jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Ingatkan Suamimu untuk Bercermin by Salim A. Fillah

Friday, October 23, 2015
As I promised before, gw akan meng-copy paste tulisan ustad Salim A. Fillah dari buku Ingatlah Untuk Bercermin. Copas ini butuh effort kok, bukan tinggal blok trus copy trus paste trus post, karena copasnya dari buku sehingga butuh proses ketik ulang *meringis*

Kenapa gw mau menyalin tulisan ini? Karena gw sendiri terinspirasi pada paragraf pertamanya. Suatu hal esensial yang perlu semua orang tahu, sudah atau belum menikah. Daann...ngga susah juga buat dipraktekin asal ada niat dan ada kaca, oh atau ada kamera depan smartphone anda. 

***

Ingatkan Suamimu untuk Bercermin

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin.

Sungguh, mula-mula ini bukan kiasan tentang bermuhasabah. Ini benar-benar soal bercermin di depan kaca dalam makna yang paling harfiah. Sebab tahukah engkau, sebelum bercermin dalam makna merenung dan membenahi akhlak, sekadar kesediaannya untuk berkaca dalam makna lahiriah pun ternyata sangat menentukan masa depan dakwah.

Begini ceritanya.

Pernah suatu ketika dilaksanakan jajak pendapat sederhana kepada anak-anak para pengemban dakwah dan pegiat agama. Hasilnya membuat dahi kami berkernyit. Sebab sebagian bocah yang diharapkan menjadi pewaris perjuangan orang tuanya itu, hampir sepertiga dari semuanya berkata, "Kalau sudah besar kami tak mau menjadi seperti abi dan ummi. Kami ingin menjadi muslim yang biasa-biasa saja."

"Mengapa?"

"Sebab mereka terlalu sibuk dalam bekerja dan kegiatan dakwahnya. Kalau pulang sudah tinggal lelahnya. Tak ada lagi waktu untuk bermain dengan kami. Tak ada lagi tenaga untuk mendampingi belajar kami."

Semoga Allah menyayangi anak-anak ini. Masih sangat kita syukuri mereka memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai keluarga. Masih sangat kita syukuri mereka tidak tumbuh dengan dendam akan kurangnya perhatian dan cinta. Mereka hanya hendak menyampaikan "Kami tidak mau kelak seperti itu. Kami ingin ada dan hadir untuk keluarga seutuhnya."

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang dalam wajah tertekuk, tubuh membungkuk, pakaian yang renyuk, dan bau setengah busuk.

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang dalam ketampanan yang telah larut, kegagahan yang telah hanyut, dan perhatian yang telah habis digerus pikiran kusut.

Duhai memang, betapa banyak suami dan bapak yang pulang bersama kepenatan yang tak menyisakan binar mata, bersama keletihan yang tak menyisakan senyum mesra, dan bersama kelesuan yang tak menyisakan canda cinta.

Padahal istri mereka lebih berhak atas pesona dirinya daripada atasannya. Padahal anak-anak mereka lebih memerlukan keakraban cintanya dibanding para mitra kerja.

Bayangkanlah bagaimana perasaan seorang bocah yang semula berdiri bahagia menyambut kepulangan ayahnya namun disambut oleh jasad lunglai. Betapa kecewa hati seorang anak kecil yang berbinar mata hendak menunjukkan karya dan pencapaiannya namun sang ayah sudah tak kuasa menunjukkan minatnya. Betapa segigit jari terpendam di dada jika seorang anak hendak mengisahkan hal yang sangat menarik dan rindu bermain dengan ayahnya, sementara sang ayah bergegas berlalu darinya demi rehat.

Jawaban dalam jajak pendapat anak-anak para pegiat dakwah itu barangkali bermula dari kandasnya kebersamaan di detik awal kepulangan. Lalu segala kegiatan orang tua itu terpandang buruk di dalam jika mereka sebab dianggap merebut cinta yang seharusnya menjadi hak mereka. Ini bermula karena kepayahan yang tak tertangani dengan baik. Ini bermula karena cinta dalam hati tak disertai oleh jasmani dalam serumah keluarga, hingga gagallah ia diisi bersusun-susun rasa surga.

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum ia kembali. Jangan lupa bekalkan pembersih muka, penyegar mulut, sisir dan wewangian di dalam tas kerjanya. Dia amat memerlukan itu semua untuk kepulangannya menuju cint. Dia amat menghajatkan semua itu untuk kehadirannya di hadapan keluarga.

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan penyegaran sejenak sebelum sampai dan mengetuk pintu rumah. Agar sepulang nanti, walau hanya beberapa jenak dia tetap dapat meneladani Rasulullah yang pada suatu hari menakjubkan Abu Hurairah. "Betapa tunggangan kalian berdua adalah tunggangan terbaik di seluruh lapis langit dan petala bumi!" ujar Abu Hurairah kepada Al Hasan dan Al Husain yang sedang menunggangi kakek mereka tercinta. Maka sosok yang tak muda lagi namun demikian bersemangat merangkak mengelilingi ruangan itu menyahut, "Dan kedua penunggangnya juga adalah yang terbaik di antara semua penunggang."

Maka betapa indah suami dan ayah yang menyempatkan membenahi penampilan dan wewangian badan sebelum tiba di pekarangan. Agar di rumah nanti, dia tetap dapat meneladani Rasulullah yang membiarkan dadanya menjadi sandaran kemanjaan Aisyah sambil menyimak bacaan Qurannya. Atau mendengarkan pembacaan syair istrinya. Atau menelaah bersama cerita-cerita hikmah yang menguatkan hubungan. Atau bahkan berlomba lari dengan penuh kebugaran.

Sungguh, berkemas untuk kembali pada keluarga selaiknya lebih bersungguh-sungguh daripada berhias menjelang berangkat. Sebab yang akan menyambut para suami di rumahnya bukan sekedar kepentingan, melainkan sebuah kesetiaan.

Maka para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum dia sampai ke rumah.

Kesegaran diri dalam pulang akan menjadi asas pewarisan nilai iman, Islam dan ihsan. Inilah barangkali mengapa terberitakan tentang Rasulullah bahwa beliau bersiwak pertama-tama adalah untuk Allah, yang kedua untuk istri dan keluarganya, baru yang ketiga untuk tetamu dan insan umumnya. Maka selain sebelum shalatnya, Rasulullah senantiasa bersiwak saat akan masuk ke rumahnya.

Kebugaran diri dalam pulang akan menjadi asas pewarisan nilai dakwah dan perjuangan. Inilah mungkin sebabnya Rasulullah bersama sahabat yang ketika kembali tak langsung memasuki kota Madinah melainkan berkemah semalam di luar batas kota.

Demi apa?

Agar para suami yang pulang dari jihadnya ini mandi bersuci, bersiwak berwewangi, menipiskan kumis, merapikan janggut, dan memakai pakaian yang indah dan rapi. Dan agar para istri di rumahnya juga telah menyiapkan sambutan; diri yang jelita, dandanan memesona, hidangan yang lezat, serta rumah yang tertata.

Demikianlah agar perjalanan jihad itu tetap terjaga keagungannya di mata sang istri. Demikianlah agar safar dakwah itu tetap terjaga kemuliaannya di pikiran anak-anak. Demikianlah agar kegiatan berkah itu tetap terjaga keindahannya di dalam hati seluruh keluarga. Demikianlah agar seluruh isi rumah berada dalam derap perjuangan yang senantiasa penuh gairah.

Inilah suami yang diajari istrinya bercermin. Dia gegap gempita ketika pulang, berseri-seri menemani anaknya bermain dan menyimak kisah seru mereka, walau beberapa jenak kemudian dia pamit beristirahat sebab lelahya memang tak tertahan jua. Pamit dengan senyum. Pamit dengan santun. Pamit dengan elusan di kepala, kecup mesra di dahinya, serta bisik doa di telinga.

Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin sebelum sampai ke rumah. Tentu tanpa melupakan doa yang diajarkan Kanjeng Nabi itu, "Alhamdulillah, Allahumma kama hassanta khalqi, fahassin kuluqi." Ingatkan dia untuk bercermin, awal-awal dalam makna yang paling harfiah. Sebab ia sunnah yang akan membuat Allah mengaruniainya akhlak mahmudah. Sebab ia sunnah, yang akan menjaga kelangsungan dakwah.

***

Disalin tanpa perubahan dari tulisan ustad Salim A. Fillah berjudul Ingatkan Suamimu untuk Bercermin di buku Ingatlah untuk Bercermin terbitan Era Adicitra Intermedia. 

Tapiii by the way, suka ngga tega juga sih untuk (misal) minta suami pulang dalam keadaan segar, karena nyatanya emang dia capek. Kalo pas gw di Bogor, nungguin suami pulang aja suka ngerasa capek karena suka bingung sambil ngapain. Ketika terdengar suara motornya, aahh legaaa.. Walaupun yang datang memasuki pintu sudah bermata sayu karena ngantuk dua jam perjalanan dari kantor sampe rumah, yang mana jam 20.30 bisa pulang itu udah anugerah, menyambutnya pulang aja sangat membahagiakan. Sesayu apapun matanya, seberantakan apapun rambutnya, sebau asap-dan-kereta apapun bajunya, cinta mah ya cinta aja. Tapi ini dalam kondisi kami masih berdua, dan gw udah cukup dewasa (cailah) untuk memahami betapa letihnya dia, mungkin akan berbeda kalo nanti kami udah ngga cuma berdua tapi bertiga sampe berdelapan. 

Sungguh terlalu egois kalau gw mengharap suami pulang dalam keadaan sesegar dan semempesona ini, sementara letihnya bukan sesuatu yang direkayasa.

Bukan hanya suami yang perlu bercermin, istri dan ibu pun sama, karena yang akan kita temui di rumah bukan sekedar kepentingan tapi juga ada cinta.

Selamat pagi menjelang siang, selamat nerusin ngerjain UTS take home Nilai dan Risiko Teknologi Informasi *ngomong sama cermin* :)

Masih Tega Diam Aja Sama Kabut Asap?

Thursday, October 22, 2015
Bismillah.

Negeri kita bener-bener lagi diuji sama Allah. Kebakaran lahan yang berakibat kabut asap di banyak wilayah, sampe indeks udara berbahayanya 12 kali lipat dari batas maksimum. Gw ulangi, dua belas kali lipat. Setersiksa apa itu :( Bayangin lo bikin sayur, seharusnya garemnya cuma 1 sendok ini lo kasih 12 sendok. Ga enak kan? Atau lo bikin teh, mustinya gula cuma 1 sendok ini dikasih 12 sendok. Gak enak kan? Itu baru garem dan gula, yang mana bisa dengan gampang kita taroh aja ga jadi makan/minum, lah ini udara. Udara yang manusia butuhin buat bertahan hidup, yang tadinya Allah kasih cuma-cuma dalam keadaan bersih. Terlaknat mereka yang dengan sengaja merekayasa bencana ini.

Ngomongin kabut asap, gw yang sehari-hari ngidernya di Bandung dan Bogor yaa gini-gini aja, ga ngerasain sesusah apa untuk sekedar menghirup udara di sana. Tapi seenggaknya gw dan rakyat Indonesia lainnya bisa ngebantu to? Inget ngga sama kisah bahwa orang-orang yang udah meninggal, mereka bilang seandainya bisa kembali ke dunia hidup lagi, mereka akan sedekah sebanyak-banyaknya. Kenapa sedekah, bukan puasa atau ibadah lainnya? Karena mereka melihat begitu besar balasan kebaikan yang Allah kasih buat orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, untuk kebaikan. 

Jumlah uang yang kita keluarin dengan enteng buat jajan di sour sally, starbucks, abuba atau makanan lain yang overpriced, bisa jadi perantara penyambung hidup orang yang tengah kena musibah. Kata Aa Gym nih, hidup jangan untuk makan. Toh mau makan seharga 10ribu atau 100ribu juga ujungnya sama, keluarnya sama juga wujudnya. Ga usah pake excuse bergizi untuk dapet makanan overpriced, gizi ama mahal itu dua hal yang berbeda. Lo bisa kok makan bergizi cuma dengan 15ribu atau bisa juga 150ribu, bisa jadi sama kandungan gizinya tapi harganya jauuh beda.

Jangan juga sekali-kali bilang "Aduh gw cuma bisa bantu doa." Doa dibilang cuma? Doa itu minta langsung sama Allah yang menciptakan bumi dan langit, yang mengatur setiap kejadian, yang berkuasa atas segala, yang bisa bikin ga mungkin jadi mungkin dengan begitu mudahnya. Dia bisa segalanya. Doa itu minta langsung sama Pencipta, jadi jangan sekali-kali dibilang cuma. 

Bantu dengan apa yang kita punya, yang kita mampu. Kebaikan sebiji zarrah pun akan Allah kasih balasan kok. Janji Allah ga perlu kita ragukan, janjiNya itu pasti, ga kaya janji manusia yang sering PHP.

Btw tadi gw dapet rekomendasi salah satu tempat donasi, kitabisa.com/bebasasap, donasi dengan kode unik di belakang jumlah yang kita mau, responnya cepet, jelas dan transparan. Enak donasi lewat kitabisa.com karena dia juga mencantumkan target dana yang dia kumpulin dan ada progres yang ditampilkan. Buat yang pengin donasi tapi belum tau lewat mana, monggo bisa lewat kitabisa.com :)

Tadinya gw mau ngecopas tulisan ustad Salim A. Fillah yang baru kemaren gw baca dari buku Ingatlah Untuk Bercermin, baguuuusss dan inspiratif dan bikin gw mikir "Oh iya ya bener juga. Kenapa gw ngga kepikiran selama ini." di bawah tulisan tentang kabut asap di atas. Tapi ternyata gw udah kepalang KZL dan geram sendiri. Next post, promise. It really really really insightful, you all got to read that. Ha!

Terakhir. Di saat ada bencana dan sodara kita kesusahan, coba lihat dari sisi lain. Ini kesempatan yang Allah kasih buat kita untuk bersedekah. Kalo semua orang ga butuh bantuan, ke mana kita membelanjakan harta kita? Cuma buat hore-hore beli baju ama makan? Bung, hidup jauh lebih bermakna dari baju dan makan. Abu Bakar, Ustman bin Affan, Abdurrahman bin Auf adalah tiga dari banyak orang berharta yang ngga segan mengeluarkan hartanya di jalan Allah, untuk kebaikan. Indahnyaa dunia kalo kita bisa meneladani ketiganya :)

Membaca Bisa Bikin Kecewa

Thursday, October 08, 2015

Minggu lalu gw ketemuan sama temen gw yang baruuu aja lulus sidang tesis, yang berdua sama gw ke Aceh buat kondangan dan kami jadi super deket setelah itu, Galuh namanya. Galuh adalah partner nge-Richeese Factory sejati karena kami berdua sama-sama doyan banget makan di Richeese walaupun dengan level yang selalu jauh berbeda. Ngga cuma partner nge-Richeese, Galuh juga partner hunting kajian di Bandung. Semangat belajarnya luar biasa, sesuatu yang selalu bikin gw iri ketika keimanan gw lagi geal-geol kaya api lilin ketiup angin. Ketemuan kemaren ini adalah ketemuan pertama semenjak gw nikah, hampir sebulan berarti. Padahal sebelum nikah, bisa tiap hari kami ketemuan di masjid Salman ITB yang ujung-ujungnya ke Richeese juga.

Banyak obrolan mengalir, termasuk how it feels to be a wife. Ada satu poin yang kami garisbawahi dan kami bahas lumayan lama, yang atas request Galuh juga akhirnya gw nulis ini, supaya bisa dibaca lagi dan ngga lupa.

Tentang membaca dan tentang ekspektasi.

Coba lo lihat foto gw gendong bocah di bawah ini. Gw udah super ngarep si Ikhlas, sepupunya Tari ini, senyum ceria pas gw gendong. Bukannya senyum ceria, dia malah nyengir-nyengir begini selama gw gendong. Eh tapi dia ngga nangis ko pas sama gw #penting. 


Mirip begini lah yang namanya ekspektasi. Kenyataan ngga selalu sejalan dengan harapan. Maka? Maka kendalikan harapan.

Awalnya Galuh nawarin gw baca buku Rumah Tangga-nya Fahd Pahdepie, gw belom pernah tahu dia siapa kecuali dari timeline facebook karena beberapa temen suka ngeshare statusnya. Sebelumnya, Tari juga mempromosikan hal yang sama. Gw tanya tentang apa itu bukunya. Oh ternyata si Fahd ini sharing kehidupan keluarganya dia yang bisa jadi inspirasi gimana kita menjalani hari-hari berumah tangga. Salah satu ceitanya adalah pas istrinya penulis baru melahirkan, si istri sebisa mungkin ngga membangunkan suami buat ikut repot ngurusin bayi tengah malem. Trus penulis sadar betapa istrinya baik banget ngga mau bikin dia bangun tengah malem kuatir cape. Datanglah inisiatif buat bawain bunga untuk si istri, lalu istrinya bahagia. Gitu salah satunya, ceunah

Gw mengernyit dan mikir sejenak. Bayangan abang pernah bilang "Itu kan kata buku, aku ngga gitu tuh. Aku kan bukan laki-laki yang disurvey di buku." ketika gw mencoba mempraktikkan teori buku yang menjelaskan laki-laki itu ketika ada masalah butuh waktu untuk diberi ruang menyendiri. Nyatanya suami gw malah pernah blak-blakan minta ditanya ketika dia tampak ada masalah, bukan gw harus diam memberinya ruang sampe dia siap kembali ke dunia nyata dan cerita semuanya ama gw. Dia malah minta gw banyak bertanya dan banyak ngomong supaya moodnya kembali lagi. Bayangan itu bikin gw singkat bilang "Ngga ah, aku gamau baca buku itu."

Sejak itu gw jadi lebih selektif dalam membaca. Jika itu ilmu, gw dengan sangat terbuka mau baca. Tapi jika cuma cerita, ada kekhawatiran tersendiri yang kemudian menjadikan gw lebih hati-hati dan selektif. 

Gw takut ketika gw membaca kisah tentang bagaimana berumahtangga, alam bawah sadar gw mematok bahwa seperti itulah kehidupan rumah tangga yang ideal. Lalu, kalau ternyata kenyataan berbeda dengan standar ideal, ujungnya cuma kekecewaan. Karena nyatanya setiap rumah tangga itu unik, setiap inidividu itu unik, maka kebahagiaan pasti lahir dalam rupa yang berbeda-beda. 

Gw ngga mau ketika gw membaca kisah suami yang membawakan istrinya bunga karena suatu sebab, gw jadi pengin diperlakukan seperti itu, trus kecewa ketika suami gw ngga melakukan hal yang serupa. Gw ngga mau kecewa, karena nyatanya hidup dengan seseorang yang kita pilih sungguh mendatangkan banyak kejutan dan kebahagiaan dalam wujud-wujud sederhana, tak mesti sama dengan kisah di buku cerita tentang rumah tangga.

Bukan lantas sama sekali ngga mau membaca, hanya lebih selektif saja. Bukan bermaksud membatasi jalan masuknya ilmu, tapi tentang itu, gw merasa belajar sambil berjalan beriringan berdua lebih membahagiakan daripada belajar dari buku-buku cerita.

Kaya apa buku yang gw maksud ilmu? Buat yang mau nikah atau udah nikah tapi butuh pengetahuan lebih, coba baca Barakallahulaka Bahagianya Merayakan Cinta tulisannya ustad Salim A. Fillah, atau Prophetic Parenting, atau buku-buku rumah tangga yang memberikan pengetahuan, bukan kisah bagaimana si penulis menjalani rumah tangganya. Kecuali yang ditulis adalah kisah rumah tangga Rasulullah, atau sahabat yang sangat patut diteladani. Seperti Abu Bakar yang menyerahkan hampir semua hartanya untuk pergerakan perjuangan Islam, mendukung dakwah Rasulullah; hal serupa yang dilakukan Hasan Al Bana, dan ajaibnya lagi istri-istri mereka ridho dengan hal itu. Hanya menyisakan sedikiiiiitttt untuk pribadi, selebihnya untuk umat, untuk Islam. Ngga cuma harta, istri-istri mereka juga ridho banget supaya suaminya ngga berdiam diri di rumah tapi keluar rumah supaya bisa menebar manfaat lebih besar. Nyatanyaaa...nungguin pulang kerja aja rasanya lama betul ngga nyampe-nyampe rumah, ini bukti mendorong suami untuk aktif di luar demi memberikan manfaat lebih besar ngga segampang itu, ngga segampang yang kita baca di buku-buku. 

ini loh yang namanya Galuh
Obrolan sama Galuh sambil ngeliatin piring yang udah kosong sejam yang lalu - karena paket cermat nasi ama dua ayam gede pake level pedes seharga cuma 15ribu udah kita habisin - berujung pada kesimpulan gw bahwa salah satu bahaya membaca adalah kita mematok standar ideal, yang berujung pada kekecewaan jika rumah tangga kita ngga seperti itu. 


Lain ladang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya
Lain orang lain pula pola pikirnya
Nah beginilah pemikiran gw yang disambut dengan senyum sama subjek cerita "Aku kan ngga kaya di buku" itu.

Bogor mendung gelap, kemaren hujan angin, Bandung pun hujan angin sampe banyak pohon tumbang innalillahi. Semoga hujan Allah turunkan di bumi tempat fakta dipermainkan, termasuk di bagian-bagian Indonesia yang katanya kebakaran, supaya penderitaan saudara-saudara di sana segera berakhir. Supaya oksigen yang Allah beri secara cuma-cuma bisa dinikmati setiap manusia, tanpa harus membayar 750ribu per tabungnya.

Salam, 
Rahma yang baru aja belajar bikin pempek.

Pake Jilbab di Rumah Mertua Ngga Seribet itu

Thursday, October 01, 2015
Satu masalah gw ketika nulis adalah milih judul postingan di blog. Kalo lagi tokcer, dapetlah judul kece. Kalo lagi mampet kaya pipa kesumbat, ya kaya begini jadinya. Dari judulnya aja orang langsung tahu apa isi tulisan gw. 

***

Sering kali kita tahu akan hukum suatu perkara, tapi kita menolak mengiyakan karena dalam pertarungan ego dengan logika, ego berhasil menjadi juara. Seperti halnya perempuan muslim tahu bahwa berjilbab itu wajib hukumnya; yang mana wajib berarti sama harusnya ama shalat lima waktu, tapi ego punya seribu alasan buat menolak melaksanakannya.

Selamat datang bulan Oktober. Di bulan masehi ini di tahun ini, 1 Muharram, tahun baru Islam tepat tanggalnya (nah loh gw belibet sendiri sama bahasanya). Udah hampir sebulan gw jadi istri orang, jadi mantu, jadi ipar. Ada banyaaakkk hal yang diem-diem atau terang-terangan gw pelajarin, yang terang-terangan misalnya adalah ngeliatin masak ala rumah abang, yang diem-diem akan gw ceritakan sekarang.

Beberapa hari sebelum nikah, gw nanya sama Tari - you remember her? temen sekamar kosan yang nikah di Aceh bulan Mei lalu - gimana dia berpakaian kalo pas ke rumah mertua. Di rumah mertua Tari, kalo pas full team, ada ayah mertua dan sodara iparnya yang semuanya laki-laki. Tari jawab, dia berkerudung tapi pake baju rumahan. Wawancara berlanjut seribet apa di rumah pake kerudung, kata Tari sih ga ribet. Waktu denger, gw belom percaya, secara kan kita bakal nyuco piring, ya nyapu, ya ngapa-ngapain tapiiii yoohh masa musti banget sih pake kerudung terus-terusaaaann.

Padahal.... gw tahu bahwa saudara ipar laki-laki bukan termasuk mahram kita. Mahram apa muhrim? eaa. Secara bahasa, mahram adalah orang yang haram dinikahi, ada tiga sebab yaitu nasab, persusuan dan pernikahan (Ibnu Qudamah al-Maqdisi), nah kalo muhrim artinya orang yang sedang melakukan ihram, bisa pas haji atau pas umrah.

Mahram wanitaaa adalaaahhhh:
Karena nasab:
  1. Ayah
  2. Anak laki-laki
  3. Saudara laki-laki, baik kandung atau sebapak aja atau seibu aja
  4. Keponakan, baik dari saudara laki-laki atau dari saudara perempuan
  5. Paman/om, baik dari ayah atau dari ibu
Karena persusuan:
  1. Bapak persusuan (suami ibu susu)
  2. Anak laki-laki ibu susu
  3. Saudara laki-laki sepersusuan
  4. Keponakan persusuan (anak saudara persusuan)
  5. Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu)
Karena pernikahan:
  1. Ayah mertua
  2. Anak tiri (anak suami dari istri lain)
  3. Ayah tiri (suami ibu tapi bukan bapak kandung kita)
  4. Menantu laki-laki (suami anak kandung kita)
Versi lengkap, singkat dan jelas bisa dibaca DI SINI. Nah kan di riwayat kisah sahabat jaman Rasulullah juga udah jelas bahwa ipar ini bukan mahram. Apa artinya? Artinya kewajiban berjilbab berlaku juga di depannya. 

Gw mempraktikkan di rumah berjilbab, dan ternyata bener kata Tari, ngga seribet itu. Jadilah kostum di rumah mertua adalah gamis-gamis rumahan sama bergo. Pantesaaaann dulu ada dosen IT Telkom yang ngelarang mahasiswi kuliah pake bergo, katanya kaya mau ambil jemuran hahaha *ngaca*.

Wahai wanita-wanita Indonesia, selalu ada cara untuk taat dan selalu ada alasan untuk pembenaran. Ngakunya wanita modern, tapi kok menolak kebenaran suatu hukum dengan ngga melaksanakannya. Bukan bermaksud menggurui, gw cuma mau ngasihtau bahwa melaksanakan kewajiban ngga sesulit itu. Apa kuncinya? Satu, paham alasannya. Dua, ikhlas. Tiga, didukung sama suami. Aheeeeyy abaang beruntung sekali jadi istrimuuu. Sekian. Tabik.