jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Rumah Kami, Separuh Joglo Separuh Gadang

Wednesday, September 16, 2015

Pernikahan berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan, dan bukan mempertentangkannya. – Cahyadi Takariawan, Di Jalan Dakwah Aku Menikah

Di tengah hiruk pikuk negeri karena kabut asap makin pekat, Sinabung yang belum berhenti bergejolak, nilai rupiah yang belum beranjak meninggi, dan kemelut politik yang membanjiri stasiun tivi; semoga cerita bahagia ini bisa menjadi sebab munculnya senyum di penghujung hari yang melelahkan.

***

Pernah ngga lo penasaran kenapa ada yang namanya suku? Padahal suku ini ngga bisa diubah. Ketika seseorang terlahir sebagai suku Jawa, itulah kenyataan yang musti dia terima bahwa sukunya adalah Jawa. Tapi seperti halnya setiap kunci berpasangan dengan lubang pintu, setiap pertanyaan juga berpasangan dengan jawaban. Cuma kadang kitanya aja yang belum nemu. Nah soal suku tadi, Allah yang menciptakan manusia bersuku-suku juga punya tujuan yaitu supaya kita saling mengenal.

Kenapa rujak itu enak? Karena buahnya macem-macem. Kenapa Indonesia itu indah? Karena sukunya macem-macem *berdehem*

Terlahir sebagai pemudi Purworejo darah murni yang mana Bapak dan Ibuk sama-sama dari Purworejo, serta keluarga besar yang kebanyakan juga dapetnya orang Purworejo dan sekitarnya, langsung bisa disimpulkan tentu saja dari mana asal gw. Purworejo!


Gw mengenal laki-laki ini tahun 2009, sebagai sosok yang ramah dan ringan tangan menawarkan bantuan, Gheza namanya. Kenal sebatas nama dan informasi yang sudah lebih dari cukup bahwa dia jurusan Teknik Telekomunikasi, sama-sama 2008, departemennya Riset dan Teknologi, dan rambutnya gondrong. Ngga ada program kerja bareng, ngga pernah sekelompok upgrading, apalagi ngobrol-ngobrol. Semacam beda geng, Gheza si anak gaul gengnya sama Muti Aldi, dan gw si anak biasa-biasa aja yang pemalu dan mainnya sama eta deui eta deui hahaha. Tapi Allah yang mengatur setiap kejadian memiliki jalan cerita sendiri, melalui keputusan Presiden Mahasiswa BEM IT Telkom 2010, ditetapkanlah kami ada di satu departemen yang sama, Wirausaha. Lalu sekali lagi, di tahun berikutnya, kami dikasih amanah kerja bareng mensukseskan pencarian rejeki buat BEM. Dua tahun kerja bareng dengan tim yang mengedepankan kebersamaan daripada kesuksesan proker (iya ini emang rada ganjil), untung ngga untung yang penting seneng, membuat gw kenal baik laki-laki ini. Gheza namanya, terlahir dari kedua keluarga asal Bukittinggi tapi dia tumbuh di Bogor, sehingga kalau ditanya orang mana dia akan menjawab mantap “Gw orang Bogor.”

Bersama Muti, Gheza adalah salah satu orang terdekat yang paling gw percaya untuk cerita banyak hal termasuk yang paling pribadi, dan juga termasuk dalam daftar teratas orang-orang untuk dimintai pertolongan di saat-saat genting. We played a lot, fooling around like Patrick, Spongebob and Sandy. Ngga heran kalau akhirnya folder foto juga isinya banyak foto mereka berdua :3

Sampai kemudian…..

Di suatu siang di bulan Juni, ada cerita yang butuh dibagi dan ngga bisa gw simpan sendiri. Lama gw scroll contact WhatsApp, bolak-balik, lalu akhirnya namanya terpilih sebagai orang yang gw percaya sebagai tempat mengadu. Mengenai apa cerita itu, biar kami saja yang tahu. Tapi dari cerita itu, kami sama-sama tahu bahwa sejak suatu waktu yang tidak kami sadari, harapan atas masa depan kami letakkan di atas pundak satu sama lain.

Setelah itu masih belum ada yang berubah. Kami masih dua orang yang sama-sama tahu perasaan masing-masing, tapi memilih untuk menghindari percakapan apapun yang berhubungan dengannya. Kami masih fooling around di grup seperti biasa, dan masih bersikap seperti biasa.

Beberapa bulan berselang, setelah berpikir panjang, berdoa dan shalat memohon diberi petunjuk dan kemantapan hati, tiba-tiba gw merasa yakin. Petunjuk ngga datang dalam wujud mimpi, tapi tiba-tiba banyak orang nyebut-nyebut namanya di depan gw. Tiba-tiba mantap. Lewat WhatsApp, malam itu terkirimlah kalimat “Ges kita sama-sama ngga tahu masa depan kaya apa wujudnya, tapi semoga semuanya layak diperjuangkan bareng-bareng ya.”
Sejak saat itu, kami menata langkah. Mendapat restu orang tua yang awalnya kekeuh sama-sama suku Jawa bukan hal mudah. Gw banyak terinspirasi dari novel 2 States-nya Chetan Bhagat tentang pernikahan pemuda Punjabi dan perempuan asal Chennai. Dasar gw emang Bollywood gitu anaknya, pas baca 2 States rasanya kaya itu adalah cerita gw sendiri. Sampe gw catet cara-cara yang dilakuin keduanya buat mendapat restu dua pihak orang tua yang sama-sama kekeuh ngga boleh pada awalnya. Loh, inspirasi dan motivasi bisa dateng dari mana aja kan? :p

Ngga sampe situ aja, gw juga berkonsultasi dengan Murrabbi dan temen-temen deket yang mengalami cerita serupa. Yang paling gw inget adalah wejangan dari Rizal Tarmizie “Mak, sebenernya ini sederhana. Bokap lo cuma pengen anaknya ada di tangan yang tepat. Kalo sekarang belum diijinin, itu artinya bapak lo khawatir anaknya jatuh ke tangan yang salah. Lo yang sabar ya Mak, pelan-pelan ke orang tua, banyakin doa, nanti juga ketemu jalannya. Gw dulu sama begitu juga soalnya hahaha.” (intinya begitu, dengan perubahan redaksi karena alasan daya ingat gw yang terbatas).

Di masa-masa yang tidak sebentar itu, berasa banget setiap pertolongan Allah. Doa-doa yang dijawab satu demi satu mencapai puncaknya ketika Bapak bicara melalui telepon “Oke, kapanpun Gheza mau ke rumah, Bapak siap.” Lalu datanglah laki-laki itu untuk bertemu Bapak, menyatakan kemantapan hatinya. Bukan sebagai teman yang kenalan sama Bapak ketika ngambil konsumsi upgrading ketika rombongan benchmarking BEM transit di Purworejo seperti 2011 lalu.

1 Januari 2015 lamaran dilaksanakan, cukup jauh jarak ke akad karena Bapak meminta bulan September sebagai hari di mana beliau melepas anaknya untuk mengabdi pada laki-laki lain. Beberapa teman bilang “Udah Ma mending akad dulu ntar resepsinya September.” Tapi sungguh ini bukan hanya persoalan dua orang Rahma dan Gheza saja. Banyak pihak yang terlibat, bukan cuma secara fisik tapi juga secara perasaaan. Kami sama sekali ngga ingin melukai hati siapapun dalam proses ini. Maka dalam jangka waktu sembilan bulan itu, sambil terus berhitung mundur dan merencanakan hal-hal yang perlu direncanakan, kami jaga apa yang sudah sepatutnya dijaga.


Faktor jarak juga yang membuat kesibukan gw kaya bukan orang yang mau nikah. Bapak Ibuk yang sibuk nyiapin segala sesuatu, sampe-sampe kalo ditanya orang tentang persiapan calon manten gw cuma bisa nyengir, karena persiapan yang gw lakukan cuma baca dan belajar; kecuali pas gw pulang barulah gw bisa membantu ini itu.

Alhamdulillah, semua acara sudah telaksana sesuai rencana. Dua suku bersatu dalam dua acara yang sama-sama mengusung konsep tradisional, Jawa dan Minang. Dan ya, pernikahan adalah mempertemukan kepentingan-kepentingan, bukan mempertentangkannya.





Salah satu mimpi sejak SD terwujud sudah, menikah dengan pakaian tradisional lengkap dengan cunduk mentul dan paes. Dan kecintaan pada budaya Minangkabau yang muncul sejak pertama kali nonton pagelaran Alek Nagari USBM IT Telkom terasa sempurna karena sekarang gw menjadi bagian dari keluarga Minang yang masih menjunjung tinggi keluhuran budayanya.

Laki-laki itu sekarang gw panggil abang, susah payah adaptasi dengan panggilan ini karena geli tiap mau nyebut. Ya gimana engga, dari lo-gue mau ke aku-kamu aja udah super susah payah, ini lagi musti ganti jadi abang. Indah ya gimana Allah menggariskan nasib manusia. Setelah shalat dzuhur tanggal 6 lalu, sehabis berdoa, ketawa-tawa kami inget-inget dulu sama-sama angkut-angkut jualan, belanja kue dari setengah 6 pagi buat dijual lagi, main rame-rame ke mana-mana. Lucu yaaa yang dulunya temenan kaya apa sekarang jadi kaya apa. Masyaa Allah.


Sekarang kami punya dua ayah dan dua ibu, juga tiga orang adik. Dengan dua kultur, kebiasaan, makanan kesukaan serta bahasa dari keluarga masing-masing yang berbeda, kami akan membangun keluarga kami sendiri. Dua budaya yang kaya akan berpadu. Rumah kami adalah rumah separuh joglo separuh gadang.

Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah.. emang bener kalo berdoa dengan hati yang pasrah sepasrah-pasrahnya, yakin bahwa cuma Allah yang bisa ngasih pertolongan, dan bahwa kita itu keciiiil ngga ada apa-apanya; pada saat itu Allah akan turunkan pertolonganNya.

Kalau kemaren pas resepsi di Bogor abang dapet kesempatan sambutan dan ngucapin terima kasih langsung, lewat tulisan ini gw juga mau ngucapin terima kasih. Terima kasih untuk semua pihak yang membantu, mendukung, mendoakan dan memberi masukan. Mulai dari riweuh gw jadiin tempat curhat, nemenin beli ini itu, sampe yang di rumah bantuin pasang tratag, angkut kursi, nyuci gelas, masak, belanja ke pasar, bikin lemper daaaann semuanya. Terima kasih Bapak dan Ibuk, atas segala cinta dari sejak Rahma belum terlahir, yang mengajari Rahma bagaimana menjadi manusia seutuhnya, dan terima kasih atas segalanya. Juga terima kasih pada Ayah dan Bunda atas segalanya. Segalanya. Penjabaran satu-satu ngga akan cukup ditulis di sini, karena terlalu banyak hal yang menjadi sebab betapa bersyukurnya kami mendapat orang tua yang begitu baik. Allah sebaik-baik pemberi balasan, semoga kami bisa memberikan yang terbaik buat Bapak, Ibuk, Ayah, Bunda dan keluarga besar :)

Terspesial makasih dan cium dari jauh buat uni Devi, hihii. Jadiii beliau adalah sepupunya abang yang dari awal welcome banget sama gw, termasuk rela direpotin bantuin fitting dan ngingetin printilan-printilan yang gw lupa. Juga untuk kedua keluarga besar, terima kasih atas penerimaan yang baik dengan hadirnya anggota baru keluarga ini.


Syukron wajazakumullahu khairan katsiran :)

***

Saksikanlah nak, akhir cerita memang kita tak pernah tahu. Yang ibu tahu, setiap impian layak untuk diperjuangkan. Seperti pertanyaan yang selalu berpasangan dengan jawaban, setiap masalah pun diciptakan bersama dengan solusinya. Allah yang memiliki segala jawaban dan solusi, menetapkan setiap kejadian; dan untuk ibumu ini, Allah takdirkan seorang laki-laki bernama Ghazali Al Nafi, laki-laki sabar yang dahulu adalah sahabat ibu sendiri. Dan menjadi istrinya, adalah anugerah yang akan ibu syukuri seumur hidup.

Laki-Laki itu, Ghazali Al Nafi Namanya

Wednesday, September 09, 2015

"Kaya mimpi ya.", kata laki-laki itu sehabis melepas kostum pengantin Jawanya. Belum genap 24 jam akad terucap, dan sekarang telah resmi gw menyandang status baru yang menggenapkan setengah agama yaitu istri. Sampai tulisan ini dibuat, H+4, rasanya masih takjub kalau merenungi betapaaaaaa Mahabaiknya Allah yang memberi kekuatan, kemudahan dan kelancaran sampai hari yang kami sebut-sebut dalam doa akhirnya menjadi kenyataan.


Laki-laki itu, Ghazali Al Nafi namanya. Orang mengenalnya dengan nama Gheza. Hingga dua tahun lalu, gw memanggilnya Gesa karena penyebutan nama Z agak sulit di lidah. Terkadang Gesa menjadi Gesadung, atau Gesadungdung, atau Geges. Tak jauh berbeda, nama indah Rahma Djati Kusuma pemberian Bapak ini dia sebut dengan Rahmad, atau Mamak, atau Mamake. Sekarang, nama-nama itu akan menjadi cerita sendiri yang memunculkan senyum pada masing-masing dari kami di akhir hari yang melelahkan. Persahabatan kami yang berawal dari BEM IT Telkom menjadi persahabatan yang akan kami jaga sepanjang hayat, terus kami pupuk hingga ia terus tumbuh tiap harinya.






Sahnya kami menjadi suami istri bukanlah suatu momen yang mengharu biru, melainkan momen yang khidmat dan sakral. Janji yang laki-laki itu sebut bukan hanya janji pada Bapak, tapi juga pada Allah yang mempersatukan hati kami. Jumat, 4 September 2015 seserahan dilaksanakan, dan paginya bertepatan dengan hari di mana usia gw genap 24 tahun, SAH. Yang haram menjadi halal, yang dosa berubah menjadi berpahala. Tanggung jawab Bapak atas diri gw berpindah seketika menjadi ada di tangan laki-laki itu.

Empat hari menjadi istrinya, ternyata banyaaaakkkk hal baru yang belum pernah gw tahu, walaupun sudah hampir lima tahun kami bersahabat. Apa artinya? Artinya, mengenal tak perlu masa penjajakan bernama pacaran. Yang dulunya sahabatan tanpa jaim-jaiman aja terkaget-kaget, tapiii justru di situlah letak seninya. Beneran, percaya sama gw. Menyelami setiap sisi hidup dan pribadinya adalah proses yang sangaaaaattt menyenangkan setelah menikah. Lo bakal tahu kebiasaannya dari bangun tidur sampe tidur lagi, di jam-jam tergantengnya setelah mandi dan pake baju rapi, atau di jam-jam tergembelnya saat belum mandi dan pake baju sobek-sobek. Lo bakal tahu kapan dia suka garuk-garuk badan, atau apakah dia suka ileran. Semua info itu ngga lo butuhkan sebelum menikah, tapi setelah akad terucap, hal seremeh itu pun menjadi penting. 

Ladang pahala bertambah, ridho Allah ada pula pada ridho suami. Pintu surga juga bertambah, sekarang pintar-pintarnya istri meraih itu semua. Punya dua pasang orang tua yang super baik, super menginspirasi, super memotivasi juga wujud nikmat berharga yang Allah kasih. Sungguh kufur kalau nikmat ini lupa disyukuri.


Terima kasih atas doa, bantuan, dukungan dari keluarga, sahabat dan kerabat sehingga akad nikah kami berjalan lancar. Detail acara di Purworejo yang dilakukan dengan adat tradisional Jawa akan dipost setelahnya. Masih ada resepsi dengan adat Minangkabau yang harus kami lalui besok Minggu sebagai wujud syukur kami. Jazakumullahu khairan katsiran, Allah sebaik-baik pemberi balasan :)

H-1!

Thursday, September 03, 2015
H-1!

JANGAN TANYA GW GIMANA RASANYA, SEMUA ORANG YANG UDAH NIKAH TAHU RASANYA. EHMM, TAPI NGGA TAHU DING KALO UDAH PACARAN DULUAN, MUNGKIN BEDA SAMA YANG GW RASAIN SEKARANG :3

NGGA ADA DIPINGIT-PINGIT, YANG ADA GW JUGA IKUT SIBUK BANTU INI ITU, GIMANA BISA GW CUMA DUDUK-DUDUK SEDANGKAN IBUK, SAUDARA DAN TETANGGA SIBUK INI ITU. 

MOHON DOAKAN MOHON DOAKAN. 

OH INI MELEK JAM SEGINI BUKAN KARENA NERVOUS SEHINGGA NGGA BISA BOBOK KOK, TAPI KARENA ADA TUGAS KULIAH YANG MUSTI GW KERJAIN KARENA DIKUMPUL BESOK. 

OH, CAPSLOCK? NOPE, LAPTOP GW BAIK-BAIK AJA. IT JUST SHOWS HOW EXCITED I REALLY AM!

MOHON DOAKAN MOHON DOAKAN.