jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

take me out

Thursday, April 24, 2014
Too many things to tell leads to tell nothing.

Too many deadlines to fulfill leads to do half works and none of which is complete.

I Need To Get Out From This Kind Of Routine For A While. Take me out *pingsan

(Lupa) Jujur

Monday, April 14, 2014
Sejak balita kita diajarkan untuk jujur, tidak menggunakan yang bukan milik tanpa ijin, tidak mengambil yang bukan kepunyaan.

Lalu kita tumbuh, tahun-tahun terlewat sejak pertama kali kita mendengar istilah jujur.

Seolah lupa, atau mungkin makna jujur yang berubah mengikuti perubahan trend baju abg masa kini.

Naik motor, helm dipakai karena takut kena tilang polisi. Lupa bahwa aspal tidak seempuk bantal di rumah. Saat berkendara malam hari, helm tidak dipakai karena alasan nggak ada polisi. Polisi memang tak ada, tapi kepala kita masih ada.

Saat berkendara di persimpangan yang sepi, lampu merah dilanggar. Toh tak ada polisi dan dari arah lain sepi. Lupa bahwa rentang lampu merah kita adalah hak pengguna jalan dari arah lain untuk berjalan.

Ketika macet, trotoar dijadikan jalan alternatif. Lupa bahwa itu adalah hak pejalan kaki untuk lewat.

Di angkot, atau di pasar yang penuh, rokok disulut. Lupa bahwa udara bersih tanpa kontaminasi adalah hak setiap individu.

Di taman kota, sampah permen dibuang begitu saja toh ada petugas kebersihan yang akan memungutnya. Lupa bahwa mereka bisa mengerjakan hal lain yang lebih banyak seandainya sehelai sampah kita masukkan ke tempatnya.

Allah ternyata kami memang sering lupa, atau sengaja lupa? Atau kami telah tidak jujur pada diri sendiri? Tahu bahwa itu salah tapi membenarkannya karena banyak yang berlaku demikian.

Sesungguhnya penjajahan dimulai karena kita membuka gerbang, membiarkan diri kita terjajah. Maka jangan salahkan orang lain kalau kita sendiri yang sudah membuka gerbang ketidakjujuran.

Dari Rahma Djati, untuk Indonesia.

Jangan Cintai Aku Apa Adanya

Thursday, April 10, 2014
Nggak bisa dipungkiri, tinggal bersama seseorang akan membuat lo terpengaruh, sedikit atau banyak, sekarang atau nanti.

Udah sejak Juli 2013 lalu gw ngga ngekos sendiri. Adalah Tari, orang yang baru gw kenal pada Maret 2013, yang kemudian empat bulan kemudian tinggal dalam petak kamar kosan yang sama. Orang bilang, tinggal sendiri itu lebih enak daripada tinggal sama orang asing. Nyatanya, punya roommate jauh lebih menyenangkan. Ada yang bisa dibagi, ada yang bisa dijadiin tempat cerita, ada yang bisa diajakin curhat sambil matiin lampu menjelang tidur, ada yang bisa diajak pinjem-pinjeman kerudung, ada yang bisa diajakin bebersih kosan bareng, ada yang bisa diajak pergi makan bareng hampir tiap hari, ada yang bisa diajak berbagi makanan, ada yang bisa diajak ngobrol ketika sepi dan masalah melanda. Mungkin udah kelamaan ngekos sendirian ya makanya pas dapet roommate lagi (setelah ngekos SMA) rasanya seneeeeng banget.

"Si Rahma lagunyaaaa....jadul banget si.", komentar Tari hampir tiap denger gw muter mp3. Apa daya, umur boleh muda, selera lagu tetep tua. Duh.

Gimana ngga dikomentarin gitu kalo lagu yang gw puter bisa lagunya Billy Joel atau Stevie Wonder atau Whitney Huston jaman Bapak dan Ibuk belum saling kenal, atau lagu tahun 90 sampe 2000an awal. Tapi begitulah, tinggal bersama, ngga mungkin gw ngga terpengaruh apa-apa dari Tari. Lagu salah satunya.

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku
Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan
Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan

Ya, seringkali terjadi memang, mencintai (terlalu) apa adanya sehingga tak ada resolusi menuju sesuatu yang lebih baik. Padahal, dengan cinta kekuatan satu ditambah satu tak hanya menjadi dua melainkan bisa menjadi delapan atau tigabelas. Padahal, dengan cinta letih berjuang bisa cepat tergantikan dengan semangat baru. Padahal, dengan cinta resolusi dan mimpi-mimpi tak hanya diperjuangkan seorang diri. 

Jangan mau menjadi biasa saja, kalau memang cinta. Katanya cinta, tapi mau ketemu aja nanti-nanti mulu (nah nunduk deh inget shalatnya suka nanti-nanti). Katanya cinta, tapi disuruh ngerjain sesuatu aja alesan mulu (nunduk lagi, inget debat sama orangtua pas disuruh pake jilbab dulu). Katanya cinta, tapi dites cintanya dengan ujian udah ngeluh dimana-mana. Katanya cinta, tapi nyebut namaNya aja kalo pas inget aja. Katanya cinta, tapi rela mencintai dengan sangat apa adanya, ngga mau berlomba-lomba dalam mencapatkan cintaNya juga. Fastabiqul khairat! Yuk ah berlomba dalam kebaikan.

Ah iya, jangan cintai aku apa adanya. Mari berupaya bersama untuk masa depan yang lebih baik :)
*ngomong sama laptop*

Aduh, Tuan

Wednesday, April 09, 2014
Selamat malam, Tuan. 
Saya tahu golongan rakyat Tuan ada dua, dulu. Laki-laki dan perempuan. Mudah sekali membedakan keduanya dulu, karena jelas sekali penampilannya sangat kontras berbeda. Tuan pasti tahu itu.

Sekarang sudah modern, kerabat yang jauh bisa diajak bicara lewat kotak kecil yang ditempel di telinga. Momen bisa diabadikan hanya dalam sekali sentuh pada kotak-kotak ajaib itu. Senyum putri Tuan pun bisa saya abadikan dalam kotak ajaib milik saya. Oh ini ternyata yang namanya teknologi.

Tapi Tuan, golongan rakyat Tuan agaknya bertambah sekarang. Perempuan-perempuan yang dahulu pakaiannya enak dipandang sekarang makin enak dipandang. Wajarlah Tuan, saya laki-laki, otak saya memberi perintah untuk menunduk tapi mata saya seringkali bekerja di luar kendali. Di padepokan tempat saya belajar, perempuan rakyat Tuan dengan bangga memperlihatkan kakinya yang jenjang, tapi Tuan, sungguh, tak semuanya jenjang, banyak juga yang sesungguhnya tak enak dipandang. Saya mulai tak mengenali mereka, rakyat Tuan yang dulu memakai kain panjang yang rapat sekarang beralih haluan.

Bukan itu saja Tuan, saya pun ingin bertanya, apakah tukang kain di negeri ini semakin kesulitan membuat bahan? Karena kain persegi yang menutup rambut rakyat Tuan pun mulai ditanggalkan. Sesungguhnya malu saya Tuan. Seandainya saya menjadi suami salah seorang dari mereka, atau suami dari putri Tuan, tentulah saya tidak ingin memperlihatkan mahkota istri saya pada khalayak. Apa yang mereka banggakan dengan membuka-buka seperti itu?

Ada lagi yang harus saya laporkan Tuan. Perempuan-perempuan rakyat Tuan ini dahulu terkenal cantiknya, tapi sekarang saya harus berkerut kening untuk mencerna kecantikan mereka. Mereka tidak lagi memiliki alis, Tuan. Sungguh seram. Pipi mereka pun menjadi kemerah-merahan, entah obat apa yang mereka kenakan.

Mereka seperti lupa bahwa mereka dicipta dengan sempurna. Tuan setuju dengan saya? Mereka lupa bahwa bukan mereka yang mengerti standar sempurna, karena mereka dicipta bukan mencipta. Siapa yang paling paham soal arti kesempurnaan kalau bukan Yang Mencipta? Untuk apa mengubah sesuatu yang sudah sempurna, alis misalnya. Aduhai Tuan, sungguh saya tidak habis pikir dengan sebagian besar rakyat Tuan.

Karena Mamak saya mengajarkan, keindahan ada pada kesederhanaan. Mamak ingin punya menantu yang punya alis, seperti putri Tuan. Memiliki pipi yang tidak diberi obat merah-merah, dan bibir yang cantik bukan karena diberi gincu. Mamak ingin punya anak perempuan yang cantik karena perkataan lembutnya, karena sering mengucap nama Penciptanya. Mamak pun ingin anak laki-lakinya ini didampingi oleh perempuan yang tahu cara menghargai dirinya sendiri dengan tidak menjual murah harga dirinya. Kata Mamak, harga diri perempuan salah satunya terpancar dari caranya berpakaian. Jelas, yang kainnya di atas lutut bukan menantu idaman Mamak.

Benar kan Tuan, rakyat Tuan sudah sulit dikenali. Identitas negeri kita yang luhur mulai luntur, tergantikan oleh identitas pendatang-pendatang. Saya ingin mencari yang tahu caranya menghargai dirinya sendiri, menghargai identitasnya, menghargai pendampingnya. Dan saya merasa putri Tuan memiliki semua kualitas unggulan yang terbaik, lebih dari yang saya butuhkan. Jadi Tuan, kapan kita bisa berbicara lebih rinci mengenai ini?

WU Ke Tiduuuung!!

Tuesday, April 08, 2014
Selalu ada hal baru bersama WU.

Ngga ada bosen dan habisnya emang nyeritain orang-orang ini, tim departemen Wirausaha di BEM 2010 yang sampe sekarang masih suka ngumpul dan menuhin notif WhatsApp. Selalu ada hal baru bersama WU edisi satu adalah serangkaian agenda keliling ibukota, mulai dari ice skating sampe dufan-ing. Dan kali ini adalah edisi kesekian berjudul…… yak drumroll please! Brumpurumpumpuuummm…… liburaaaaan ke pulau Tiduuuung yeeeee!!

ini asal muasal liburan WU
Impulsif, hanya berasal dari tweet gw ke @mutihera yang lagi liburan ke Thailand, langsung bergulirlah rencana liburan WU ke pulau Tidung. Setelah nyocokin jadwal sama bang Zaki yang sibuk keluar masuk hutan Kalimantan, Gheza yang kerjanya hwow banget bahkan wiken pun sering masuk, Muti yang jadwal liburannya udah menumpuk, Tigor yang paling susah dijangkau karena ada nun jauh di Mojokerto, Harland yang lagi sibuk keliling Eropa, dan gw yang sibuk ngetweet *eh* didapatlah kesepakatan liburan pas long wiken 29-30 Maret. Kesempatan langka, momen priceless! Dari dua minggu sebelumnya, saking excitednya, rasanya gw udah kebayang-bayang bakal se-fun apa liburan bareng mereka, orang-orang yang ngerti banget arti tertawa.

Saking excitednya juga, gw sampe mimpi bang Zaki ngebahas teknis keberangkatan sambil naik pohon kelapa yang cara turunnya adalah melorot kepala duluan. Abstrak. Seperti kebahagiaan yang juga sama abstraknya, bisa dirasa tapi sulit dituangkan dalam cerita.

Akhirnyaaaa, tanggal 29 Maret 2014 jam 00.20an, rombongan Bandung nyampe ke rumah Muti di Kalimalang, meeting point geng WU. Setelah haha-hihi sejenak dan makan oleh-oleh coklat Belgia dan air Austria dari Harland, lampu ruang tamu dimatikan. Tawa berubah menjadi hening di ruangan masing-masing. Kaya anak SD yang seneng mau tamasya, gw bangun sebelum alarm bahkan berbunyi jam 04.01, padahal gw Muti dan Tigor baru memutuskan untuk menyudahi obrolan jam 02.00. Kebersamaan terbukti berhasil menghalau kantuk.

“Cuy pokoknya besok kita jam lima harus udah cabut dari rumah Muti.”, kata bang Zaki hari sebelumnya. Yang terjadi pada kenyataannya adalah jam lima geng bapak-bapak WU baru pada bangun, daaaan…. ya, (agak) kesiangan. Berangkat dari rumah Muti jam enam kurang, kita makan nasi uduk di mobil menuju Muara Angke. Rame? Yaiyalah! Long wiken gitu, semua orang pengen liburan kayanya.


Nggak nggak nggak kuat, nggak nggak nggak tahan. Aku nggak kuat sama bau, bauuuuuukk! *dinyanyikan dengan nada Cherrybelle* Aduh ampun deh pelabuhannya bau luar biasa. Kalau bau ikan sih masih tolerable soalnya gw emang doyan ikan, tapi ini bukan lagi bau ikan. Ini bau yang ngga bisa gw definisikan, campuran limbah ikan, genangan air yang udah item, pinggiran pelabuhan sama ikan-ikan busuk. Aduh. Tips pertama untuk liburan ke pulau Seribu: sediakan tissue wangi atau masker wangi atau kain wangi buat menyelamatkan hidung lo dari sergapan bau-bau itu. Tips kedua, pakai sandal atau sepatu yang comfortable buat jalan, kalau bisa nggak terlalu teplek karena kaki lo akan terkena genangan air yang udah item itu *yang ada tikus mati di genangan dan tikusnya didiemin gitu aja ngambang tanpa nyawa.

Naiklah kami ke kapal yang penuuuh dengan tujuan yang sama, Tidung. Tepuk tangan pemirsa!

Disambut oleh mas guide, kami dibawa ke penginapan dan langsung dikasih makan siang. Wah that what guide is for. Perut udah meronta minta diisi, plus perjalanan empat jam yang getar-getar luar biasa karena gw duduk di atas mesin kapal. Penginapannya bagus, AC, toilet bersih *ini penting banget*, ada galon air minum, dan kasurnya sungguh menggoda buat tidur siang. But heeeey, we’re on holiday jadi ngga ada tidur siang-tidur siangan!


Mau kemana kitaaa? Snorkeliiiing!! Bang Zaki paling doyan nanya dengan gaya Dora tentang mau kemana kita, dan selalu hanya gw yang jawab dengan excited sambil niruin gaya Dora The Explorer juga. Selalu ada tawa bersama WU emang benar adanya. Sambil nunggu dijemput mas gude buat snorkeling, inilah ilustrasi obrolan kami:

Harland  : Minum dimana Gor?
Tigor    : Di hatimuuu
Bang Zaki: Wah Tigor udah open recruitment jodoh kayanya
Tigor    : Iya bang ntar daftarnya online ya, siapin scan KTP.
Bang Zaki: Habis itu kalo lolos langsung deh download mantu

Heeey hooy download mantu sodara-sodaraaa.. emang sih versi Bahasa Indonesia dari download adalah mengunduh, tapi kalo ngunduh mantu jadi download mantu ituuuuu…… *menatap layar Delia*

And then it’s snorkeling time.
“Mut gw nggak bisa renang aduh gimana dooong?!”, tanya gw dengan agak panik.
“Tenang Maak, temen-temen gw yang nggak bisa renang, pas snorkeling bisa pulang dengan selamat tuh. Kan ada pelampung.”
Ngga tahu musti bereaksi gimana sama jawaban Muti yang tampilannya udah kaya artis nyasar ke pedalaman gara-gara kacamata itemnya >.< 

Setelah naik sepeda glodek-glodek, sepeda yang tiap ada polisi tidur pasti langsung heboh, sampailah kami yeeeeey.. ke tempat parkir sepeda. Iya ini antiklimaks, gw tahu hahaha. Sepeda diparkir, kapal dinaiki. Iyeeey mau snorkeliiing >.< Geng WU dibawa ke tengah laut, yang katanya banyak ikan dan karangnya bagus. Setiap orang dapet satu snorkel atau alat bantu snorkeling, kacamata lengkap sama pelindung idung dan alat buat nafas lewat mulut, lengkap sama corongnya. Setiap orang juga dapet sepasang kaki katak buat ngebantu berenang, dan tentu saja senjata paling ampuh, life vest.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?


Hoeekkk! Reaksi pertama gw pas pake snorkelnya. Lalu bermodal nekat, gw nyebur. Apa yang terjadi? Nggg…. Pernah lihat balon diisi air, diiket lalu dilempar ke air? Ya kaya itu bentuk gw. Terombang-ambing kesana-kemari, renang ngga bisa, kebawa arus menjauh dari rombongan. Untuuuung banget, Alhamdulillah gw ngga dilupakan, selalu ada yang ngebantuin, narik, ngedorong ke kapal di saat-saat genting. 

“Wah bisa darah tinggi nih balik dari sini.”, kata Gheza yang kayanya banyak minum air laut juga. Tapi pasti banget gw memegang rekor minum air laut terbanyak sampe tenggorokan kering. Juara pemirsa!

Dengan full baju basah dan mata merah, kami naik sepeda lagi keliling pulau ke pantai buat makan mie rebus dan es kelapa muda. Harga mie rebus 8000, es kelapa muda yang utuh 12000 dan otak-otak seporsi 25000 isi 10. Meminjam istilah temen gw, kalau pas liburan selalu keinget harga, ya ngga jadi beli apa-apa. Karena emang yang dibeli bukan makanannya, tapi momennya. Bener, momen sepoi-sepoi di pinggir pantai, berenam duduk dengan banyak cerita dan tawa bener-bener priceless. Terlebih setelah tiga tahun kepengurusan BEM 2010 berakhir, yang dulu tiap hari ketemu, hampir tiap hari ada jarkoman, sekarang semua larut dengan kesibukan masing-masing yang ngga beririsan. Liburan ini bener-bener priceless!


Hal pertama yang diperebutkan di penginapan tentu saja adalah kamar mandi. Semua lengket belepot pasir dan harus segera shalat ashar. Beres mandi, makan malem siaaaapp grak! Yak ketebak, makan dengan lahap karena masakannya selalu ada ikan atau cuminya. Endang bambang nyaaamm! Belum cukup sampe situ, malemnya mas guide ngetok pintu ngasih ikan dan cumi barbeque. Seharusnya kami ngebbq langsung di pinggir pantai, tapi karena rame banget akhirnya dikirim mateng ke penginapan.  Demi nunggu ketokan mas guide, kami bela-belain melek dan ngobrol ngalor ngidul sambil nonton tv yang digonta-ganti karena ngga ada acara yang bagus. Tepat di saat hampir ngga kuat dan masuk kamar tidur, ceeesss, pucuk dicinta ulam tiba.

Liburan hari pertama ditutup dengan tidur yang rasanya goyang-goyang ngambang di laut kaya pas snorkeling. Dan ya, selamat malam dan tetap semangat, salam geng Wirausaha!

*intro Slice-nya Five For Fighting keputer kenceng*
Wah udah harus bangun! Wah bangun di ruangan asing! Oh iyaaa gw lagi liburaaan! Segera setelah sadar gw lagi liburan mata langsung melek, kaya excitement anak SD mau tamasya kyaah!


Beres shalat subuh, setelah leyeh-leyeh sebentar *kegiatan macem apa ini leyeh-leyeh* kami beranjak naik sepeda lagi ke ujung pulau. Tujuan pagi ini adalah jembatan cinta dan banana boat iyey iyey! Kata bang Zaki, lompat jembatan cinta itu sensasinya kaya gini: Jadi lo loncat, trus sesaat setelah lo loncat lo akan sadar kalau ini adalah keputusan yang salah, Ya Allah ampuni aku.

Itu kata bang Zaki yang bisa berenang, kalau gw yang disuruh loncat kayanya bener-bener bakal jadi penyesalan banget :3

Gw baru lihat wujudnya tongsis pas di Tidung ini. Lucu banget kami bawa dua tongsis buat foto-foto sepanjang jembatan dari Tidung ke Tidung kecil, diliatin orang dengan pandangan aneh bukan halangan buat foto-foto, yes!


aduh bang Jek!



“Wah mumpung sepi nih, banana yok!”
Setelah terjadi tawar-menawar dengan mbak-mbak banana boat, deal juga kami main dengan harga 25000 per orang. Deg-degan ohmen! Hahaha begini nih kalo belum pernah main banana, agak katrok jadinya.

“Hiiiy ngeri Mak main banana boat, ntar lo dilempar.” Kata Gheza.
“Emang lo udah pernah?” gw jawab dengan pandangan penuh selidik ala detektif.
Ghezanya cengar-cengir yang gw simpulkan sebagai “Belum Mak gw juga belum pernah, gw juga takut!”


Lalu naiklah kami berenam dalam satu perahu pisang. Woooo seruuuu! Gw pake rok, dan ngga menghalangi apapun. Tips ketiga: pake pakaian full set warna gelap atau yang bercorak supaya ngga nyeplok, kerudung yang nutup dada bisa sangat membantu ketika badan lo basah kuyup. Pake juga rok (tentu aja dilengkapi dengan celana panjang) dan kaos kaki. Kaki lo jadi lebih aman juga dari gesekan karang yang bisa bikin lecet :)

Ngga cukup puas sama banana boat, kami naik hantu laut yang sangat menguji nyali. Jadi ada bola yang bentuknya lingkaran pipih dengan pegangan tangan di ujungnya. Kami harus pegang ke pegangan itu dengan posisi tiduran trus bolanya ditarik pake speedboat dengan kecepetan yang bikin banyak-banyak istighfar. Gw ngga mau yang pertama, pait pait pait! Akhirnya setelah liat ekspresi Tigor yang tampak kesenengan, gw berani-beraniin naik juga. “You know Mak, ten times better!” oke gw akan membuktikan perkataan Tigor.

Rasanya sebelum ditarik ituuu….. lemes, dan mules. Aduh ini gw nulisnya aja lemes kebayang pas ditarik sekenceng itu. Nah terus demi menguji kecepatan berpikir dalam keadaan genting, tim hantu kedua malah main tebakan dong. Apa nama binatang yang depannya A! Siapa pencipta lagu Indonesia Rayaaa! Binatang apa yang depannya Z! Aduh aduh aduh sampe kebelet pipis rasanya. Sulit dijelaskan serunya, whoa whoa! Di tengah laut, klimaks cerita terjadi. Abang speedboatnya makin kenceng dan menikung, bolanya kelempar doong, terus tangan gw ngga kuat pegangan, terus ternyata bang Zaki badannya udah melayang ngga napak di atas bola. Akhirnya kami bertiga melepas pegangan ke tali. Kami kelempar. Paniiikk ini kan di tengah lauuuuttt aaaaakk!! Abis itu abangnya nyamperin, katanya kalo udah ngga kuat lepasin aja pegangannya daripada tangannya melintir. Oalaaahh >.< Trus menuju ke tepi pantai, kami bertiga dibawa terbang lagi, cuma berpegang ke tali. Dan Alhamdulillah, selamat walaupun dengan perasaan campur aduk kaya sayur lodeh.

Liburan itu salah satunya soal momen. Maka bukan WU kalo ngga mengabadikan momen selengkap mungkin. Foto-foto lagiii! Hal yang menarik dari foto rame-rame adalah pada saat foto selesai dan pada ngerubung ngeliat foto. Yang pertama disorot pasti muka sendiri, terus ngga jarang muncul komentar “Wah ini bagus.” Disambung celetukan yang lain “Iya bagus elunya.”. Egoisme paling mendasar muncul ketika liat foto rame-rame :p

Pulang dengan belepot pasir (lagi), kami langsung buru-buru packing, mandi dan ke pelabuhan. Wah rasanya di pelabuhan itu udah kaya mau ngungsi, ruameeeee! Panasnya pun tiada terkira saking padetnya antre naik kapal. Di saat panas kaya gitu pun kami masih sempet main adu jempol dan ABC lima dasar. Ah sama mereka, hal membosankan pun ngga akan berasa membosankan.

Akhirnya kami naik kapal juga, ngga sepadat dan ngga segetar-getar kapal berangkat Alhamdulillah. Bosen di kapal, kartu dikeluarkan dan poker kembali dimainkan. Gw sih karena ngga jago main (komposisi kartu terdiri dari apa aja pun gw ngga hapal) jadi banyakan jadi anak bawang ngeliat doang sambil dengan sukarela ngocok kartunya.

Wah ternyata postingannya jadi panjang banget :3

Begitulah, bersama mereka setiap detik rasanya begitu berharga. Ikatan janji departemen Wirausaha sudah berakhir November 2010, tapi ada ikatan lain yang masih tetap menyatukan keluarga kecil yang penuh hahahihi ini. Mungkin karena dulu pas di BEM fokus kami bukan kerjanya tapi persaudaraannya, karena harus gw akui secara personal kualitas masing-masing sangat patut diacungi jempol, tapi entah kenapa ketika disatuin disuruh kerja bareng jadinya berantakan kebanyakan main. Hipotesis bang Zaki karena kami semua satu tipe, konseptor semuanya, bukan eksekutor. Jadilah rencana tinggal rencana, konsep sekedar menjadi konsep.

Thanks for the great two days, you guys! I had fun, and cannot wait for another meet up. See you any better, dearest Departemen Pecinta Rasul fam!