jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Tara Rum Pum

Tuesday, December 31, 2013

Yak dan kali ini gw akan membahas film India yang gw rate 9 dari 10. Tara Rum Pum. Dibintangi Saif Ali Khan dan Rani Mukherjee dan dua bocah super lucu, Angelina Idnani & Ali Haji. Anyway, wajah si bocah laki-laki itu berasa familiar banget ya? Ali Haji ini emang kiprahnya di film-film bollywood udah pantes dikasih dua jempol. Dia adalah bocah yang ngitungin bintang di Kuch Kuch Hota Hai, jadi figuran serupa juga di Kabhi Kushie Kabhi Gham. 

Biasanya orang kalo denger film India atau bollywood udah anti duluan. Wah tunggu saudara-saudara, film satu ini gw rekomendasikan sekali, bahkan buat yang ngga suka bollywood sekalipun. Hahaha rasanya terdengar norak ya "bollywood" tapi itu adalah istilah yang muncul pas industri film India berkembang di genre yang lain, bukan cerita monoton tentang wanita dan laki-laki yang saling suka tapi terbentur restu orang tua. Bollywood is Bombay Hollywood. 

Tara Rum Pum menceritakan tentang RV (Saif Ali), racer yang menikah sama Radhika (Rani Mukherjee) yang dia sebut sebagai pianis terbaik dunia. They live in Manhattan back then, in their most glorious time. Bersama dua anaknya, Princess (Angelina Adnani) dan Champ (Ali Haji), mereka hidup dengan rumah mewah, perabot lengkap, fasilitas lengkap, dan rekor 50 pertandingan yang selalu dimenangkan oleh RV. Sampai akhirnya kehidupan berbalik dalam satu jentikan jari. RV kecelakaan dalam satu pertandingan yang bikin dia harus berhenti selama setahun. One year passed and RV was about to make a comeback. Tapi karirnya ngga semulus dulu, dia gagal, lalu dipecat, lalu harus banting setir demi menghidupi dua anaknya dengan jadi supir taksi. Keputusan yang sangat berat karena kemudi biasa dia kendalikan di arena balap dan sekarang kemudi itu harus dia kendalikan sebagai supir taksi. 

Datar ye? 
Tapi ada hal yang menarik banget buat gw dan bikin gw belajar sesuatu tentang parenting. How they treat their children. Saat harus pindah dari rumah mewah ke apartemen kumuh dan menjual semua yang mereka punya, RV dan Radhika ngga pengin anak-anaknya sedih karena mereka jatuh miskin. Yang mereka lakukan adalah: 
"Champ, Princess now we are on a reality show called Don't Worry Be Happy. There will be many teams, given 2000 dollars and they have to live in a small place. The rule is, no matter what happen you have to be happy, smile and laugh but don't cry. There are many hidden cameras, so get ready."
Lalu mereka pindah ke apartemen murah yang kecil dan kumuh tanpa kursi, hanya ada satu kasur besar untuk tidur sang ayah dan ibu, dan dua kain yang digantung kaya di pantai untuk tidur anak-anaknya. Saking miskinnya, sampai RV & Radhika ngalah dengan ngga makan untuk memastikan dua anaknya ngga kelaparan. Mereka ngga mau Princess dan Champ sedih karena mereka tiba-tiba ngga punya apa-apa. Terpenting, mereka berdua ngga mau Princess & Champ pindah sekolah dari sekolahnya sekarang yang mahal tapi bagus itu. 

Tara Rum Pum is a must watch movie. Film produksi Yash Raj Production ini, buat gw, juara! Walaupun yang main bukan Shah Rukh Khan Layak masuk ke daftar tontonan liburan :D

Ini salah satu lagu favorit dari Tara Rum Pum



Trailer movienya disini:


Sorry, Gue Unfol

Friday, December 27, 2013
Unfollow twitter, agaknya belakangan ini satu tombol itu jadi lumayan keramat sejak ada banyak aplikasi buat ngecek siapa yang ngefollow dan siapa yang ngeunfollow kita. Sejak pertama bikin twitter, frame gw adalah orang-orang yang punya daya tarik tersendiri. Fine, bisa dari tweetnya atau dari orangnya secara personal. Eaa. 
On twitter, follow your interests, not your friend.
I do believe. Gw berhak kan memilih apa aja yang mau gw baca? Gw berhak kan menentukan konten kaya apa aja yang boleh muncul di timeline gw? Dan, terakhir, gw berhak kan memilih siapa yang mau gw follow?

To be honest, gw pribadi agak risih dengan ketauannya siapa yang gw unfol (yang orang-orang dapet notifikasinya lewat aplikasi third party itu), makin ngga nyaman kalo orang yang bersangkutan kemudian ngemention gw dan bilang “Mak kok lu unfol gw sih :(“ well what do i supposed to do? Then yaa, karena berbagai alasan gw akan memfollow lagi orang itu. Khkhkh.

Sepele ya urusan twitter doang. Eits, tapi di jaman yang udah serba digital ini, netizen dan twitter punya pengaruh besar dalam berbagai hal. Pengguliran berita yang sangat real time, penggiringan opini, customer care, media beriklan yang efektif,  sampe tweetwar ngga penting yang susah gw pahami antara Farhat Abbas sama Al. Oh sigh. 

To follow or not to follow is a choice. Ketika gw memfollow sebuah akun, ada informasi yang pengen gw dapet. Entah itu kabar si pemilik akun karena kami adalah teman baik, atau ada info-info yang menurut gw menarik. Ketertarikan itu bisa karena faktor pemilik akunnya, atau isi tweetnya, atau bisa dua-duanya. Dan ketika gw jengah dengan tweet yang flooding dari akun tertentu, gw bisa jadi memilih buat unfol. It’s not a big deal, huh? 
Flooding bisa karena si pemilik akun ngereply dengan cara retweet with comment sehingga percakapan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang follow kedua akun yang lagi reply-replyan jadi kebaca seantero TL. Atau bisa karena gw merasa ngga lagi dapet manfaat dari akun yang gw follow, biasanya ini karena gw berekspektasi lumayan tinggi. Kalau apa yang gw baca justru bikin pikiran gw rusak, ngapain gw terusin baca, ya kan? Misalnya adalah follow akun yang kerjaannya bergunjing mulu. Aw no! Salah satu usaha menjaga kebersihan hati adalah dengan menjaga kebersihan bacaan.

You are who your friends are. You are what you read. I can’t tell that who you follow affects the way you think that much, but they do affect what kind of information that you get. In the end, source of information and what kind of information that you have can really make up the way you think.

Memfilter bacaan itu seperti menyeleksi makanan. Ada yang bergizi, ada yang tidak. Ada yang bermanfaat, ada yang merusak. Gw berhak toh memilih makanan apa yang mau gw makan? Persis. Gw punya hak yang sama untuk memilih siapa yang gw follow.

Filter, Kaya Helm Aja

Monday, December 16, 2013
Nggak semua yang lo denger harus lo ikutin! Gw membatin geram dalam hati. Sore ini, seperti biasa, Bandung hujan. Hujan yang semoga penuh berkah, sebanyak tetes air yang jatuh. Tapi emang dasarnya manusia, dikasih panas ngomel, dikasih ujan ngomel juga.

Usai kelas, gw berniat langsung pulang karena ada yang harus gw selesaikan. Apalagi kalo bukan kerjaan yang ditunda-tunda dan tahu-tahu udah mepet deadline. Hujan deras tak bisa dikompromi. Gw udah hapal ritme hujan kabupaten Bandung selatan ini, tapi gw masih mengulangi kesalahan yang sama. Gw selalu ngga bawa payung for simple reason bahwa payung gw bukan payung lipat dan membawanya di pagi hari akan membuat gw seperti panglima yang mau berangkat perang bawa-bawa senjata. Oke alasan itu bisa dipersingkat menjadi satu kata, males. Sigh in C minor.


Jumat ini ada yang spesial. Gw membawa helm karena sebelum ke kampus gw harus ke suatu tempat menggunakan helm. Gw harus ke suatu tempat yang agak jauh sehingga gw harus memakai helm tadi pagi. Alam sadar gw spontan memerintahkan Rahma pakai itu helm dan lo bisa jalan pulang dengan kepala aman terlindung! Dan tanpa pikir panjang, gw pakai helm dan berjalan melenggang. Gw menyusur lorong kampus dengan setelan hijau dan helm ungu. Perpaduan yang nggak banget buat kondisi normal, pemandangan ini bener-bener nggak oke. Tapi ngga semua kata orang harus gw ikutin kan?

Pake helm buat jalan di dalam kampus dan sepanjang jalan pulang emang ngga wajar dan bikin banyak orang ngeliatin, tapi kalo gw sakit, emang mereka yang ngeliatin ikut ngerasain?
...
Enggak toh?

Dalam banyak hal, berlaku aturan yang sama. Manusia punya hati untuk menimbang pilihan, dipadukan sama logika. Voila!

Kalau mendengar semua omongan orang, mungkin gw langsung balik kanan dari jalan hijrah pertama yang gw pilih untuk berkerudung lebar. Hidup itu penuh pilihan. Orang lain boleh ngasih saran, tapi keputusan untuk memilih tetap ada di kita masing-masing.

Dua minggu belakangan ini gw jadi fasilitator anak-anak asrama 2013 untuk training softskill Self Awareness, termasuk di dalamnya tes kepribadian. Dan dari sana, gw baru paham bahwa untuk sebagian orang dengan tipe kepribadian tertentu, untuk bilang enggak itu sulit luar biasa. Mungkin lebih sulit daripada ngerjain integral lipat tiga atau merumuskan aksioma-aksioma. Alhamdulillahnya, gw ngga pernah kesulitan untuk berkata enggak. The point is, every big things starts from a single and simple decision, yang bisa jadi itu adalah kata orang yang kita abaikan. Inget kan cerita musafir yang dalam perjalanan jauh bersama seorang anaknya dan seekor unta? Awalnya dia menuntun unta yang dinaiki anaknya, ada orang komentar. Dia ganti, dia naik unta dan anaknya jalan, ada orang komentar. Ganti lagi, mereka berdua naik unta, ada lagi yang komentar. Lalu dua-duanya turun dan untanya pun jalan tanpa ditunggangi, masih ada yang komentar juga. See? 

Manusia diberi akal untuk memilih, dan diberi telinga untuk mendengarkan omongan orang. Tapi kita berhak kok menentukan mana yang pantas didengar dan mana yang pantas dilewatkan. Kadang memang cuek itu keharusan. Sesederhana pake helm ungu di saat hujan untuk berjalan di koridor kampus dan sepanjang jalan pulang. Aneh memang, ah tapi sebanding kan dengan reward kepala terlindung?

Dunia Baru: Menjadi Dosen

Thursday, December 05, 2013
Memahami konsep bahwa mahasiswa berbeda dengan siswa bukan perkara gampang segampang lepas-pake sandal jepit. Butuh waktu dan proses, kaya mau lepas-pake sepatu sandalnya cewe yang bertali rangkap tiga dengan hak sepuluh senti.

Nama gw Rahma Djati Kusuma, dengan kode dosen RDK. Bukan lagi asdos atau asisten lab berkode RDJ. Dan ini adalah kisah gw *benerin kursi, ambil teh manis anget dan pisang goreng :p





Pasca lulus 20 Juni kemaren dan wisuda tepat sebulan setelahnya, 20 Juli, gw resmi menjadi beban negara. Judulnya pengangguran, mahasiswa bukan, bisa menghidupi diri sendiri juga belom. Bahasa yang lebih hangat didengar adalah job seeker, ahah. Anyway selalu ada hal ajaib ternyata di Juli tiga tahun belakangan. Keajaiban itu genap dengan resminya gw jadi pengangguran. Masalah datang ketika gw sama sekali ngga tertarik dateng ke job fair, ngga berminat ngebukain lowongan kerja di web dan bahkan ngga panas hati pas denger si A sekarang kerja di perusahaan ini dengan gaji segini, si B di perusahaan itu dengan gaji segitu. Gw justru doyan ngebukain info-info lomba, blogwalking sana-sini, dan baca buku yang gw anggurin selama mati-matian ngejar sidang.

Rasanya.....I don't want to be forced to get along in a routine. Routine disrupts my day. I need challenges, I need something new everyday. I need to feel being new every morning. I want to meet people. Sok banget ya? Baru juga lulus, ijazahnya S1, udah sok-sok ngomong ngga pengin ini ngga pengin itu. Padahal ngebangun bisnis pun belom bisa dijadiin sandaran penghasilan mandiri. Pfft.

Sampai akhirnya gw menyerah pada bujukan orang tua untuk daftar CPNS. Gw daftar di banyak kementrian dan badan. Saking banyaknya, kalo lo tanya waktu itu gw daftar apa, gw pasti lupa. Qodarullah, gw ngga lolos satu pun. Banyak faktor yang bikin gw ngga lolos tapi ngga akan gw ceritain disini. Padahal, gw pernah sangat niat. Oh dan bahkan satu-satunya kado ulang tahun ke-22 ini adalah buku kumpulan soal tes CPNS yang dikirim via JNE sama dua sahabat hahahihi gw, dan nyampe tiga hari sebelum ulang tahun. Lucu ya, Allah mendukung abang JNE buat berkonspirasi ngirim paket lebih cepet supaya gw bisa belajar lebih segera. Oke, niat hanya sebatas niat. Usaha belajar berakhir dengan coret-coretan jawaban di buku kumpulan soal yang kemudian malah gw gambarin di sampul depannya "Kado 22 tahun yang nyampe 3 hari sebelum hari H". Maaf yaa ceman-ceman yang udah repot-repot, bukunya jadi nganggur sekarang. Sigh in C minor. 



Nah lalu.. Nyesel? Ooohh..tentu tidak! Selalu ada kejutan rahasia yang luar biasa di setiap ketetapan Allah.

***

Sore itu gw whatsappan sama teteh mentor gw pas kuliah, lalu gw curhat. Hasil curhatan dan obrolan whatsapp itu adalah info kalo Inspira TV lagi butuh reporter dan beliau menyarankan gw untuk ikut casting. Tsaah~ Tragedi berulang. Gw baru buka web Inspira tepat hari H casting sedangkan gw lagi ada di rumah di Purworejo waktu itu. Eliminated. Info kedua adalah info untuk menjadi dosen di Politeknik Telkom. Bukan info kalo lagi ada lowongan, karena beliau cuma bilang biasanya tiap semester ada bukaan dosen coba aja. Hoke! Bismillah. Berbekal berkas yang dikarang sendiri tanpa format, transkrip nilai dari i-gracias (web akademik IT Telkom) karena transkrip kelulusan belum rilis, gw nitip map merah ke receptionist. Gambling, I'm totally blind. Bahkan dosen apa yang dibutuhkan pun gw ngga tahu. Oh dan sebenernya Poltek lagi butuh dosen baru apa engga pun gw ngga tahu. I didn't expect too much, moreover I only have those bachelor title.
Expect less, you will gain more.
Kegiatan perdana sebagai dosen tepat dengan hari perdana gw merasai yang namanya 22 tahun. Rapat koordinasi. Oh dan waktu itu gw baru tahu bahwa Politeknik Telkom is no longer Politeknik Telkom melainkan Telkom Applied Science School (TASS). Dan.....mau tahu gw dipercaya ngajar apa?

*deep inhale, ambil pisang goreng lagi*

Aplikasi Enterprise Berbasis Framework, programming tingkat lanjut dengan bahasa Java. Gw jago banget koookk bahasa Java, Java ngoko, Java krama madya, Java krama inggil *ditoyor*. Satu lagi gw ngajar Proyek Pengembangan Aplikasi mihihi.


***

Mau tahu rasanya? Pertemuan perdana was so.........nervous maksimal. Padahal udah biasa jadi asdos. Padahal udah biasa jadi asprak. Padahal udah sering ngomong depan ratusan orang, pernah sampe dua ribu bahkan. Tapi rasanya berdiri di depan tigapuluhan mahasiswa dengan pandangan penuh ekspektasi bener-bener bikin grogi. Terlebih pautan usia yang mungkin hanya dua tahun.

Kalo gw ditanya dan ngga bisa jawab gimana? Kalo gw ngga bisa ngejelasin materi sampe mereka paham gimana? Kalo mereka ngga suka sama cara gw ngajar gimana? Kalo mereka punya ekspektasi tinggi dan gw ngga memenuhi itu gimana? Kalo mereka ngga suka sama gw gimana? Banyak gimana-gimana yang haunted me that time. Terlebih gw sangat paham bahwa mata kuliah yang gw gawangi bukan mata kuliah gampang. Gw sendiri butuh waktu dua tahun untuk paham, dan kali ini gw harus menyampaikan dalam satu semester.

Just like Einstein said, if you can't explain it in a simple way, you don't understand that enough.
Gw tertohok. Rasanya memang gw belum cukup bisa menyampaikan keruwetan-keruwetan framework Java itu dalam bahasa dan cara yang sederhana.

Tapi kemudian gw berpikir lagi. Gw dipercaya untuk membawakan mata kuliah ini. Kalo orang lain percaya sama gw, masa gw ngga percaya sama diri sendiri. Allah pun mengijinkan mereka untuk mempercayakan amanah ini ke gw, yang itu berarti gw sebenernya punya kemampuan untuk menghandle itu semua. Gw hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Ah iya, pasti itu kuncinya.

But then if you ask me how I feel, I will definitely say that is amazing! Tumbuh di lingkungan berpendidikan (eh, maksudnya orang tua sama-sama tenaga pendidik :p) membuat gw ngga asing dengan kegiatan belajar mengajar. Dan berkesempatan memfasilitasi anak-anak Manajemen Informatika ini bener-bener luar biasa. Gw berusaha menghafal nama satu per satu, I'm really working on it karena gw biasanya sangat sulit inget nama orang. Pas kuliah dulu, gw merasa dihargai ketika nama gw disebut so I want to do the same. Gw belajar lagi dengan materi yang harus gw bawakan. Dan gw melanggar janji sok suci gw sama Delia, laptop gw. Sehabis revisi TA, gw pernah janji sama Delia untuk ngga buka-buka lagi yang namanya Eclipse. Daaaan, sekarang gw tiap hari justru buka Eclipse kyakyaa. Rupanya janji waktu itu adalah janji impulsif karena plong akhirnya kelar juga gw memperjuangkan gelar S.SI.

Seorang teman berkata bahwa gw akan jatuh cinta sama Java, tepat saat gw cerita bahwa gw dipercaya pegang mata kuliah AEBF. Mungkin dia bener, gw sedang dalam tahap awal jatuh cinta....sama Java. Ngook! :p
Jadi dosen itu merdeka. Merdeka mau pake baju apa aja, mau pake kerudung lebar pun tak ada yang melarang. Alhamdulillah, idealisme ngga harus tergadai hanya karena iming-iming gaji.


Jadi dosen itu merdeka. Jam kerja gw adalah 2 jam per hari, dari Senin-Jumat, selebihnya gw bisa memanfaatkan untuk kesibukan yang lain.
 

Terlebih, gw punya kesempatan untuk menabung ilmu yang bermanfaat dari apa yang gw sampaikan di kelas. Tabungan yang ngga akan habis mengalir setelah raga tak lagi bisa berkarya. Semoga.

Dua kelas yang gw handle adalah kelas yang isinya mahasiswa penuh semangat yang punya potensi luar biasa. Dan memang luar biasa rasanya mengenal mereka.

Obvious. One Old Song, One Thousand Memories

Thursday, November 28, 2013
Udara pagi Bandung hari ini dingin, rasanya kaki masih ingin bersembunyi di balik selimut tebal berwarna biru yang dilapisi selimut odol-odol, kain pantai sobek-sobek yang tak pernah jauh dari tempat tidur gw sejak kelas lima SD. Dan sepertinya ahli fisika harus mencari rumus baru untuk menemukan hubungan antara udara dingin dan besarnya gravitasi di atas kasur. Rasanya, beraaattt nian mau beranjak bangun.

We started as friends
But something happened inside me
Now I'm reading into everything
But there's no sign you hear the lightning, baby

You don't ever notice me turning on my charm
Or wonder why I'm always where you are~

Sampai akhirnya lagu Obvious-nya Westlife membangunkan paksa serabut-serabut otak yang masih bermalas-malasan seperti si empunya. One old song, one thousand memories.

Lagu itu, lagu lama yang pernah gw puter puluhan kali per hari hingga tampaknya pernah mencapai angka seratus. Lagu yang intronya aja bahkan udah bisa membangunkan ingatan akan banyak hal. Dulu.

I've made it obvious
Done everything but sing it
(I've crushed on you so long, but on and on you get me wrong)
I'm not so good with words
And since you never notice
The way that we belong
I'll say it in a love song

I've heard you talk about
(Heard you talk about)
How you want someone just like me (Bryan echo: just like me)
But everytime I ask you out
(Time I ask you out)
We never move pass friendly, no no

And you don't ever notice how I stare when we're alone
Or wonder why I keep you on the phone
You are my very first thought in the morning
And my last at nightfall
You are the love that came without warning
I need you, I want you to know

And sing it until the day you're holding me
I've wanted you so long but on and on you get me wrong
I more then adore you but since you never seem to see

But you never seem to see
I'll say it in this love song
Klise ya kedengerannya, lucu. Kaya anak SMP yang labil yang doyannya mengaitkan lagu tertentu dengan kejadian tertentu. Tapi kerja alam bawah sadar kadang-kadang memang terlampau luar biasa dan di luar kendali. Termasuk Obvious ini.... Obvious membawa gw ke bulan-bulan ini dua tahun lalu. Seperti buah yang ada dalam segelas es shanghai, rasanya secampur-campur itu. Iya, one old song, one thousand memories. 

Banyak kode rasanya tulisan kali ini. Ruwet. Seruwet codingan Java Struts yang error tak berkesudahan *eh

Update. I'm working on my draft, soon to be published book, in syaa Allah. Sengaja banget lapor disini biar makin tertekan buat segera dirampungkan dan ngga cuma dilihat foldernya tiap pagi. Doakaaan!

Perempuan Itu, Lo dan Gue

Tuesday, November 19, 2013
Perempuan itu mencoba mengeja kata yang sangat sulit terucap. Gue, elo. Lidah Jawanya belum pernah mengucap kata itu langsung, kata-kata yang hanya dia dengar dari televisi empat belas inchi di rumahnya di desa. Perempuan itu ragu bagaimana pelafalan yang benar dari dua kata itu. Gue, gua atau seperti beberapa teman barunya, gu? Gu? Ah gabungan huruf g dan u itu terdengar tak punya arti. Elo, lo atau lu? 

Tinggal di kota secara mendadak berarti harus menyesuaikan segala rupa, yang bisa jadi sangat asing ketika masih di desa. Perempuan itu, yang lidahnya masih sangat kaku untuk mengucap lo dan gue, berusaha meresapi prinsip dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Menginjak tanah Sunda dengan mayoritas teman-teman baru dari kota membuatnya harus bisa beradaptasi, mau tak mau. Bukankah bunglon saja pintar beradaptasi, dan perempuan ini diberi akal yang bunglon tak punya? Masa iya dia kalah dengan bunglon.

"Eh iya bentar ya, gue lagi di kosan. Lo tunggu aja di kampus, gue kesana sepuluh menit lagi.", ucap perempuan itu lewat telepon genggamnya yang tidak lebih canggih dari kepunyaan teman-temannya yang dari kota. Sony Ericsson K300i, teman-temannya sudah beralih ke gadget luaran terbaru yang pemberitaannya dimana-mana, blackberry. Perempuan itu bahkan belum pernah tahu seperti apa rasanya memegang blackberry yang terkenal itu. Lo dan gue berhasil dia ucapkan dengan fasih setelah seminggu berlatih di depan kaca.

"Nduk, kamu tu lho orang Jawa. Mbok nggak usah ikut-ikutan lo-gue-lo-gue. Kayak orang Jakarta aja. Aku-kamu wae rak uwis.", kata ibu perempuan itu dalam suatu siang yang hangat di desanya setelah mendengar anak perempuannya menelepon dan menyebut dua kata itu beberapa kali.

Perempuan itu masih menggenggam K300i miliknya, lalu sambil melepas nafas panjang dia meraih tangan sang ibu. 

"Buk. Aku ngomong lo-gue itu bukan berarti aku nggak Njawani lagi, bukan berarti aku ilang Jawane. Lo-gue cuma kupake ke temen-temen tertentu kok biar lebih nyaman pas ngobrol.", ibu masih diam memandang jauh ke depan. Tangannya belum dia lepaskan dari genggaman putrinya.

"Buk buk, temen-temen baruku tuh ya, baik-baik lho", perempuan itu membenahi posisi duduknya, kini menghadap ibu dengan dua tangannya menggenggam tangan kanan ibu. "Nggak cuma orang Jawa aja, banyak yang dari Sumatra, Jakarta, Sunda juga banyak. Sulawesi juga banyak. Seneng ya rasanya punya temen nggak cuma dari kabupaten sini aja. Aku banyak belajar dari mereka."

Ibunya masih mematung dengan pandangan jauh mengawang. Tampaknya dia khawatir dengan pergaulan anak sulungnya yang tujuhbelas tahun hidup di desa dan mendadak harus menjadi anak rantau di kota.

"Nduk, pinter-pinter ya jaga diri. Pinter-pinter milih teman."
Perempuan itu tersenyum, "Nggih Buk. Ibuk juga coba paham nggih, baik itu nggak selalu berarti Jawa, nggak cuma budaya Jawa aja yang baik Buk hehe." Dia mencoba terkekeh sendiri. "Kita orang Indonesia punya nilai universal yang disebut norma, kan Buk? Kan Ibuk yang pernah ngajarin aku gitu. Apalagi kita muslim, kita punya nilai-nilai yang nggak terbatas
daerah atau suku, nilai-nilai yang asalnya dari Allah, yang dulu tiap habis maghrib Ibuk ajari tiap hari pas aku SD, kan Buk? Jangan kuatir Ibuk cantiiik, ya? Ya ya ya?", perempuan itu mulai merajuk sambil cengar-cengir.

Ibunya tertawa. "Ah kamu ni kalau lagi ada maunya aja, bilang Ibuk cantik hahaha. Iya Nduk, Ibuk kadang lupa kamu udah tujuhbelas tahun, udah bisa mengambil beberapa keputusan sendiri. Kadang kok ya rasanya kamu masih kecil, masih sama kaya waktu SD."

Keduanya tertawa. 


credit photo by @ayuningtyas_i, fotografer favorit se-Purworejo <3
Perbedaan ada bukan untuk dihindari, melainkan untuk dijembatani. Salah paham bukan lantas harus dijadikan bahan perdebatan tanpa solusi, karena pada dasarnya salah paham terjadi lantaran perbedaan persepsi, yang lagi-lagi bisa dijembatani. Dengan apa? Dengan komunikasi.

Seninya Kosan Baru

Sunday, November 10, 2013
Did I tell you that I moved already? Yaay! After the colorful-like-a-rainbow 5 years living under the same roof, you know, finaleh!

Momen pasca lulus yang cukup menyita tenaga buat packing barang sebanyak alaium gambreng ke dalam kardus, ngangkut ke kosan baru dan nyusun di kamar baru dan menyita hati. Ah hati, kenapa harus ikut tersita sih. Meninggalkan tempat yang sudah sangat nyaman memang ngga segampang tukeran sandal. Terlebih, disana banyak kenangan yang tak bisa ikut diangkut dalam kardus. Kenangan ngerjain TP di semester awal kuliah, kenangan begadangan ngerjain tugas sambil nyanyi di depan kipas angin biar suaranya kaya Britney Spears di lagu Toxic, kenangan foto-foto alay pake webcam, kenangan bikin video lipsynch soundtrack filmnya Shah Rukh Khan pake dandan ala artis India tersohor, kenangan terburu-buru ke kampus karena sering kesiangan bangun, kenangan dapet surprise ulang tahun dari jendela, kenangan bersama keluarga kos-kosan PGA depan kuburan, and the most precious, kenangan jungkir balik ngerjain TA selama dua tahun, guling-guling bengong di kasur kalo stuck yang lalu ujung-ujungnya tidur. Luar biasa.

And there I was, found a new place to live, accidentally. Dari obrolan ngalor-ngidul, gw memutuskan untuk ngekos bulanan dengan orang yang baru gw kenal tiga bulan. Kind of exciting huh? Karena hidup bersama, di tempat yang sama, butuh berbagai toleransi. Then it really is a good luck to have her as roommate. Oh anyway she's Tari, energetic and lovely friend I knew just three months before I decide to move to her dorm. 


Ngekos bareng, tinggal di petak kotak yang sama dengan orang lain membutuhkan tingkat toleransi yang sangat tinggi. Kamar bukan lagi hak pribadi tapi hak dan kewajiban berdua. Bukan "bagian gw sebelah sini bagian lo sebelah sana" yang lalu peduli amat sama selain bagiannya. Kebersihan kamar dan kamar mandi adalah tanggung jawab berdua. Air galon juga tanggung jawab berdua. Makanan jajanan bukan cuma milik sendiri. Butuh kepekaan buat paham sama kondisi temen sekamar, sangat butuh.

Pernah gw baca ada quote "Bestfriend is he/she whose weirdness compatible to yours.", iya banget ya? Sahabat terbaik itu selalu punya keanehan (yang lalu kita sebut keunikan) yang cocok sama keanehan kita. Cocok ngga selalu berarti sama, tapi bisa jadi melengkapi. 

Nah, having roommate pun gitu. Having weirdness tolerable to yours. Tingkat joroknya harus tolerable. Gw bukan orang yang super bersih dan doyan banget beres-beres begitu ada yang berantakan. Maka roommate gw harus bisa mentoleransi ini. Kalau dia orangnya bersih banget, minimal kalo lihat berantakan ngga langsung ngomel karena dia paham, gw akan ngeberesin itu semua. Tapi nanti dulu. Itu salah satu contoh simplenya. Kesannya menuntut ya? But seriously, kita ngga bisa tinggal bersama orang yang ngga bisa mentoleransi kita. Misalnya gw punya temen sekamar yang bersiiiihhhh bersinar sunlight :p Ada lho orang yang risih banget lihat buku tergolek nggak pada tempatnya atau ada rontokan rambut yang belum disapu. Bagus siih, bersih. Tapi kalau ngga toleran, temen kamarnya yang akan jadi korban ew serem :p Ketika toleransi ngga ada, suasana kosan ngga akan nyaman karena pasti bakal banyak cekcok. Atau soal lampu tidur. Ada yang ngga bisa tidur kalau gelap, ada yang kalo tidur lampu harus mati. Nah, kalo ngga dikomunikasikan, hal sepele begini bisa bikin hati mengganjal. Aih, punya temen sekamar kosan aja musti begini, apalagi punya temen hidup nanti ya, toleransinya harus jauuuh lebih besar. Apalagi pasti banyak hal dan kebiasaan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. 

Alhamdulillah, Tari toleransinya luar biasa. Gw rajin kok bebersih, haha ini bukan pembelaan diri ya, tapi emang dia lebih rajin dari gw. Tapiii toleransinya tinggi, jadi gw nyaman-nyaman aja. Kami berdebat juga sometimes, ngga selalu akur banget seiya sekata, tapi yaudah. Kalau udah beres bahas, yaudah, beres juga debatnya. Ketika ganti topik, kami kembali kepada state normal. Kami berbisnis Besya bersama. Gw banyak belajar dari dia. Kami tertawa dan bercerita, karena ternyata kami sama-sama extrovert. Good thing for us yay! It's like I am having a sister whom I can learn many things from. How blessed I truly am.

Selalu menyenangkan ya punya orang-orang yang frekuensi becandanya sama, yang sebab ketawanya bisa sama dengan kita. Buat gw, tawa lepas masih jadi salah satu parameter teratas untuk melihat kenyamanan seseorang. Kalau dia nyaman sama gw, dia harus bisa ketawa lepas di depan gw. Aih.

Kelak Allah akan mengumpulkan orang-orang yang Dia rahmati di JannahNya, Ya Rabb semoga Engkau berkenan mengumpulkan aku dan saudariku ini di FirdausMu, dalam kondisi yang jauuuuh lebih baik dari sekarang :)

Free Marketing Short Course? I'm in!

Saturday, November 02, 2013
Teringat pertanyaan waktu sidang tugas akhir, "Rahma, setelah lulus bidang apa yang mau kamu tekuni?" dan jawaban spontan yang terlontar mantap adalah "Marketing Pak!"
29-30 Oktober 2013 lalu, gw ikut Executive Learning Institute-nya Prasetiya Mulya Business School (PMBS). Dari namanya aja udah kebayang siapa pesertanya kan? Senior-senior marketing, ada juga manajer marketing dari perusahaan yang udah tersohor. Astra, Margahayuland Group, United Tracktors, Suzuki, Penerbit Buku Kompas, BRI, Bukopin daaan banyak lagi. Mereka dibayarin kantor untuk ikut short course ini untuk kemudian dishare ilmunya ke tim dan diimplementasikan buat divisi masing-masingnya. Gw? Eitss.. mana ada cerita dibayarin kampus, ngajarnya apa trainingnya apa. Gw ikut bermodal oleh-oleh Bizcamp setahun yang lalu. Dan short course yang gw ikutin kemaren adalah....... *deep inhale* Innovative Marketing Strategy.

Ah, singkat cerita, Bizcamp 2012 lalu tim gw, KISS Team dapet penghargaan The Best Team Work dan salah satu hadiahnya adalah free short course Prasmul yang bisa dipake sampe 2013. Modul yang bisa diambil bebas, ada human resource, inventory, financial, marketing daaaan sebagainya.


Karena buanyak hal, free short course ini baru bisa gw ambil sekarang, in almost last minutes of 2013. Well, selama dua hari itu, it always takes time for me to think for every question like "Darimana?" karena ekspektasi jawabannya bisa dipastikan adalah dari perusahaan mana gw berasal. Maka gw akan menjelaskan dengan singkat tentang hadiah Bizamp ini plus dimana gw bekerja sekarang. I promised to tell you later, huh? Sorry for not making it on time. But I sure will do tell you what, why and where I was up to lately. Clue, I'm staying in Dayeuhkolot.

Our coach was Mr. Ruby Hermanto, consultant and faculty member of PMBS. Terlambat di hari pertama karena harus nahan keringat di macetnya ibukota dalam himpitan sesak kopaja, membuat gw harus menyesuaikan diri dengan materi yang gw skip selama satu jam pertama. Di hari pertama, materi yang diberikan adalah tentang overview strategi Red Ocean dan Blue Ocean yang kemudian difokuskan pada pembahasan blue ocean. To make it short, red ocean berarti kita bersaing di pasar yang sudah banyak pemainnya, yang itu artinya untuk mendapatkan konsumen cara yang paling tokcer adalah dengan memiliki kapasitas produksi yang besar. Sedangkan pada strategi blue ocean, kita bermain di pasar yang masih baru sehingga hampir ngga ada pesaingnya. Caranya tentu saja dengan menekan cost dan meningkatkan value yang bisa ditawarkan buat konsumen. For the rest of the day, kami dikasih materi tentang prinsip-prinsip blue ocean dam gimana mengimplementasikan strategi blue ocean itu. Fufufu seru yeeee, belajar hal semacam ini selalu menyenangkan buat gw. Nah di hari kedua, peserta short course dikasih materi tentang power positioning, creative briefing to inspire agency yang akan menentukan bentuk advertisement kita dan cara membuat konsumen mau melakukan word of mouth. Cool huh? Luar biasa ilmunya!

Datang dengan gelas kosong membuat lebih banyak air bisa tertampung. Gw dateng dengan gelas kosong, dengan ilmu apa adanya yang gw pelajari otodidak dan dari baca majalah Marketeers, dengan pengalaman yang jauuuh dibanding mereka senior-senior marketer itu. Tapi justru itu yang membuat gw bisa menerima ilmu baru dengan efektif. Ilmu ini akan segera gw aplikasikan di Besya aheey!

Jakarta in Two Days
Anyway staying in Jakarta was.........let's do deep inhale, fellas. Kopaja was one of my best friend for that two days. Traffic jam is another one. That's just made me want to stay in Bandung even more. Bandung yang adem, Bandung yang bersahabat, Bandung yang macetnya masih tolerable, Bandung yang mau kemana-mana gampang dan mau nyari apa juga ada.

Special thanks for my girl, Nisa, for giving me a place to sleep. Ternyata ngerasain dua hari naik kopaja dempet-dempetan kaya ikan sarden di dalem kaleng itu ngga gampang. Keringet cucuran, penuh sampe pengap, musti waspada sama tas dan barang bawaan. Super salut sama mereka yang tiap hari ngerasain sesuatu yang gw sebut derita ikan sarden di kopaja atau kereta. Tanpa motivasi yang kuat, rasanya fisik enggan ya harus berdesakan kaya ikan sarden. Motivasi, harapan atas sesuatu yang lebih baik. Gw ngga hanya bicara soal uang dan gaji ya, bear in mind :)

Agak de javu pula dua hari kegiatannya dapet sesi dan materi, coffee break, shalat dan break makan, sesi lagi, coffee break lagi, sesi lagi. Di gedung yang sama, dengan name board yang serupa. Iya, de javu bizcamp 2012 lalu. Salah satu pengalaman paling amazing dengan orang-orang yang super inspiring. Ow hello dear fellas, here me wishing you all be good and stay young.

Jika rutinitas belum memberi celah untuk melakukan hal yang kita sukai, ingat, ada waktu luang yang sering kita abaikan untuk berleha-leha yang bisa sangat potensial untuk menyalurkan hobi itu.

Aku Lahir Dari Bunda Luar Biasa, Siti Halimah

Saturday, October 26, 2013
Hebatnya seorang wanita bukan dilihat dari setinggi apa karir atau gajinya, tapi dari anak yang dia lahirkan, kata beberapa orang. And I start to believe in that premise. 

Luar biasa rasanya hari ini. Seorang sahabat terdekat hari ini sempurna sebagai seorang wanita. Ia menjadi ibu. Ibu dari anak laki-laki sehat berberat 3,6 kg dan panjang 51 cm. Dan ini adalah ceritanya (dari kacamata gw)...


Dua hari yang lalu, obrolan di grup whatsapp bersama Nisa berujung pada kekhawatiran, ini Iti kok ngga ada kabar dari kemaren. Apa kabar ya kandungannya? Sehat-sehat aja kan dia? Bukannya udah lewat tanggal perkiraan ya? SMS meluncur malam itu. Alhamdulillah, kabarnya baik, dan udah mulai mules-mules lima menit sekali. Wah! Deg-degan saat itu juga >.< Rasanya campur antara excited dan kuatir. Dan atas beberapa alasan yang entah apa itu, tiap inget Iti mau melahirkan rasanya gw harus ambil tisu biar ngga keliatan orang kalau mata gw basah lagi.


Hari berikutnya masih hening ngga ada kabar, diasumsikan Iti dan keluarga masih riweuh. Sampai akhirnya Jumat 25 Oktober ini gw dan beberapa teman memutuskan untuk ke rumah sakit, barangkali ada yang bisa dibantu dan bisa meringankan ribetnya, ntah sekecil apapun. Tapiii... di jalan menuju rumah sakit, gw dikabarin kalau Iti udah melahirkan. Dengan selamat. Allahuakbar! 


Bayi itu umurnya belum genap dua jam, belum sampai seratus duapuluh menit dia menghirup oksigen dengan hidungnya sendiri. Gw terpaku di depan kaca ruang bayi, lalu entah karena apa sebabnya, nangis seketika itu juga. Luar biasa kuasa Allah atas makhlukNya. Bayi itu, tangannya masih berkerut, bahkan masih ada selaput seperti kelupasan kulit, tapi dia bergerak. Dia bernafas. Dia hidup. Bayi sebesar ini baru saja keluar dari perut bundanya. Luar biasa, maha suci Allah. 


Pindah, gw ke ruangan Iti. Di beberapa detik pertama masuk ke ruangan itu, hening. Ah, mata gw basah lagi. Perempuan hebat yang sedang tersenyum di hadapan gw ini dulu sering jadi tempat berbagi keluh dan tawa. Sekarang dia sempurna sebagai seorang wanita. Ketika pertanyaan "Gimana Ti rasanya?" terlontar, jawabannya singkat "Bahagia Ma, luar biasa.", dan ada senyum puas yang memperjelas kalimatnya. Pun dengan sosok tengil yang udah ngga asing lagi buat gw karena tiga setengah tahun ada dalam organisasi yang sama, sang suami, yang menyebut dirinya abi, senyum dan ekspresi bahagianya menjelaskan semuanya.


Kredo Metoda Muhammad, kata Tito. Nilai dasar dari metode Rasulullah SAW. Beda ye anak presma, namanya berat :p

Kebayang gimana rasanya jadi Iti dan Tito, bahkan gw yang keluarga aja bukan, ikut kuatir, deg-degan dan terharu luar biasa selama pra dan pasca melahirkan itu. Apalagi mereka. Barakallah untuk Iti dan Tito, dan semua ibu dan ayah di luar sana.

Aaah, lagi-lagi selentingan "Tuh, Iti udah punya anak. Lo kapan Ma?" mulai mencuat lagi. Heey, menikah bukan lomba lari dimana yang tercepat pasti yang terbaik kan? Bukankah kesiapan tiap orang juga berbeda, pun dengan kondisi tiap individunya. Maka ngga ada kata terlambat, karena kesiapan tiap orang, Allah yang paling tahu.So the point is, you don't need to worry to face those kind of questions. Emang udah masanya kok, tinggal di-aamiin-kan aja kalo disuruh segera. Tapi bukankah segera juga ngga sama dengan terburu-buru?


Bahagianyaaaaa~ Ada banyak doa dari jauh sini, doa terbaik untuk sahabat terbaik yang baru saja sempurna menjadi wanita. Masih terharu banget dengan gelar baru Iti, IBU. I feel like you have to know, I love you that much, Siti Halimah. Dulu, di masa-masa sulit, Iti selalu ada untuk menguatkan dan menyemangati. Ada masanya ketika aku bahkan ngga mau keluar kamar selama dua hari, ngga berani ketemu orang, ngga kuat untuk sekedar melihat kampus, dan di masa-masa itu, Iti tempat berbagi yang sangat paham bagaimana caranya menarik aku untuk sadar lagi tanpa menghakimi. Dan banyak perubahan ini pun, inspirasinya datang dari wanita hebat yang baru saja menjadi ibu ini. 


Semoga Kredo tumbuh menjadi anak soleh yang didamba abi dan bundanya, menjadi salah satu pejuang penegak agama Allah yang bisa bermanfaat untuk dunia. Doa terbaik untuk Tito, Iti dan anggota baru keluarga kecilnya. Hari ini, daftar manusia hebat yang akan mengukir catatan penting dalam sejarah bertambah lagi, bayi hebat dan bundanya..

Gw Ogah Pake Jilbab, Jilbab Lebar Idih Apalagi!

Thursday, October 17, 2013
Hai! Perkenalkan, nama gw Ega, murid kelas satu SMA. Rasanya sekolah ini udah sangat gw kenal sampai jauh ke seluk-beluknya, padahal baru empat bulan gw disini. Gw hapal hampir semua nama guru, dan semua nama gedung di sekolah. Beberapa senior tentu saja gw hapal, apalagi kakak senior yang keren dan mempesona itu. Gw bisa mendeskripsikan diri gw sebagai gadis supel yang suka tampil, sanguin tingkat akut. Selain jam sekolah, gw paling males yang namanya pake rok, walaupun gw bukan juga pecandu celana sepaha yang mengekspos aurat kemana-mana. Oh iya, hampir lupa, gw ngga pake kerudung. Lebih tepatnya, gw ngga mau pake kerudung. Gw ngga suka sama mbak-mbak senior kerudung lebar itu. Idih males banget deh.

Keluarga gw bukan keluarga yang anti agama kok, mama pake kerudung, papa rajin banget ke masjid. Gw juga kok rajin ke masjid kalo pas pulang, sehari-hari gw biasa shalat di kosan aja tapi, ngga jamaah di masjid. Mau tahu kenapa gw ogah pake kerudung? Atau kenapa gw bisa sedemikian antinya sama mbak-mbak kerudung raksasa itu?


Fyuuhh~ mulai dari mana ya. Yang kedua dulu deh ya, gw akan cerita kenapa gw anti dan males banget sama mbak-mbak kerudung lebar. Mereka itu pilih-pilih. Mungkin ini kali ya yang namanya iri? Mungkin. Gw punya temen deket yang kemana-mana berdua, Lala namanya, dia pake kerudung, nggak lebar kok biasa aja. Tiap papasan, yang disapa sama mbak-mbak ini cuma Lala, gw enggak. Uh sedih banget ye, gw bahkan diajak salaman dengan cara yang beda sama cara mereka menyalami Lala. Gara-gara gw belom pake kerudung ya mbak? Gw ngga tahu ini iri atau apa entah, tapi gw jadi menyimpulkan mereka pemilih. 


Alasan selanjutnya, mereka nggak indah dipandang. Apalah itu pake kerudung raksasa yang bikin badan tenggelam, nggak rapih pula pake bajunya. Luarnya sih pake rok, tapi celana trainingnya balapan kaya lagi lomba tujuhbelasan. Lah kalo legging sih rapi, ini training yang menggembung kemana-mana. Trus pake kerudungnya suka miring-miring peyot-peyot nggak rapih. Belom lagi bajunya. Katanya sih dalam rangka didobel biar ngga transparan, tapi plis deh mbak, bisa kan ya pake yang dobelannya satu warna? 


Masih ada alasan lain, alasan terakhir. Mungkin ini alasan utama kenapa gw anti. Mbak-mbak itu.....bau. Uh. Gw pernah kok baca tentang larangan seorang wanita muslim untuk pake parfum beralkohol atau pake parfum berlebihan. Kuatir kecium sama cowok kan? Gw juga tahu itu kok, karena nanti takutnya jatuhnya jadi zina, kan? Tapi kan bukan berarti ngga sadar sama bau badan sendiri. Aduh. Gimana gw mau betah ngobrol sama mbak-mbak itu kalo untuk duduk di deketnya aja gw nggak betah? Kan ada produk jaman milenium bernama deodoran, atau sabun antiseptik, atau cologne. Gw ngga butuh mbak-mbak itu pake banyak sampe wangi banget kok, enggak. Asal ngga bau aja, udah cukup gw rasa.


Dan alasan-alasan itu yang bikin gw ogah banget pake jilbab. Gw ngga mau masuk dalam lingkaran aneh yang dipandang dengan tatapan sinis orang lain. 



***

Apa rasanya kalau ada yang cerita kaya gitu? Kesel? Eits, bisa jadi alasan orang terdekat kita enggan berjilbab itu karena satu dari tiga alasan di atas, dan bisa jadi itu karena kita yang seperti itu di mata mereka. Gimana mau sukses mengajak kalau untuk duduk di dekat pun mereka ngga tahan? *endus-endus kerudung, jangan-jangan udah sebulan ngegantung dan dipake lagi phew* 


No hard feeling, cerita itu gw ambil dari kisah nyata. Bisa ditebak siapa itu Ega? Yap, gw sendiri. Itu adalah kisah nyata gw sendiri. Gw sempat se-anti itu.


Sekarang, salah satu tugas itu ada di pundak kita, tugas untuk menyampaikan pesan "Hey, nggak gitu kok yang namanya muslimah itu. Kita rapi, kita ngga pilih-pilih dalam berteman, kita nggak bau.", karena bisa jadi masih ada banyak Ega-Ega yang lain di luar sana.


Gw merasa tertampar saat inget cerita itu, cerita kenapa gw anti sama jilbab lebar. Pun sekarang, jangan-jangan ada yang nggak mau pake kerudung lantaran melihat gw yang belum seutuhnya bersikap dengan benar, atau karena gw kurang ramah, atau karena gw berpakaian nggak rapi, atau karena gw lupa mandi dan bau. Hey, kita ngga pernah tahu kan apa yang orang pikir? Sampai akhirnya karena beberapa hal, gw berubah pikiran (baca disini)



"Tidak ada satu alasan pun yang berhak menghalangi mereka untuk menerima hidayah." - #HKS
Jangan-jangan, secara ngga sadar, kita yang jadi penghambat mereka membuka hati untuk menerima hidayah?

Muslimah Day Poltekkes Bandung, Acara Super Keren Untuk Wanita

Friday, October 11, 2013
Bismillah, ada kabar baik apa hari ini?
Pembelajar sejati tak pernah takut mencoba dan tak pernah lelah memetik hikmah.

Yay! Another challenge was just done quite well. Alhamdulillah. Adalah Musday, Muslimah Day yang diadain sama Politeknik Kesehatan Bandung. Muslimah Day, dari namanya aja udah kebayang apa isi acaranya, yegak? Semua hal yang wanita harus tahu. Mulai dari talkshow interaktif sama teh Sasa Esa Agustina & Febrianti Almeera Pewski, pemutaran film HKS Hanya Kerudung Sampah sampe bazaar yang menyediakan keperluan wanita muslimah.

In case you're wondering what kind of challenge I just passed, here I tell you. Being moderator. Ini pertama kali jadi moderator bukan di kandang sendiri. Dengan narasumber yang udah tersohor namanya pula. Wah! Tema yang dibawakan sama teh Sasa itu tentang gimana caranya jadi wanita sholehah yang meneladani penghulu-penghulu surga tapi tetep bisa menjawab tantangan jaman yang serba modern ini. Kalo Pepew, dengan usia dan pembawaannya yang muda dan enerjik, secuil materi dari bukunya Be A Great Muslimah berhasil menyihir peserta jadi hening, dan merinding (eh ini gw doang apa yang laen juga ya?)


Keren kan materi masing-masing? Mereka kompeten pula di bidangnya untuk ngejawabin pertanyaan-pertanyaan peserta. Sedikit share hasilnya.. ngg *memusatkan pikiran, bismillah semoga ngga ada yang salah*

Sholehah? Udah familiar banget pasti sama kata satu ini, tapi gw rasa ngga banyak dari kita yang meluangkan waktu buat merenungi apa itu sholehah dan apa kita ini udah sholehah atau belum. Intinya adalah, sholehah ini ketika kita bisa menggerakkan pikiran, hati dan fisik untuk menaati perintah Allah. Contoh sederhananya adalah dimulai dengan menutup aurat, hehe, pake kerudung, berjilbab. Adeeemmmm *kibas-kibas kerudung* tapi ngga cukup sampe situ aja, setelah fisik tertutup, usaha perbaikan diri itu harus selalu ada tiap harinya. Kurang lebih begitu.

Nah terus, yang namanya manusia hidup ini kan ada masanya. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Makanya diibaratkan hidup itu kaya perjalanan ke rumah, di rumah itu kita bakal istirahat. Sebagai muslim, wajib banget kita percaya sama yang namanya akhirat dan kehidupan setelah mati, dan gw yakin semua pengen tinggal di surga dengan tenang adem dan bisa ongkang-ongkang kaki, ngga kesusahan. Dari milyaran, eh triliunan perempuan yang pernah hidup di bumi, ada tiga manusia yang udah dijamin bakal tinggal di surga. Siapa? Khadijah r.a. istri Rasulullah SAW yang pertama dan ngga pernah dimadu kyah~, Siti Asiyah istri Firaun dan Maryam bunda nabi Isa a.s. Dari Khadijah, kita bisa belajar kalo jadi wanita itu harus cerdas, punya strategi, sangat boleh untuk kaya biar bisa punya ladang amal yang banyak, dengan tetep menjaga kehormatan diri. Untuk sukses, ngga harus tuh ternyata kita cipika-cipiki sama rekan kerja, tuh Siti Khadijah ngga pernah cipika-cipiki sama rekan bisnisnya. Buat terkenal, ngga harus tuh pake rok mini dan dandan menor, itu Siti Khadijah juga ngga pernah pake rok mini dan dandan menor-menor ribet pula. Setelah nikah sama Rasulullah SAW yang umurnya 15 tahun lebih muda, Khadijah adalah sosok istri yang ruarrr biasah! Pas suaminya dicerca dan difitnah, dia selalu jadi orang pertama yang percaya dan menepis semua fitnah itu. Duh pokonya bener-bener luar biasaaaaa beliau iniiii <3 Trus ada Asiyah istri Firaun. Beda kisah sama Khadijah, Asiyah ini susah amaaat hidupnya rasanya. Jadi istrinya raja yang jahatnya tersohor kemana-mana, wew. Nah kemaren ini dari teh Sasa gw baru tahu kalo ternyata Asiyah menikah sama Firaun ini karena terpaksa. Ayah ibu Asiyah waktu itu mau dibunuh, trus akhirnya didapetlah kesepakatan kalo mereka berdua ngga akan dibunuh kalo Asiyah mau jadi istri Firaun, tapi Asiyah ngajuin syarat bahwa dia mau dinikahi Firaun tapi ngga mau disentuh sama Firaun, si raja yang dzalim ampun-ampunan itu. Yang ketiga, Maryam, ibunda nabi Isa a.s. yang dicerca juga sama masyarakat karena ngelahirin anak tanpa punya suami. Teh Sasa berkali-kali menekankan "bukan hamil di luar nikah ya. Ingat, bukan hamil di luar nikah." beda banget. Maryam mengandung manusia yang akan mengubah sejarah, yang lewatnya Allah tunjukkan tanda kebesaran. Gampang banget emang buat Allah buat menjadikan sesuatu itu ada, tuh buktinya Maryam hamil tanpa harus menikah, nabi pula yang lahir. Tapi yang lalu perlu kita renungkan adalah ngga semua jalan ke surga itu tampak indah kaya yang Khadijah alami, bisa jadi sulit dan terjal berbatu-batu kaya Asiyah. Seneng atau susah itu sebenernya sama-sama ujian. Seneng kalo bikin kita jadi sombong dan lupa sama Allah, itu bencana, ya kan? Tapi susah kalo kita sabar dan bikin makin deket sama Allah, nah itu baru barokah aih~
tolong lihat sofanya, aaaaa lucu banget siih warnanyaaa.. naksiirrr >.<
Poin terakhir talkshow sama teh Sasa adalah gimana kita sebagai wanita di jaman yang udah serba modern dan global ini bisa meneladani wanita-wanita penghulu surga itu. Never stop learning. Kalo sekarang udah pake kerudung, belajar lagi kaya apa menutup aurat yang sempurna itu. Kalo sekarang udah bisnis, belajar lagi kaya apa bisnis yang bener supaya berkah. Ah, banyak kok cara buat jadi lebih baik :D

Teh Sasa, checked! Pembicara kedua, yang masih sangat belia, naik ke panggung. Wuhuuuuw Febrianti Almeera Pepew! Inti poin yang dibawain kurang lebih ada di bukunya, Be A Great Muslimah. Tentang kisah hijrahnya, dan tentang teori Life Triangle. Iya, kisah hijrahnya Pepew, dari seorang anak gaul Bandung yang di usianya yang masih SMA udah jadi DJ di club dan penyiar radio, hampir tiap weekend ngga pernah absen dari nongkrong di cafe dan karaoke; bertransformasi.

Emang ya, titik balik setiap orang itu berbeda-beda. Kadang manusia perlu ditampar dengan ujian yang bertubi-tubi, hingga babak belur untuk bangun dan bangkit lagi. See? Ujian tak selalu berarti bencana. Sesuatu yang di mata manusia adalah bencana, bisa jadi adalah anugerah dari Pencipta semesta. 

Lalu tentang Life Triangle dimana ada tiga sudut untuk muslimah bisa menjadi seseorang yang great, hebat di dunia dan mulia di hadapan Allah. Focus to Allah, focus to me dan focus to others. Focus on Allah? Intinya adalah bagaimana kita bisa berbaik sangka sama Allah, karena setiap kejadian ngga luput dari ijinNya, dan itu berarti hanya yang terbaik yang terjadi. See? Kalau kita bisa focus to Allah, kita akan susah untuk susah karena kita sadar betul Allah punya rencana yang baik atas apapun yang terjadi. Dua poin selanjutnya...........umm....... gw agak lupa :~ ah daripada salah ngasih informasi, mending beli aja bukunya, baca sendiri. Maknyus!

Ada konsep keren dari Pepew soal ujian. Namanya teori bola basket, bisa nebak? Yep! the harder it's thrown, the higher it bounces. Makin berat ujian, makin akan tinggi kita terlempar ke atas. Bukankah setiap akan naik kelas manusia harus melewati satu tahap bernama ujian? Persis dengan konsep anak dan busur panah. Makin ia ditarik ke belakang, makin jauh ia akan melesat. Jangan takut jatuh, jangan takut mendapat tekanan berat, karena itu pertanda kita akan naik tingkat. Iyeeeeyy!! :party

Ah banyak banget hal baru yang gw dapet tempo hari, dan tentu saja, hal-hal lama yang udah gw tahu tapi sering terlupa. Agama selalu menyenangkan untuk dikaji lagi ya :i

Sesi talkshow selesai dan itu artinya tugas gw di panggung selesai, yay! But that Muslimah Day was just inspiring until overload. Ngga sampe segitu aja peserta dihujani ilmu, tapi juga ada pemutaran film HKS (Hanya Kerudung Sampah), film indie besutan bedasinema. Film ini jleb jleb jleb maksimal. Tentang persahabatan tiga manusia yang rindu untuk kembali pada fitrahnya, tentang persahabatan yang membutuhkan pemahaman, bukan pelabelan seperti yang tampak dari fisiknya. Mereka, tiga orang yang rindu pada keridhoan Penciptanya. Bayu, gay. Pinkan, nama asli Arifin, waria. Rio, mantan pecandu narkoba. Mereka satu kosan dan melewati hari-hari yang sulit, termasuk menghadapi judgement lingkungan yang menilai mereka semata dari yang tampak kasat mata. Orang lain ngga tahu usaha apa yang sudah mereka bertiga lakukan untuk keluar dari lingkaran setan gay-waria dan narkoba itu. Orang-orang ngga tahu serindu apa mereka bertiga untuk hidup sebagai laki-laki normal. Di dimensi waktu yang berbeda, beberapa tahun setelah cerita persabahatan tiga manusia yang merindu Tuhannya itu, ada wanita yang super kaku untuk urusan agama. Dia ngga mau mengajar ngaji orang-orang yang belum pake kerudung, dan memandang rendah banci yang ngamen-ngamen. Pada akhirnya, dia nemu diary Bayu karena dia tinggal di rumah yang sama dengan yang pernah ditinggali tiga serangkai itu. Paaassss sebelum ending, Bayu dan Arifin dateng ke rumah kontrakan itu sekedar untuk bernostalgia, dan merasa tertamparlah si wanita. Bahwa memang tak ada satu hal pun yang boleh menghalangi orang untuk mendapatkan hidayah. Tidak juga mereka yang merasa sudah lebih baik. HKS was just brilliantly brilliant! :tup 

Malu lah sama kerudung kalau kita menilai orang hanya dari fisiknya. Malu lah sama kerudung kalau kita menolak mengajari orang tentang sesuatu yang kita tahu hanya karena kita menilai orang itu belum sempurna prasyaratnya. Malu lah sama kerudung kalau kita merasa sudah lebih baik dari orang lain hanya karena kerudung kita lebih lebar. Ah jadi inget, tempo hari gw ngetweet:
Ketika kau merasa lebih baik dari orang lain, periksa hatimu. Ntah karena apa, tapi pasti ada yang salah.
Soooo touching!! Seneng pula pemain utama wanita, si akhwat jutek itu, adalah saudari di Peduli Jilbab Bandung yang bakal nikah tanggal 13 ini hua huaaa histeris! Yah, spoilernya terlalu lengkap ya? Bukan spoiler lagi kayanya itu sih, sinopsis. Phew!


Nah selain talkshow dan HKS yang keren, ada juga yang keren di Musday kemaren. Apalagi kalau bukan Besya ahihihi. Besya buka stand kemaren, dan alhamdulillah, mission accomplished! :mj



Anyway ternyata ikut acara keputrian macem Musday ini menyenangkan dan memotivasi dan menginspirasi lhoooo. Kenapa gw dulu selalu males dateng ke acara beginian ya :~











There's never too late to learn, doesn't it?