jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Gelar Wanita Termulia Sedunia

Tuesday, March 20, 2012
Ketika kamu melihat anak-anak yang menggemaskan di iklan dan merasa hidupmu hampa karena tidak memiliki mereka.
Itu adalah tanda bahwa kamu ingin punya anak.
Bukan tanda bahwa kamu siap untuk punya anak.
Kutipan tadi gw ambil dari blognya Mba Meira. Ya, tanda bahwa kita ingin punya anak, bukan berarti siap punya anak. Okee, gw masih 20 tahun, masih mahasiswa, belum menikah dan belum siap punya anak. Tapi gw ingin punya anak, pasti, sebagaimana kodrat wanita untuk menjadi Ibu, karena itu letak kesempurnaan wanita.

Sabtu lalu, 17 Maret 2012, bertambah lagi jumlah wanita sempurna di bumi. Ada seorang wanita yang mendapat gelar baru bernama Ibu dan ada seorang bayi terlahir, menambah jumlah khalifah yang ada. Rohmah Amriyani, sahabat TrioMaKi yang dulu sering ngasih tebengan bonceng sepeda, tiap hari ngakak berjamaah, mantan Ketua Dewan Penggalang Putri Gudep SMP 8 Purworejo, Sekretaris OSIS SMP 8 Purworejo 2004/2005, dan yang terpenting, salah satu tempat curhat terbaik sepanjang SMP. 
TrioMaKi, dengan slogan TSS yang dipertahankan sejak 2005.

Ah, gw iri. Selamat, Ma! :)

Sekarang bukan hanya gelar istri yang dia sandang, tapi juga ibu. Gelar terbaik sedunia, Ibu, Bunda, Mama, Mamak, Emak, apapun namanya. Gelar yang diperjuangkan selama sembilan bulan dan pertaruhan nyawa. Ini melebihi perjuangan kampanye untuk jabatan apapun. 

Dulu, pas Rohmah masih hamil muda dan kami masih sering teleponan, Rohmah pernah bilang "Ma, jangan bayangin aku kaya dulu. Aku udah berubah banyak banget nih, genduutt hahaha." Tapi gw yakin, pesannya tersirat. Bukan perubahan fisik, tapi lebih pada perubahan mental. Dia memang jauh lebih dewasa, padahal, dulu, Rohmah yang paling kaya anak kecil (eeh ga ding, dari dulu sampe sekarang gelar ini gw yang punya ding, Rohmah nomer dua). Gelar Istri udah bikin dia tumbuh jauh lebih dewasa dari yang gw bayangkan, dia bisa dengan bijak nasihatin gw banyak hal. Dan sekarang, gelar Ibu bakal jauh lebih membuatnya matang. 

Berbahagialah kita, wanita :) Karena gelar terbaik ini hanya milik kita, wanita.

sepupu terbontot yang jadi kesayangan keluarga besar

Gw pernah satu kali melihat ada temen cewek bilang "Iiiiihh gw ga suka bocaahh!! bocah itu, kalo ga lucu ya bawel. Nah, yang bawel ini nih yang minta ampun." trus gw tanya, yang lucu itu yang kaya apa, trus dia jawab "Yang lucu itu yang ga gampang nangis, yang enak diajak main, ga kotor dan gampang ketawa. Oh, plus ga rewel." WOW. Ada ya bayi kaya gitu? Justru, gw pengen bilang, bersyukurlah kita wanita karena diberi kepekaan dan kemampuan lebih untuk menghandle bayi dan balita. Kalo lo ga suka bayi, waduh, bahaya, coba segera berpikir, dulu lo juga sama rewelnya, kalo Ibu lo ga suka sama lo, mungkin sekarang lo ga bisa baca tulisan ini. Wossaaaahh..

Wanita yang tidak suka anak kecil perlu segera introspeksi, demi kebaikan anaknya nanti.
Senangnya jadi Ibu :) Iya, gw tahu, ga gampang memang. Tanggung jawab atas pendidikan anak, bukan cuma buat masa depan selama hidup tapi juga masa depan setelah mati. Belom lagi kalo pas rewel dan maunya nangiiiis mulu, atau pas ga mau diajak orang lain maunya sama Ibunya doang dsb. I'm really not experienced on it, tapi ini cerita dari berbagai sumber yang gw denger.

Sesulit apapun tantangan menjadi Ibu, tetap, Ibu adalah anugerah gelar terbaik. Siapkan diri untuk jadi Ibu yang baik dari sekarang. Ah sekali lagi, gw iri. Gw pengen segera menyandang gelar mulia itu.

Dan sebagaimana Ibu yang akan menjaga anaknya dengan perlindungan terbaik, harusnya pejabat-pejabat terpilih juga menjaga amanahnya dengan usaha terbaik. Untuk rakyat, bukan untuk golongan. Untuk Indonesia yang lebih baik! :)

p.s. Selamat Rohmah! Semoga si baby bisa jadi penerang hidup buat kamu dan suami, pemberat amal kelak, dan jadi anak yang berguna buat keluarga, agama, bangsa dan negara. Really really really can't wait to see you and your baby, Sweety :*

Dhuha Untuk Mereka, Bapak & Ibu

Monday, March 19, 2012
Ma, homesick banget nih. 
Kenapa ya?
Apa gara-gara tau susahnya cari uang ya?

tiga kalimat itu mendadak muncul di whatsapp gw, dari seorang sahabat dekat.
Dan kalimat itu bikin gw sadar, bahwa ternyata gw pun juga homesick, oh lebih tepatnya kangen rumah level Asia.

Apa gara-gara tau susahnya cari uang ya? bisa jadi. Gw dan sahabat gw itu, sekarang emang lagi merintis bisnis, dan emang susah cari uang. Jadi keinget perjuangan Bapak & Ibu yang tiap hari berlelah-lelah buat anak-anaknya.
Ibu kerja kan buat kamu sama adek, buat siapa lagi kalo engga coba?
kata Ibu gw dalam satu kesempatan. Ya, mereka bekerja buat kami. Keringat tiap hari itu buat anak-anaknya. Paparan matahari itu ga ada apa-apanya dibanding melihat anak-anaknya bahagia.
Lalu apa yang udah gw kasih buat mereka? Gw bahkan masih harus minta uang bulanan, kos-kosan dan uang kuliah. Dan sekarang, TA gw pun belum beres. Dosa kalo gw ga inget perjuangan mereka. Dosa kalo gw santai-santai aja TA gw ga kelar-kelar.

Malemnya, sang teman gw itu ngabarin lagi dia bakal pulang karena tanggal 5 bulan depan ada acara penting super penting di rumahnya. Oh, doanya terjawab sudah, bahkan dengan jawaban yang sangat sempurna. Acara penting itu untuknya dan dia harus pulang. Betapa Allah sangat sayang sama dia, dan gw pun yakin giliran gw akan datang. Untuk pulang ke rumah dan untuk acara penting itu.

Ya Allah, beri hambaMu ini kekuatan untuk menyelesaikan TA secepatnya, memenuhi harapan Bapak & Ibu. 
Dan buka pintu rezekiMu untuk mereka, 
jika masih di langit maka turunkan, 
jika masih di bumi maka keluarkan, 
jika sulit maka mudahkan,
jika haram maka bersihkan,
jika jauh maka dekatkan,
dalam kebenaran dhuha-Mu dan keindahan-Mu.

Sukses Adalah Rentetan Gagal yang Diperbaiki

Wednesday, March 07, 2012
Sometimes life doesn't go as we expect. But it never goes wrong, we just need to adjust.
Ya, harus sangat-sangat gw akui, hidup ini tidak selalu persis seperti yang kita impikan. Gw adalah anak pertama dari dua bersaudara, adek gw satu-satunya, cowok, entah kenapa selalu membuat gw merasa menang. Gw selalu mendapat apa yang gw butuh. Orang tua gw selalu mengusahakan fasilitas terbaik yang mereka bisa untuk kedua anaknya, sesuai kebutuhan gw, dan sebagian besar kebutuhan itu juga adalah keinginan gw.
bersama adek saat gw kelas 3 SD

Sampai SMP kelas 3 gw belum pernah merasakan kegagalan. Persis belum pernah. Ya, gw selalu merasa menang, dan ini yang membuat ego gw tumbuh melejit. Selalu ranking 1 kelas, selalu masuk 2 besar ranking paralel sesekolahan, selalu jadi perwakilan sekolah untuk lomba dan hampir semuanya masuk 3 besar, aktif di sana-sini di banyak organisasi di sekolah. Sejak SD pun begitu. Enam tahun di rapor gw selalu bertengger manis angka 1. Gw tumbuh untuk menang. 

Sejak gw balita, setiap kali ditanya "Mama pinternya kaya siapa?" gw selalu menjawab "Pak Babibi". Fyi, Mama adalah panggilan gw terhadap diri sendiri saat lidah belum lancar berucap, dan pak Babibi sejatinya adalah Pak Habibie yang sangat diidolakan nenek gw. "Mama mau jadi apa kalo udah besar?" dan gw selalu menjawab "Doktel!" which is sebenernya adalah dokter. Di keluarga gw belum ada yang berprofesi sebagai tenaga medis, dan di mata mereka, dokter adalah pekerjaan mulia. Bahkan Bapak selalu bilang, dokter itu pahalanya besar karena bikin orang termotivasi sehat lagi, bukan menyembuhkan tapi membantu sembuh. 

Gw tumbuh dengan percaya diri, dengan semangat menang dan cenderung dominan kalau tidak mau dibilang memiliki ego tinggi.
Dan tidak semua yang gw inginkan bisa gw dapat. Kegagalan pertama gw adalah tidak masuk Taruna Nusantara 2006. Ya, gw waktu itu ikut seleksi jalur beasiswa dan gw gagal setelah 7 hari dikarantina untuk tes kesehatan, psikotes, wawancara dsb. Pertama kali gw merasa gagal. Bahkan sampai baju gw dicuciin Ibu selama seminggu sejak gw dinyatakan tidak masuk. Fyi, sejak SD gw diharuskan mencuci baju sendiri kecuali seragam, sampai SMP semua gw cuci sendiri. Aturan ini diperlakukan orang tua gw untuk mendidik anaknya supaya tidak manja dan sadar kerjaan rumah. Dan ya, tidak ada pembantu di rumah karena berbagai alasan. Momen baju gw dicuciin satu minggu adalah momen ajaib, gw yakin waktu itu orang tua gw sadar anaknya sedang terpuruk hahaha.


LCT Pramuka Kwarda Jateng 2005, we were the first!!

menerima trophy kelulusan dengan peringkat sama persis dan skor sama persis dengan sahabat terbaik, Erma Novriawati
Kegagalan kedua gw adalah di Aksel. Setelah dinyatakan tidak masuk Tarnus, gw memutuskan daftar kelas akselerasi SMA 1 Purworejo sebagai bentuk aktualisasi diri. Gw tidak ingat ada alasan lain kala itu, selain atas saran Pak Pardi, guru BK SMA 1 yang juga teman baik Bapak. Gw yang terbiasa menang, selalu menjadi nomer 1, mendadak harus menjadi golongan bawah. 
Hidup berputar dan gw ada di masa sulit kala itu. Gw pernah mendapat nomer 18 dari ber-18 murid akselerasi. 
Gw langganan remedial untuk hampir semua pelajaran kecuali Bahasa Indonesia, English, Basa Jawa, PKn, Sejarah dan ilmu-ilmu sosial lain. Gw adalah standar terendah untuk Fisika karena memang entah kenapa gw berasa alergi Fisika sejak kelas 1 SMA. Kimia, Matematika, Akuntansi, TIK adalah pelajaran yang most hated. Biologi punya cerita sendiri, tapi lebih sering lolos daripada remedial. Gw pernah sangat frustasi sampai takut kena DO dari aksel dan harus ke kelas reguler berkaca pada nilai-nilai gw. Memprihatinkan. Alhamdulillahnya, gw dikenal sebagai sosok yang ceria dan membawa keceriaan sampai pernah ada sahabat aksel berkata "Kamu kemaren ga masuk Ma, kangeeeenn!! Kelas sepi ga ada kamu." gw merasa berharga dan diakui.

editan jaman baheula, udik banget editannya hahaha, dengan puisi yang dibacakan saat Buka Bersama Akselerasi Semua Generasi tahun 2009
Aksel Remidi-asi designed by Yusak Krisnanda Sihotang

Kegagalan selanjutnya adalah ketika gw gagal masuk Kedokteran UGM atau Unair. Ini cita-cita mulia keluarga besar gw. Gw justru diterima di IT Telkom jurusan Sistem Informasi. Dulu gw sering remedial TIK, dan sama sekali tidak paham saat pembahasan bahasa Pascal. Dulu gw kira Sistem Informasi ini semacam Ilmu Komunikasi, dan ternyata berbeda 180 derajat! Gw masuk jurusan teknik walaupun labelnya tanpa teknik. 

Mati-matian bertahan sejak semester satu, alhamdulillah IP belum memenuhi target, kurang  nol koma sekian. Dan sekarang, di saat gw menghadapi TA, there are too many ups and downs. Dulu gw pikir TA sesederhana tugas besar hanya saja ini dikerjakan sendiri. Salah. Ini jauh lebih menantang. Remedial Pascal? sekarang gw harus coding dengan Java. Kurang menantang apa ini? 
Memang tidak mudah karena hadiahnya adalah gelar ST dan wisuda. Seandainya mudah, cukuplah berhadiah sabun colek.

cerah ceria?
Sampai saat ini, kegagalan demi kegagalan datang. Tapi ada kemenangan di balik itu semua. Kemenangan berupa perubahan. Gw tidak akan menjadi Rahma yang sekarang tanpa rentetan kegagalan itu. Gw lebih bisa mengalah sekarang, dan ini sesuatu yang wah buat gw. Kepribadian gw banyak berubah secara perlahan, dan gw lebih nyaman seperti ini, selain juga yang seperti ini lebih bisa diterima lingkungan daripada misalnya gw tidak berubah. Gw pribadi bahagia bisa melewati fase-fase sulit dan gw sampai sekarang selalu bangga bercerita, karena itu yang membantuk gw seperti sekarang ini. Dan gw yakin, kesulitan-kesulitan di depan masih banyak karena berhadiah besar, gw yakin gw bisa melewati fase-fase itu.
Di kala banyak orang menganggap kegagalan sebagai memori yang harus ditutup rapat karena pahit dikenang, gw berkebalikan.
Karena masalah itu datang untuk diselesaikan, bukan dihindari. Sadar tidak sadar, seringkali jalan aman untuk menghindar lebih banyak dipilih karena lebih mudah di awal. Tapi apa? kemenangan apa yang didapat? kepuasan apa yang didapat? Sesederhana TA, menghindar dengan berdiam di kosan terlihat lebih nyaman tapi kemudian apa? Hanya mau sabun colek? Dengan menyelesaikan tantangan dan masalah, kemampuan diri akan terasah dan menjadi lebih kuat, tanpa sadar. Makin banyak tantangan terselesaikan, berarti kemampuan diri kita ter-upgrade secara gratis.

Life goes, time ticks, people change and then forget. Semua sudah diskenariokan dengan sempurna untuk yang terbaik. Walaupun banyak hal tidak sesuai keinginan, bukan berarti hal itu salah, bukan berarti hidup berjalan tidak semestinya, bukan berarti harus ada yang disalahkan. Menyesal? penyesalan atas hal yang sudah terjadi tanpa diiringi tindakan nyata hanya dimiliki pecundang. Terdengar sarkastik? memang begitu adanya. Sebutlah gw menyesal atas keputusan masuk akselerasi, lalu apa? hanya menyesal lalu meratapi nasib sementara ketujuhbelas yang lain berlari? Gw hanya boleh menyesal gw pernah menjadi yang terakhir, lalu apa? lalu buktikan bahwa kegagalan masa lalu bisa membawa kesuksesan saat ini. Lalu buktikan dengan prestasi bahwa gw bukan orang yang patut dipandang kalah dengan sebelah mata. Paling sederhana contohnya, gw mencuri lalu gw menyesal. lalu apa? hanya menyesal? Gw seharusnya menyesal dengan meminta maaf pada yang gw curi, taubat, lalu berusaha tidak mengulangi lagi. 

Satu lagi, berusaha tanpa berdoa sama saja mandi tanpa air. Berdoa tanpa berusaha sama saja menjerang air tanpa panas. Sinergikan keduanya. Cukup hebatkah kita untuk tidak meminta? Sesombong itukah kita untuk meminta pada Dia Yang Memiliki Segalanya?

Skenario terbaik sudah siap untuk setiap dari kita, kita hanya perlu mencari. Ketika ternyata skenario tidak sesuai ekspektasi kita, maka sesuaikan. Sesuaikan ekspektasi, rencanakan langkah pasti, ubah arah kemudi. Dan voila! Bersiap untuk kejutan terbaik-terbaik dari Yang Maha Pengatur Segalanya.

This Things Last Forever

Thursday, March 01, 2012




Collecting little stuff is always so much fun. You can easily bring back your old memories. I used to keep every papers, photos or cards while I was in junior high. And yes, I wrote diary every night. 
Now, while I forget many things as time goes by, feelings start to fade away, those little stuff remain same, forever, remind me about how I've been struggled, achievements, friendship, and of course, love.