Angsa Jenius

"Jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan."

Untuk Ibu Beranak Dua yang Menggores Luka

Friday, October 04, 2019


Hiduplah dua kakak beradik di sebuah rumah yang dihuni bersama ayah dan ibunya. Berempat, mereka berjanji saling menjaga dan saling menyayangi. Namun, janji selalu memiliki rintangan ketika akan ditepati.

Sering kali, kakak mencubit adiknya terlalu keras hingga berbekas. Biru lebam yang bertahan hingga beberapa hari, menyisakan tangis tiap kali bekasnya tersenggol. Bukan cubit lantaran benci, kakak mencubit lantaran gemas.

Di lain waktu, kakak mengambil paksa mainan adik hingga adik menangis histeris. Sang ibu terkejut, tak sempat berpikir jernih, ia tegur anak sulungnya dengan suara keras. Sekarang, kedua anaknya menangis.

Hari berikutnya, kakak sedang fokus bermain lego. Ia susun dengan hati-hati tiga potong kue yang diberi lilin tinggi, kemudian diletakkan di pinggir meja seraya berkata bangga "Aku jualan kuee, ibu mau nggaaak?", lalu adik menghampiri. Dengan mata berbinar, ia raih kue dari lego yang disusun kakaknya. Kakak marah, ia dorong adiknya hingga terbentur kepalanya. Ibu terkejut, tak sempat berpikir jernih, ia tegur kakaknya dengan suara keras dan tangan terangkat ke udara. Seperti hendak memukul, tapi berhasil ia tahan. Tangannya hanya memukul udara, tak mengenai kulit anaknya. Namun sepertinya, udara mewakili hati anak sulungnya. Hati anak sulungnya ikut terluka meski rasa sakit pukulan itu tak dirasakannya.

Anak dua.
Bukan kakak yang meminta ia menjadi yang pertama.
Bukan ia juga yang meminta ibu melahirkan orang lain yang harus ia panggil adik, yang serta merta harus ia jaga, harus rela ia berbagi mainan padanya, harus rela waktu berpelukan sebelum tidur terbagi dua, harus rela memeluk ibu dari punggungnya karena ibu sedang menyusui adik sedangkan ia sangat ingin dipeluk ibu di penghujung hari, untuk melepas lelahnya, mencari sumber ketenangannya.

Anak dua.
Apakah melindungi yang satu berarti harus melukai yang lain?
Apakah mencegah adik terluka berarti harus mengganti menggores luka pada kakaknya?

Untuk semua ibu yang sedang berjuang mencintai anaknya, berkali-kali menghela nafas panjang sambil memejamkan mata hanya agar tak terlontar kata-kata menyakitkan yang menggores jiwanya, kita sedang berjuang bersama. 

Jawaban Orang Tua Pemalas

Tuesday, October 01, 2019


Anak-anak adalah makhluk paling ingin tahu sedunia. Aku pernah baca, dalam 12 jam, mereka bertanya 300 pertanyaan. Dan 82% anak-anak biasanya lebih dulu nanya sama ibu dibanding sama ayahnya. Itu pun ketika nanya ayah, 24% akan dijawab "Sana tanya ibu.". Artinya dalam satu jam rata-rata akan terlontar 25 pertanyaan.

Kenapa? Itu apa? Ini gimana? Kok bisa?
Daaaan seterusnya, dan seterusnya.

Kabar baiknya, otak anak balita lagi kinclong-kinclongnya, mereka bisa menyerap apa pun dengan sempurna. Tanpa filter. Dan apa yang mereka dengar akan membentuk persepsi mereka tentang dunia. Sejak beberapa bulan lalu, Afiqa lagi sering nanyain soal polisi karena lagi banyak razia di jalan. "Buk itu pak polisi ya? Ngapain sih buk?" dan dijawab "Oh itu lagi razia, kalau naik motor nggak pakai helm nanti ditilang. Stop! Siapa ini kok nggak pakai helm?"

Dua bulan sejak itu, Afiqa jadi sering cerita tentang polisi, tapi yang diulang-ulang adalah polisi nyetop lalu nilang kita karena kita nggak pakai helm. Eh nyetop itu sebuah kata atau bukan ya hahaha, ya pokoknya paham lah ya maksud aku. Di situ aku sadar ada yang salah. Persepsi Afiqa tentang polisi harus diluruskan, karena yang ditangkap oleh Afiqa polisi itu tukang tilang, kalau nggak pakai helm nanti dimarahin pak polisi.

Setiap hari aku harus mengulang-ulang bahwa polisi itu tugasnya mengatur biar lalu lintas tertib. Pakai helm itu supaya aman, bukan supaya tidak ditilang. Pak polisi itu tidak suka asal nyetop, dia nyetop pas ada razia aja, itu pun kalau kita melanggar aturan. Kita diingatkan supaya kita aman.

Setiap hari, berkali-kali aku meluruskan persepsinya supaya nggak salah. Bisa aja kudiamkan, tapi apa ya aku rela dia tumbuh dengan pemahaman yang salah?

Hal serupa tapi tak sama aku temui juga ketika ada anak yang di rumah susah makan, lalu ibunya bilang "Ayo makan, kalau nggak mau makan nanti dimarahin bu guru loh." Duh pengin nangis dengernya 😓😓 Familiar nggak sama kasus begini?

Atau ketika anak nggak mau diajak berdoa sebelum tidur, trus orang tuanya bilang "Nanti dimarahin bu ustad loh kalau nggak berdoa."
Atau ketika dia nggak mau gosok gigi, trus orang tuanya bilang "Nanti disuntik trus dibor sama dokter gigi loh soalnya giginya bolong."
Dan ribuan kalimat serupa yang aku yakin kita semua udah pernah dengar. Buat aku, kalimat-kalimat begitu adalah kalimat yang keluar dari mulut orang tua yang malas menjelaskan. Karena itu kaya jalan keluar instan supaya anak melakukan apa yang orang tuanya mau, tanpa anak banyak nanya. Padahal apa coba hubungannya nggak makan dengan dimarahin bu guru? Nggak ada. Yang ada juga ibu kandungnya yang marah-marah.

Lalu, kalaupun kalimat itu benar secara logika, kaya gigi bolong lalu disuntik dan dibor dokter gigi, secara pembentukan persepsi itu tetap salah. Anak bakal membentuk image dokter gigi sebagai orang yang nggak menyenangkan, suka nyuntik dan ngebor gigi, ah malas lah ke dokter gigi. Akibatnya kita juga yang susah kalau suatu hari nanti gigi anak bolong dan harus dibawa ke dokter gigi.

Boleh nggak setuju, tapi tetap, buatku jawaban-jawaban seperti itu adalah jawaban orang tua yang malas memberi penjelasan dan malas menjawab pertanyaan. Anak bertanya 25 kali sehari, kalau sekarang dijawab asal-asalan, mungkin saat ini masalah selesai, tapi di otaknya akan terbentuk persepsi yang salah.

Masa iya sih rela anak sendiri melihat dunia dengan kacamata yang salah?
Pembaca angsajenius jangan gitu ya, aku yakin yang baca blog ini pintar-pintar dan tidak pemalas menjawab pertanyaan anak-anaknya 💖

Salam,
Rahma Djati

Apresiasi Ibu Rumah Tangga

Wednesday, September 11, 2019


Ada hal-hal yang tampak oleh khalayak, sehingga bisa mendapat banyak apresiasi. Ada juga hal-hal yang diselesaikan dalam hening, tidak banyak yang tahu, cukuplah dirinya sendiri dan beberapa orang dalam hitungan jari yang mengapresiasi.

Di rumah, menjadi ibu, menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak kenal kata selesai, mengurus mengasuh dan mendidik anak; adalah satu dari banyak hal pada kategori kedua. Hening saja, tapi akan berbuntut panjang jika tidak dikerjakan.

Hari ketika seorang wanita melahirkan anaknya, terlahir juga banyak konsekuensi baru yang harus ditanggungnya. Sekali menjadi ibu, artinya selamanya hidupnya tak lagi miliknya sendiri. Setiap keputusan akan disertai pertimbangan untuk suami dan anak-anaknya. Mulai dari menu masakan sampai destinasi liburan, termasuk ketika ingin pergi jauh sendirian. Semuanya akan disertai pertimbangan bagaimana keluarganya.

Hidupnya tak lagi miliknya sendiri.

*

Jadi ibu itu nggak gampang, makanya kalau kata guyonan klasik, hadiahnya surga, kalau jadi ibu itu gampang hadiahnya cuma kipas angin. Yang bikin guyonan pertama kali mungkin nggak pernah ikut jalan sehat sekecamatan ya, nggak tahu dia kalau mau dapet hadiah kipas angin aja sekarang susah 😂

Baca juga Every Mom Has Their Own Battle

Karena susah makanya ada banyak grup support dan sharing ibu-ibu. Coba lah tengok handphone suami, ada berapa grup support bapak-bapak di sana? Di handphone Banggez aja nggak ada sama sekali, ada dua grup orangtua pembelajar itu pun karena istrinya yang jadi admin dan inisiator grupnya jadi dia dipaksa masuk. Ahem.

Aku merasakan betapa pentingnya grup support ibu-ibu karena sebagai ibu baru aku punya ribuan pertanyaan yang kelamaan kalau cari jawabannya di buku atau di akun parenting di instagram. Dan kadang mau nanya orang tua atau mertua juga kurang relate karena kondisi bayi sekarang dan bayi duapuluh tahunan lalu banyak bedanya, ilmu juga udah banyak updatenya. Kaya pas aku lupa di suhu berapa derajat bayi harus minum paracetamol, kompresnya pakai air panas atau air biasa, kalau lecet habis nyusuin harus diapain, anak lagi tantrum aja juga harus gimana kita supaya nggak ikut marah-marah.

Jadi kalau kalian ibu baru, cari deh grup support sesama ibu yang bisa jadi tempat berkeluh kesah dan mengumpulkan kewarasan yang kadang berserak bareng sama lego yang mencar di seluruh penjuru rumah. Kalau belum nemu juga, aku punya dua grup orangtua pembelajar dan masih ada slot. 😁 Oh bukan grup jualan kok, jadi nggak akan ada broadcast promo produk terselubung. Aman.

Loh kok malah jadi promosi grup 😛

Karena jadi ibu itu pekerjaan hening, nggak kaya di kantor yang jelas ukurannya ketika kita achieve sesuatu, ada reward yang terukur juga minimal apresiasi dari sesama temen kerja; makanya KITA HARUS BISA MENGAPRESIASI DIRI SENDIRI DONG, GENGS!

Dari pagi udah sibuk nih kita, nyiapin sarapan, nyiapin bekal suami dan anak-anak ke sekolah, mandiin anak-anak, nyuapin anak sarapan sampai kitanya sendiri sarapannya dirapel sama makan siang. Trus beresin rumah, ngerapiin mainan yang nyebar ke kolong kursi dan bawah lemari tv, eeeh baru aja kinclong belum dua jam, anak pulang ya udah jadi kapal pecah lagi. Nemenin main, jadi sapi-sapian yang kudu merangkak sambil dinaikin anak sampai lutut mati rasa, main petak umpet sampai limapuluh kali nggak bosen-bosen, bacain buku yang sama sepuluh kali sehari.

Nafas dulu, ganti paragraf biar nggak pusing bacanya.

Nyuapin makan siang, yang kadang dilepeh atau ya mendadak "Nggak mood makan aja aku buk.". Ngelonin tidur siang yang bisa satu jam sendiri proses dari bawa ke kamar sampai bener-bener merem. Selonjor sebentar lihat-lihat story instagram, ehh anaknya udah bangun aja. Ngompol. Lalu harus bersihin kasur bekas ompol, langsung mandiin anak yang nangis nggak mau mandi tapi dipaksa mandi karena habis ngompol. Lalu sore setelah ashar, keluar rumah sepedaan sambil petik buah cersen punya tetangga, supaya anak ada kegiatan outdoor. Pulang menjelang maghrib, si anak yang sudah mandi kotor lagi karena pas sepedaan jatuh jadi ya bersih-bersih lagi. Sehabis maghrib, manasin makan malam lalu nyuapin anak-anak makan, lalu nemenin main lagi lalu ngelonin lagi.

Nggak kelihatan dari luar, tapi kalau dilihat pakai cctv lalu diplay dipercepat pasti yang nonton ikut ngos-ngosan.

Baca juga tentang susahnya sabar ngadepin anak di sini Sabar Tak Semudah Itu, Nona

Sejak jadi ibu aku baru sadar sih makna mengapresiasi diri sendiri itu harusnya seperti apa. Untuk tetap waras, jadi pusat keluarga yang siap mencintai seisi rumah, ibu harus mencintai dirinya sendiri dulu dong. Ya nggak? Ya kan ya dong.

Pertama. Aku minta dipuji. Banggez dulu suka lupa memuji istrinya karena dia terkesima sama perempuan lain a.k.a. anaknya 😏 Kalau udah begini aku nih yang akan menggiring opini sampai suami aku mau memuji-muji aku yang banyaakkk sampai aku kenyang pujian.

Bang, hebat ya aku bang. Susah tahu ngadepin uni hari ini, nangis marah-marah aja capeeek. Hampir aku kepancing, ah tapi aku bisa nahan. Hebat ya aku?
Iya hebat ibok.
Mosok? Aku kenapa emang?
Lalu dengarkanlah suami menyebut banyak hal baik tentang kita. Ahem.

Atau kalau aku lagi kotor hatinya, suka iri lihat pencapaian orang lain, aku akan minta dipuji dengan pola begini.

Bang, aku bisa ya kerja kaya si ini atau si anu.
Bisa lah.
Iya ya, aku kan pinter ya, udah S2 lagi.
Makasih ya bok udah mau nemenin dan mendidik anak-anak kita, kamu kalau mau kerja pasti hebat juga tapi aku lebih suka kamu di rumah.
Abang suka aku di rumah aja ya? Padahal kalau kerja uang kita banyak kali ya bang HAHAHA.
Makanya di rumah yang semangat, harus ada bedanya dong uni sama adek di rumah diasuh ibuknya dibanding kalau diasuh pembantu.
Tapi ada bedanya nggak?
Ya ada lah.
Lalu bersiaplah mendengarkan suami menyebut banyak hal tentang betapa senangnya ia karena kita di rumah.

Minta dipuji boleh banget kok, tapi ya jangan koar-koar ke banyak orang aja. Namanya nanti sombong dan haus pujian 😂


Kedua. Reset standar apresiasi. Kalau terus nunggu pujian orang, ya capek sist. Wong pujian suami aja kadang kudu dipancing, apalagi pujian orang lain. Suami loh yang lihat jumpalitan saltonya kita tiap hari. Jadi ya puji diri sendiri, kasih reward untuk diri sendiri karena hari ini berhasil nggak kepancing marah nungguin si anak tantrum satu setengah jam, misalnya.

Nggak usah mahal-mahal, yang ada di rumah aja bisa kok. Bikin es coklat dan ngemil astor yang harusnya buat bekal sekolah, sambil dengerin lagu Bollywood misalnya. Dilakukan pas anak tidur, nanti anak bangun kita udah segar, bisa mandiin sambil bersenandung ala Aishwarya Rai. Gendong dari kamar mandinya sambil joget muterin tiang, persis Aishwarya lagi nari Dola Re Do. Bedanya dia pakai saree, kita pakai handuk buat gendong bayi.

Kemarin pas aku upload di instastory yang isinya daily core hari itu, di list paling bawah ada Dengerin lagu India, banyak yang DM nanyain beneran itu isi listnya begitu? Dilaksanakan?

Ya bener lah, bahkan pas upload instastory itu aku lagi muter playlist lagu-lagunya Shreya Goshal. Aku butuh bersenang-senang, yang instan, nggak perlu keluar rumah, nggak perlu keluar uang. Bollywood songs to the rescue.

Ketiga. Kalau alarm diri sudah bunyi karena jadi nggak puas sama hidup sendiri, jangan buka media sosial. Ulang-ulang mantra ini,
Comparison is the thief of joy.
Biasanya kalau udah mulai banyak nggak puas sama hidup sendiri, sebab utamanya itu karena melihat hidup orang lain. Temen makan di cafe, liburan ke kutub utara lihat aurora, baru beli rumah lalu sering update progres ngisi rumahnya, ootd pakai brand-brand hits di instagram, daaaan lain-lain. Cuma gara-gara melihat kaya begini, kita jadi inferior karena kita sarapan aja dirapel sama makan siang, itu pun kadang ngabisin makanan si anak aja. Boro-boro aurora, lihat bulan purnama sepulang masjid aja rasanya udah weowe wow, rumah juga masih di awang-awang karena masih setia di rumah mertua, baju juga dasteran aja. Baju pergi juga nggak banyak karena jarang pergi-pergi.

Dah, dah. STOP! Tutup media sosialmu, baca buku aja lah atau ngapain aja yang nggak memancing hati semakin keruh.

Gitu ya?
Jadi ibu itu, saking perhatiannya sama anak dan suami sampai suka lupa perhatian sama diri sendiri. Saking fokusnya bikin keluarga bahagia sampai suka lupa membahagiakan diri sendiri.

Selamat Rabu sore, jangan lupa nanti malam bersenang-senang! 😉

#KolaboRabu with Amalia @hebadaragema: Jerat Laki-Laki Soleh Virtual

Wednesday, August 21, 2019
Instagram, panggung di mana semua orang bebas menampilkan apa yang mereka mau. Telah tersedia jutaan pemirsa, kita hanya perlu memutuskan memilih pemirsa mana yang berpotensi tertarik pada postingan kita. Dan bagi sebagian orang, instagram benar-benar topeng yang sempurna.



Kali ini aku menghadirkan segmen baru di angsajenius, #KolaboRabu, kolaborasi dengan orang-orang yang punya ilmu lebih untuk berbagi insight dengan pembaca angsajenius yang akan aku posting setiap hari Rabu. Karena ilmu yang abadi adalah yang dibagi, ehem. Dan untuk membuka segmen ini, aku ngobrol dengan mbak Amalia Dian Ramadhini (instagram: @hebadaragema).

Soleh virtual, istilah yang aku pakai untuk menyebut mereka yang soleh hanya di media sosial, tampak baik, selalu mengajak kebaikan, banyak postingan bernada dakwah, bahkan foto diri pun bisa disulap menjadi dakwah berfaedah. Tapi di dunia nyata, siapa tahu?

Pernah dengar cerita seperti itu? Atau malah pernah menyaksikan sendiri?

Kalau kamu merasa kasus semacam ini cuma ada di FTV, ah nggak mungkin lah kejadian beneran, eits.. mbak Amal sendiri udah sering dapat curhatan dari teman-teman dan followersnya yang jadi korban atau saksi kasus-kasus kaya gini. Dan ternyata ini makin marak karena ada selebgram yang gembar-gemborin nikah muda setelah kenal dari media sosial. Wah ini udah lama sih hebohnya, dulu mereka heboh ngomporin dan ngajak nikah muda beserta pamer proses kenalnya yang bermula dari like dan komen postingan instagram.

Baca juga cerita aku bisa nikah sama sahabat sendiri di Rumah Kami Separuh Joglo Separuh Gadang

*

Teman-teman memanggilku Zia. Suatu pagi di bulan Juni, aku terbangun dan mendapati DM instagram dari seorang laki-laki yang tidak kukenal. Sebutlah ia Jo. Dengan santun Jo menyapa, memperkenalkan dirinya dan mengutarakan niatnya ingin mengenalku, jika semua cocok ia berniat melamar dan menikahiku. Segera aku scroll akun instagramnya, dan semua yang ku temui adalah postingan santun yang mengajak kebaikan. Terdapat beberapa foto dirinya, dan semua memberikan kesan baik.

Kami pun berkomunikasi lewat chat, bertemu beberapa kali dalam proses taaruf, hingga akhirnya kami menikah. Satu bulan, Jo tampak persis seperti yang ia tampilkan di instagramnya. Memasuki bulan kedua, aku seperti mendapati hidup bersama orang lain.

Jo kasar padaku, ia tidak cukup sabar ketika aku dianggapnya lama melakukan sesuatu. Sering kudengar ia berteriak saat menegurku. Padahal baru dua hari lalu kulihat ia memposting tentang suami idaman yang lembut pada istrinya.

Setelah menikah, aku juga mendapati bahwa dia pernah mengirim DM serupa yang dikirimkannya padaku, mengajak berkenalan dan berniat melamar, pada setidaknya lima perempuan. Lima yang ku tahu, yang tidak ku tahu entah masih ada berapa lagi. Setiap kali kutanya tentang ini, Jo selalu mengalihkan topik pembicaraan.

Diteriaki, dimarahi setiap hari, oleh orang yang paling kuharap sapaan lembutnya. Semula aku selalu mencari alasan bertahan, dengan harapan Jo akan berubah seiring usia pernikahan kami.

Menikah, di usia 23, dengan laki-laki yang sepenuhnya asing namun terlihat sangat santun dan selalu mengajak kebaikan di instagramnya, namun ternyata berbeda 180 derajat dengan sikapnya padaku di rumah. Seandainya dulu aku bersabar dan tidak tergesa-gesa, mencari tahu tentang Jo dengan lebih teliti. Seandainya.. seandainya.. 

Lalu aku tersadar, tak ada gunanya berandai-andai.

*

Sayangnya, cerita seperti Zia ada banyak di kehidupan nyata. Banyak yang bertahan karena berbagai alasan, tapi banyak juga yang kandas di usia pernikahannya yang masih hitungan jari.

Nggak ada yang salah dengan menampakkan sisi terbaik diri kita di media sosial. Nggak ada yang salah juga dengan mencari jodoh lewat proses taaruf, soalnya yang salah itu pacaran. Tapi kalau cari jodoh di media sosial....................

... jadi salah kalau cuma media sosial aja yang dijadikan patokan, tanpa cari tahu lebih dalam karena merasa di media sosialnya semua sudah ditampilkan.

Baca juga tulisan ustad Salim A.Fillah untuk refresh cinta suami istri di Ingatkan Suamimu untuk Bercermin.

"Dulu pernah ada loh laki-laki yang agak terkenal di twitter, ngirim DM ngajak nikah banyak perempuan. Yang dinikahin? Nggak adaa. Malah ada yang dihamilin.", ujar mbak Amal. Ngeri kan? Jadi gimana dong? Mbak Amal ngasih beberapa tips nih supaya kamu nggak terjebak terat laki-laki soleh virtual.

Satu, kalau ada yang DM kamu untuk ngajak kenalan atau nikah, jangan geernya yang diduluin. Soalnya bawaan perempuan kan gampang geer, gampang baper, jadi kali ini kamu harus pakai logika selogis-logisnya. Kalau memang dia serius, lanjutkan proses taaruf dengan perantara yang terpercaya. Kenapa harus ada perantara? Selain buat menjaga interaksi juga untuk cari tahu semua yang perlu kamu tahu. Tanya temannya, orang tuanya, tetangganya. Dan proses mencari tahu ini akan lebih gampang dilakukan oleh orang lain, bukan kamu sendiri.

Ingat nggak cerita bunda Khadijah RA waktu mau melamar nabi Muhammad SAW? Bunda Khadijah nggak langsung tanya sendiri tuh, tapi lewat orang kepercayaannya yang nanya-nanya dan cari tahu sampai akhirnya bunda Khadijah mantap. Kalau kamu nggak tahu cerita ini, segera buka siroh yang ada di rumah dan baca. Kalau kamu belum punya buku siroh nabawiyah, anggarkan bulan depan untuk beli ok!

Kedua, jangan terpaku sama apa yang ditampakkan di media sosial. Semua orang ingin terlihat baik, nggak ada yang ingin terlihat negatif, itu kenapa kita hanya memposting yang baik-baik di media sosial. Nggak percaya juga? Coba deh berapa kali kita posting makanan warteg yang kita beli, trus berapa kali kita posting makanan di restoran fancy?

Tiga, kalau dia terlalu aktif di media sosial, pikir lagi deh kamu sanggup nggak hidup dengan orang kaya gitu. Yang nggak lepas handphone, rajin upload-upload, pegang handphone muluuuu karena setelah upload-upload dia akan lanjut sibuk membalas DM-DM yang masuk. Kalau kamu oke ya lanjut, kalau kira-kira kamu risih ya pikir lagi deh.

Empat, kalau kamu menemukan ada kekurangan yang susah kamu toleransi lalu dia berjanji akan berubah setelah nikah, pikir lagi deh. Karena nggak ada jaminan dia akan beneran berubah setelah menikah. Misalnya, laki-laki itu tampak sempurna di instagram tapi di dunia nyata dia merokok. Kamu nggak suka, tapi dia berjanji akan stop merokok setelah menikah. Apa jaminannya dia beneran akan stop merokok? Kalau dia tetap merokok maka kamu akan gimana? Kalau kamu siap menerima segala konsekuensi dia nggak berubah, ya boleh lah lanjut. Tapi kalau kamu kebayang akan bete setiap hari ketemu asap rokok di rumah, ya jangan diteruskan.

Menikah itu bukan solusi kamu galau skripsi, bukan juga solusi kamu nggak dapat-dapat kerja.
Menikah adalah solusi yang menghadirkan masalah-masalah baru.
Baca juga: Pake Jilbab di Rumah Mertua Nggak Seribet Itu

Tentang ini, kita bahas lain waktu.
Terima kasih udah baca! 😊

Bukan Cuma Parenting, Kita Juga Harus Belajar Childrening

Sunday, August 18, 2019
We learn about parenting, we learn about how to be a good parent. But, do we learn about childrening? Well maybe that's not even a word. Do we learn about how to be a good child to our parents and in laws? Do you?



Trend Ibu Milenial, Belajar Parenting

Banyak yang menyebutnya sebagai kebutuhan, which I agree. Tapi makin ke sini belajar parenting nggak cuma jadi kebutuhan melainkan udah jadi trend. Di manapun kamu berada, kamu bisa nemu seminar parenting dengan mudah, minimal bermodal smartphone yang seminarnya diadain via kuliah whatsapp (kulwap) atau video conference. Pembahasan ini nggak pernah luput dari setiap grup ibu-ibu muda, yang kemudian disusul dengan banyaknya referensi buku, link video, link blog dan link marketplace bermunculan. Mulai dari hal mendasar kaya eek anak aku normal nggak ya, ini bruntusan alergi atau kena ASI ya, sampai dengan how to handle temper tantrum, pendidikan seks sejak dini, dan isu-isu parenting lain. Kalau ditulis satu-satu, mungkin postingan ini bakal jadi cerbung 12 episode 😂

Informasi yang sekedar tahu tapi banjir saking banyaknya yang dibaca. Aku yakin setiap ibu baru pernah ngalamin tsunami informasi, terlalu banyaaakk info yang diterima, dari buku, instagram, grup watsap, blog orang, video, materi kulwap, hingga akhirnya........... bang! Your brain give up, you cannot handle it anymore. Lalu bingung, harus ngikutin yang mana karena ada banyak sumber, banyak pula yang kontradiktif. 

Lalu.... 
Kita belajar lagi, demi menjaga amanah yang ditunggu-tunggu ini. Seminar lagi, baca lagi, nontonin video seminar lagi. Ratusan ribu mah enteng, jutaan juga dikeluarin demi anak mah. Memang, pengeluaran buat anak ini emotional buying, mak. You got to admit it. Butuhnya sabun mandi, yang harga tigapuluh ribu aja cukup sebenernya karena ngga ada alergi dan semua fungsi sabun terpenuhi, tapi atas asas "demi anak", dan atas rekomendasi ibu-ibu di grup, rasanya kamu harus memberikan yang lebih baik buat anak. Ada yang lebih baik, kenapa harus beli yang lebih murah. Akhirnya belilah sabun seharga seratus ribu. 

Sedangkan krim malam emaknya beli yang share in jar biar hemat 😂 

All out banget pokokmen. Semuanya atas asas "demi anak, masih mau coba-coba?" loh kok kaya slogan minyak kayu putih.

Meanwhile...............................

Pernah ngga kita belajar tentang birrul walidain? Belajar dengan serius gimana menjadi anak, seserius kita belajar menjadi orang tua. Pernah?

Karena seringnya, kita merasa jago seiring jam terbang. Kalau kata pepatah alah bisa karena biasa, padahal ya belum tentu juga. Kita merasa nggak perlu belajar menjadi anak yang baik seperti apa karena kita merasa udah bisa jadi anak yang baik, toh udah puluhan tahun jadi anak masa iya selama ini nggak baik, selama ini salah dong?

Dan, manusia cenderung nggak suka mengakui kesalahan, jadi untuk ngaku selama ini belum baik ke orang tua aja pasti butuh proses yang nggak sebentar. Minimal proses gejolak batin sendiri, maju mundur. Kayanya aku banyak salah deh sama ibu, ah tapi ibu juga sih begitu sikapnya ke aku jadi ya wajar lah bukan salahku juga. Misalnya.

Setelah baca ini, mungkin sudah saatnya kita berkaca, sudah sebaik apa kita menjadi anak buat orang tua dan mertua? Menjaga perasaannya, cara berkomunikasi dengan orang tua yang biasanya kembali kaya anak kecil maunya semua diturutin, tentang membantu orang tua secara finansial, ketika berkonflik harus gimana. Wah ini panjang banget sih kalau ditulis satu-satu, insyaa Allah next post ya aku jabarin, oke!

Biar lengkap, bantu aku dong bikin daftar hal-hal esensial yang harus kita pelajari sebagai anak. Kalau sebagai ibu kan banyak tuh misalnya handling tantrum, mpasi, kesehatan anak dan pertolongan pertama, soal gadget dan anak, daaaan ratusan hal lain yang nggak kalah pentingnya. Nah kalau sebagai anak, apa lagi ya?

Cerita Afiqa #2 Jilat Jari


Salah satu hal paling menakjubkan dari memiliki anak adalah menyaksikan mereka belajar hal baru dengan begitu cepat. Lihat dan dengar satu kali, hap! serap semuanya tanpa cela. Seperti tadi sore sehabis makan sama-sama, Afiqa yang selesai duluan menuju tempat cuci tangan.

Afiqa: Buk, habis makan tuh sunnahnya tangannya dijilat ya buk *bernada ngasih tahu

Wow, inyik dan ucinya Afiqa sampai kaget dengar anak tiga tahun ngomong kaya gitu. Padahal.... baru kemarin aku ngasih tahu Afiqa bahwa habis makan pakai tangan, Rasul ngajarin kita jilat jari. Satu kali, itu juga nggak sengaja dan nggak niat-niat amat, cuma singkat aku bilang kalau jilat jari sehabis makan itu sunnah sambil aku jilatin jari. Satu kali yang ternyata nempel banget. Masyaa Allah banget nggak sih otak anak ini *berkaca-kaca, udah ngajarin apa aja aku huhuhu.

Pernah kan kaya gitu, ngajarin sesuatu sekali yang ternyata ditangkap sempurna sama si anak?

Agar Melarang Tidak Menjadi Drama

Saturday, August 03, 2019

Assalamu'alaykuum 😄

Kalau ditanya apa yang paling susah dari punya anak usia tiga tahun, salah satu jawabannya adalah kalau dia nggak mau dengar apa yang kubilang. Semakin dilarang, semakin drama. Nangis sampai kedengaran ke ujung jalan yang artinya tiga rumah ke samping, wow, atau justru semakin dilarang semakin semangat larangan itu dilakukan.

Tapi memang benar sih, pada akhirnya jadi orang tua itu mengulang instruksi berkali-kali dan mengulang larangan berkali-kali juga. Sedangkan menjadi anak itu ya mendengar instruksi dan larangan diulang beeerrrrrkali-kali. Nggak percaya? Coba deh hari ini aja, sudah berapa kali kalian ngasih instruksi ke anak dan berapa kali kalian melarang anak ini dan itu? Pasti nggak terhitung 😛

Sekarang coba kita telusuri dulu deh, yuk. Kenapa sih anak semakin dilarang semakin drama? Salah satunya kalau aku boleh tebak, pasti karena nggak ada aturan yang jelas yang sama-sama dipahami kedua belah pihak, orang tua dan anak. Atau kalau aturan memang sudah ada, pasti karena praktiknya nggak disiplin, aturan nggak ditegakkan dengan tegas. Benar nggak?

Kejadian yang lagi hot dan terulang hampir tiap malam di keluarga kami adalah drama Afiqa nggak mau pulang, Jadi setiap habis maghrib, aku, Afiqa dan Zara selalu ke rumah inyik. Lagi main bahagia happy-happy, mood Afiqa bisa berubah 180 derajat hanya gara-gara kuajak pulang. "Nggak mauu Afiqa mau bobo di inyik aja buk, ya buk? Boleh nggak buuk? Huuuuaaaa." sambil nangis teriak-teriak, lari kabur supaya nggak kugendong. Padahal briefing sudah, kuulang-ulang kalau Afiqa nanti tidur sama ibuk ya biar ketemu ayah. Iya-iya di depan, nyatanya pas mau diajak pulang tetap aja drama.

Berulang lagi dan lagi dan lagi. Sampai akhirnya aku sadar bahwa ada yang salah nih kenapa tiap malam drama cuma mau diajak pulang aja.


Aturan, yang sama-sama dipahami semua pihak dan disiplin dilaksanakan. Ini yang terlewat.

Memang sudah ada kesepakatan antara aku dan Afiqa bahwa dari satu minggu, Afiqa boleh tidur di rumah inyik dua kali. Harinya bebas. Sepertinya otak anak susah mengingat aturan ini, jadinya kesannya suka-suka boleh tidur sama ibuk atau sama inyik. Akhirnya aku dan Afiqa bikin kesepakatan baru, yang kuulang-ulang untuk memastikan dia paham. Crystal clear. 

Kalimat yang kusampaikan kurang lebih begini:
Dalam satu minggu ada tujuh hari, Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu. Afiqa boleh bobo sama inyik hari Jumat dan Sabtu, hari lainnya, Senin Selasa Rabu Kamis dan Minggu sama ibuk.

Setelahnya, Afiqa jadi rajin ngabsen hari ini hari apa dan dia jatah tidurnya sama siapa.

Buat kesepakatan dengan anak
Sepenting itu loh membuat kesepakatan bersama anak, lebih penting lagi memastikan kesepakatan itu udah dipahami oleh anak. Karena tanpa aturan dan kesepakatan, apa dasar kita melarang-larang? Berlaku juga kalau kita mau menerapkan aturan nggak boleh makan permen di rumah misalnya. Jelaskan kenapa tidak boleh dan kapan ada pengecualian, misalnya kalau naik pesawat baru boleh makan permen. Padahal naik pesawatnya setahun sekali pas mudik aja, tapi dengan memberi ruang untuk pengecualian gini anak jadi nggak kecewa-kecewa amat. Hahaha, ya nggak? Jadi ada secercah harapan bahwa boleh makan permen gitu.

Larangan hanya bisa diterapkan jika ada aturan yang sama-sama dipahami anak dan orang tuanya.

Jangan lupa diulang-ulang dan suruh anak yang jelasin seperti apa aturan yang sudah disepakati, untuk memastikan kedua pihak sama-sama paham. Trus kalau anak menolak, gimana? Tinggal diingatkan kalau ada aturan yang udah sama-sama disepakati. Aku biasanya menambahkan bilang "Afiqa lupa yaa?" soalnya entah kenapa kalimat Afiqa lupa ya itu bisa bikin dia membaik moodnya. Mungkin merasa dihargai karena nggak dianggap nggak paham aturan tapi dianggap lupa, yang mana manusiawi. Mungkiiin.

Sudah bikin kesepakatan dan aturan apa aja nih weekend ini?

NEW! Cerita Afiqa #1 Berdoa sama Allah

Friday, August 02, 2019

Assalamu'alaikuum!
Wah seneng ya udah mau weekend lagi, meski rasanya waktu kok cepat amat berjalan. Tahu-tahu udah weekend lagi, tahu-tahu udah akhir bulan, tahu-tahu suami gajian. Oops. Di bulan Agustus ini, aku mau bikin tajuk baru di angsajenius yaitu Cerita Afiqa. Isinya nggak jauh-jauh dari Afiqa tentu saja. Rasanya, membayangkan beberapa tahun lagi dia baca tulisan ini tuh.... indah masyaa Allah.

#1 Berdoa sama Allah

Suatu malam, Afiqa minta baca buku Allah Ciptakan Tubuhku-nya TGOF. Di situ dia menemukan gambar anak-anak memakai mukena kuning.

Afiqa: Buk mukenanya bagus ya. Afiqa mauu..
Ibuk: Uni mau? Berdoa dong, minta sama Allah.

Lalu dia mengangkat tangan,
Afiqa: Bismillah, ya Allah Afiqa mau mukena kaya di gambar ini loh yang warna kuning. Semoga paketnya cepat datang aamiin.
Ibuk: 😂😂😂 dalam hati membatin "Eheeemm paham amaaaat kalau sering ada paket isi belanjaan."

Demikian. Sampai ketemu di Cerita Afiqa berikutnyaaa! 

Sedikit Oleh-Oleh Kajian Pendidikan Seks dalam Islam

Saturday, July 27, 2019
Lagi rame Dua Garis Biru yaaa di mana-mana. Aku jelas belum nonton lah karena aku nggak bisa ke bioskop. Lebih tepatnya banggez nggak akan ngasih ijin ninggalin anak buat nonton doang. Dulu aku sedih banget pas nggak dikasih ijin kaya begini, beberapa kali sampai nangis saking kepenginnya nonton huhuhu. Tapi sekarang tidak lagiiii. Ya sabar aja lah nunggu filmnya ada di iflix atau hooq. Ehem.



Nah saking ramainya, di komplekku sampai ada pengajian ibu-ibu TK yang temanya pendidikan seks dalam Islam dikaitkan sama film ini. Jadi plot story filmnya adalah anak SMA yang hamil, jelas di luar nikah lah namanya juga anak SMA. Dan ya, selamanya kita berdoa anak-anak kita nggak seperti ini. Huhuhuhu.
Poin yang dijelaskan sih dasar banget ya tentang ngajarin aurat, ngajarin mana mahram mana yang bukan, hal-hal yang sebenarnya kita sudah tahu tapi kadang macet aja praktiknya.

Termasuk dalam ngajarin aurat adalah dengan nggak mandiin anak di shower umum terbuka setelah berenang. Please ke kamar mandi ya buk, ribet memang. Paham banget aku. Tapi hal kecil kaya gini penting banget karena anak akan kenal rasa malu dan konsistensi orang tuanya ngajarin menutup aurat itu kaya gimana. Coba bayangkan gimana bingungnya si anak kalau di rumah kita gembar-gembor "Pakai baju di kamar, tidak boleh keluar kalau belum memakai baju." tapi ketika di kolam renang, anak diijinkan mandi di tempat terbuka. Bisa jadi anak justru berkesimpulan kalau di rumah nggak boleh tampak aurat, di kolam renang dan di luar rumah boleh. Kan kachaw.

Tapi mengajarkan aurat dan mahram adalah poin ketiga dan keempat. Poin pertamanya adalah dengan bahasa cinta.Apa itu bahasa cinta? 

Begini ilustrasinya. Berapa banyak anak menjelang puber yang nggak berani cerita ke orang tuanya karena takut dimarahi? Aku pernah dapat chat WhatsApp dari sepupuku umur 12 tahun, yang intinya dia nanya, gimana ya caranya cerita ke ibu suatu kesalahan tanpa dimarahi. Karena penasaran aku tanya apa salah yang baru aja dia perbuat, dan akhirnya aku mendapat jawaban setelah sebelumnya berkelit-kelit sepupuku enggan menjawab. Makan di mall habis 100 ribu, pakai uang bayar SPP, karena nggak tahu itu all you can eat dan nggak tahu harganya segitu. I was like....wow! That could happen to me as well in the future. Sangat mungkin nanti Afiqa dan Tazara melakukan kesalahan serupa, trus mereka nggak mau bilang ke aku karena takut ku marahi. Dhuer! 

Kalau istilah abah Ihsan, kita terlalu banyak ngomongin anak bukannya ngomong sama anak. Komunikasinya searah, dan kita kebanyakan ngasih nasihat. Akibatnya anak nggak mau cerita detail tentang kehidupan pribadi ke orang tuanya, tapi justru ke teman-temannya. Ya kalau kuingat-ingat lagi, memang masa remaja aku lebih banyak cerita ke teman-teman sih dibanding ke orang tua. Kenapa? Karena takut dimarahi dan dianggap salah lalu dinasihati begini dan begitu. 

Balik lagi bahasa cinta. Untuk bisa ngobrol sama anak ini, dibutuhkan cinta. Ngobrol pakai bahasa cinta, artinya kita musti paham dulu tipe anak ini gimana pendekatan bahasanya. Soalnya aku lagi ngerasain sendiri betapa berbedanya dua anak dari sisi karakter dan cara ngpbrol. Afiqa tipe anak periang yang banyak bicara, vokal dan ambisius, dan sukanya mimpin. Ngobrol sama dia harus pakai negosiasi, kalau main suruh-suruh aja dia akan marah. Sedangkan Tazara, yang baru 8 bulan, adalah tipe anak yang nggak banyak ngomong dan lebih kalem. Nangis hanya kalau ditinggal atau sakit karena jatuh, kejedug atau digigit uninya. Ngobrol sama Zara harus lebih halus, yaa seenggaknya sampai saat ini. Nggak tahu deh beberapa tahun ke depan bakal kaya gimana. Jadi benar-benar harus kenal dulu seperti apa tipikal anak supaya kita bisa ngobrol dengan bahasa cinta yang paling sesuai.

Setelah bahasa cinta, adalah aqidah. Dan termasuk dalam aqidah adalah dengan nggak nakut-nakutin anak dengan dosa atau "Nanti Allah marah loh." karena ini cuma akan bikin anak berpikiran wah susah amat sih beragama, Allah gampang marah, nanti dosa. Padahal anak-anak sebelum baligh kan nggak dosa, ya kan? Tumbuhkan cinta, sampaikan bahwa Allah sayang sama kita makanya Allah suruh kita begini dan begitu.

Terdengar mudah?
Yes because it's always easier said than done. Ya tapi nggakpapa lah, namanya jadi orang tua memang harus berjuang. Hadiahnya aja surga. Kalau nggak berjuang nanti hadiahnya cuma kipas angin. 
Satu lagi. Dan ini penting, jadi kalau kalian menemukan saudara atau teman masih melakukan ini please dikasih tahu supaya nggak keterusan.

Perlakukan anak sesuai jenis kelaminnya. Jangan pernah, jangan pernah memakaikan baju perempuan ke anak laki-laki dan sebaliknya meski hanya untuk lucu-lucuan. No. Anak harus paham bahwa jika dia laki-laki maka dia harus bertindak seperti laki-laki, dimulai dari cara berpakaian. Karena banyaaakk aku lihat di sosmed aku, anak laki-laki dipakaikan kerudung lalu difoto dan dipost. Lucu katanya. NO! ITU NGGAK LUCU! Dari hal begini, anak bisa memaklumi kalau ada laki-laki berdandan dan bertingkah gemulai seperti perempuan, lama-lama dia akan memaklumi transgender. No, stop please! Huhuhuhu.

Kita jadi baik sama-sama yuk. Mungkin di masa depan, anak-anak kita akan saling mengenal dan berteman. Alangkah tenangnya hati kita kalau anak kita berteman dengan anak-anak lain yang baik juga, hasil didikan orang tua yang peduli dan mau belajar. Mau kan?

Persepsi Anak tentang Barang Branded

Wednesday, July 24, 2019
Siapa sih yang nggak suka barang branded? Kalaupun ada yang nggak suka, pasti masih lebih banyak yang suka. Dan kalaupun nggak suka barang branded, pasti ada alasannya. Misal sayang uang karena dengan harga semahal itu bisa dapat banyak barang dengan fungsi sama, tapi harga jauuh di bawahnya. Tapi, kalau nih, berkhayal dulu lah ya sebentar siang bolong gini, kamu punya akses dana tidak terbatas dan semua kebutuhan dasarmu udah terpenuhi, kamu mau nggak ngeluarin uang banyak untuk bawa pulang barang branded?



Tas belasan atau bahkan puluhan juta, sepeda lipat limapuluh juta, sepatu belasan juta, mainan merk paling premium, dan seterusnya dan seterusnya.

Hahaha jangan bilang jiwa misqueenku berontak ya, saldo rekening boleh tipis (yang semoga ga lama-lama dong, segera tebel lagi plis hahaha), tapi jiwa harus tetap kaya dong!

Kalau pas baca tulisan ini kamu merasa "aduh kok di luar jangkauan banget ya barang jutaan gitu" dan kamu nggak relate sama rasanya pakai barang branded, sini kita melipir sama-sama sambil jajan telor gulung mamang pinggir jalan. Kamu nggak sendirian. Mungkin memang nggak suka, atau belum tiba waktunya. Mungkin beberapa tahun lagi ketika keuangan keluarga udah sangat sangat baik, kamu bisa relate sama kondisi di atas. Mau dibantu aamiin? 😝

Nah kali ini aku mau bahas tentang ngajarin anak soal barang branded.

Ehem.

Sebagai ibu, aku tentu pengin Afiqa, Tazara dan adek-adeknya nanti (nantiiiiiii) tumbuh jadi anak yang fleksibel. Nggak norak ketika masuk ke tempat mewah dan melihat barang-barang branded, tapi juga tidak enggan memakai barang non-branded,  nggak memandang orang dengan barang branded lebih superior, tapi juga nggak memandang orang yang barang-barangnya non-branded itu di bawah mereka. Biasa aja gitu. Kalau kata orang Jawa ora nggumunan.

Aku sendiri termasuk nggak paham brand sebenernya. Tapi aku nggak merasa terganggu dengan itu, karena buat aku ya biasa aja. Ketika ada barang jutaan, wah iya bagus memang, kadang pengin punya tapi masih tahap biasa aja. Nggak sampai obsesif harus punya biar terkesan ini itu ini itu. Dan ini pasti ada peran didikan bapak ibukku yang nggak mentingin brand. Karena ya kamu berharap ada brand apa sih di Purworejo, dan bapak ibuk juga guru bukan kalangan jetset.

Makanya ketika suatu hari banggez masuk ke kompleks pertokoan barang branded, sendirian nih aku nggak ikut, dia video call dan nanya ke aku 
"Kamu mau dibeliin apa?" 
Aku langsung jawab "Adanya apa bang? Aku kan nggak paham merk." 
yang ternyata dibalas dengan "Sama hahaha."
Kemudian banggez berkeliling dan kami ketawa-tawa aja ketika tag harga yang ada diconvert ke rupiah. Alhamdulillaah, dikasih suami yang satu frekuensi, sama-sama melihat barang branded sebagai hal yang "bagus iya, mahal iya, tapi biasa aja."


Anak dan Barang Branded

Tahu kan anak itu ibarat spons? Semua diserap tanpa filter. Kalau orangtuanya membuat kesan barang branded itu bagus dan penting maka itu juga yang akan tertanam di alam bawah sadar si anak. Apa contohnya orangtua membuat kesan barang branded itu penting? dengan sering menyebut-nyebutnya, memuji kalau lihat ada orang pakai barang branded. Lama-kelamaan akan tertanam tuh "Iya ya kudu branded, branded itu bagus dan penting."

Yang gawatnya lagi, ketika anak menganggap barang branded itu penting mereka nggak mau memakai barang non-branded. Yaaa kalau orangtuanya terus berkecukupan, kalau tiba-tiba ekonomi susah gimana? Nggak sampai situ aja, ketika anak berbaur dengan lingkungannya trus tiba-tiba dia komentar "Itu nggak asli legonya, aku nggak mau main ah." gimana? Kita nggak mau kan punya anak yang nyebelin? hahaha.

Sebenernya nggak nyebelin sih dalam kerangka pikir anak-anak. Mereka cuma ngomongin apa yang selama ini mereka tangkap, tapi kalau didengar orang lain kan bisa jadi nyebelin. Ya nggaakk?

Lebih jauh lagi, kalau ini terus tertanam sampai mereka besar, ketika melihat orang mereka akan menilai dari penampilan luarnya aja. Ah dia pakai tas murah beli di pasar, ih itu kan sepatunya KW, ih mereka bajunya nggak bermerk males ah. Lalu pandangan kaya gini berlanjut jadi memandang rendah orang lain yang nggak selevel sama standar branded mereka. Coba kutanya sekali lagi, ada nggak yang mau anaknya kaya gini? ups.

Jadi gimana biar anak nggak gampang terpukau sama barang branded?
Satu, jangan bikin kesan barang branded itu penting. Ajak beli fungsi bukan beli merk. Sesekali beliin yang branded ya nggakpapa, tapi nggak perlulah disebut-sebut terus.

Dua, jangan apa-apa beli di mall sama supermarket. Buat kalangan yang nggak terjamin kondisi ekonominya selalu cukup. Ajak anak belanja ke pasar tradisional, ajak beli buku di toko buku pinggir jalan, ajak beli tepung di warung dan minyak di toko grosiran. Biar anak tahu bahwa nggak cuma supermarket dan mall tempat belanja yang ada di dunia. Dan supaya anak nggak norak masuk pasar jinjit jijik karena lantai kotor plus bau campuran sayur, ikan daging dan gilingan kelapa.

Branded stuffs are nice to have, but do not let those things define you.

Jadi gimana, kalau kalian udah cobain cara apa buat membentuk persepsi anak soal barang branded?

Potensi Patuh Seorang Istri

Tuesday, July 16, 2019
Pagi ini sembari makan bakso ramai-ramai, aku, bunda (ketika kusebut bunda berarti itu adalah mertuaku), teteh yang bantu di rumah bunda dan teteh yang bantu di rumahku terlibat pembicaraan hahahihi yang pada akhirnya bikin aku berpikir dalam-dalam.



Apa yang kita cari dari sosok seorang istri? ya atau menantu perempuan.

Sebutlah rupa yang jelita, tapi ini akan habis dikikis oleh waktu. Menyisakan garis-garis bukti kecantikan di masa lalu. Keluarganya yang baik asal-usulnya, hartanya yang banyak atau berpotensi menjadi banyak, agamanya yang baik. Ketika semua hal rasanya sudah sesuai kriteria, ada satu hal yang sering kali luput dipertimbangkan.

Potensi patuh pada suami.

Idealnya, kalau baik agamanya maka ia akan patuh pada suaminya karena wanita ini paham betul bagaimana posisinya dalam rumah tangga. Yang tidak keberatan ketika suaminya ingin ia di rumah, yang seketika patuh saat suaminya melarang memakai parfum di luar rumah, yang bergegas mengambil kerudung saat suami melirik karena ada pak satpam di depan rumah.

"Kalau cari mantu, bunda pengin anak bunda jadi raja di rumahnya. Tentu bukan raja yang otoriter, tapi dia punya kuasa atas rumahnya, istrinya mau patuh apa kata suaminya.", begitu kata bunda tadi pagi.

Always, it's easier said than done. Ada masa-masa menjadikan suami raja itu susahnyaaaa bukan main, karena sebagai perempuan anak pertama yang udah terbukti di berbagai tes kepribadian aku orangnya dominan, rasanya kalau ada yang nggak sesuai sama kriteria aku jadi rungsing aja. Nyuruh suami ini itu supaya sesuai sama mauku. Misalnya minta tolong oles-oles minyak kemiri ke kepala Zara sebagai ikhtiar agar rambutnya tumbuh lebat. Bang Gheza akan jawab oke dengan enteng pada permintaan pertama, tapi setelah lima menit nggak dilaksanakan aku akan nanya lagi, dan okenya berubah nada. Ketika sampai limabelas menit belum juga dilaksanakan, aku berubah jadi nyuruh. Dan suruhan itu adalah kalimat keenam yang bunyinya kurang lebih "Bang adek udah dioles minyak? / bang kasih minyak sekarang / bang adek mau mandi bentar lagi, minyaknya biar meresap sih cepetan dipakein." Permintaan berubah jadi perintah, dan raja mana yang suka diperintah? Eits.

Maka seninya menjadi istri juga meliputi merintah tanpa membuat suami merasa disuruh-suruh. Misalnya ketika bang Gheza main PUBG dan aku akan nanya lima menit sekali "bang lagi apa? / bang masih lama nggak? / bang kok ga mati-mati gamenya?" teruusss sampai berubah jadi "bang udahan dong mainnya, stop sekarang, aku mau ngobrol.", yang ujungnya ya tetep aja nunggu beres satu cycle game sih 😕

Selagi masih proses pencarian, wahai perempuan, carilah laki-laki yang kamu tahu kamu bisa patuh padanya. Berbeda tipe kepribadian bukan masalah asal kita bisa mengukur diri sendiri bahwa kita bisa patuh pada orang tersebut, kaya aku dan bang Gheza misalnya. Aku dominan sedangkan dia kalau di DISC tipenya S dan C, tipe orang yang menghindari konflik dan cenderung nurut dan cari aman.

Kalau udah menikah dan baru tahu kalau ternyata kita sulit nurut dan patuh sama suami gimana? Aku nggak menemukan solusi yang lebih baik selain ngaji, belajar agama. Supaya kita paham posisi dan kedudukan istri di hadapan suaminya.

Pasti bukan tanpa alasan Rasulullah pernah berkata seandainya manusia boleh saling bersujud niscaya para istri akan disuruh sujud di hadapan suaminya.

Memberi Rekomendasi, Perlu Nggak Sih?

Monday, July 15, 2019
Assalamu’alaykum! 🙂



Beberapa hari yang lalu aku buka question box di Instagram untuk ngumpulin data dokter dan bidan yang direkomendasikan menurut netizen buat membantu lahiran VBAC (vaginal birth after caesarean) alias lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar. Tujuannya tentu saja buat membantu ibu-ibu yang pengin VBAC tapi bingung nyari nakes yang bisa dan mau bantu VBAC, karena aku pernah banget bingung nggak tahu harus ke mana, harus ngapain dulu, belajar apa aja, referensinya dari mana. Pengin sih VBAC tapi clueless banget.

Data rekomendasi itu belum jadi aku publish karena ternyata bisa jadi boomerang buat bidan yang bersangkutan. VBAC harus didampingi dsog tapi nyatanya banyak dsog yang nggak mau pasiennya VBAC karena terlalu berisiko. Makanya orang pada lari ke bidan-bidan yang udah berpengalaman bantu VBAC. Nah loh gimana tuh 🤭🤭

Btw, ngomongin rekomendasi nih, aku jadi merenung setelah postingan tentang VBAC tadi aku hold sebagai draft. Rekomendasi. Kenapa ya kita suka memberi rekomendasi?

Polanya begini. Kita melakukan/menggunakan sesuatu 🔜 kita merasa puas 🔜 kita memberi rekomendasi. Tapi kali ini aku hanya akan menyoroti dua hal, menikah dan VBAC.

Pasti kalian familiar dengan konten media sosial pasangan pengantin baru yang memamerkan foto berbau "indahnya menikah, nikmatnya pacaran setelah halal, kenapa nggak dari dulu aja, kalian semua kudu cepet nikah juga.", mungkin nggak persis tapi bernada seperti itu. Seolah-olah mereka adalah duta pernikahan nasional yang tugasnya ngomporin orang-orang supaya cepat menikah. Yang juga mulai bikin males ketika seolah-olah permasalahan orang lain harus diselesaikan dengan solusi mereka, menikah. Ngobrol apa, ujungnya 'makanya nikah', ih nggak asik deh. Hal-hal kaya gini rasanya mustahil dilakukan pasangan yang udah menikah 3 tahun deh, karena setelah 3 tahun itu ada banyak hal terjadi dalam pernikahan, yang belum dialami pasangan pengantin baru. Tentang berkompromi, saling menurunkan standar demi menyesuaikan dengan pasangan, mentoleransi mimpi dan cita-cita, belum lagi drama finansial, pengasuhan dan hubungan sama mertua.

Kehati-hatian serupa yang berusaha aku jaga ketika aku mau share tentang VBAC yang Allah ijinkan berhasil delapan bulan lalu. Satu hal yang aku terus katakan pada diriku sendiri, VBAC itu baik tapi nggak semua orang harus VBAC jadi jangan menyarankan VBAC pada semua ibu yang anak pertamanya caesar. It's personal preference. Tentu aku seneng banget cerita dan berbagi tips VBAC berdasarkan pengalamanku, tapi aku mulai menyadari aku nggak bisa asal ngasih rekomendasi ke orang untuk VBAC karena kondisi aku dan orang lain jelas berbeda. Aku nggak boleh mencoba menyelesaikan masalah orang lain memakai standarku pribadi.

Nggak ada yang salah dengan memberikan rekomendasi. Yang salah itu mengukur hidup dan masalah orang lain memakai standar kita pribadi. Seperti umur 25 harusnya sudah menikah, kalau belum menikah maka kasihan. Padahal orang lain happy-happy aja dan nggak ada masalah apa pun, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Atau, harusnya lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar, nikmatnya beda deh berlipat-lipat kalau lahiran normal. Jika tidak lahiran normal maka kasihan. Hei, orang lain happy-happy aja caesar lagi, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Familiar? Pernah ketemu cerita kaya gitu nggak? Temen yang heboh merekomendasikan suatu hal hanya karena mereka berhasil dan menurut mereka baik. Cerita doong 😁