sampe sakit perut.





Dari sekian banyak grup Peduli Jilbab, cuma grup Umahat yang ngga pernah sepi. Allah tambah-kuatkan ikatan ukhuwah ini sehingga ngga cuma persoalan Peduli Jilbab yang menjadi concern kami, dan justru itu yang mengikat kami lebih erat. Curahan hati ditanggapi supaya terselesaikan secara syar'i, permasalahan dibantu menguraikan atau minimal mendoakan. Minimal banget menghibur dengan tawa yang tak harus dipaksakan, karena ada banyak hal yang bisa ditertawakan. 

Obrolan di UPJ berperan dalam proses pendewasaan gw menyelami peran sebagai istri dan ibu, sebagai wanita, sebagai makhluk Allah yang diberi sejuta potensi. Obrolan di UPJ ngga cuma menjadi penghibur sambil nunggu suami pulang kerja, tapi juga mencerdaskan dan mendewasakan. Kadang juga menguras saldo ATM karena kebanyakan promo diskonan dan jualan. Ah pokoknya I heart you allllllllllllll!

Kalau bukan atas kehendak Allah, pasti ngga ada ceritanya Rahma bisa tobat. Kalau bukan atas kehendak Allah, pasti lemari gw masih penuh sama jeans dan baju ketat-ketat plus kerudung paris yang tipisnya kaya saringan tahu. Dan mungkin gw masih males dateng kajian, masih males juga gaul deket-deket sama aktivis masjid. Alhamdulillah alhamdulillah gw dikasih kesempatan berubah dan memperbaiki diri, kemudian dipertemukan dengan Peduli Jilbab. Raga memang sedang terbatas untuk bergerak, tapi in syaa Allah segera, segera gw akan bergerak melaju lagi.

Wahai mamak-mamak UPJ, kalau nanti di surga kalian ngga nemuin aku, tolong cari aku. Semoga kita bisa bertetangga di Jannah-Nya :)

Jangan Jadi Sebab Terhambatnya Hidayah

Monday, August 22, 2016
Di sela-sela hujan yang tidak lagi rintik karena derasnya dan obrolan singkat dengan suami yang tengah menyelesaikan pekerjaannya, dahi Anjali mengernyit hingga kedua alisnya bertemu. Jarinya berhenti dari pergerakan naik turun scrolling timeline Facebook.

"Sayang, lihat deh ini.", Anjali menyodorkan handphonenya pada suaminya, Rahul, yang disambut dengan suara berdehem panjang. Hmmmmm...

Pada layar handphone Anjali, tampak postingan seorang teman yang mereka berdua kenal, Tina, yang menegur dengan nada sindiran tentang isi ceramah ustad Khan karena dinilai tidak sesuai dengan pemahaman golongannya. Ke bawah, muncul postingan Ajay yang menegur seseorang dengan cara serupa, menyindir, dan tentu saja tanpa tag seseorang yang dimaksud.

Anjali menghembuskan nafas panjang.

Dia teringat masa-masa yang disebutnya zaman kegelapan, zaman ketika hidayah belum menyapa, Allah dan Islam sungguh jauh terasa. 

"Mas Hul," panggilan sayang Anjali pada suaminya yang berwajah mirip Shah Rukh Khan itu, "aku ngga suka deh sama postingan yang provokatif kaya tadi punya Tina sama Ajay. Kalau aku baca postingan kaya gitu dua tahun lalu, mungkin aku malah jadi ilfil sama Islam, bukannya tercerahkan."

"Iya sih, yang kaya gini nih yang bikin orang ilfil dan mikir kalau Islam isinya orang-orang yang ngeributin perbedaan kecil, trus lupa sama PR besar kita di akhir jaman.", jawab Rahul.

"Makanya aku nahan diri ngepost yang beginian, yang kontroversial gitu loh Mas. Ngga ngerti kan yak gimana penerimaan dan pemahaman orang. Ngeri ugak kalo aku jadi sebab terhalangnya orang dapet hidayah."

Kemudian obrolan singkat itu berakhir karena keduanya mengunyah pisang goreng hangat ditemani hujan yang berirama menghentak genting rumah mereka.

***

Sadar atau engga, provokasi ada di mana-mana. Ngga cuma di media massa atau saat demonstrasi menuntut Presiden memenuhi janji-janji surga kampanyenya, provokasi juga ada sangat dekat dengan kita. Dilontarkan sebagian orang yang kita kenal dan bisa kita lihat lewat kotak kecil bernama henpon. Di timeline gw sendiri aja, ngga sedikit yang menegur dengan nada sindiran tanpa mention atau tag orang yang ingin ditegur, ada juga yang menjelek-jelekkan pemahaman saudara sesama muslim hanya karena berbeda golongan. To be brief, ngga sedikit yang salafi nyindir-nyindir tarbiyah, yang tarbiyah nyindir-nyindir HTI, yang HTI nyindir-nyindir tarbiyah, yang Muhammadiyah nyindir-nyindir NU, daaan seterusnya dan seterusnya. Oh yes gw sebut merk dengan jelas karena memang begitu kenyataan yang gw temui.

Padahal......

Satu, Islam mengajarkan pengikutnya untuk selalu husnudzon atau berprasangka baik. Jauh sebelum di Indonesia dikenal asas praduga tidak bersalah, Islam hadir 1400an tahun lalu udah ngajarin kita buat menerapkan asas praduga tidak bersalah sampe terbukti memang salah. Jadi, di mana aplikasi husnudzon yang didenger setiap pengajian kalau kita lebih banyak berprasangka buruk sama muslim yang lain?

Dua, Islam mengajarkan cara menegur yang ahsan. Imam Syafii pernah bilang "Nasihati aku ketika aku sendiri, jangan nasihati aku di kala ramai. Karena nasihat di kala ramai bagai hinaan yang melukai hati.". Dan buat hal ini, postingan di media sosial jelas bukan definisi dari "sendiri" kecuali lo memakainya buat ngejapri. Sependek pemahaman gw, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menegur di depan umum seseorang yang dateng ke masjid lalu tampak ngga akan shalat 2 rakaat dulu. Beliau menegur langsung di depan umum karena jika ditunda, orang tersebut ngga akan shalat 2 rakaat. Artinya, boleh menegur di depan umum buat hal yang mendesak, kalau ngga langsung ditegur bakal terjadi kesalahan, dan tegurannya ngga bisa ditunda. 

Tiga, pada dasarnya ngga ada orang yang seneng mengetahui dirinya salah. Kalaupun pada akhirnya dia berterima kasih dan merasa senang telah diingatkan, pastilah ada proses dan waktu yang berperan.

Empat, sindir-menyindir dan saling menjelekkan terhadap orang lain yang ngga sepaham berpotensi menghambat datangnya hidayah. Yeah you might say hidayah itu dari Allah, ketika Allah berkehendak maka kun fayakun. Tapi kalau kita bisa jadi sebab datangnya hidayah, bisa juga dong kita jadi sebab terhambatnya hidayah? Berapa banyak orang yang tadinya udah berniat mau diskusi serius soal Islam karena pengin tahu lebih dalam jadi batal karena lihat postingan lo yang nyindir sesama muslim? Jawabannya adalah you never know. Bisa aja ngga ada, tapi bisa juga ada 100 orang. Nah loh.

Lima, PR kita banyaaakkk. Gw inget banget kata ustad Fariz, guru les bahasa Arab di masjid Salman ITB, di sela-sela materinya. Beliau cerita kalau Syaikh Al Buthi pernah berkata dalam ceramahnya, yang dimaksud Islam ada 70 golongan dan hanya ada 1 golongan yang akan masuk surga itu.....golongan yang dimaksud bukan NU, Muhammadiyah, tarbiyah, salafi atau golongan lain you may say. Satu golongan yang dimaksud adalah kita in syaa Allah, yang berpegang pada Al-Qur'an dan as-sunnah. Jadi udah bukan masanya lagi saling menghujat, menyindir satu sama lain. Energi besar yang Allah beri bukan buat itu seharusnya kita habiskan, masalah yang nunggu urun pikiran dan tangan kita buanyaakkkk kisanak *elap keringet pake kerudung*.

Ehem... 

Sebagai makhluk yang terlahir dibekali akal, manusia punya kemampuan berpikir, mencerna informasi dan memilih. Mencerna informasi yang sampai lewat berbagai indera, memutuskan mana yang sesuai dengan nurani, lalu memilihnya; termasuk soal menilai benar atau salah. Benar atau salah, relatif di mata makhluk tapi bernilai mutlak di hadapan Allah Pencipta semesta. Bukankah ngga ada yang mengetahui soal benar dan salah lebih baik daripada yang mencipta segalanya?

Segitu sulitkah menemukan alasan buat berbaik sangka dengan sesama muslim yang lain?

dari serial Omar

Baydewey, judulnya gw bikin ala judul artikel masa kini ah. Ngga asing kan pasti sama artikel dengan judul sepanjang jalan kenangan kita saling bergandeng tangan yang ketika dibuka ternyata zooonk....... isinya cuma 3 kalimat, itu pun kalimat pertamanya sama plek ketiplek ama judulnya. Oh man!

Jatuh Cinta (Lagi)

Thursday, August 18, 2016
Beberapa tulisan dibuat untuk menebar manfaat, beberapa untuk pengingat diri bahwa ada hari-hari yang membahagiakan, untuk dibaca lagi ketika tua nanti. Bukankah momen akan terus hidup melalui cerita?

Bagaimana caranya mendeskripsikan cinta?
Pada tangan yang letih bekerja, kaki yang kaku lantaran berdiri di kereta.
Pada mata sayu yang terpaksa masih terbuka ketika tengah malam tiba,
atau pada senyum yang berat namun tidak dipaksakan.

Bagaimana caranya menerjemahkan bahasanya?
Karena dia bukan lelaki yang pandai bermesra lewat kata,
apalagi romantika ala film India.
Cerita seperti drama Korea? Wah jauh sekali rasanya.

Tapi, bahkan tanpa bahasa pun ternyata mudah membaca dia membahasakan cinta. Lewat senyumnya di penghujung hari yang melelahkan, dengan mata sayu dan terkadang permintaan pijatan sejenak, beberapa menit sebelum dia terlelap mendengar ceritaku yang masih menggantung. 
Lewat refleks tangannya yang berhasil menemukan jari-jariku yang tersembunyi di balik bantal ketika kami membiarkan badan ditelan malam agar hilang lelah dan peluh.

Lalu aku menyadari,
beginilah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.

Padahal dulu kami punya cerita, bukan, bukan romantika remaja di masa mahasiswa. Di antara ribuan orang yang kudaulat menjadi teman, adalah dia salah satu dari ribuan tersebut. Jauh sebelum aku paham bagaimana batasan pria dan wanita yang diatur langsung oleh Pencipta kita, dia hadir sebagai salah satu sahabat terbaik, salah satu tempat berbagi resah terbaik dan tentu saja salah satu sebab terbaik hadirnya tawa. Berbagi beban dengannya memang tak selalu mendapat solusi, namun setidaknya terasa lebih ringan di hati. Persahabatan kami, seperti halnya persahabatan muda mudi lainnya, memiliki banyak tawa dan banyak celaan khas anak muda. Tergabung dalam satu divisi di organisasi menjadikan kami punya lingkaran main sendiri, bersama orang-orang yang menjadi keluarga ketika di rantau, dengan semboyan "hanya ada dua kondisi, senang atau senang sekali". Maka jangan bertanya-tanya kalau kau mendapati banyak foto lama kami bersama, atau banyak status dan tweet lama kami berbalasan. Dia memang sudah hadir sejak lama dalam lingkaran pertama orang-orang yang aku cari ketika aku butuh solusi atau sekedar butuh tertawa.

jualan di stand BEM pas penerimaan mahasiswa baru


ho-li-day yay!
geng "cuma ada dua kondisi: senang dan senang sekali"

Menjadi sahabatnya, dipercaya mendengar cerita yang tak banyak ia bagi karena ia tak suka orang tahu masalah pribadinya; adalah kehormatan besar.
Dipilih menjadi istrinya dari sekian banyak wanita, juga adalah kehormatan dan kebahagiaan besar. Eh, tapi bukankah dia pernah menenangkanku dengan nasihat "Tenang Mak, perempuan itu memilih kok." dalam suatu cerita patah hati? Berarti dia yang sangat bahagia akhirnya aku memilihnya. Ha!

Di setiap cerita sejarah, selalu ada perbedaan rasa antara pelaku dengan pembaca. Sama, cerita ini akan menjadi biasa saja untuk sebagian orang tapi jelas luar biasa untuk pelakunya. Setidaknya, untuk yang sedang menulis blog ini sambil menunggu sahabat terbaik yang sekarang bergelar suami pulang dari tempat kerjanya.

Walaupun waktunya lebih banyak tersita di tempat kerja dan aku hanya mendapatinya di sisa-sisa malam dengan mata sayu lelah berkereta, dia tetap yang tertampan, dengan kaos rumahan dan celana pendek yang itu-itu saja. Jelas bukan aku yang bisa lama memandangi dia tampil rapi dalam kemeja dan celana jeans yang kami beli bersama. Tapi, cinta juga soal menerima dan bertoleransi. Betapa hebatnya dia yang sabar melihat istrinya tiap hari memakai gamis rumahan yang (juga) itu-itu saja, bonus basah kena ompol dan eek dari bayi tiga minggu yang kami beri nama Afiqa. Maka aku tak menemukan alasan untuk tidak bersabar pula.

Beginilah, indahnya jatuh cinta setiap hari berkali-kali pada orang yang sama. Sahabat sendiri.

Rupanya, dulu tak pernah aku terlintas akan Allah pasangkan menjadi jodoh laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang sekarang kupanggil abang.

Bertemu dengannya adalah takdir, berteman dengannya sudah seharusnya, tapi menikah dan mencintainya melibatkan keputusan dengan banyak pertimbangan. Yang kutahu, aku bersyukur Allah menghadirkanmu untuk bersama kita menghabiskan usia. Semoga sampai surga. Mencintaimu di dunia yang fana saja sangat membahagiakan, apalagi di surga-Nya yang kekal dan indah luar biasa. 

Terima kasih sudah mengijinkanku memiliki opsi untuk memilihmu.


***

Bogor, 18 Agustus 2016 21.46
dengan satu bayi berumur 19 hari yang sedang ngulet-ngulet,
untuk laki-laki berbadan tipis berhati lapang yang kupanggil abang <3

Keluarga Pak Ghazali: No Handphone Near Kids

Wednesday, August 10, 2016
Seperti halnya negara punya peraturan dan undang-undang sendiri, yang berbeda dengan negara lain;
seperti halnya perusahaan berhak memutuskan jam operasional pegawainya;
seperti halnya resep soto, yang berbeda bumbunya antara soto Padang dengan soto Semarang;
begitu pula keluarga, ia berhak memiliki aturan-aturannya sendiri.

Sejak Afiqa masih dalam kandungan, gw dan suami banyak berdiskusi tentang seperti apa kami akan mendidik anak-anak kami. Walaupun sebagian besar berakhir tanpa kesimpulan karena tergoda obrolan dengan topik lain atau karena ketiduran setelah belasan menguap hoam hoam, seenggaknya kami tahu, ke jalan mana Afiqa dan adek-adeknya akan kami arahkan.

Salah satu rule yang kami sepakati adalah "No handphone near kids". Sebenernya no gadget sih, tapi karena gadget yang paling handy buat gw dan suami cuma henpon jadi yaa begitulah jadinya undang-undang keluarga pak Ghazali pasal 4 nomor 1 tentang Perlindungan Anak. Sebab awalnya adalah penjelasan super panjang dan teknis tentang neuron, dendrit, akson, tempurung kepala dan perkembangan otak anak yang mostly gw udah lupa dari buku Welcome to Your Child's Brain-nya Sandra Aamodt hasil riset belasan tahun. Intinya, otak anak masih sangat sangat sangat rentan terhadap paparan radiasi, terlebih newborn yang tempurung kepalanya belum bersatu. 

Akhirnya....
Disepakati jarak 2 meter. Boleh ambil foto atau ngerekam video dari jarak dekat dengan prasyarat henpon di-airplane mode dulu. Boleh naroh di deket bayi dengan prasyarat serupa. The good thing is, kalo lagi sama Afiqa, kami fokus sama dia. Selain karena alasan teknis per-otak-an, kami juga ngga pengin jadi orangtua yang hadir raganya namun tidak jiwanya. Kami pengin hadir seutuhnya. 


Is it easy? No, I'm telling you it's not easy. Di jaman di mana manusia sangat attached sama henpon, hal sesimple ini pun butuh perjuangan. Tapi apalah artinya hidup tanpa perjuangan, yakan?

Finally! Welcome Baby Afiqa!

Tuesday, August 09, 2016
Seorang perempuan bernama Rahma, dia percaya momen akan abadi dengan dua cara, foto dan tulisan. Maka dengan ini, dia ingin momennya abadi, dan inilah kisahnya............................

Jumat minggu lalu, 29 Juli, kembali gw kontrol rutin ke rumah sakit Karya Bhakti Pratiwi (ini bukan endorse :p). Hasil USG menyatakan usia kehamilan gw baru 37 minggu. And yes that means we still have a couple weeks until the estimated due date. Sepulang dari rumah sakit, dan selagi masih bisa leluasa keluar, ngga lupa gw menyambangi bebek Haji Slamet yang super duper lezat dan tersohor itu (ini juga bukan endorse). Lalu malam pun tiba. Jelang tengah malem, perut gw bergejolak. Firasat gw mengatakan "waduh salah nih jangan-jangan makan sambel bebek slamet tadi" tapi makin lama gejolak perut gw makin aneh. Mulesnya tak sekedar mules kebanyakan sambel biasa yang bikin merinding kalo ditahan. Mules ini dateng dan pergi beberapa menit sekali. Akhirnya suami yang udah tidur duluan sejak berjam-jam sebelumnya langsung siaga, kantuk hilang seketika walaupun muka ngantuknya masih nyisa. Setelah geal-geol di gym ball sekitar satu jam, setengah tiga dini hari kami meluncur ke rumah sakit karena pas gw cek, ternyata udah keluar flek.

Ini paasssss banget, siangnya pas gw kontrol, dokter Giana sangat menekankan tiga kondisi darurat yang mengharuskan gw langsung ke IGD. Satu, ada cairan ketuban pecah, tanda gampangnya pokoknya asal ada cairan keluar dan itu bukan pipis, langsung ke IGD. Dua, keluar flek. Tiga, perutnya kenceng dan mules dengan interval 4-7 menit sekali selama 4 jam.

Setelah dicek bidan di IGD, ternyata.......masih bukaan 1 sodarah. Perjalanan masih panjang. Makin siang mulesnya makin nyata dan makin durasinya makin lama. Ternyata begini perjuangan mau menjadi ibu, pantesan Rasulullah menyebut ibu tiga kali sebelum ayah. Sampe jam 3 sore, bukaan stuck di angka 2, dan ternyata ketuban udah rembes. Dokter ngasih dua opsi, induksi atau caesar. Dengan alasan-alasan yang ngga bisa gw ceritakan, akhirnya dipilih opsi caesar. 

Setelah dua bulan, gw kembali memakai baju hijau bertali belakang itu, masuk ke ruangan dingin itu, dan berbaring di bed yang sama. Dokter-dokter di ruang operasi dan perawat ruangannya bahkan masih inget sama gw, tapi jelas itu bukan prestasi walaupun diingat orang memang menyenangkan. Punggung bawah disuntik. Kebas dimulai dari kaki, menjalar sampai ke perut. Dingin makin menjadi. Lalu...gw diajak ngobrol yang gw jawab setengah mengigau. "Tuh kan ketubannya udah ijo!" suara dokter Giana tertangkap oleh indera pendengaran yang makin melemah karena ngantuk. Lalu.....

Eekk..ekk..oeeeekkkkk.....
Eh gimana sih nulisin bayi nangis kenceng pertama kali?
Lalu gw kembali tertidur.

Jatuh cinta. Pada tangis pertamanya, pada rambut lebatnya, pada jari tangannya yang mungil, pada dagunya yang lancip, pada matanya yang bisa membelalak, pada bibirnya yang menguncup kecil. Beginilah Allah sempurnakan nikmat pada hambaNya. Dia berikan bayi mungil yang tangisnya memenuhi ruang operasi, dan terlebih lagi memenuhi level kebahagiaan ibunya. Dia cantik, setengah ayahnya setengah ibunya. Bayi yang kami beri nama Afiqa, perempuan cerdas. Nama lengkapnya belum selesai dirumuskan hingga Afiqa berumur 4 hari.

Afiqa Taqiyya Amanina. Perempuan cerdas, bertaqwa, yang menjadi harapan kami. Doakan bayi cantik ini tumbuh sesuai arti namanya :)

Anak gw, baru lahir udah banyak yang ngajak main sama makan oreo! Sebabnya pasti iklan oreo yang dibintangin Afiqa. Bukan terinspirasi, karena kami baru tahu nama Afiqa oreo itu Amanina Afiqa Ibrahim justru setelah nama Afiqa kami, selesai dirumuskan.

Hari-hari setelahnya dipenuhi dengan aktivitas emak-emak baru. Nyusuin, cuci popok, gantiin popok, cium-ciumin anak. And I'm telling you, being a mom needs extra energy. Punya anak ngga cuma soal seneng-seneng anaknya lucu bisa difoto-foto, diciumin dan diupload-upload. Ada drama puting lecet pas nyusuin, kudu melek tengah malem di saat biasanya bisa enak-enakan tidur, ikutan nangis pas anak rewel dan susah mimik, daaaan drama-drama lainnya. Tapi, ada kelegaan yang ngga bisa diceritakan pas ngeliat anak bobok pules sambil senyum-senyum khas bayi newborn. Ada kebahagiaan yang ngga bisa dideskripsikan pas selesai mimikin sampe anak kenyang. Ada kebahagiaan dalam tiap detik yang dihabiskan bersamanya. Dan terlebih lagi, ada tanggung jawab besar atas titipan ini untuk mendidiknya dengan benar, mengenalkannya pada Rabb semesta alam, dan menjaganya dari dunia yang semakin buas.

So yes, welcome baby Afiqa!
Ayah dan ibu superluvvvv sama kamuuuu :*

Ketika Hati Mulai Berisik

Tuesday, July 26, 2016
Dalam diamnya, lelaki diam. Dalam diamnya, hati wanita berbicara.
Dari riset amatir angsajenius dengan metode live interview, pengumpulan data sekunder serta video TEDx, didapat kesimpulan bahwa laki-laki bisa diam (dalam arti sebenarnya) tanpa ngebatin apapun, sedangkan perempuan dalam diamnya, hatinya terus bicara. Gw sempet ngga percaya pada awalnya, sehingga pertanyaan "Abang lagi mikir apa?" pas suami gw diem, terus gw ulang karena dijawab "Ngga mikirin apa-apa." It's like, heeey how come you think of nothing? Mulut bisa direm, tapi suara dalam diri sendiri pasti terus bergejolak, begitu hipotesis awal gw.

Ketika gw diem, gw ngomong sama diri sendiri. Kadang terlalu berisik sampai gw pengin suara-suara itu hilang sejenak. Kadang suara-suara itu berhasil gw giring menjadi dzikir, tapi seringnya sih ngga berhasil. Kadang gw ngalamin earworm, terngiang-ngiang suatu lagu yang sama sekali ngga gw suka misalnya. Kaya beberapa hari yang lalu, cuma gara-gara pas jalan pagi di Kebun Raya Bogor lagi ada halal bihalal TNI yang pake panggung lengkap pake biduanita nyanyi Sambalado, seharian gw terngiang-ngiang sambalado, ketika gw diem, otak gw muterin lagu sambala sambala bala sambalado mulut bergetar, lidah bergoyang. Ampuuuunnnnnn!! *angkat tangan*

Semudah itu perempuan berbicara dengan dirinya sendiri. Sebising itu ruang bernama hati. Kalau bising knalpot di jalan sah disebut polusi suara, bising dalam hati bisa juga dong disebut polusi hati.

Kenapa polusi?
Karena mengganggu dan mengotori.

Ketemu orang baru, ngebatin. Scroll timeline Facebook, ngebatin; tentu saja hal yang sama terjadi pas ngescroll Path, Instagram, Twitter dan media sosial lain. Dengerin orang ngomong, bukannya merhatiin apa yang diomongin, malah sibuk ngebatin menilai orang tersebut. Lagi shalat, bukannya fokus sama bacaan shalat beserta artinya, malah ngebatin dan sibuk ngerencanain abis shalat mau ngapain.

Perintah buat menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti, larangan mendebat walaupun kita tahu kita yang benar, larangan berkata bohong, fitnah dan ghibah udah sangat jelas, sering dibahas di berbagai kajian dan sering diposting akun-akun dakwah. Tapi rupanya menjaga lisan aja belum cukup, karena hati juga perlu dijaga. Kalau kata Aa Gym, hati yang dipenuhi dengan mengingat Allah itu begitu damaaaai, ngga pusing dengan urusan orang, ngga sibuk menilai orang. 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]


Mengutip perkataan Amirul Mukminin Umar bin Khathab, "Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.". Gw jadi inget pesan murabbiyah gw yang sangat melekat, "Ketat dan no excuse sama diri sendiri, tapi selalu usahalah buat berbaik sangka dan toleransi sama orang lain.". Yaaaa........nyatanya memang butuh usaha keras buat ngga ngebatin aneh-aneh atau berprasangka sama orang lain.

But hey, susah bukan berarti ngga bisa to?
Orang lain mau ngelakuin apa, ngomong apa, nulis apa, itu semua ada di luar kendali kita. Tapi apa yang kita batin sepenuhnya ada dalam kendali kita. Ngapain sengaja ngotorin hati dengan pikiran yang engga-engga?

Nyambung sama ocehan gw tentang posting kebahagiaan keluarga mulu di media sosial (link), tugas kita memang ada dua. Satu, ngefilter apa yang sebaiknya diposting. Dua, berbaik sangka dengan postingan orang lain. Bro, cape broooo kalo ngebatin jelek-jeleknya orang mulu, apalagi sampai nyari-nyari kesalahan orang yang dalam Islam istilahnya tajassus. Itu gajah di pelupuk mata masa kalah jelas daripada semut di seberang lautan sih, sist? 

Salah satu cara yang gw buktikan ampuh adalah menyibukkan diri dengan kebaikan, jangan kasih celah buat pikiran nganggur karena itu berpotensi banget memunculkan pikiran yang aneh-aneh. Sepengalaman gw, yang menyibukkan kita, itu yang akan mengisi sebagian besar porsi pikiran kita. Pas gw lagi rajiiin ngehapal suatu surat, ketika gw diem, ayat demi ayat berulang di pikiran gw. Dampaknya, ngga ada earworm Sambalado ataupun celah buat ngebatin yang aneh-aneh.

hayooo, lagi ngebatin apaaa? :p

Wahai kaum hawa se-Indonesia Raya merdeka merdeka, ini adalah PR besar terutama buat kita, yang hatinya sangat sangat sangat rawan polusi :) 


No Birthday Party for Our Babies, Welcoming Baby Part 3

Monday, July 25, 2016
Jika sudah tahu akan diakhiri, kenapa harus repot-repot memulai?

Kalimat itu mungkin mewakili banyak kejadian yang sengaja kita mulai, padahal kita tahu bahwa di masa depan, dampak dari kejadian itu pengin kita akhiri. Banyak kasus gw rasa cukup representatif buat contohnya, tapi di sini gw mau highlight satu kasus yang jadi concern gw dan bang Gheza, terutama buat keluarga kecil kami nanti. Yak apa lagi kalau bukan ulang tahun.

Berpegang pada prinsip "kalau udah tahu di masa depan ngga pengin dilakukan, kenapa harus dilakukan sekarang? kenapa repot-repot memulai sesuatu yang pengin diakhiri?", kami sampai pada rumusan bahwa ngga ada perayaan ulang tahun buat gw, suami, maupun anak-anak kami. Belakangan ini, foto-foto perayaan ulang tahun bayi-bayi lucu menuhin timeline socmed gw. Dengan dekor warna-warni yang butuh effort berjam-jam buat nyusun, kue yang lebih mirip gambar kartun sehingga bikin sebagian orang (atau gw doang?) sayang buat motong dan masukin ke mulut, segala bentuk lilin, dan tentu aja dresscode yang matching dan eye catching; ulang tahun anak dirayain. Macem-macem alesan orangtua si bayi, yang kemudian gw rangkum, sebagian besarnya adalah untuk mensyukuri nikmat bahwa anak mereka sehat sampai umur sekian dan sekian.

I'm not gonna judge, and anyway who am I to judge? Every parents have their own considerations.

Buat kami, alesan utama untuk ngga masukin ulang tahun ke dalam agenda adalah karena ngga pernah ada dalam sejarah Islam, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam atau sahabatnya ngerayain ulang tahun. Kami percaya itu bukan bagian dari ajaran Islam melainkan tradisi kepercayaan lain, apalagi soal tiup-tiup lilin. Banyak orangtua yang juga tahu soal ini dan mereka ngga pengin ngerayain ulang tahun anaknya ketika mereka udah gede, tujuh tahun misalnya. Tapi sebelum umur tujuh tahun itu, mereka ngadain pesta dengan ngundang saudara, tetangga dan temen sepermainan anak mereka. Dalam hemat gw, kalau udah tahu suatu hari akan diakhiri, kenapa harus dimulai?

Karena mengakhiri sesuatu selalu butuh usaha. Usaha buat ngejelasin ke anak bahwa ulang tahun bukan bagian dari ajaran Islam, usaha buat ngendaliin emosi anak yang pengin acaranya dirayain seperti tahun-tahun sebelumnya, usaha buat ngejawabin pertanyaan saudara, tetangga dan temen sepermainan kenapa tahun ini ngga ada perayaan ulang tahun, dan sederet usaha-usaha lain.

Kami pengin anak kami paham bahwa umur adalah karunia Pencipta semesta, dan bahwa bertambahnya umur bukanlah suatu prestasi. Umur bukan diukur berdasarkan angka, tapi berdasarkan keluasan manfaatnya.

Nyatanya, di umur-umur segini, gw justru sedih loh pas ulang tahun. Tahun ini gw 25 tahun, beberapa hari yang lalu suami 26 tahun. Yang gw sadari sesadar-sadarnya di tahun ini adalah hitungan angka ini bisa aja berhenti sewaktu-waktu, dan makin nambah angkanya, itu berarti makin sedikit sisanya. Dan hari ini, bapak Allah beri kesempatan berhitung hingga 54, angka yang ngga sedikit. Ngga ada perayaan, ngga pernah ada perayaan di keluarga bapak sejak gw kecil. Cuma ada ucapan sederhana dan doa. Ohiya ngga seharusnya doa gw sebut "cuma", karena doa adalah hal besar dan senjatanya orang muslim yang bisa bikin hal ngga mungkin jadi mungkin. Mohon sisipkan doa buat sesama muslim, agar bapak pun dapet bagian kebaikan doanya :)

foto ini diambil hari ini, if i was there, udah makin sempurna jadi kaya tangga deh dengan gw berdiri di samping kiri ibuk

Tulisan ini sama sekali ngga bermaksud untuk menghakimi orangtua yang ngerayain ulang tahun buat anak-anak bayi yang sebagian besar belum tahu apa-apa dan ngga paham apa itu ulang tahun dengan sederet prosesinya selain ada banyak orang, ada makanan dan ada lilin buat ditiup. Tulisan ini dibuat supaya kami ingat lagi bahwa kami udah merumuskan ngga ada perayaan ulang tahun buat anak-anak kami.  

Baydewey, postingan banyak dishare dan dibaca orang itu nyenengin yaaaa rasanyaaaa. Sebagian besar tulisan di angsajenius dibikin karena gw pengin nulis, bukan karena gw pengin orang baca, tapi tetep ajaaaa rasanya tahu hit postingan kita tinggi tu ngga pernah gagal jadi cambuk buat gw supaya lebih rajin :D Ah semoga angsajenius bisa makin gendut karena makin banyak postingannya, bisa ngasih manfaat dan inspirasi buat yang baca sekecil apapun itu, dan bisa jadi sebab tetap hidupnya gw ketika hitungan umur udah berhenti nanti :)


Posting Kebahagiaan Keluarga (Mulu), Yay or Nay

Wednesday, July 20, 2016
Dulu, gw kira setelah nikah gw bakal sering upload-upload foto di media sosial untuk setiap selfie gw dan suami, check in untuk setiap destinasi yang kami datengin sesepele makan bebek goreng Haji Slamet sekalipun, atau update status terkait kehidupan pernikahan kami, baik yang bernada ngomporin ataupun merana kudu jauh-jauhan Bogor-Bandung ketemu seminggu sekali.

Dua bulan setelah menikah, setelah ketauan hamil, gw kira gw bakal sering update perihal kehamilan gw termasuk foto hasil USG, foto baby stuff yang udah menuhin lemari dan update status to show how excited I am to have a baby. 

Nyatanya.....
Tiap postingan gw disupervisi sama bapak Ghazali. Laki-laki itu berhasil menahan hasrat pamer gw, dan menjadikan telinganya menjadi yang pertama mendengar, sepanjang dan se-enggak penting apapun ocehan gw, segundah-gulana apapun perasaan gw. Belum apa-apa, tampak gelagat gw mau posting foto USG aja udah disodorin kepalan tangan dan seringai asem.

Jauh, jauh sebelum bertebaran tulisan bahwa pasangan yang banyak mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial kebanyakan kurang bahagia di dunia nyata; si introvert udah sukses bikin gw ngerasa cukup berbagi cerita di dunia nyata. Saja. 

daripada upload selfie, mending upload foto cabe-cabean plastik yang menggoda jiwa dan raga

Media sosial adalah tempatnya orang melihat, menilai lalu berasumsi, maka ketika berbagi dan dicaci, jangan sakit hati.
Dan, saudara, termasuk golongan yang melihat, menilai lalu berasumsi adalah perempuan bernama Rahma Djati. Banyak senior gw di sekolah dan kampus yang dulu sangat gw hormatin, gw nilai bijaksana, berwawasan luas, suka menolong, aktivis pula, sekarang justru kurang bijak memfilter apa yang diekspos ke media sosialnya. Rasanya, setiap buka media sosial, postingan mereka selalu mewarnai timeline, ngga cuma satu melainkan bisa sekaligus tiga. Postingannya ngga jauh-jauh dari betapa baik suaminya, atau betapa lucu dan pintar anaknya. Tentu, saudara, adalah hak segala bangsa setiap manusia buat upload apa yang dia mau di media sosialnya, namanya juga media sosial, kalo ngga mau keganggu dengan postingan orang ya ga usah log in. As simple as that.

Tapi, poin gw adalah, dengan makin horornya kasus kriminal di Indonesia, kita harus lebih bijak ngefilter mana yang kudu dishare mana yang engga. Udah berapa kasus kejahatan terhadap anak dan wanita yang diawali dari postingan media sosial? Udah berapa kasus perampokan yang diawali sebab serupa? Buanyak! Dan......... Rasanya ada banyak hati yang harus dijaga. Mungkin banyak dari friend list kita yang lagi berjuang sama kehidupan pribadinya; soal jodoh, soal anak, soal rejeki, soal bisa jajan di mana, yang terusik lalu menjadi kurang bersyukur karena membandingkan.

Jangan jadi sebab orang kurang bersyukur sama porsi rejekinya :)
Bahaya lagi kalo ternyata postingan kita yang menyanjung dan memuji-muji suami/istri ternyata bikin orang kambuh penyakit hatinya. Kok bisa? Lah ternyata ada yang dulu naksir berat tapi ngga kesampean dan ngga berjodoh. Jangan jadi sebab orang kambuh penyakit hatinya :)

Ah~ ngomongin media sosial emang ngga bakal ada habisnya. Udah kaya musim duren aja, isi timeline juga musim-musiman. Musim kudeta Turki, musim pro-kontra gubernur DKI, sampe musim kartun maen seret aje ke KUA. Tentu aja di sela-selanya, selalu ada postingan kemesraan iniiii janganlah cepat berlaaaaluuuuuu~ Semua mendadak jadi ahli, segala yang dibaca dan dirasa sesuai sama isi hati, sepemikiran, satu jalan satu tujuan, langsung SHARE!
Padahal...........

Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5)
Lho, ngeri ye kan. Ada juga nih dari Al-Qur'an langsung redaksinya.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]
Kalo kita udah sangat khatam bahwa setiap kata-kata bakal diminta pertanggungjawaban dan ngga kelewat dari catetan malaikat, kayanya di tahun 2016 ini kita juga kudu lebih inget bahwa setiap kata yang kita ketik, setiap berita yang kita share, daaan tentu aja setiap update kehidupan keluarga yang kita posting juga ngga lepas dari catetan malaikat. 

Mata manusia bisa dikelabuhi, tapi niat ngga bisa disembunyiin dari Allah. Daripada kepleset dikit jadi pamer, mending filter lagi yok mana yang sebaiknya diposting dan mana yang bukan. Jadiin suami atau istri tempat pertama dan terlengkap buat berbagi, bukannya ditag di Path dengan caption sepanjang tol Cipali :3

Yok evaluasi diri sendiri! :)

Dapet Dokter Kandungan Galak, Welcoming Baby Part 2

Monday, July 18, 2016
Memilih dokter yang sreg emang jadi satu tantangan tersendiri buat ibu hamil, beda sama dokter umum. Ketika lo demam tinggi, lo bisa dateng ke satu dokter umum aja karena bisa jadi lo cuma butuh satu kali ketemu si dokter tersebut. Tapi dokter obsgyn (selanjutnya mari kita sebut dsog) bakal kita hadepin selama 9 bulan, bahkan bisa lebih. Cocok buat seseorang, belum tentu cocok buat kita. Suami cocok, belum tentu si istrinya cocok. Apalagi kalo yang cocok tetangga, belum tentu cocok buat kita.

Perjalanan gw nyari dsog yang cocok lahir batin (udah kaya lebaran aja ya mohon maaf lahir batin :p) berakhir di meja dr. Giana Hanum, Sp.OG di RS Karya Bhakti Pratiwi Dramaga. Selain alasan bahwa beliau praktik di rumah sakit yang ditanggung asuransi kantor bang Gheza, dan bahwa beliau adalah dokter obsgyn perempuan satu-satunya di situ, tentu aja gw butuh alasan lain yang lebih kuat supaya mantep lahir dan batin.

jadwal dsog RS Karya Bhakti Pratiwi

Pertama kali gw dikonfirmasi positif hamil adalah oleh dr. Elise Joanna Knoch di RS Borromeus, Bandung. Beliau merekomendasikan satu nama kalo gw seterusnya mau periksa di Bogor, dr. Giana Hanum, Sp.OG. Dari hasil browsing, hampir semua testimoni yang gw dapet adalah statement bahwa beliau galak. Weew udah rada jiper duluan nih awalnya. Lalu di kali pertama gw dan bang Ghez ke sana, kami cukup kaget sama penampilan beliau yang eksentrik. Rambut cepak dicat gradasi merah, kemeja laki sejenis yang dipake suami ngantor, celana jeans longgar dan sepatu kets. Setelah ngobrol pertama, pesan yang sangat nempel (dengan perubahan redaksi menurut daya ingat gw) adalah:
"Bu, yang namanya kehamilan itu ngga selalu sampe akhir ya. Banyak yang keguguran di awal kehamilan. Nanti juga ada yang namanya immature, banyak yang mati ini. Trus habis itu misal berhasil lahir, ada juga yang prematur. Yang pas usia kehamilannya namanya mature, bagus ni idealnya begini. Nah kalo lewat dari itu, namanya post-mature, yang mati juga banyak. Jadi sekarang banyak-banyak doa ya, supaya kehamilan ibu aman, selamat sampai lahiran."
Nah kan, padahal yang gw harapkan itu dsog yang super ramah, menenangkan hati; tapi yang gw dapati adalah dsog yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling walaupun logika gw membenarkan yang beliau bilang. Di periksa-periksa berikutnya, beliau tetep sosok yang super tegas yang banyak orang sebut galak. Gw pernah coba periksa ke 3 dsog lain, dr. Arina di Bogor Medical Center, dr. Rachmadi Sri Mulyono di RS Karya Bhakti dan dr. Florencia di RS Hermina, tapi ujungnya hati gw berkata dr. Giana paling cocok buat ngedampingin masa kehamilan gw yang berlika-liku ini.

Pas udah masuk trimester 3, gw harus dioperasi sama dr. Giana karena suatu sebab. Dan bener ternyata nurani gw dan suami, kami memilih dsog yang tepat. Beliau bener-bener terampil ngambil tindakan ke pasiennya.

Yang bikin gw seneng juga, beliau santaaaiiii. Pernah suatu waktu ketika USG posisi bayi gw terlilit tali puser, sambil ketawa beliau bilang "Bayi yang abis sungsang biasanya emang kelilit tali puser. Udah santai aja.", atau ketika gw nanya banyak bernada khawatir jawabannya ngga jauh-jauh dari "Udah deh kamu santai aja, jangan banyak kuatir ini itu. Aman kok." Kata-kata beliau bikin gw ngga senewen, apalagi sampe stress mikirin kelilit tali puser lah, sungsang lah, atau keluhan-keluhan lain yang bikin mumet ibu-ibu hamil lain yang pernah curhat sama gw. Bahkan respon dan sikap beliau dari masa pra operasi sampe pasca operasi pun bikin gw jauh lebih rileks dan ngga setakut sebelumnya.

So far semuanya memuaskan sama dr. Giana, walaupun di awal gw harus menyiapkan mental baja. Satu pesen gw kalo lo mau periksa ke beliau, jangan baper :)

Nah dalam memilih dsog, pertimbangan-pertimbangan ini yang gw pake:

  • Praktik di RS yang terjangkau jaraknya, karena gw ngga tahu kapan kondisi darurat yang mengharuskan gw cepet-cepet harus ke RS. Akses jalan yang (kalo bisa) bebas macet, atau seenggaknya terjangkau dari segi waktu dan angkutan.
  • Dicover asuransi kantor suami! Boookkk ini penting banget, kalo lo punya fasilitas asuransi yang bisa gratis ya kenapa pilih yang bayar to? Misal tiap bulan lo harus ngeluarin 400ribu buat kontrol, dikali 7 bulan, plus setelahnya periksa 2 minggu sekali. Nah loooo kan lumayan buat beli popok sama perlak ya kan? Apalagi kalo ada masalah selain kontrol rutin kaya gw yang kemaren harus operasi, asuransi kantor suami bener-bener membantuuuu banget karena tanpanya, kami kudu ngeluarin dana yang udah bisa dipake beli Honda Vario. Emmmm...
  • Calon ibu dan calon ayah sreg lahir batin sama si dsog. Ada yang sukanya tipe dsog ramah dan menenangkan, kalo ditanya jawabannya selalu menentramkan hati. Ada juga yang sukanya sama dsog yang blak-blakan tanpa tedeng aling-aling, A yang dibilang A, segala risiko dibeberin jelas walaupun pasien kudu nangis di ruang konsultasi. Ada juga yang sukanya dsog yang santai dan suka ngelucu. Yang manapun itu, pastikan semua rasa ingin tahu, kekhawatiran dan pertanyaan calon orangtua baru kejawab dengan memuaskan.
  • Testimoni pasien lain. Pas baca banyak yang bilang dsog pilihan gw ini galak, ada rasa penasaran. Tapi dari cerita dokter di Yakes yang ngasih rujukan setiap mau periksa ke dsog, beliau bilang kalo dsog pilihan gw ini terampil soal tindakan.
  • Jangan abaikan hati nurani. Pas konsultasi, puas apa engga sama penjelasannya? Gimana dsog ngejelasin hasil USG? 
  • Perempuan, dan muslim. Buat gw ini ngaruh ke rasa nyaman pas diperiksa, mulai dari USG sampe pemeriksaan yang lebih private kaya hemorrhoid ataupun pemeriksaan kalo ada kelainan.
Lain ladang lain belalang,
Lain lubuk lain ikannya,
Cerita dokter eh jadi panjang,
Yaudah ya segitu aja.

Mendewasa, Welcoming Baby Part 1

Friday, July 15, 2016
Ada beberapa hal yang dengannya, lo sadar bahwa lo sudah cukup dewasa untuk menghadapi kehidupan, mengambil keputusan-keputusan. Selain umur yang, tentu aja, ngga selalu representatif atau selaras sama tingkat kedewasaan, berdasarkan pengamatan amatir gw, these things matter.

Pertama kali gw sadar gw udah dewasa adalah ketika orangtua gw, bapak dan ibuk, memperlakukan gw dengan berbeda. Gw mulai dilibatkan dalam diskusi-diskusi serius, diminta pertimbangan untuk keputusan-keputusan penting, diceritain hal-hal yang sebelumnya menurut gw rahasia orang-orang tua. 

Lalu dilanjutkan dengan cara bapak dan ibuk memperlakukan gw. Ketika mereka marah, mereka ngga marah-marah dengan nada tinggi melainkan bicara dengan nada rendah yang lebih serem daripada dimarahin ala anak SMP yang bandel. Ketika mereka memanggil, mereka ngga berteriak. Gw diberi kebebasan mengambil keputusan-keputusan tertentu tanpa campur tangan mereka, sebagian sisanya tentu aja gw harus berkonsultasi dulu karena anak perempuan adalah tanggungjawab ayahnya sampe dia menikah.

Ngerasain diperlakukan seperti sahabat, bukan lagi seperti anak kecil yang diatur-atur di mana segala keputusan ada di orangtua dan gw jadi eksekutor aja bener-bener berharga. Gw belajar bertanggungjawab, belajar mengelola kehidupan gw sendiri, belajar tentang skala prioritas, belajar jadi manusia. Seutuhnya.

Kalo diflashback, jauh banget perbandingan perlakuan bapak ibuk semasa gw SD, SMP dan SMP, lalu kuliah. Jangan tanya masa-masa pra-SD, ingatan gw ngga setajam itu :p kecuali bahwa gw sangat doyan minum susu Dancow. Waktu gw SMP dan SMA, seriiing banget gw dimarahin, banyak larangan-larangan, tegas banget sikap bapak ibuk. Begitu masuk kuliah, mereka lebih fleksibel dan percaya. Gw jadi inget kalo di Islam, ada panduan buat pendidikan anak yang dibagi ke dalam tiga fase.

Fase 1, usia anak 0-7 tahun. Fase 2, usia anak 8-14 tahun. Fase 3, usia anak 15-21 tahun. Di fase pertama, perlakukan anak seperti raja. Bukan berarti raja lalu semua inginnya dipenuhi, tapi di fase ini perlakukan anak sebaik-baiknya. Di grup facebook Parenting Elly Risman, dikasih analogi kalo anaknya William & Kate bener-bener diperlakukan dengan spesial, dijaga siapa yang boleh ketemu sama dia, dijaga boleh terpapar apa aja, keamanannya, daaaaan seabreg penjagaan yang lainnya. Kenapa? Karena dia ada di daftar calon raja. Gimana kalo dia udah jadi raja? Pasti lebih ketat jaminan keamanannya, dan segala yang terbaik dikasihin. Begitulah kira-kira. Kenalkan anak pada Tuhannya, Allah, dan berikan pelayanan terbaik untuk proses belajarnya beradaptasi dengan dunia.

Di fase 2, perlakukan anak seperti tawanan perang. Terapkan aturan-aturan yang udah dikenalkan di fase 1. Di fase ini juga sebagian besar anak bakal baligh, sehingga kewajiban-kewajiban shalat, menutup aurat pun udah berlaku. Kalo kata ustad Syafiq Basalamah nih, memang di usia ini anak wajib shalat, tapi kalo itu artinya orangtua baru memperkenalkan shalat di fase ini, ya terlambat. Ajari anak shalat sejak fase 1, di fase ini, tinggal ditegakkan aturan WAJIB shalatnya. Gitu lah kira-kira. 

Di fase 3, perlakukan anak seperti duta besar atau sahabat. Biarkan anak mandiri, namun tetap dengan kontrol orangtua walaupun ngga sebesar fase-fase sebelumnya. Berikan tali, namun tidak untuk mengekang melainkan mengarahkan. 

Buat orangtua baru, yang baru mau jadi orangtua, ataupun baru berniat jadi orangtua, gw saranin banget baca Prophetic Parenting tulisan DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang ngebeberin parenting secara Islam kaya gimana. Detail, lengkap dengan dalil tentu aja, karena Islam adalah agama dalil, bukan logika manusia yang sangat terbatas semata. Kenapa ngga cukup logika manusia? Karena manusia banyaakkk banget kurangnya, terbatas pengetahuannya, sedangkan dalil datengnya dari Allah yang menciptakan bumi, langit, dan kita, manusia yang sering ngerasa banyak lebihnya. Di pembukaannya, beliau bilang bahwa buku itu ditulis selama sepuluh tahun dengan metode dalil dulu, baik ayat Al-Qur'an atau hadits, baru diterjemahkan ke praktik sehari-hari, bukan sebaliknya. Kebanyakan buku parenting yang ada ngejabarin praktiknya dulu baru nyari dalil yang cocok, sedangkan praktik parenting Barat banyak yang bertentangan satu sama lain karena merupakan hasil kesimpulan eksperimen si peneliti.


Dear anak ibu dalem perut, mari bekerjasama. Semoga Allah ridhoi makhluk yang tiap hari nendang, ninju, ngulet, cegukan, entah ngapain lagi semasa dalem perut ini buat jadi anak yang bermanfaat buat umat, ada dalam barisan yang bakal menegakkan kalimatullah di akhir jaman. 

Mohon doakaaan! :) 
Kalo kata ayahnya, "Tendang terus nak, tinju terus, mumpung masih dalem perut. Nanti kalo udah keluar, nendang ibu jadinya durhaka. Kalo sekarang, ibunya seneng ditendang-tendang."

Sajak Mengeluarkan dan Mendapatkan

Wednesday, March 30, 2016
Mengeluarkan memang selalu melegakan, walaupun mendapatkan selalu terasa menyenangkan. Apalah jadinya rumah kalau sampah seminggu ngga dibuang? Apalah rasanya perut kalau sisa-sisa pencernaan ngga dikeluarkan? 

Mengeluarkan harta untuk zakat atau sedekah selalu melegakan, walaupun memang gajian atau dapet jatah uang bulanan selalu menyenangkan. Mengeluarkan uneg-uneg dengan berbagi cerita memang melegakan, walaupun mendengarkan lebih berpeluang kita mendapat pengetahuan. Mengeluarkan sisa-sisa pencernaan memang melegakan, walaupun makan selalu menyenangkan (kecuali lo lagi kekenyangan). Berdoa sampai nangis-nangis selalu melegakan, kali ini ngga pake walaupun :) 

Memang udah kodratnya manusia ngga bisa menampung segala. Mendapatkan harus diiringi dengan mengeluarkan. Baiknya Allah, Pencipta kita dan semesta, yang ngga nambah beban manusia buat melakukan semua seleksi apa yang harus dikeluarkan. Ngitung zakat aja udah puyeng, apalagi ditambah suruh ngitung berapa CO2 yang harus dikeluarkan tiap hembusan nafas, atau ngitung zat apa aja dan berapa kadarnya dari sisa pencernaan yang harus dikeluarkan. Masih lo pikir hidup ini berjalan gitu aja, semuanya hukum alam dan ga pake ada yang ngatur? Bisa-bisanya! 

Kosan Aki Agus, Rabu terakhir di bulan Maret (aarrggghh puyeng gw kalo inget tanggal), 
Rahma, yang makan ngga enak dan selalu begah karena sisa pencernaan ngga bisa dikeluarkan. Hey, bukankah hikmah dan inspirasi bisa dari mana aja? *mesem*