jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

A Cover Does Matter

Sunday, January 20, 2013
Don't judge a book by its cover, they say. Yes, we shouldn't judge a book ONLY by seeing its cover. But what you can do when all you see is the cover?
Seringkali penilaian mendadak tak bisa dihindari, hanya karena yang tampak adalah bungkus luarnya. Me either, kadang terjebak dalam penilaian macam ini. Manusiawi tapi, bahwa tampilan luar mempengaruhi kesan dan penilaian pertama. Maka ini gw sebut sebagai The Power of First Impression.

First impression dipengaruhi oleh beberapa hal, dan ini yang harus diperhatikan untuk mendapat kesan yang baik, terutama di depan orang baru. Kenapa harus menampilkan kesan baik? Well, you never know what on earth will happen between you and him/her. Bisa saja orang baru itu akan menjadi insvestor bisnis kita, bisa saja orang baru itu akan menjadi partner kerja kita atau bisa saja orang baru itu akan menjadi seseorang yang padanya hati kita tertaut. Everything is just possible this way. Maka first impression berperan penting disini.
  • Cover.
    Walaupun pepatah bijak berpesan untuk jangan menilai orang dari bungkus luarnya, kenyataannya, orang masih melakukan penilaian berdasarkan tampilan luar. Tak usah mengelak, gw yakin semua orang di dunia pernah melakukan penilaian hanya dengan melihat cover. Sesederhana ketika bertemu orang yang meminta-minta tapi penampilannya bersih, tampak sehat, alam bawah sadar akan merespon untuk membuat kesimpulan bahwa orang tersebut masih kuat bekerja dan tak pantas meminta-minta. Jika penampilan tak berpengaruh, bisa saja saat presentasi di depan calon investor kita memakai sandal jepit dan kaos oblong. Saat upgrading manner untuk ANT (Accommodation and Network Team) PDKT 2012, bagaimana berpenampilan pun masuk dalam kurikulum. Misal, saat akan presentasi di depan pembicara, gunakan pakaian sopan dan disesuaikan dengan siapa lawan bicara, termasuk detail jam tangan, motif kemeja, sepatu, dsb. Kenapa? Karena cover yang membuat kesan pertama. Selanjutnya? Sikap dan perkataan yang berbicara.
  • Ekspresi.
    Wajah itu karunia, dan semuanya sempurna karena ini adalah ciptaan-Nya. Beberapa orang memiliki default wajah ramah, beberapa memiliki default wajah tak ramah. Ini pun karunia yang tak boleh dikeluhkan sama sekali. Dan ada solusi universal yang berlaku di seluruh dunia, senyum.
  • 30 detik pertama.
    Di Bizcamp Challenge 2012, finalis dapet materi Elevator Speech, tentang mengajak berbicara orang baru dalam 30 detik untuk kemudian meminta kartu nama atau kontak untuk presentasi bisnis kita. Dalam 30 detik, kita harus membuat orang baru tersebut tertarik pada kita, tertarik pada bisnis kita, dan bersedia bertemu lagi untuk membicarakan bisnis lebih lanjut. Maka tak hanya dalam bisnis, dalam kehidupan sehari-hari pun elevator speech ini berperan penting. Apa yang kita bicarakan dalam 30 detik pertama pertemuan dengan orang baru akan mempengaruhi penilaiannya atas kita.
Sebuah buku tak dinilai hanya dari desain sampulnya. Sepiring makanan tak hanya dinilai dari plating-nya. Pun, manusia tak hanya dinilai dari penampilannya. Perhatikan penggunaan kata HANYA.  
So, although people don't judge a book only by its cover, but a cover does matter for first impression. Because first impression is gonna take you whether to a good fortune and excellent network or just some new-acquaintance who think you're a weirdo or have no interesting personality.

Jika Nama Tak Penting

Saturday, January 19, 2013
What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. William Shakespeare.
Apalah arti sebuah nama? Pun jika sebuah mawar disebut dengan nama lain, ia akan tetap berbau harum kata William Shakespeare. Pernyataan ini sama sekali ngga salah karena yang Shakespeare ingin tekankan adalah soal esensi dalam Romeo and Juliet-nya. Sedikit ulasan latar belakang sampe quote terkenal itu muncul adalah Romeo yang sedang berbicara pada Juliet, mengapa nama harus menjadi masalah, mengapa nama harus menghalangi, mengapa imbuhan nama belakang Capulet dan Montague harus menghalangi cinta mereka.

Di film 3 Idiots, gw menemukan alasan kenapa nama menjadi begitu penting. Dengan nama, dunia menjadi lebih sederhana. Rancho, saat dia dikeluarkan dari kelas karena menjawab pertanyaan dosen tentang definisi mesin dengan bahasanya sendiri bahwa mesin adalah segala sesuatu yang membuat hidup manusia lebih mudah, lalu kembali untuk mengambil sesuatu barang yang disebutnya sebagai “instruments that record, analyse, summarize, organize debate and explain information that are elastative, non elastative, hard bound, paper back, jacketed and non jacketed with forward introduction, table of contents, index that are intended for the enlightment understanding, enhancement and education human brains of sense in root of vision..sometimes touch.” Yang jika disebut dengan sebuah nama maka yang Rancho maksud adalah buku. Betapa ajaibnya sebuah nama, isn’t it? 

Atas alasan yang lain,  nama menjadi penting. Terbayangkah jika sekotak bolu gulung rasa coklat merk Bolu Gulung Anjani diberi nama pada kotaknya “Bolu Gulung Warna Gelap Agak Lembek” bukannya nama merknya? Atau misal jika itu terlalu ekstrim, online shop gw yang menjual asesoris India dan segala pernak-perniknya, yang gw beri nama Sanjana yang berarti lemah lembut, kemudian disebut Sanjaya Shop? No! karena buat gw, Sanjana punya arti dan kesan tersendiri, sedangkan Sanjaya identic dengan nama toko bangunan. Bagaimana mungkin online shop India gw disebut Sanjaya?  

Jika memang nama tak berarti, mungkin kita tak pernah tersenyum kecil karena mendengar satu nama begitu istimewa.

Di film lawas Perancis yang gw lupa judulnya, ada fenomena menarik juga tentang nama. Film tentang manusia di zaman batu itu mengisahkan bahwa saat itu, semua orang dipanggil dengan nama yang sama di suku tersebut. Terbayangkah ketika kepala suku memanggil satu per satu anggota sukunya saat apel pagi? Oh iya, swear tiap pagi mereka mengadakan apel. Dan kepala suku hanya mengulang menyebut satu sebutan sampai semua anggota suku merasa dipanggil. Bagaimana tiap orang merasa itu adalah dia yang dipanggil padahal kepala suku hanya menyebutkan nama yang sama berkali-kali. Blah. Seribet itu.

Gw pernah baca kisah diriwayatkan dari Al Musayyib bin Hazn dari kakeknya yang berkata “Rasulullah SAW bertanya ‘Siapa namamu?’ ‘Hazn.’ (artinya sedih) jawabku. Beliau bersabda, ‘Tidak, namamu adalah Sahal.’ (artinya mudah). Kakekku berkata ‘Aku tidak akan mengubah nama pemberian orangtuaku.’ Dan Said bin Musayyib berkata ‘Kami terus dirundung kesusahan sejak saat itu sampai sekarang.'" HR Bukhari. Karena itu juga gw agak prihatin dengan beberapa pemberian nama. Di kampung-kampung, banyak anak diberi nama dengan nama pemeran sinetron favorit orangtua mereka. Gw bahkan sama sekali tak bisa menghapal nama-nama di sinetron itu, tapi bahwa nama adalah doa, kenapa nama anak disamakan dengan tokoh yang selalu malang dan susah di sinetron? Sisi baiknya, tokoh yang selalu susah ini biasanya pemeran utama yang berhati baik dan sabar. Semoga memang nama-nama tokoh sinetron yang dijadikan nama anak-anak itu menjadikan mereka memiliki kesabaran dan kebaikhatian serupa tanpa mengalami kesengsaraan sejenis mereka.
jika nama tak penting, bisa saja duo es lezat ini disebut batu bata dan batako

Maka nama bukan tak berarti apa-apa, karena tak mungkin semua hal disebut dengan deskripsinya.
Dan nama bukan tak berarti karena tak bisa kita asal mengganti-ganti nama lantas menyebut buku dengan panci.
Pun sama pentingnya karena nama adalah identitas, tak bisa semua manusia memiliki nama yang sama, atau semua barang disebut dengan sebutan yang sama.
Dan bahkan Rasul pun memberikan nama yang baik, karena nama adalah doa.

Maka sebutlah ia dengan nama yang bagus, dengan nama yang disukainya.
And, Shakespeare Sir, I have my own point of view for this name thingy but still I adore your masterpiece that much.

Syukur Tanpa Pembanding

Saturday, January 12, 2013
Seringkali kita bersyukur atas apa yang kita punya setelah melihat orang lain tidak punya hal yang sama. Seringkali kita sadar hidup kita begitu berharga setelah menyaksikan orang lain mengakhiri hidupnya dengan sia-sia. Dan seringkali kita ingat setelah mengetahui orang lain lupa. Kenapa harus ada orang lain dalam syukur, sadar dan ingat? Kenapa kita sering butuh pembanding?

Bersyukur atas sehat setelah melihat orang lain sakit, atau bersyukur atas nikmat selamat setelah menyaksikan orang lain terkena musibah. Bayangkan jika kita adalah mereka yang diperbandingkan.

“Alhamdulillah gw selamat, rumah ngga kebanjiran sampe kehilangan banyak barang berharga kaya di sono.”
“Syukur gw TAnya lancar, ngga susah, adaaa aja masalah kaya si itu.”

Hello, can we change the subject, please? Sesakit itu membayangkan seandainya gw adalah orang yang diperbandingkan, yang rumahnya kebanjiran misalnya.

Sesulit itukah syukur ada dalam wujudnya yang utuh? Tanpa pembanding. Cukup apa yang ada, nafas misalnya, itu saja.

ilustrasi: silakan terjemahkan sendiri. credit: Departemen Pecinta Rasul, WU 2010

Usaha Terbentur Ekspektasi

Friday, January 04, 2013
Dimana ada usaha, disitu ada jalan. (pepatah SD)
Tapi jalan macam apa yang tersedia? Belakangan beberapa teman mengeluhkan hal yang sama, satu tipe keluhan. Usaha sudah mencapai level maksimal, tapi hasil tak sesuai harapan. 
Padahal, katanya dimana ada usaha, disitu ada jalan.
Katanya what goes around, comes back around.
Katanya cita-cita harus diperjuangkan, tapi setelah usaha mencapai titik tertinggi kenapa hasilnya belum sesuai ekspektasi?

... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al Baqarah: 216)

Ini pasti alasan kenapa doa yang orangtua ajarkan harus menyebut untuk meminta yang terbaik, bukan semata meminta apa yang gw mau. Keterbatasan kita dalam mengetahui mana yang baik, mana yang lebih baik, mana yang paling baik, dan mana yang buruk seharusnya menjadi alasan utama untuk tak pernah patah arang. Untuk apa menyesali sesuatu yang (ternyata) berefek buruk?iu
Dimana ada usaha, pasti ada solusi, entah dari jalan usaha itu atau dari jalan lain.
Bahkan, Siti Hajar yang bolak-balik bukit Safa dan Marwah sampai tujuh kali demi mendapatkan air pun justru mendapat air bukan dari kedua bukit itu. Usaha pasti membuahkan solusi, dari jalan yang mana itu misteri.


Letters to (Love) Juliet

Thursday, January 03, 2013
I live in London, a gorgeous, vibrant, historic city that I happen to love living in. You live in new york, which is highly overrated. But since Atlantic Ocean is a bit wide to cross everyday, swimming, boating or flying, I suggest we flip for it. And if those terms are unacceptable, leaving London will be a pleasure as long as you're waiting on the other side. cause the truth is, Sophie, I am madly deeply truly passionately in love with you. (Letters to Juliet)
I don't used to watch such a cheesy neither a lovey dovey movie, but this, Letters to Juliet, I just simply love it. Oh and read the letter Sophie wrote for Claire, a woman who wrote a letter to Juliet 50 years ago to find her first love, Lorenzo.


“what” and “if” are two words as not threatening as words can be. But put them together side by side, and they have the power to haunt you for the rest of your life.
“what if?”
I don’t know how your story ended, but if what you felt then was true, then it’s never too late.
If it was true then, why wouldn’t it be true now?
You need only the courage to follow your heart.
I don't know what a love like Juliet's feels like. A love to leave loved ones for, a love to cross oceans for, but I'd like to believe, if I ever were to feel it that I'd have the courage to seize it.
And Claire, if you didn't, I hope one day that you will.

love, Juliet

Romeo and Juliet? Too tragic to happen in the real world. The worst part was when Romeo take the poison because Juliet (seemed) dead. That is not what love supposed to do with. 

Then let's see, January 3rd, what will I find for the next 262 days ahead whether true love is also an invention or not.

Menjadi Tua

Tuesday, January 01, 2013
Bismillah,

2013 berarti akan ada tanggal-tanggal kelahiran yang terulang. Bukan tentang sederet resolusi yang siap diwujudkan, melainkan kenyataan bahwa bertambah tua adalah mutlak adanya. Dulu gw selalu bahagia dengan hari ulang tahun; ratusan ucapan selamat dan doa, kado, dan kejutan-kejutan. Tapi tahun-tahun berlalu dan ulang tahun menjadi tak semenggembirakan itu.

Maka di 2013 ini, pada setiap tanggal yang terulang, akan ada jutaan manusia yang bertambah tua. Dan banyak dari mereka (atau kita) yang tidak siap menjadi lebih tua. Siap atau tidak siap, waktu tetap berjalan dan menjadi lebih tua tetap mutlak adanya. Kalau pernah terbersit pikiran “Ah, enaknya jadi anak-anak, ngga banyak pikiran.” atau “Pengen kembali ke masa anak-anak lagi.” Itu berarti ada bagian dari kita yang belum siap menjadi lebih tua.

Kenapa enak jadi anak-anak? Karena anak-anak belum memiliki beban tanggung jawab yang besar. Karena anak-anak masih selalu bisa berlindung di bawah pelukan orang tuanya ketika ketakutan, atau sakit, atau berbuat salah. Karena anak-anak selalu bisa tertawa bahagia tanpa peduli makan apa hari ini, bagaimana mengatur uang bulanan, pakaian kotor belum dicuci, atau menguras bak kamar mandi yang kotor. Anak-anak sangat paham bagaimana cara menikmati setiap detik yang ada..

Bertambah tua, yang seharusnya segaris dengan bertambah dewasa menuntut banyak hal untuk disesuaikan. Tanggung jawab yang lebih besar, pilihan-pilihan sulit, waktu 24 jam tiap hari yang harus dibagi untuk ini dan itu, dan konsekuensi yang harus diterima atas segala tindakan dan pilihan yang kita ambil. Ditambah beban pikiran mengelola uang bulanan, mendapatkan penghasilan tambahan untuk ditabung, membersihkan rumah, beban pekerjaan (atau kuliah), dan konsekuensi atas kesalahan.
Bertambah tua bukan terjadi setahun sekali, tapi dalam setiap nafas yang terhembus, hitungan penuaan pun bertambah.
Lalu apa yang ditakutkan dari sesuatu yang sudah pasti? Beban pikiran dan konsekuensi yang makin beratkah? Bahkan uban dan keriput adalah suatu yang pasti, untuk apa bersembunyi di balik cat rambut jika uban adalah pasti dan akan dialami semua orang? Pada sesuatu yang sudah pasti: menua, dan mati, tak ada pilihan selain persiapan. Bersiap untuk menjadi lebih tua dengan menjadi lebih dewasa.

Bertambah tua itu pasti; menjadi dewasa itu harus, bukan pilihan; dan melihat dan menikmati dunia dengan cara berbahagianya anak-anak adalah pilihan.