jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Tara Rum Pum

Tuesday, December 31, 2013

Yak dan kali ini gw akan membahas film India yang gw rate 9 dari 10. Tara Rum Pum. Dibintangi Saif Ali Khan dan Rani Mukherjee dan dua bocah super lucu, Angelina Idnani & Ali Haji. Anyway, wajah si bocah laki-laki itu berasa familiar banget ya? Ali Haji ini emang kiprahnya di film-film bollywood udah pantes dikasih dua jempol. Dia adalah bocah yang ngitungin bintang di Kuch Kuch Hota Hai, jadi figuran serupa juga di Kabhi Kushie Kabhi Gham. 

Biasanya orang kalo denger film India atau bollywood udah anti duluan. Wah tunggu saudara-saudara, film satu ini gw rekomendasikan sekali, bahkan buat yang ngga suka bollywood sekalipun. Hahaha rasanya terdengar norak ya "bollywood" tapi itu adalah istilah yang muncul pas industri film India berkembang di genre yang lain, bukan cerita monoton tentang wanita dan laki-laki yang saling suka tapi terbentur restu orang tua. Bollywood is Bombay Hollywood. 

Tara Rum Pum menceritakan tentang RV (Saif Ali), racer yang menikah sama Radhika (Rani Mukherjee) yang dia sebut sebagai pianis terbaik dunia. They live in Manhattan back then, in their most glorious time. Bersama dua anaknya, Princess (Angelina Adnani) dan Champ (Ali Haji), mereka hidup dengan rumah mewah, perabot lengkap, fasilitas lengkap, dan rekor 50 pertandingan yang selalu dimenangkan oleh RV. Sampai akhirnya kehidupan berbalik dalam satu jentikan jari. RV kecelakaan dalam satu pertandingan yang bikin dia harus berhenti selama setahun. One year passed and RV was about to make a comeback. Tapi karirnya ngga semulus dulu, dia gagal, lalu dipecat, lalu harus banting setir demi menghidupi dua anaknya dengan jadi supir taksi. Keputusan yang sangat berat karena kemudi biasa dia kendalikan di arena balap dan sekarang kemudi itu harus dia kendalikan sebagai supir taksi. 

Datar ye? 
Tapi ada hal yang menarik banget buat gw dan bikin gw belajar sesuatu tentang parenting. How they treat their children. Saat harus pindah dari rumah mewah ke apartemen kumuh dan menjual semua yang mereka punya, RV dan Radhika ngga pengin anak-anaknya sedih karena mereka jatuh miskin. Yang mereka lakukan adalah: 
"Champ, Princess now we are on a reality show called Don't Worry Be Happy. There will be many teams, given 2000 dollars and they have to live in a small place. The rule is, no matter what happen you have to be happy, smile and laugh but don't cry. There are many hidden cameras, so get ready."
Lalu mereka pindah ke apartemen murah yang kecil dan kumuh tanpa kursi, hanya ada satu kasur besar untuk tidur sang ayah dan ibu, dan dua kain yang digantung kaya di pantai untuk tidur anak-anaknya. Saking miskinnya, sampai RV & Radhika ngalah dengan ngga makan untuk memastikan dua anaknya ngga kelaparan. Mereka ngga mau Princess dan Champ sedih karena mereka tiba-tiba ngga punya apa-apa. Terpenting, mereka berdua ngga mau Princess & Champ pindah sekolah dari sekolahnya sekarang yang mahal tapi bagus itu. 

Tara Rum Pum is a must watch movie. Film produksi Yash Raj Production ini, buat gw, juara! Walaupun yang main bukan Shah Rukh Khan Layak masuk ke daftar tontonan liburan :D

Ini salah satu lagu favorit dari Tara Rum Pum



Trailer movienya disini:


Sorry, Gue Unfol

Friday, December 27, 2013
Unfollow twitter, agaknya belakangan ini satu tombol itu jadi lumayan keramat sejak ada banyak aplikasi buat ngecek siapa yang ngefollow dan siapa yang ngeunfollow kita. Sejak pertama bikin twitter, frame gw adalah orang-orang yang punya daya tarik tersendiri. Fine, bisa dari tweetnya atau dari orangnya secara personal. Eaa. 
On twitter, follow your interests, not your friend.
I do believe. Gw berhak kan memilih apa aja yang mau gw baca? Gw berhak kan menentukan konten kaya apa aja yang boleh muncul di timeline gw? Dan, terakhir, gw berhak kan memilih siapa yang mau gw follow?

To be honest, gw pribadi agak risih dengan ketauannya siapa yang gw unfol (yang orang-orang dapet notifikasinya lewat aplikasi third party itu), makin ngga nyaman kalo orang yang bersangkutan kemudian ngemention gw dan bilang “Mak kok lu unfol gw sih :(“ well what do i supposed to do? Then yaa, karena berbagai alasan gw akan memfollow lagi orang itu. Khkhkh.

Sepele ya urusan twitter doang. Eits, tapi di jaman yang udah serba digital ini, netizen dan twitter punya pengaruh besar dalam berbagai hal. Pengguliran berita yang sangat real time, penggiringan opini, customer care, media beriklan yang efektif,  sampe tweetwar ngga penting yang susah gw pahami antara Farhat Abbas sama Al. Oh sigh. 

To follow or not to follow is a choice. Ketika gw memfollow sebuah akun, ada informasi yang pengen gw dapet. Entah itu kabar si pemilik akun karena kami adalah teman baik, atau ada info-info yang menurut gw menarik. Ketertarikan itu bisa karena faktor pemilik akunnya, atau isi tweetnya, atau bisa dua-duanya. Dan ketika gw jengah dengan tweet yang flooding dari akun tertentu, gw bisa jadi memilih buat unfol. It’s not a big deal, huh? 
Flooding bisa karena si pemilik akun ngereply dengan cara retweet with comment sehingga percakapan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang follow kedua akun yang lagi reply-replyan jadi kebaca seantero TL. Atau bisa karena gw merasa ngga lagi dapet manfaat dari akun yang gw follow, biasanya ini karena gw berekspektasi lumayan tinggi. Kalau apa yang gw baca justru bikin pikiran gw rusak, ngapain gw terusin baca, ya kan? Misalnya adalah follow akun yang kerjaannya bergunjing mulu. Aw no! Salah satu usaha menjaga kebersihan hati adalah dengan menjaga kebersihan bacaan.

You are who your friends are. You are what you read. I can’t tell that who you follow affects the way you think that much, but they do affect what kind of information that you get. In the end, source of information and what kind of information that you have can really make up the way you think.

Memfilter bacaan itu seperti menyeleksi makanan. Ada yang bergizi, ada yang tidak. Ada yang bermanfaat, ada yang merusak. Gw berhak toh memilih makanan apa yang mau gw makan? Persis. Gw punya hak yang sama untuk memilih siapa yang gw follow.

Filter, Kaya Helm Aja

Monday, December 16, 2013
Nggak semua yang lo denger harus lo ikutin! Gw membatin geram dalam hati. Sore ini, seperti biasa, Bandung hujan. Hujan yang semoga penuh berkah, sebanyak tetes air yang jatuh. Tapi emang dasarnya manusia, dikasih panas ngomel, dikasih ujan ngomel juga.

Usai kelas, gw berniat langsung pulang karena ada yang harus gw selesaikan. Apalagi kalo bukan kerjaan yang ditunda-tunda dan tahu-tahu udah mepet deadline. Hujan deras tak bisa dikompromi. Gw udah hapal ritme hujan kabupaten Bandung selatan ini, tapi gw masih mengulangi kesalahan yang sama. Gw selalu ngga bawa payung for simple reason bahwa payung gw bukan payung lipat dan membawanya di pagi hari akan membuat gw seperti panglima yang mau berangkat perang bawa-bawa senjata. Oke alasan itu bisa dipersingkat menjadi satu kata, males. Sigh in C minor.


Jumat ini ada yang spesial. Gw membawa helm karena sebelum ke kampus gw harus ke suatu tempat menggunakan helm. Gw harus ke suatu tempat yang agak jauh sehingga gw harus memakai helm tadi pagi. Alam sadar gw spontan memerintahkan Rahma pakai itu helm dan lo bisa jalan pulang dengan kepala aman terlindung! Dan tanpa pikir panjang, gw pakai helm dan berjalan melenggang. Gw menyusur lorong kampus dengan setelan hijau dan helm ungu. Perpaduan yang nggak banget buat kondisi normal, pemandangan ini bener-bener nggak oke. Tapi ngga semua kata orang harus gw ikutin kan?

Pake helm buat jalan di dalam kampus dan sepanjang jalan pulang emang ngga wajar dan bikin banyak orang ngeliatin, tapi kalo gw sakit, emang mereka yang ngeliatin ikut ngerasain?
...
Enggak toh?

Dalam banyak hal, berlaku aturan yang sama. Manusia punya hati untuk menimbang pilihan, dipadukan sama logika. Voila!

Kalau mendengar semua omongan orang, mungkin gw langsung balik kanan dari jalan hijrah pertama yang gw pilih untuk berkerudung lebar. Hidup itu penuh pilihan. Orang lain boleh ngasih saran, tapi keputusan untuk memilih tetap ada di kita masing-masing.

Dua minggu belakangan ini gw jadi fasilitator anak-anak asrama 2013 untuk training softskill Self Awareness, termasuk di dalamnya tes kepribadian. Dan dari sana, gw baru paham bahwa untuk sebagian orang dengan tipe kepribadian tertentu, untuk bilang enggak itu sulit luar biasa. Mungkin lebih sulit daripada ngerjain integral lipat tiga atau merumuskan aksioma-aksioma. Alhamdulillahnya, gw ngga pernah kesulitan untuk berkata enggak. The point is, every big things starts from a single and simple decision, yang bisa jadi itu adalah kata orang yang kita abaikan. Inget kan cerita musafir yang dalam perjalanan jauh bersama seorang anaknya dan seekor unta? Awalnya dia menuntun unta yang dinaiki anaknya, ada orang komentar. Dia ganti, dia naik unta dan anaknya jalan, ada orang komentar. Ganti lagi, mereka berdua naik unta, ada lagi yang komentar. Lalu dua-duanya turun dan untanya pun jalan tanpa ditunggangi, masih ada yang komentar juga. See? 

Manusia diberi akal untuk memilih, dan diberi telinga untuk mendengarkan omongan orang. Tapi kita berhak kok menentukan mana yang pantas didengar dan mana yang pantas dilewatkan. Kadang memang cuek itu keharusan. Sesederhana pake helm ungu di saat hujan untuk berjalan di koridor kampus dan sepanjang jalan pulang. Aneh memang, ah tapi sebanding kan dengan reward kepala terlindung?

Dunia Baru: Menjadi Dosen

Thursday, December 05, 2013
Memahami konsep bahwa mahasiswa berbeda dengan siswa bukan perkara gampang segampang lepas-pake sandal jepit. Butuh waktu dan proses, kaya mau lepas-pake sepatu sandalnya cewe yang bertali rangkap tiga dengan hak sepuluh senti.

Nama gw Rahma Djati Kusuma, dengan kode dosen RDK. Bukan lagi asdos atau asisten lab berkode RDJ. Dan ini adalah kisah gw *benerin kursi, ambil teh manis anget dan pisang goreng :p





Pasca lulus 20 Juni kemaren dan wisuda tepat sebulan setelahnya, 20 Juli, gw resmi menjadi beban negara. Judulnya pengangguran, mahasiswa bukan, bisa menghidupi diri sendiri juga belom. Bahasa yang lebih hangat didengar adalah job seeker, ahah. Anyway selalu ada hal ajaib ternyata di Juli tiga tahun belakangan. Keajaiban itu genap dengan resminya gw jadi pengangguran. Masalah datang ketika gw sama sekali ngga tertarik dateng ke job fair, ngga berminat ngebukain lowongan kerja di web dan bahkan ngga panas hati pas denger si A sekarang kerja di perusahaan ini dengan gaji segini, si B di perusahaan itu dengan gaji segitu. Gw justru doyan ngebukain info-info lomba, blogwalking sana-sini, dan baca buku yang gw anggurin selama mati-matian ngejar sidang.

Rasanya.....I don't want to be forced to get along in a routine. Routine disrupts my day. I need challenges, I need something new everyday. I need to feel being new every morning. I want to meet people. Sok banget ya? Baru juga lulus, ijazahnya S1, udah sok-sok ngomong ngga pengin ini ngga pengin itu. Padahal ngebangun bisnis pun belom bisa dijadiin sandaran penghasilan mandiri. Pfft.

Sampai akhirnya gw menyerah pada bujukan orang tua untuk daftar CPNS. Gw daftar di banyak kementrian dan badan. Saking banyaknya, kalo lo tanya waktu itu gw daftar apa, gw pasti lupa. Qodarullah, gw ngga lolos satu pun. Banyak faktor yang bikin gw ngga lolos tapi ngga akan gw ceritain disini. Padahal, gw pernah sangat niat. Oh dan bahkan satu-satunya kado ulang tahun ke-22 ini adalah buku kumpulan soal tes CPNS yang dikirim via JNE sama dua sahabat hahahihi gw, dan nyampe tiga hari sebelum ulang tahun. Lucu ya, Allah mendukung abang JNE buat berkonspirasi ngirim paket lebih cepet supaya gw bisa belajar lebih segera. Oke, niat hanya sebatas niat. Usaha belajar berakhir dengan coret-coretan jawaban di buku kumpulan soal yang kemudian malah gw gambarin di sampul depannya "Kado 22 tahun yang nyampe 3 hari sebelum hari H". Maaf yaa ceman-ceman yang udah repot-repot, bukunya jadi nganggur sekarang. Sigh in C minor. 



Nah lalu.. Nyesel? Ooohh..tentu tidak! Selalu ada kejutan rahasia yang luar biasa di setiap ketetapan Allah.

***

Sore itu gw whatsappan sama teteh mentor gw pas kuliah, lalu gw curhat. Hasil curhatan dan obrolan whatsapp itu adalah info kalo Inspira TV lagi butuh reporter dan beliau menyarankan gw untuk ikut casting. Tsaah~ Tragedi berulang. Gw baru buka web Inspira tepat hari H casting sedangkan gw lagi ada di rumah di Purworejo waktu itu. Eliminated. Info kedua adalah info untuk menjadi dosen di Politeknik Telkom. Bukan info kalo lagi ada lowongan, karena beliau cuma bilang biasanya tiap semester ada bukaan dosen coba aja. Hoke! Bismillah. Berbekal berkas yang dikarang sendiri tanpa format, transkrip nilai dari i-gracias (web akademik IT Telkom) karena transkrip kelulusan belum rilis, gw nitip map merah ke receptionist. Gambling, I'm totally blind. Bahkan dosen apa yang dibutuhkan pun gw ngga tahu. Oh dan sebenernya Poltek lagi butuh dosen baru apa engga pun gw ngga tahu. I didn't expect too much, moreover I only have those bachelor title.
Expect less, you will gain more.
Kegiatan perdana sebagai dosen tepat dengan hari perdana gw merasai yang namanya 22 tahun. Rapat koordinasi. Oh dan waktu itu gw baru tahu bahwa Politeknik Telkom is no longer Politeknik Telkom melainkan Telkom Applied Science School (TASS). Dan.....mau tahu gw dipercaya ngajar apa?

*deep inhale, ambil pisang goreng lagi*

Aplikasi Enterprise Berbasis Framework, programming tingkat lanjut dengan bahasa Java. Gw jago banget koookk bahasa Java, Java ngoko, Java krama madya, Java krama inggil *ditoyor*. Satu lagi gw ngajar Proyek Pengembangan Aplikasi mihihi.


***

Mau tahu rasanya? Pertemuan perdana was so.........nervous maksimal. Padahal udah biasa jadi asdos. Padahal udah biasa jadi asprak. Padahal udah sering ngomong depan ratusan orang, pernah sampe dua ribu bahkan. Tapi rasanya berdiri di depan tigapuluhan mahasiswa dengan pandangan penuh ekspektasi bener-bener bikin grogi. Terlebih pautan usia yang mungkin hanya dua tahun.

Kalo gw ditanya dan ngga bisa jawab gimana? Kalo gw ngga bisa ngejelasin materi sampe mereka paham gimana? Kalo mereka ngga suka sama cara gw ngajar gimana? Kalo mereka punya ekspektasi tinggi dan gw ngga memenuhi itu gimana? Kalo mereka ngga suka sama gw gimana? Banyak gimana-gimana yang haunted me that time. Terlebih gw sangat paham bahwa mata kuliah yang gw gawangi bukan mata kuliah gampang. Gw sendiri butuh waktu dua tahun untuk paham, dan kali ini gw harus menyampaikan dalam satu semester.

Just like Einstein said, if you can't explain it in a simple way, you don't understand that enough.
Gw tertohok. Rasanya memang gw belum cukup bisa menyampaikan keruwetan-keruwetan framework Java itu dalam bahasa dan cara yang sederhana.

Tapi kemudian gw berpikir lagi. Gw dipercaya untuk membawakan mata kuliah ini. Kalo orang lain percaya sama gw, masa gw ngga percaya sama diri sendiri. Allah pun mengijinkan mereka untuk mempercayakan amanah ini ke gw, yang itu berarti gw sebenernya punya kemampuan untuk menghandle itu semua. Gw hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Ah iya, pasti itu kuncinya.

But then if you ask me how I feel, I will definitely say that is amazing! Tumbuh di lingkungan berpendidikan (eh, maksudnya orang tua sama-sama tenaga pendidik :p) membuat gw ngga asing dengan kegiatan belajar mengajar. Dan berkesempatan memfasilitasi anak-anak Manajemen Informatika ini bener-bener luar biasa. Gw berusaha menghafal nama satu per satu, I'm really working on it karena gw biasanya sangat sulit inget nama orang. Pas kuliah dulu, gw merasa dihargai ketika nama gw disebut so I want to do the same. Gw belajar lagi dengan materi yang harus gw bawakan. Dan gw melanggar janji sok suci gw sama Delia, laptop gw. Sehabis revisi TA, gw pernah janji sama Delia untuk ngga buka-buka lagi yang namanya Eclipse. Daaaan, sekarang gw tiap hari justru buka Eclipse kyakyaa. Rupanya janji waktu itu adalah janji impulsif karena plong akhirnya kelar juga gw memperjuangkan gelar S.SI.

Seorang teman berkata bahwa gw akan jatuh cinta sama Java, tepat saat gw cerita bahwa gw dipercaya pegang mata kuliah AEBF. Mungkin dia bener, gw sedang dalam tahap awal jatuh cinta....sama Java. Ngook! :p
Jadi dosen itu merdeka. Merdeka mau pake baju apa aja, mau pake kerudung lebar pun tak ada yang melarang. Alhamdulillah, idealisme ngga harus tergadai hanya karena iming-iming gaji.


Jadi dosen itu merdeka. Jam kerja gw adalah 2 jam per hari, dari Senin-Jumat, selebihnya gw bisa memanfaatkan untuk kesibukan yang lain.
 

Terlebih, gw punya kesempatan untuk menabung ilmu yang bermanfaat dari apa yang gw sampaikan di kelas. Tabungan yang ngga akan habis mengalir setelah raga tak lagi bisa berkarya. Semoga.

Dua kelas yang gw handle adalah kelas yang isinya mahasiswa penuh semangat yang punya potensi luar biasa. Dan memang luar biasa rasanya mengenal mereka.