jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Sehat dan Cantik dengan Jogging Cantik

Saturday, February 18, 2012
Sore itu langit IT Telkom syahdu, mendung romantis dengan beberapa titik kecil hujan jatuh tepat di hidung yang ga bisa disebut mancung. Di danau, ada 3 orang remaja *eh, udah 20 tahun ding, berarti wanita yang bener* berjalan cepat dengan obrolan secepat langkah mereka. Bukan, mereka bukan golongan mahasiswa rajin berolahraga yang sedang beristirahat dengan berjalan cepat. Mereka bertiga sedang melakukan ritual yang lama mereka tinggalkan, Jogging Cantik. Adalah Rahma, Siti dan Nisa, ketiganya anggota Birockster 2011 yang salah satu program kerjanya adalah Jogging Cantik, dan ini Jogging Cantik pertama setelah mereka demisioner. Apa yang lo bayangkan ketika denger Jogging Cantik? Jogging yang anggotanya cantik-cantik? Atau jogging dengan lari cantik? Atau jogging sembari pake make up? Atau jogging pake kebaya?

Apa? Lebih keraaaas!! *gaya Dora The Explorer*

Benaar sekaliii! Jawaban yang tepaaat! Semua jawaban salaaah! Jogging Cantik adalah kegiatan olahraga untuk mempercantik bukan hanya fisik tapi hati. Bentuknya bisa lari-lari atau jalan cepat 10.000 langkah *kenyataannya ga dihitung berapa langkah :P * lalu dilanjut dengan make up hati, bisa dengan curhat-curhat session, bisa dengan konsultasi atau Cubitus (Curhat Biro Maknyus).

Sore itu, di bawah langit syahdu IT Telkom, Rahma Siti Nisa menyudahi Jogging Cantik dalam putaran keenam jalan cepat keliling danau. Terserah mau dibilang keringetan atau engga, yang jelas ini adalah gebrakan bagi kami wanita-wanita yang jarang berolahraga yang ingin sehat dan cantik lahir batin hahaha. Make up hati kali ini kami menepi di kantin Poltek yang sepi sepi sepi abis, dengan sebungkus keripik balado & biscuit. Tampaknya lemak yang terbakar abis jalan keliling danau langsung beranak pinak kembali.

Jogging Cantik perdana 2011

swear, satu putaran danau pun ga selesai waktu itu

finalleeehhh.. duduk, ngobrol, foto :P

Apa bahasan kami? Hmm.. quite interesting! Sebagian besar adalah tentang pernikahan,nikah muda beserta segala konsekuensi dan berkahnya. Ini ga akan gw ceritakan sekarang somehow. Pembahasan selanjutnya, yang sangat berkesan walaupun sebentar adalah.. tentang.. #hening

Dimulai dari pertanyaan gw: Hm, Ti, nanya dong, aku pernah baca dimana gitu ya lupa, ada ditulis gini “Berdoa kok nyuruh.” Maksudnya, kalimat pas berdoa itu ko kita kaya nyuruh-nyuruh Allah gitu, ini itu ini itu. Itu gimana ya Ti? Apa kalimat doa harus kalimat minta, apa gimana si?

Lalu bergulirlah diskusi ini. Bahwa sebenernya, berdoa itu bukan menyuruh, siapa juga lo nyuruh-nyuruh Tuhan. Tapi berdoa itu meminta. Allah kan janji mau mengabulkan permintaan hamba-Nya, justru kalau kita ga mau minta, Allah ga suka. Dengan ga meminta, berarti kita sombong karena merasa bisa menyelesaikan ini itu tanpa campur tangan Allah. Dan lagi, kenapa harus malu meminta ke Allah? Kenapa? Bukankah Allah yang merajai segalanya? Dia yang Maha Kaya yang memiliki semuanya, kenapa kita harus malu meminta? Meminta pada satu-satunya pemilik dan penguasa jagad raya.

Pas banget, beberapa hari setelah make up hati, gw menemukan kertas berisi ayat-ayat dan hadist-hadist tentang berdoa. Ah, sempurna. Hadist dan ayat ini terlalu berharga untuk gw simpan sendiri.

“…Berdoalah kepadaKu, niscaya Ku kabulkan..” (Q.S. Al-Mukmin: 60)
“Atau siapakah yang telah mengabulkan (doa) orang yang dalam keadaan sempit, jika dia berdoa kepadaNya dan menghilangkan kesusahan?” (Q.S. An-Naml: 62)
“Dan jika hambaKu bertanya kepadaKu, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaKu.” (Q.S. Al-Baqarah: 186)
“Sesungguhnya Allah itu Maha Malu lagi penderma. Dia malu untuk menolak seseorang yang mengangkat kedua tangannya (untuk memohon kepadaNya) sehingga kembali dalam keadaan hampa sia-sa.” Shahih HR Tirmidzi.
“Seorang muslim yang memohon selain suatu dosa dan pemutusan hubungan tali silaturahim, pasti Allah akan memberikan salah satu dari 3 hal: doanya dikabulkan dengan segera, atau doanya disimpan untuk di akhirat, atau lantaran doa tersebut ia dijauhkan dari marabahaya sebesar kebaikan yang ia pinta.” Shahih HR Imam Ahmad.
“Janganlah seorang dari kalian mengatakan, Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, Ya Allah kasihilah aku jika Engkau menghendaki. Tetapi hendaknya kamu bersungguh-sungguh dalam meminta, sebab tidak ada yang dapat memaksaNya.” Shahih HR Bukhari.
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi tidak mengucapkan, “Aku telah berdoa tetapi mengapa belum dikabulkan?”.” Shahih HR Bukhari.
“Saat seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia bersujud. Maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” Shahih HR Muslim.

Jadi? Masih ragu-ragu?

Gw jadi teringat suatu momen ketika MOS SMP. Dulu, ada seorang senior yang selalu bisa menarik perhatian *entah cuma gw atau semua murid seangkatan* yang gw ingat jelas, meng-aamiin-kan doa setelah shalat jamaah tanpa mengangkat tangan, hanya meletakkan tangan dengan posisi terbuka di atas paha. Terlepas dari kepercayaan, tradisi atau kebiasaan masing-masing orang atau daerah, yang ingin gw sampaikan adalah, kenapa harus malu atau segan mengangkat tangan untuk memohon? Bukankah Dia Maha Mengabulkan?

Setelah ini, jangan ada lagi melesat cepat setelah salam, luangkan waktu untuk berbicara padaNya, berterimakasih atas apa yang lo dapet, dan meminta apa yang bisa lo minta.

Cantik? Bukan sebatas wajah yang perlu dihias, tapi hati. Karena wajah selalu bertambah tua tiap detiknya, lalu suatu hari akan muncul keriput. Tapi hati, hanya bisa bertambah matang dan dewasa tanpa pernah mengenal keriput. 

Ini Sahabat Dekat Gw

Friday, February 10, 2012
Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah chat dengan seorang sahabat, gw terlibat obrolan yang cukup serius tapi cukup ngalor ngidul, sampai pada akhirnya kami membahas soal teman dekat.

Oke, ini adalah teman dekat dalam arti sebenernya dan ga ada arti kiasan apapun, pure teman dekat, bukan “teman dekat”. Kemarin, gw bilang kalo definisi teman dekat gw adalah orang-orang yang selalu terpikir pertama untuk dikasih tau sesuatu, diceritain banyak hal, dimintai tolong, dan bisa dipercaya untuk diceritain rahasia. Kurang lebih begitu. Lalu dengan sederhananya, sang sahabat gw itu mendefinisikan teman dekat sebagai orang-orang yang sering bareng, yang bisa menerima dia apa adanya.


Oke, I miss something here. Ada yang terlewat.

Definisi gw atas mereka yang terpikir pertama untuk dikasih tau sesuatu, diceritain banyak hal, dimintai tolong, dan bisa dipercaa untuk diceritain rahasia, sebenernya bisa disederhanakan. Sama, mereka adalah orang-orang yang bisa menerima gw apa adanya dan bisa gw percaya. Saat mereka bisa menerima gw apa adanya, gw bisa menjadi diri sendiri tanpa embel-embel apapun, gw menjadi Rahma Djati Kusuma sebagai pribadi yang utuh, tanpa terpengaruh kuliah dimana, angkatan berapa, TAnya tentang apa #ups, ikut organisasi apa aja, dsb. Di depan mereka, orang-orang ini, gw bisa ngupil dengan bebas lalu ngelapin upilnya ke kaki karena ga ada tisu, di depan mereka, gw ga perlu dandan dulu untuk ketemu, gw ga wajib mandi dulu untuk ketemu, dan gw ga perlu jaga image karena mereka udah punya image atas diri gw, dengan segala keapa-adaan gw. 

Kedua, orang-orang ini juga adalah orang-orang yang bisa gw percaya sehingga ketika gw menceritakan suatu rahasia, gw ga takut rahasia itu bocor, ketika gw ada masalah dan gw cerita, mereka selalu bisa, paling engga, mendengarkan untuk sekadar menenangkan, dan terkadang memberi saran.

Dengan dua hal tadi, gw merasa nyaman berada di antara mereka. Gw merasa berharga. Maka setiap kata yang terucap adalah obrolan berharga, dan bersama mereka tawa bukan hanya pelengkap percakapan tanpa makna. Dan bersama mereka pula, sahabat-sahabat terdekat gw, waktu bisa terbunuh dengan mudahnya. When I talking to you, I just feel.. I don’t know. I just don’t want to stop.

AIESEC? I'm a Newie and I'm Deadly Proud of It

Thursday, February 09, 2012
Hoy AIESEC!! How do you feel?

Ah I just miss to scream out “What’s up!!” and “Excellent!!”. Actually that two are some of our jargon in AIESEC.

As I wrote before, I am an AIESECer now, still feel great to be part of this super huge organization. Now, I’m team member of ICX UC YPT, haha, I know it sounds weird just because of the abbreviations. ICX is Incoming Exchange, UC is University Committee, and YPT stands for Yayasan Pendidikan Telkom. I will write more about this kind of things later on.

Anyway, having my first job in AIESEC is quite challenging. We, newies AIESECers YPT have to make an AIESEC Buzz which is kind of open mind and talkshow all about AIESEC. Before AIESEC Buzz is held, we have to open stand to socialize what AIESEC is about in IT Telkom, IM Telkom, Politeknik Telkom and STISI Telkom. Well, not only socialization that we do actually, we also sell AIESEC application form for all Telkomers who interested to join this organization.

I always love to be at stand, giving many explanations, seeing faces with hope, knowing visitors expectations to join AIESEC, discerning how they getting so excited. And yes, it really needs extra energy to stand up all along the day and explaining anything visitors ask yet it still felt great.

I always start to explain by asking first, “Have you been heard AIESEC before? Well what do you know about AIESEC?”, listen to anything they already known about AIESEC and then add some more information they haven’t know yet. So, this is my common conversations with our visitors:

R: Have you been heard AIESEC before? Well what do you know about AIESEC?


V: bla bla blaaaa

R: Exactly! Actually AIESEC is an international youth organization as platform to develop leadership potential and communication skill, exists in 110 countries and offers so many great opportunities including exchange.

V: Exchange?? So, AIESEC is not only in Telkom?

R: Definitely not. In Indonesia, we have AIESEC Indonesia, and there are 6 committees in it, one of them is AIESEC Bandung, and AIESEC Telkom is part of AIESEC Bandung. And yes, exchange. As an AIESEC member, you will find many opportunities for going exchange.

V: what kind of exchange?

R: well, there are two kind of exchange, one we call Global Community Development, and one we call Global Internship Program. I think you sure know the difference, huh?

V: Oh yes, community development is like doing social project, and internship, is it like Geladi or KP?

R: 100% agree! For internship, you have to fulfill requirements like you apply for job, you have to be graduated first, and of course your job in there will be suited with your major domain. Oh I forget, for this internship, commonly it has to be 6 months while community development is commonly 6 weeks.

V: Ya I see I see. What kind of community development I will do there?

R: Actually you can choose what issue you would like to do because in AIESEC there are thousands projects related world issues like HIV/AIDS, children, entrepreneurship, culture and so on.

V: Seems interesting! I don’t need to think hard like doing coding or applying my branch of science there, I don’t need to do coding or think about telecommunication engineering thingy, right?

R: Hahahha, yes I think so. Anyway, do you interested to join AIESEC?

V: Actually yes, but.. uhm.. my English is very suck. Does it need TOEFL for exchange?

R: Nah! Noted that English is not our main requirement, you don’t need to have very fluent English to join AIESEC. Even I do my interview half in English and half in gado-gado, you know, combination of English, Bahasa, and um am em am em, hahaha. Oya and TOEFL is not needed for exchange except you apply for internship exchange.

V: And you are accepted??

R: Thanks God,yes.

V: About financial need, how much I will need to go exchange?

R: First, it depends on your destination, Italy will be greatly different from Thailand of course. You have to cover your flight, when you’re there, you will have a housefam so no worries about where to live. And of course you will not go empty handed, huh? But don’t worry, many AIESECers got sponsor for funding their needs include flight and so on.

V: Hmm.. Clear enough! Oya, if I ask you, why I have to join AIESEC, what will you say?

R: Hoh, okay I’ll make it simple. This organization is truly different with all organizations I joined before. AIESEC provide you opportunity to know yourself better that you even never imagine before, about your passion, your ultimate goal and so on. AIESEC also provide you leadership experiences, chance to improve your communication skill, having global network as AIESEC is not only in Indonesia but in 110 countries, and also work experience like you work in real company with multiculture team members. This organization will help you to develop yourself and develop others in your environment as you can give positive impacts to society.
V: Wow, super cool. Even Rasulullah said, “The very best of you is them who could be the most worthwhile.” I surprise that AIESEC even has the same vision. Ah super cool. How to join AIESEC somehow?
R: Ah I almost forget to explain. Well, all you have to do is buy this form costs 10k rupiah, fill it completely and collect it to us with a motivation letter about why you want to join AIESEC, and a CV of you, altogether. Put it in a blue folder (map biru) then give it to us, in our stand here, or to one of us, or in AIESEC Buzz. We’ll have AIESEC Buzz, some kind of talkshow about what AIESEC is about. You have to come, it really worth to know.

V: Aaaah cant wait to be part of this super cool organization!! Thank youuuuuu~

Nah! Yet still not clear enough? Come to our stand in Square B IT Telkom, and wait for the stand-tour in IM Telkom, Poltek Telkom and STISI Telkom. Don’t forget to attend AIESEC Buzz ya! J

At last, decision is yours, whether you want to be apathetic student and don’t care about social and world issues; you want to wait for the miracle to come after you graduate then you think what to do; or joining AIESEC to grab opportunities to develop yourself and others, now, no more time to wait and no need to wait for miracle. It’s all yours.

Still thinking? Don’t think! Some kind of thing is not worth to think but do, and AIESEC is one of that thing. Feel the experience, feel the difference, only in AIESEC!

Want to know more? Want to get application form?
Come to our stand, or you can freely text me via twitter @rahmadjati, phone number by DM.


Prioritas

Ada tempat dimana kita merasa sangat bahagia, dan buat gw, salah satu tempat di dunia yang selalu berhasil mengembalikan mood baik gw adalah toko buku. 

Buat gw, tempat yang paling menyenangkan, sekaligus berbahaya, adalah toko buku. Gw sangat pemilih untuk beli baju dan seringkali batal bahkan setelah dicoba. Tapi entah kenapa toko buku selalu berhasil menguras isi dompet dan atm gw. Ironis (-__-“)

Anyway, sebenernya gw mau ngomongin soal prioritas. Faktanya, dalam 30 hari terakhir, gw membeli 6 buku dan 1 majalah. Gw juga ga sadar kenapa gw bisa sampe sekalap itu. Serakah? Entahlah. Tapi gw sering jatuh cinta pada buku, from the very first sight. Nah, bahayanya kalo udah gitu, gw akan kepikiran terus dan ujung-ujungnya pasti beli. Dalam 30 hari terakhir ini, gw memang mengorbankan budget jalan-jalan makan enak dsb, untuk buku. 

Setiap dari kita memiliki prioritas yang berbeda, dan tidak ada yang salah dengan itu semua karena prioritas dibuat atas pertimbangan-pertimbangan dimana hanya kita yang paling paham.
 --@rahmadjati

Ketika lo membuat prioritas, secara ga langsung lo berjanji untuk mengutamakan hal itu. Sama persis ketika di kehidupan nyata, lo memegang banyak amanah, lo pasti punya prioritas dimana lo akan mencurahkan tenaga paling banyak. Salah satu cara untuk membantu memenuhi prioritas adalah dengan menuliskannya. Terlihat romantis? Whatever. Tapi menuliskannya selalu jadi cara terbaik untuk membuat kita secara sadar dan tidak sadar tergerak untuk memenuhi apa yang kita pengen.

Ibu gw selalu mengajarkan tentang prioritas sejak gw SD entah kelas berapa. Contoh paling sederhana yang paling gw inget, ketika gw minta dibelikan baju pada saat kenaikan kelas, Ibu pernah berkata “Bajunya nanti aja ya bulan depan, bulan ini buat beli buku pelajaran dulu, kan banyak tuh bukunya. Butuhnya juga banyak, prioritasnya untuk sekolah dulu, baju kan ga mendesak banget.” Nah! 

Apa prioritas lo?

Jalan Tol = Jalan Layang

Wednesday, February 08, 2012
Kepolosan adalah hal terindah dari anak kecil.

Sebegitu polosnya sampe gw ga tau ini masih tergolong polos atau udah masuk kategori bodoh. Gw lahir dan hidup 17 tahun di kota kecil di Jawa Tengah, Purworejo. Mayoritas saudara-saudara gw tinggal di kota yang sama atau di Jogja. Itu salah satu alasan yang bikin gw ga pernah kemana-mana. Bahkan kakung-uti gw, yang satu hanya berjarah 10 langkah dari rumah, yang satu 20menit naik motor, masih dalam kecamatan yang sama.
Boro-boro naik pesawat, naik kereta aja gw baru pas mau kuliah di Bandung. Pernah siiih dulu pas SD, ke Jogja naik kereta, jauh sebelum ada Prameks, entah kereta apa yang dulu gw naikin. Jalan tol? Naah ini kepolosan yang baru gw inget beberapa hari yang lalu.
Sejak kecil, gw selalu berpikir jalan tol adalah jalan yang lebih tinggi dari jalan biasa, berarti jembatan panjang yang agak naik atau lebih tinggi dari jalan biasa termasuk, jalan layang sangat-sangat termasuk, karena itu definisi gw atas jalan tol. Jalan layang. Jalan tol = jalan layang. 

Dan kenyataan pahit harus gw telan ketika pas kuliah, gw lihat banyak pintu tol. Hanya untuk kendaraan beroda empat atau lebih, dan bayar. Apa itu? Jalan tol? Jadi selama ini jalan layang apaan dong?? #garuktembok

Iya, definisi jalan tol = jalan layang gw bertahan sejak gw ngeh ada jalan layang di Jogja, dan berakhir saat gw kuliah dan berumur 18 tahun. Mari kita luruskan, di rumah gw ada tv, dan Bapak pun sering beli Koran. Tapi gw ga pernah sekalipun nanya jalan tol itu apa, sekalipun sering ada berita naiknya tariff tol, karena gw yakin definisi gw atas jalan tol ga salah.

Para ayah dan ibu, para calon ayah dan calon ibu, serta para anak-anak yang belom tau apa itu jalan tol, lain kali, kalo ragu-ragu, bertanyalah. Kalo lo ga ngeh atas keragu-raguan lo, ini kewajiban orang tua untuk ngasih definisi yang bener ke anak. Jangan sampe ada Rahma kedua yang mengartikan jalan tol = jalan layang. Mungkin dulu orang tua gw menganggap gw terlalu cerdas untuk ga ngerti jalan tol itu apa ya sampe mereka ga pernah menceritakan apa itu jalan tol ke gw. Jangan sampe lagi nanti ada anak yang ga bisa bedain kambing sama sapi hanya karena orangtuanya yakin anaknya udah tau. :P

Mari belajar!

The Art of Comparising, Minky Momo, Samson and Tarzan

Tuesday, February 07, 2012
Comparison is easily made once you’ve had perfection.
Gw inget banget pernah ngetweet gitu beberapa waktu yang lalu. Memang iya. Ketika kita pernah merasakan sesuatu yang ‘sempurna’ kita cenderung membandingkan apa yang kita punya dengan sesuatu tadi.

Contoh paling sederhana, lo ngebandingin rasa nasi goreng mas-mas gerobak sama nasi goreng mas-mas tek-tek. Kalo semacam ini sih ga salah, karena dengan membandingkan, lo bisa menentukan mana yang lebih enak untuk kemudian lo bakal lebih sering beli di sana. 

Nah, kasus lain adalah lo membandingkan orang. How come? Pernah seorang temen cerita ama gw, betapa dua pemimpinnya bersikap sangat berbeda. Jadi ceritanya si temen gw ini lagi terlibat di dua organisasi dengan pemimpin yang berbeda, dan dia membandingkan mereka. Katakanlah satunya Tarzan satunya Samson, selanjutnya mari sebut temen gw sebagai Minky Momo. Minky Momo pernah bilang, Tarzan ga sebaik Samson. Samson selalu bisa ngebela Minky Momo kalo ada yang ingin menjatuhkan, tapi Tarzan kadang bahkan ga notice kalo Minky Momo sedang dalam bahaya. *aduh imajinasi gw malah jadi kemana-mana nih, ngebayangin Minky Momo dikejar pencopet trus Samson bisa melindungi sementara Tarzan ga bisa apa-apa karena ga ada pohon buat auwo-uwo di kota (-__-“) * Minky Momo sering bilang, Samson bisa mengayomi dan ngasih semacam rasa aman, sementara Tarzan engga. Parahnya adalah Minky Momo bilang di depan hidung Tarzan, membandingkan antara Tarzan sama Samson. 

Siapa sih yang suka dibanding-bandingin? Sini cuuuuung!

Gw rasa ga ada ya. Setiap dari kita unik. Setiap dari kita punya gaya masing-masing yang pasti ada positif ada negatifnya. Cobalah ngaca, lo pun begitu dan gw pun iya. 

Membandingkan ga salah kalo tujuannya untuk saran perbaikan. Nah, buat yang satu ini , caranya ga dengan mentah-mentah bilang kaya tadi si Minky Momo ngomong ama Tarzan. Cara yang menurut gw efektif adalah dengan ngasih saran tanpa ngebahas pembandingnya. Ribet ya? Hahaha.. 

Kalimat pertama: “Zan, ko gw ngerasa ga nyaman ya. Lo tau ga sih kalo gw sering dipojokkan anak-anak lain? Samson doong kalo gw digituin dikiiit aja, dia langsung beraksi. Itu yang bikin gw lebih enjoy kerja ama Samson daripada ama lo Tarzan.” -> serius, kalimat semacam ini pernah gw denger, dari Minky Momo di depan Tarzan langsung.

Kalimat kedua: “Tarzaaaan Zan Zan Zan.. lo tau ga kemaren gw dipojokkan anak-anak? Sebenernya itu bukan yang pertama loh. Gw bingung musti gimana. Lo bisa bantu klarifikasi ke anak-anak?”

Naah enakan mana coba didengernya?

Sekali lagi, membandingkan ini ga salah asal tujuannya terarah. Selamat membandingkan!

Menghabiskan Uang Selalu Gampang: Bersyukur

Monday, February 06, 2012
Untuk beberapa wanita, belanja baju sering jadi kegiatan paling menyenangkan: keliling-pilih-coba-ngaca-cantik-beli! Untuk sebagian yang lain, toko kosmetik adalah tempat favorit dengan kegiatan yang mirip: lihat-konsultasi-membayangkan seperti apa hasilnya saat dipakai-beli! Sebagian lainnya menganggap salon adalah surga: spa, lulur, creambath, facial. Banyak juga yang menjadikan supermarket tempat favorit: keliling-dorong trolley-ambil ambil ambil-bayar! Atau sekedar menghabiskan cadangan uang untuk makan enak seharga 70k sekali makan. Banyak cara untuk menghabiskan uang, selalu. Tapi pernahkah terpikir susahnya mencari uang?

Beberapa hari yang lalu, gw melihat seorang bapak-bapak jualan poster keliling di sekitaran pasar Kordon, Bandung. Oke gw pertegas, sang bapak poster jualan pada jam 19.30an, berjalan kaki membawa beberapa lembar poster di tangan dan sebuah tas ransel di belakang. Sepintas sang bapak tampak udah lemes kelelahan. Waktu gw antri makan, sang bapak poster mendekat ke kerumunan orang di deket gw lalu menawarkan dengan lirih “Poster teh?”. Entah kenapa gw refleks menggeleng, yang kemudian gw sesali kenapa gw menolaknya. Refleks geleng ini tampaknya karena dalam alam bawah sadar gw, gw berpikir gw ga butuh poster-poster ini, poster binatang-binatang, menghafal alphabet, buah-buahan dsb. Padahal, 18-15 tahun yang lalu gw koleksi poster semacam itu setumpuk tebal di rumah. The point is, sang bapak bisa jadi adalah seorang kepala keluarga yang harus menghidupi istri dan anak-anaknya, menyekolahkan anak-anaknya dan harus memenuhi kebutuhan mereka. Hanya dari menjual poster?? 

Ga lama setelah gw dan semua orang-orang di sekitar gw menggeleng, sang bapak langsung pergi. Beliau tidak memaksa atau memelas seperti halnya banyak pedagang keliling lain. Begitu diberi gelengan, sang bapak pergi. Mungkin terlalu lelah untuk merayu kami. Dan sampe sekarang gw masih menyesal kenapa gw menggeleng.
Seketika gw bersyukur. Betapa gw memiliki kehidupan yang teramat sangat sangat nyaman. Gw memiliki Bapak dan Ibu yang berpenghasilan tetap, gw bisa sekolah sampe setinggi ini dengan uang saku yang ga pernah terlambat sekali pun, gw bisa makan sesuai keinginan, dan gw bisa memiliki banyak fasilitas yang dengan atau tanpa meminta. Gimana dengan anak-anak sang bapak poster tadi?

ilustrasi memberi dengan senyum *gambar diambil pas PMB 2012*

Memang manusia adalah gudangnya serakah dan tidak puas. Dengan selalu mendongak, kita akan merasa selalu kurang. Dan dengan selalu menunduk, kita bisa jadi merasa lebih dan sombong. Yang harus kita lakukan adalah mendongak lalu menunduk, mendongak lagi lalu menunduk lagi. Maka hidup akan seimbang dan terasa lengkap. Dan jangan pernah lupa untuk bersyukur, atas apapun yang kita punya sekarang. Apapun. Karena banyak saudara kita yang bahkan untuk makan pun harus memeras keringat dulu.

Alhamdulillah? Bersyukur tidak cukup hanya dengan mengucap syukur dan berterima kasih. Bersyukur harus dilengkapi dengan berbagi kebahagiaan, dengan sedekah, dengan memberi. Karena kebahagiaan terletak saat kita memberi, bukan menerima. Menerima aja seneng, gimana memberi. Dapet senyum aja seneng, gimana ngasih senyum, oih senyum juga sedekah paling sederhana loh jangan lupa! :)

Jadi, 2011 kemarin, sudah cukup bersyukurkah kita? 2012 harus lebih baik! :)