Angsa Jenius

jika tidak sibuk dengan kebaikan, berarti kita tengah sibuk dalam keburukan, atau minimal kesia-siaan

Potensi Patuh Seorang Istri

Tuesday, July 16, 2019
Pagi ini sembari makan bakso ramai-ramai, aku, bunda (ketika kusebut bunda berarti itu adalah mertuaku), teteh yang bantu di rumah bunda dan teteh yang bantu di rumahku terlibat pembicaraan hahahihi yang pada akhirnya bikin aku berpikir dalam-dalam.



Apa yang kita cari dari sosok seorang istri? ya atau menantu perempuan.

Sebutlah rupa yang jelita, tapi ini akan habis dikikis oleh waktu. Menyisakan garis-garis bukti kecantikan di masa lalu. Keluarganya yang baik asal-usulnya, hartanya yang banyak atau berpotensi menjadi banyak, agamanya yang baik. Ketika semua hal rasanya sudah sesuai kriteria, ada satu hal yang sering kali luput dipertimbangkan.

Potensi patuh pada suami.

Idealnya, kalau baik agamanya maka ia akan patuh pada suaminya karena wanita ini paham betul bagaimana posisinya dalam rumah tangga. Yang tidak keberatan ketika suaminya ingin ia di rumah, yang seketika patuh saat suaminya melarang memakai parfum di luar rumah, yang bergegas mengambil kerudung saat suami melirik karena ada pak satpam di depan rumah.

"Kalau cari mantu, bunda pengin anak bunda jadi raja di rumahnya. Tentu bukan raja yang otoriter, tapi dia punya kuasa atas rumahnya, istrinya mau patuh apa kata suaminya.", begitu kata bunda tadi pagi.

Always, it's easier said than done. Ada masa-masa menjadikan suami raja itu susahnyaaaa bukan main, karena sebagai perempuan anak pertama yang udah terbukti di berbagai tes kepribadian aku orangnya dominan, rasanya kalau ada yang nggak sesuai sama kriteria aku jadi rungsing aja. Nyuruh suami ini itu supaya sesuai sama mauku. Misalnya minta tolong oles-oles minyak kemiri ke kepala Zara sebagai ikhtiar agar rambutnya tumbuh lebat. Bang Gheza akan jawab oke dengan enteng pada permintaan pertama, tapi setelah lima menit nggak dilaksanakan aku akan nanya lagi, dan okenya berubah nada. Ketika sampai limabelas menit belum juga dilaksanakan, aku berubah jadi nyuruh. Dan suruhan itu adalah kalimat keenam yang bunyinya kurang lebih "Bang adek udah dioles minyak? / bang kasih minyak sekarang / bang adek mau mandi bentar lagi, minyaknya biar meresap sih cepetan dipakein." Permintaan berubah jadi perintah, dan raja mana yang suka diperintah? Eits.

Maka seninya menjadi istri juga meliputi merintah tanpa membuat suami merasa disuruh-suruh. Misalnya ketika bang Gheza main PUBG dan aku akan nanya lima menit sekali "bang lagi apa? / bang masih lama nggak? / bang kok ga mati-mati gamenya?" teruusss sampai berubah jadi "bang udahan dong mainnya, stop sekarang, aku mau ngobrol.", yang ujungnya ya tetep aja nunggu beres satu cycle game sih 😕

Selagi masih proses pencarian, wahai perempuan, carilah laki-laki yang kamu tahu kamu bisa patuh padanya. Berbeda tipe kepribadian bukan masalah asal kita bisa mengukur diri sendiri bahwa kita bisa patuh pada orang tersebut, kaya aku dan bang Gheza misalnya. Aku dominan sedangkan dia kalau di DISC tipenya S dan C, tipe orang yang menghindari konflik dan cenderung nurut dan cari aman.

Kalau udah menikah dan baru tahu kalau ternyata kita sulit nurut dan patuh sama suami gimana? Aku nggak menemukan solusi yang lebih baik selain ngaji, belajar agama. Supaya kita paham posisi dan kedudukan istri di hadapan suaminya.

Pasti bukan tanpa alasan Rasulullah pernah berkata seandainya manusia boleh saling bersujud niscaya para istri akan disuruh sujud di hadapan suaminya.

Memberi Rekomendasi, Perlu Nggak Sih?

Monday, July 15, 2019
Assalamu’alaykum! 🙂



Beberapa hari yang lalu aku buka question box di Instagram untuk ngumpulin data dokter dan bidan yang direkomendasikan menurut netizen buat membantu lahiran VBAC (vaginal birth after caesarean) alias lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar. Tujuannya tentu saja buat membantu ibu-ibu yang pengin VBAC tapi bingung nyari nakes yang bisa dan mau bantu VBAC, karena aku pernah banget bingung nggak tahu harus ke mana, harus ngapain dulu, belajar apa aja, referensinya dari mana. Pengin sih VBAC tapi clueless banget.

Data rekomendasi itu belum jadi aku publish karena ternyata bisa jadi boomerang buat bidan yang bersangkutan. VBAC harus didampingi dsog tapi nyatanya banyak dsog yang nggak mau pasiennya VBAC karena terlalu berisiko. Makanya orang pada lari ke bidan-bidan yang udah berpengalaman bantu VBAC. Nah loh gimana tuh 🤭🤭

Btw, ngomongin rekomendasi nih, aku jadi merenung setelah postingan tentang VBAC tadi aku hold sebagai draft. Rekomendasi. Kenapa ya kita suka memberi rekomendasi?

Polanya begini. Kita melakukan/menggunakan sesuatu 🔜 kita merasa puas 🔜 kita memberi rekomendasi. Tapi kali ini aku hanya akan menyoroti dua hal, menikah dan VBAC.

Pasti kalian familiar dengan konten media sosial pasangan pengantin baru yang memamerkan foto berbau "indahnya menikah, nikmatnya pacaran setelah halal, kenapa nggak dari dulu aja, kalian semua kudu cepet nikah juga.", mungkin nggak persis tapi bernada seperti itu. Seolah-olah mereka adalah duta pernikahan nasional yang tugasnya ngomporin orang-orang supaya cepat menikah. Yang juga mulai bikin males ketika seolah-olah permasalahan orang lain harus diselesaikan dengan solusi mereka, menikah. Ngobrol apa, ujungnya 'makanya nikah', ih nggak asik deh. Hal-hal kaya gini rasanya mustahil dilakukan pasangan yang udah menikah 3 tahun deh, karena setelah 3 tahun itu ada banyak hal terjadi dalam pernikahan, yang belum dialami pasangan pengantin baru. Tentang berkompromi, saling menurunkan standar demi menyesuaikan dengan pasangan, mentoleransi mimpi dan cita-cita, belum lagi drama finansial, pengasuhan dan hubungan sama mertua.

Kehati-hatian serupa yang berusaha aku jaga ketika aku mau share tentang VBAC yang Allah ijinkan berhasil delapan bulan lalu. Satu hal yang aku terus katakan pada diriku sendiri, VBAC itu baik tapi nggak semua orang harus VBAC jadi jangan menyarankan VBAC pada semua ibu yang anak pertamanya caesar. It's personal preference. Tentu aku seneng banget cerita dan berbagi tips VBAC berdasarkan pengalamanku, tapi aku mulai menyadari aku nggak bisa asal ngasih rekomendasi ke orang untuk VBAC karena kondisi aku dan orang lain jelas berbeda. Aku nggak boleh mencoba menyelesaikan masalah orang lain memakai standarku pribadi.

Nggak ada yang salah dengan memberikan rekomendasi. Yang salah itu mengukur hidup dan masalah orang lain memakai standar kita pribadi. Seperti umur 25 harusnya sudah menikah, kalau belum menikah maka kasihan. Padahal orang lain happy-happy aja dan nggak ada masalah apa pun, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Atau, harusnya lahiran normal setelah anak sebelumnya caesar, nikmatnya beda deh berlipat-lipat kalau lahiran normal. Jika tidak lahiran normal maka kasihan. Hei, orang lain happy-happy aja caesar lagi, kenapa kita yang menciptakan masalah sendiri?

Familiar? Pernah ketemu cerita kaya gitu nggak? Temen yang heboh merekomendasikan suatu hal hanya karena mereka berhasil dan menurut mereka baik. Cerita doong 😁

Drama Suami Awet Muda

Sunday, July 14, 2019
Assalamu'alaykum! 😁
Apa kabar weekend ini? Udah Juli aja yaaa, 6 bulan lagi udah 2020 loh nggak kerasa kan. Padahal kayanya baru kemaren banget adaptasi sama penulisan tahun 2019. Bulan ini bang Gheza dan Afiqa nambah hitungan usianya. Ulang tahun ya namanya? 😛 Aku nggak mau pake istilah ulang tahun karena keluarga kami nggak merayakan ulang tahun, jadi ngasih hadiah pun ya nggak pakai sebut ulang tahun.

Ngomongin umur niihhh.. bang Gheza tahun ini 29 tapi mukanya oh masih kaya bocah aja 😲 Geng istri-istri yang punya suami baby face mana suaranyaaa? 

Tadi siang ada mas-mas dari yayasan datang ke rumah nganterin surat buat aku, masnya ini memang belum pernah ketemu sama aku jadi dia nggak tahu yang namanya bu Rahma bentuknya kaya apa. Pas banget bang Gheza lagi di teras gendong Tazara sambil nungguin Afiqa main sepeda. Lalu terjadilah percakapan ini:

Mas-mas : Permisi mas, anaknya bu Rahma ya? 
Bang Gheza : Iya mas, bener! *dijawab dengan cepet dan sengaja hahahahuhuhu! mojok ah ngolesin krim anti aging tebel-tebel dulu

Setelah itu, bang Gheza cerita dengan bangga karena dia dikira anak aku, padahal kan emang masnya belum pernah tahu aku udah se-nenek-nenek apa. Eh.

Komplek aku memang rata-rata udah kakek nenek sih jadi ya wajar aja dikira yang namanya bu Rahma juga seperti mayoritas penduduk komplek. Yang kebangetan itu kalau udah ketemu langsung tapi masih ngira aku ibunya dan bang Gheza anak aku 😤😤😤

Tadi aku cerita di instastory tentang mas-mas kurir itu, dan jadi banyak yang curhat. Lucu-lucu banget ternyata drama istri yang suaminya baby face ini. Aku udah sampai kebal tiap ke minimarket aku dipanggil bu sedangkan bang Gheza dipanggil mas. Nggak jarang juga kalau lagi main sama Afiqa, mereka disangka kakak-adik atau ya om sama ponakannya gitu. Ya gimana, pakai bajunya sih kaos-kaos oblong trus celana panjang trus sandal jepit Ando, kan jadi kaya bocah. Mungkin kalau pakai baju koko dan celana kain serta sandal pakde-pakde bisa terlihat beberapa tahun lebih dewasa.


Nih hasil googling pakai keyword sandal laki-laki, aku menemukan beberapa tipe sandal pakde-pakde yaitu yang bertanda kuning. 

Yang paling parah itu aku dikira ibunya bang Gheza 😤💥 Waktu kami masih manten baru, kami ikut ke acara lamaran saudara dan seperti manten baru pada umumnya, kami makan sepiring berdua dan aku disuapin. Aku lupa deh aku dulu lagi riweuh apa emang pengin aja disuapin, pokoknya aku disuapin. Eh dari belakang aku ada budhe-budhe usia 50an gitu kalau dari penampilannya, menyapa dengan kalimat "Anaknya ya bu?" Whaaattttt 😱😱 aku lupa deh jawab apa waktu itu, tapi seingetku aku menjawab dengan damai yang intinya bukan lah nyang boneng, manten baru gini woy!

Kesel yaaa. Aku loh rangkaian skincarenya aja 10 steps, sedangkan bang Gheza cuci muka aja belum tentu sehari sekali, boro-boro dia pakai sunscreen. Tapi bawaan lahir memang ya mau diapain lagi 😜


Bunda mertua aku sampai berpesan dengan serius kaya gini nih "Rahma, abang itu awet muda. Kaya keluarga ayah, kaya ayah juga awet muda kan. Baik-baik Rahma rawat muka ya, jangan sampai nyesel nanti pas udah tua kok kelihatan jauh bedanya. Ya kelihatan lebih tua kita nggakpapa lah sedikit, namanya juga perempuan udah pernah hamil, tapi sedikit aja jangan banyak-banyak bedanya." Hahaha part kelihatan tua kita sedikit nggakpapa kok agak desperate kedengerannya 😭

Tips suami babyface agar tampak lebih dewasa

Cara ini bisa dicoba, perkara hasil semua tergantung kehendak Allah tapi ya coba aja lah dulu. Karena yang udah terlanjur suaminya babyface rada susah kalau mau ngimbangin dengan cara lomba babyface siapa yang menang, maka sekarang kita balik aja caranya. Kita bikin suami lebih dewasa sedikit hahaha.
  1. Suruh numbuhin kumis dan jenggot. Jenggot sunnah ya gaes jadi sekalian berpahala juga kan, kalau kumis sih sesuai selera. Dikit aja lah, nggak perlu tebal sampai kaya tuan Takur. Gimana caranya biar tumbuh? Coba beliin wak doyok atau krim sejenisnya, kalau suami nggak suka oles-oles atau males ya olesin aja pas udah tidur. 
  2. Dibikin buncit sedikit biar kelihatan udah bapak-bapak punya istri, Karena pas perutnya kempes jadi kaya anak sekolahan lagi huhuhu kzl.
  3. Ganti gaya berpakaian biar lebih dewasa, level kedewasaan pakaian silakan menyesuaikan. Mau level sandal pakde-pakde atau cukup kemejaan aja.
Aku udah coba cara pertama, dan nggak ngaruh apa pun tuh wak doyoknya terhadap tumbuhnya jenggot bang Gheza. Kok di iklan bisa sampai lebat banget kaya hutan di musim penghujan ya, di bang Gheza tetep aja jenggotnya sedikit dan jarang-jarang kaya pohon jeruk di kebun, ada jaraknya biar nggak rebutan kompos 😂 Untungnya sekarang bang Gheza udah kelihatan perutnya jadi nggak kaya mahasiswa amat lah gitu. Soalnya pernah waktu udah ada Afiqa, eh ada yang nawarin kenalan gitu dengan maksud membuka biro jodoh. Hmmm dikira suami aku masih single padahal udah punya anak satu. Tapi aku masih aja suka protes sih tiap bang Gheza abis cukur rambut, karena setelah cukur selalu kelihatan lebih muda. Aah! Jadi aku galau gitu antara "wow suamiku ganteng rambutnya begini" dan "tapi kok jadi kelihatan lebih muda, jadi kaya anak SMA lagi" 😤😤

By the way dari cerita-cerita yang masuk ke DM instagram aku, ada juga loh yang pas ngurus nikah ke KUA petugasnya berkali-kali nanya "Bener nih lahiran 93? Kamu anak SMA ya? Banyak sih anak SMA yang aneh-aneh trus ngaku lebih tua." Waw segitunya ya.

Awalnya memang kesel trus sempat nggak pede juga karena hal-hal remeh gitu, komentar orang-orang yang bahkan aku nggak kenal. Aku tua banget apa ya kelihatannya, aku nggak cantik nih, apa bajuku budhe-budhe banget ya gara-gara gamisan. Wah rontok tuh rasa percaya diri yang dibangun dengan susah payah, sekarang aja aku bisa cerita sambil ngakak-ngakak, dulu wah senyum kecut di luar, cemberut-cemberut di kamar. Apalagi ditambah postur yang nggak bisa diubah, ukuran kepala. Kepala bang Gheza tu kecil, kepala aku besar hahaha yang penting nggak besar kepala ya kan. Jadi kalau foto tu bawaannya kudu cari sudut yang paling pas buat menyamarkan kesan aku besar (dan lebih tua).

Beruntungnya, bang Gheza biarpun kelihatannya hahahihi gitu, dia paham bener caranya narik aku dari jurang ketidakpedean. Sampai akhirnya aku bisa menertawakan semua ini 😂

Kalian gimana nih geng istri-istri yang suaminya babyface, ada cerita apa? 

Ternyata Suami Nggak Paham

Sunday, July 07, 2019
Seringkali, hal yang penting menurut kita adalah hal yang tidak penting menurut pasangan kita. Mungkin beda urgensi, tapi yang jelas pasti beda sudut pandang, dan semuanya bisa diselesaikan dengan komunikasi.

Di hari pernikahan kami yang ketiga tahun, 2018 lalu, aku terang-terangan minta dikasih hadiah cincin. Iya terang-terangan, karena bang Gheza nggak mempan dikode-kode 😒 Ternyata, meskipun udah aku bilang dengan jelas tanpa basa-basi pun tetep nggak dikasih pemirsa 😂 Aku sempet baper lah, campur antara kesel, sedih dan bete kenapa kok nggak mau beliin. Beli sendiri bisa, tapi kalau bisa dibeliin ngapain beli sendiri, ya nggak? 😜

Sampai akhirnya tahun berganti. 2019. Dan permintaan hadiah ini mencuat kembali tanpa aku nunggu momen ulang tahun pernikahan karena kok ya lama amat sampe September hahaha nggak sabaran iya memang. Kami memang bukan tipe pasangan yang ngasih-ngasih surprise gitu, karena kalau udah dibeliin trus nggak sesuai selera kan mubadzir ya. Aku pernah soalnya beliin celana rumah dan nggak muat, padahal suami aku kan kuruusss, bisa-bisanya celana yang kubeliin sempit dong.

Balik lagi soal cincin. Permintaan itu kuucap lagi. Bang aku mau dong dibeliin cincin, yang kaya gini modelnya. Mendengar permintaan cincin itu berulang, suami aku akhirnya bilang yang selama ini ada di pikirannya, yang kurang lebih kaya gini:

Buat apa sih cincin? Cincin itu tersier lah, tersier banget. Kalau uangnya udah banyak banget baru deh sana bebelian cincin. Mending juga beli emas logam mulia, kalau harganya sama ya mending beli logam mulia kan. Lebih mahal logam mulia pun masih nggakpapa dibanding beli cincin. Trus cincin tu apa coba fungsinya? Nggak ada kan. Karena cincin itu nggak penting. Nggak ada fungsinya. Aku mending kamu beli baju, sepatu, tas gitu loh kan kelihatan dan jelas dipakai, nggak kaya cincin.

Ooooo....
Ternyata selama ini nggak dibeli-beliin ya karena suami aku nggak paham urgensinya perhiasan buat istrinya 😂 Sebenernya aku bukan tipe toko emas berjalan yang lengkap pakai perhiasan, yang kupakai cuma cincin nikah yang ada ukiran nama GHEZA aja. Dari kinclong mengkilap sampai sekarang udah bulukan. Sekali-kalinya seumur hidup ya ini aku pengin punya cincin baru, tapi maunya dibeliin, nggak mau beli sendiri. Hahaha.

Kalau kupikir lagi, seandainya kesel baper dan sedih karena nggak dikasih-kasih hadiah itu kupelihara, wah kacau sudah kehidupan kami. Karena istri yang kesel baper dan sedih yang dia pikir penyebabnya adalah suaminya, akan enggan terbuka sama suaminya sampai masalah itu terselesaikan. Lama-lama perasaan ini akan numpuk numpuk numpuk lalu DHUER! Meledak. Dan jelas, ibu yang memendam perasaan nggak enak dalam hatinya nggak akan bisa membersamai anaknya dengan bahagia sepenuh hati jiwa dan raga.

Jadi, kalau sekarang kamu masih punya perasaan yang mengganjal, atau ada hal yang ingin kamu utarakan segamblang-gamblangnya ke suami, atau kamu merasa kok suami nggak paham-paham sama maksudmu, coba deh sebelum berlarut-larut, ngobrol. Karena kayanya hampir semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan asal suami istri mau terbuka untuk ngobrol dan diskusi. Dengerin sampai selesai, tumpahin semuanya. Kalau bukan suami yang jadi tempat curhat pertama dan utama, mau siapa lagi coba? Nggak mungkin kan curhat ke temen geng.

Kalau suami nggak mau diajak diskusi gimana? Ah mungkin kamu aja yang belum nemu caranya, pasti mau dan pasti bisa, cuma belum nemu aja metode ngobrol paling efektif buat kalian berdua.

Jadi, udah curhat apa pagi ini sama suami? 😋

Eh btw sampai tulisan ini aku post, cincinnya juga belum dibeliin sih hahaha tapi aku sudah paham apa yang suami aku pikirkan tentang permintaan aku. Mungkin dengan curhat, sampai bagian paling vulnerable dari diri kamu semua kamu tumpahin, masalah nggak langsung terselesaikan, apa yang kamu minta nggak langsung kamu dapat, tapi seenggaknya nggak ada lagi prasangka kenapa suami begini kenapa suami begitu. Karena ternyata suami kita nggak paham apa isi hati istrinya ini 😂

Gelisah

Saturday, June 29, 2019
Ada suatu masa di mana kita berada di persimpangan. Tiba-tiba kita meragukan banyak keputusan yang sudah kita ambil. "Apakah aku melakukan hal yang benar?" karena tiba-tiba konsekuensi dari keputusan tersebut terasa tidak memuaskan.

Ada suatu masa di mana kita hanya menjalankan hal-hal rutin. Tujuan yang pernah kita tetapkan menjadi samar. Tidak ada hal besar yang sedang ingin dicapai, dan kita kembali tidak puas dengan banyak hal dalam rutinitas tersebut.

Lalu hati kita menjadi gelisah. Seketika angan penuh dengan daftar mimpi besar yang ingin kita raih, lalu kita tertidur. Dan di pagi hari, kita bangun dengan pertanyaan besar "Mulai dari mana? Yang mana dulu? Tapi kan ada ini ada itu sehingga nggak bisa ini nggak bisa itu."

Mungkin, kita butuh jeda. Menjauh dari hingar bingar, mengurangi dialog dengan banyak orang dan memperbanyak dialog dengan diri kita sendiri.


Toilet Training Uni (Bonus Printable Alur Pipis)

Tuesday, April 23, 2019

Toilet training.....
Fyuuhhh.. lebih susah daripada sapih dan GTM ya? Sini kita pelukan dulu 😇 Nggak cuma kalian kok, banyak ibu-ibu lain merasakan hal yang sama. Uni, anak pertama aku, sekarang hampir tiga tahun dan belom lama ini bisa kubilang tuntas toilet training. Sebelumnya udah pernah bisa pipis di kamar mandi, tapi karena pergi-pergi terus dan tiap pergi dipakein pospak (popok sekali pakai), jadi mendadak kaya lupa aja gitu anaknya. Ngompolan lagi haaaaaaahhhhh. Dan buruknya, level sabar aku makin tipis dari proses toilet training pertama karena aku merasa "Dih ini anak udah pernah bisa, artinya udah bisa dong. Masalahnya tu cuma MAU atau GAK MAU."

Jadi kali ini aku pengin cerita soal proses toilet training Uni sampai kaya sekarang, bisa minta pipis di kamar mandi walaupun lagi pakai pospak. Semoga jadi penyemangat dan nambah referensi cara toilet training karena dulu aku merasa butuh teman sesama pejuang TT yang ga lulus-lulus, gagal maning gagal maning son, dan aku butuh referensi cerita sukses TT tanpa bikin aku merasa terintimidasi hahaha.

Sebenernya cerita TT ini udah pernah aku bahas di igstory yang judulnya Toilet Training. Cerita di highlight itu keberhasilan TT tahap satu, yang bubar jalan lalu harus kuulangi di TT tahap dua 😭😭 

Melatih anak buang air besar/pup di toilet

Ngelatih pup Uni jauuuh lebih gampang daripada ngelatih pipis di kamar mandi. Sejak umur setahun, Uni udah bisa ngasih tanda-tanda kalau dia mau pup. Yang dulu kubaca, tanda ini berbeda di tiap anak, ada juga yang nggak kelihatan tandanya sehingga orangtuanya sering kecolongan. Tapi kayanya pasti ada deh tandanya, cuma kitanya aja yang kurang observasi dan niteni.

Aku inget banget tiap mau pup Uni selalu berdiri diem sambil lirik-lirik orang di sekitarnya, mungkin berharap ditanya "Kenapa?". Setelah aku hafal tanda-tanda ini, tiap dia diem sambil lirik-lirik, langsung aku angkat ke kamar mandi, dudukin di kloset, tungguin sampai keluar.

Apakah langsung sukses? Jelas enggak. Keluar duluan di pospak atau batal kebelet mah udah makanan sehari-hari. Tapi biarpun udah keluar pupnya duluan, Uni tetap kuangkat ke kamar mandi biar dia familiar dan paham bahwa pup harus di kamar mandi. Pas awal-awal pembiasaan pup di kamar mandi ini, Uni belum bisa ngomong jadi ajakanku panjang lebar cuma dibalas bubbling-bubbling ala anak setahunan aja.

Pernah juga keluar duluan setelah pospak dilepas, sebelum duduk di kloset, kebayang kan? 😂😂😂 Oh trust me, we're in this together strong mamaaaa!

Alat bantu anak buang air besar di toilet

Yang paling berjasa adalah kloset anak, nggak perlu yang mahal-mahal, yang penting membantu bikin anak yakin bahwa duduk di kloset ini aman, dia nggak akan jatuh kecemplung.


Tips: pilih yang ada pegangannya kaya di gambar.
Alhamdulillah, dari umur setahunan itu Uni udah kunyatakan lulus pup di kamar mandi, yeey! 😂

Melatih anak pipis di kamar mandi

Ambil nafas panjaaaaang, hembuskan perlahaan...
Buat aku, ini yang dramanya ngalahin konflik sinetron-sinetron. Soalnya sinetron kita cuma nonton, yang ini mikir sendiri ngalamin sendiri 😜

Awalnya aku pakai cara konvensional, setiap satu jam ajak Uni pipis di kamar mandi. Awal-awal, kuajak pipis bareng biar dia lihat cara dan adab buang air kecil. Lanjut kutatur sejam sekali, kucatet jam pipisnya buat niteni anak ini pola pipisnya kaya apa. Di masa latihan ini, aku pakein training pants biar nggak bocar-bocor ke karpet. Sungguh aku nggak sanggup bayangin pipisnya berceceran kemana-mana, ngepel berkali-kali sehari, karena pada kena ompol. 

Dengan training pants, seenggaknya pipis yang bocor nggak sebanyak kalo pake celana dalam biasa karena ada lapisan handuk dan kaos tebal yang menahan ompol. Tapi kalo pipisnya banyak tentu saja tetep netes saudaraaa. Training pants beneran penyelamatku dari emosi marah-marah karena ompol berceceran, oh thank you dear training pants inventor!


Mahal ya training pants? Oh tenang aku sudah menemukan yang termurah dibanding merk lain. QIANQUHUI training pants, ada di hampir semua marketplace. Harganya kisaran 20an ribu.

Penyelamat selanjutnya adalah printable yang aku laminating dan tempel di pintu kamar mandi. Alur gambarnya aku jelasin berkali-kali ke Uni sampai dia bisa mengulangi cerita yang sama. Sebenernya awalnya suamiku nggak yakin cara ini akan ampuh, tapi semuanya layak dicoba kan demi kelulusan pipis tanpa ngompol? 



Aku juga ngeprint tabel sukses pipis, yang ini dapet dari web lain ya nggak bikin sendiri. Kalau nggak ada stiker, bisa digambar happy face aja pakai spidol.


Satu hal penting yang harus dijaga adalah ekspektasi. Pasti semuanya berekspektasi dilatin TT trus sukses, ya  kan? Kita lupa untuk berekspektasi gagal juga sehingga pas anak ngompol, kita senewen. 

Daan, selamat praktek! Cerita ya di kolom komentar 😊

Menjaga Harga Diri Anak bagian 1

Sunday, April 14, 2019

Aku habis baca instastory Jouska, eh tahu kan Jouska? Itu loh financial adviser yang lagi hits karena konten instagramnya kece dan edukatif banget. Nah tadi dia upload dongeng tentang keuangan keluarga yang tadinya stabil mendadak runtuh gara-gara anaknya yang SMA bermasalah. Dia depresi dan pake narkoba sampai harus pindah sekolah empat kali.



Berat?
Pasti lah! Bahkan sampai ditulis, rasanya kaya pengin punya bayi dan nyusuin lagi aja daripada ngurusin remaja yang bermasalah.

Aku jadi inget kasus yang lagi viral, bullying Audrey. Ngikutin nggak? Aku sih enggak karena aku merasa terlalu banyak drama. Baca, oh cukup tahu sampai sini aja. Nggak kepo lebih lanjut. Nah yang bikin aku tiba-tiba inget kasus ini adalah karena keduanya punya kesamaan, antara dongeng Jouska sama bullying ini.

Sama-sama dilakukan oleh remaja, sama-sama tidak bisa diterima oleh norma dan agama. Kalau udah kejadian gitu, siapa yang jadi punya PR banyak? Ya siapa lagi kalau bukan emak bapaknya.

Tapi, aku sering baca dan ngerasain sendiri, punya bayi itu berat dan kadang ngeluhnyaaaa ngalahin gerbong KRL hahaha. Padahal bayi itu lahir dengan undangan, kita yang ngundang. Lewat doa, lewat ikhtiar. Sebenernya ketika ngeluh gitu bukan berarti nggak bersyukur sih, kadang ngeluh itu buat buang sampah aja. Setelah ngeluh, tahu bahwa ada temen yang mengalami hal sama, rasanya plooong dan bisa langsung on fire menghadapi drama anak bayi dan balita lagi.

Nah yang sering kita lupa, ngurus bayi dan balita ternyata jauuuhhh lebih gampang daripada ngurus anak remaja. Yaiyalah lupa orang anaknya aja baru tiga tahun, jelas belom ngalamin punya anak remaja, gitu kan yaa? Aha, aku bisa baca pikiranmu! hahaha.

Remaja bermasalah itu nggak tiba-tiba bermasalah loh.


Pasti udah ada sebabnya dari berbulan-bulan sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun yang kemudian terakumulasi sampai batas yang nggak bisa kita toleransi. Depresi, narkoba, mem-bully teman contohnya. Sungguh aku ngeri sendiri bayangin sepuluh tahun lagi akan seperti apa lingkungan pergaulan Afiqa, umur-umur mau masuk SMP kalau nggak didampingi dengan benar, nggak diinstal software baik sama orangtuanya, ya lingkungan yang akan melakukan tugas instal software itu. Masalahnya kita nggak bisa menjamin software yang diinstal lingkungan itu sesuai dengan value keluarga kita.

Mulai dari rumah, karena anak yang punya harga diri rendah akan berusaha bikin harga dirinya naik dengan memaki dan merendahkan orang lain. Sepenting apa sih urusan lain sampai kita nggak sempet main dan ngobrol sama anak? Buat kita, main itu sepele tapi buat anak bermain itu dunianya. Masa iya kita nggak mau invest waktu dan perhatian buat hadir sepenuhnya ngajak anak main.

Yuk peluk anak kita, peluk yang kenceng. Jangan gengsi untuk memuji plis, biar mereka nggak cari pujian di luar rumah dari orang-orang yang nggak jelas. Kalau anaknya perempuan, ayahnya jangan gengsi buat obral kata cinta. Biar dia nggak cari pengakuan dari laki-laki lain yang nggak jelas. Aduh ngeri sendiri aku ngetiknya.

Yuk ajak anak kita ngobrol, ngobrol ya bukan dikasih nasihat satu arah. Dengarkan apa perasaannya biar mereka nyaman curhat sama kita. Aku dulu selalu curhat sama ibuk tentang sekolah, temen-temen dan bahkan aku lagi naksir siapa. Setelah kuinget-inget lagi sekarang, kayanya karena ibuk nggak judgemental, ibuk mau mendengar aku cerita sampai selesai bukan menginterupsi di tengah-tengah dengan nasihat dan dalil.

Daripada bayar di belakang, mending bayar di muka. Bersusah-susah dulu sekarang, semoga Allah jaga anak-anak kita dan kita nggak harus berurusan sama kasus-kasus remaja yang bisa bikin cepet ubanan :(

Always, it's always easier said than done.
Tapi hal baik selalu layak diperjuangkan, kan?

-rahmadjati-

Agar Anak Tidak Penakut

Thursday, April 11, 2019

Tahu nggak kenapa anak satu setengah tahun lompat dari kursi tinggi? Atau kenapa mereka suka eksperimen masukin jarinya ke colokan listrik? Atau kenapa mereka mau lihat anjing tetangga yang dikurung dalam pagar dengan tulisan "Awas Anjing Galak" dari dekat? Karena anak-anak nggak kenal rasa takut.

Bayi terlahir hanya dengan dua rasa takut alami. Satu, takut dijatuhkan; dua takut suara keras. Itulah kenapa bayi-bayi nangis ketika mereka ditaruh, merasakan sensasi mau jatuh dan ada suara keras. Tapi, lama-lama mereka tumbuh dari bayi menjadi balita, dan kita kerap menemukan balita punya terlalu banyak rasa takut yang menurut kita nggak perlu. 

Seperti anak dua tahun yang takut naik tangga perosotan, pun setelah dibantu sampai atas, dia juga nggak berani meluncur sampai-sampai orangtuanya harus berbusa-busa "Ayo dong dek merosot nih syuuut kaya teman-teman."

Atau anak tiga tahun yang nggak berani pipis sendiri karena lampu kamar mandi belum nyala, katanya dia takut gelap nanti ada badut.

Kenapa ada anak-anak yang takut pada banyak hal, padahal mereka terlahir tanpa rasa takut alami? Apalagi kalau bukan karena orangtuanya yang menakut-nakuti. Ya cuma kadang-kadang kita tu nggak sadar ajaaa pak buk kalau sedang membangun rasa takut di jiwa anak. Kita beralasan sedang membuat anak awas dan hati-hati, padahal nyatanya......... emang iya?

Awas jangan lompat, keseleo kalau jatuh nanti.
Naiknya jangan tinggi-tinggi ya, ngerii.
Hati-hati gelasnya jatuh, pecah nanti.
Jangan pegang kompor, awas panas! 
dan seterusnya
dan seterusnya

Ya kan, dalam hati kita pasti punya alibi bahwa kalimat itu meluncur demi kebaikan si anak. Padahal, nggak sering semuanya justru membentuk rasa takut dalam diri si anak.

Kita terlalu sering fokus pada the worst possible outcome, kaya manjat maka jatuh, dekat kompor maka kena panas, berenang maka tenggelam, pegang gelas maka jatuh dan pecah; makanya yang keluar dari mulut kita pas mau ngingetin anak ya begitu juga. Padahal, kalau kita fokus pada the best possible outcome, wow perbedaannya luar biasa loh. Manjat tinggi wah berarti harus hati-hati, dekat kompor jadi tahu oh kompor ini ada apinya, api itu panas, semuanya tanpa harus ditakut-takuti dengan kemungkinan terburuk.

Abang nih sering banget ingetin aku untuk jangan banyak melarang dan jangan banyak owas-awas aja. Gara-garanya waktu main di taman, ada anak yang lebih besar dari Afiqa nggak berani main perosotan sampai ayahnya beeeerrrrkali-kali nyuruh dan nyemangatin si anak buat naik. Anaknya ciut aja, nggak mau. Langsung dong abang ngasih kultum selama di perjalanan pulang, jangan sampai kita banyak melarang dan nakut-nakutin trus akhirnya anak-anak jadi kaya gitu.

Oh iya tentu saja pointed cause bahwa si anak yang takut tadi dulunya sering dilarang itu cuma prediksi kami berdua. Hahaha. Ya nggak mungkin juga lah aku tanya "Permisi pak kenapa kok anaknya nggak berani main perosotan? Dulunya sering dilarang ya pak?". Siapa elu, kenal juga kagak!

Tapi bener kan?
Makin besar, makin banyak hal yang kita takutkan. Kita takut ditolak, takut nggak diterima, takut berbeda pendapat, takut nggak kelihatan cantik, takut kalo jerawatan, takut gendut, takut kurus, takut gelap, takut sakit, dan banyaaaaakkkk takut-takut lainnya. Rasa takut ini bukan takut alami, tapi kita bentuk seiring kita bertambah usia.

Buktinya, bayi senang ditatap lekat walaupun hidung mereka meler dan eeknya beleber kemana-mana, plus belom mandi. Orang dewasa? Jerawatan aja banyak yang pake masker karena malu bukan karena biar nggak terpapar debu.

Jadi, gimana biar anak nggak penakut?
Ya jangan ditakut-takuti.

Afiqa kubiarin manjat teralis pintu dan pagar sampai paling atas, sampai aku nggak bisa megangin. Loncat dari kursi tinggi juga sudah mulai kubiarin karena aku tahu dia sudah cukup lincah. Pegang panas juga kubiarin. Pakai gunting tajam juga sudah. Matiin kompor juga semangat tiap dengar ceret bersiul tanda air mendidih. Biar apa? Biar nggak tumbuh jadi anak penakut, toh kalau sakit atau terluka juga dia akan merasakan sendiri.

Pernah nggak jatuh dari teralis? Pernah lah hahaha.
Nangis nggak? Jelas.
Tapi seenggaknya dia belajar sendiri bahwa ada yang namanya risiko, yang bisa terjadi kalau kurang hati-hati. Bukan ciut sendiri karena ditakut-takuti.

Jangan didik anak menjadi penakut, tapi didik mereka menjadi anak yang tahu konsekuensi.

Kalian gimana gaes, ada pengalaman berhadapan sama rasa takut anak nggak? Cerita ya di kolom komentar :D

Anti Ditolak, Seninya Menyuruh Anak: be Playful

Friday, March 29, 2019

Pernah nggak sih, nyuruh anak melakukan sesuatu trus anaknya malah melakukan kebalikannya? Exactly the opposites! Kaya bilang nak sampahnya dibuang ke bak sampah ya, trus sampahnya dilempar tepat di hadapan kita. Atau nyuruh pakai sepatu, tapi anaknya malah lari sambil nyeker. Atau nyuruh ak buat suap makanan tapi anaknya malah tutup mulut lalu ngeloyor pergi.

Kukira kaya gitu cuma ada di cerita, ternyata sekarang aku mengalaminya. Kepedean banget ya kalo berekspektasi everything will go smoothly. Masalahnya memang kita tuh siap sukses tapi nggak siap gagal. Ekspektasi kita cuma yang indah-indah aja, yang jelek-jeleknya blas nggak dipikirin atau diantisipasi.


Nah sekarang aku lagi baca buku yang bagus bangeeettt astagah sebagus itu! Tapi mungkin kalian ada yang ngga sempet baca karena bukunya bahasa Inggris dan 409 halaman gengs, size bukunya A5 ya bukan pocket book kaya Happiness Project gitu. Judulnya How to Talk so Little Kids Will Listen. Pas baca foreword-nya aja aku udah merasa "wow wow wow aku butuh nih, wow aku begini nih" Jadiii, tenang, aku akan bikinin resume (cailah) dan testimoni setelah aku praktekin. Anyway resume chapter satu udah ada ya di highlight instagram aku @rahmadjati yang judulnya How to Talk. 

Kalau chapter satu isinya tentang handle emosi anak, di chapter dua ini yang dibahas adalah gimana nyuruh anak melakukan sesuatu, atau kebalikannya, nyruh anak supaya ngga melakukan sesuatu alias melarang. 

Kalau dipikir-pikir, sehari-hari kita sebagai ibu isinya nyuruh sama melarang anak, ya nggak sih? hahaha. Kenapa kita menyuruh dan melarang? Karena kita bertanggung jawab atas mereka dan kita ingin yang terbaik buat mereka, kita ingin melindungi mereka dari bahaya dan memastikan mereka ngga kurang gizi, stunting, punya gigi bolong, dan lain-lain, bener nggak? 

Kita terus-terusan menyuruh dan melarang, sementara anak terus-terusan disuruh dan dilarang, DAN MEREKA HARUS NURUT. 

Masalahnya adalah, nggak ada orang yang suka disuruh-suruh. Kita aja sering kan mendadak ngga mood ngerjain sesuatu cuma gara-gara ada yang nyuruh? Padahal sebelumnya udah berapi-api. Atau ketika ada tulisan "Jangan Dipegang", pasti ada rasa penasaran aduh kaya apa ya kalau dipegang, atau di buku yang ditempel notes "Jangan Dibuka", wah makin penasaran tuh kita pengin buka dan ngecek ada rahasia apa di dalamnya. Ya kaaaan? Human nature, akui saja. Direct orders provoke direct oppositions.



Perintah kaya apa yang sehari-hari kita ucapkan ratusan kali? Ada banyak jenisnya nih, aku kasih contohnya ya supaya lebih jelas.

Commands
Ambil tasnya.
Jangan berisik ya.
Matikan TVnya nak.
Jangan pegang kompor, itu panas.

Blamming and accusing 
Kalau tadi kamu pelan-pelan ambil gelas kan ngga tumpah ini susunya.

Name calling
Sini bantu ibu beres-beres yuk. Kamu kan yang main, jadi harus bantu bereskan. Jangan malas.
Itu teman kamu mau loh meminjamkan mainan, kamu juga dong pinjemin. Tidak boleh egois.

Warnings
Hati-hati, nanti jatuh!
Nanti sakit loh kalau main hujan-hujanan.
Lihat gelasnya nak nanti pecah.

Sarcasms
Tasnya ketinggalan di lapangan? Baguus.

Rethorical questions
Kenapa kok adiknya dipukul?
Kok bolanya dilempar ke kompor sih, kan ibu baru saja bilang tidak boleh main bola dekat dapur.

Lectures
Tidak boleh merebut. Kamu juga nggak suka kan kalau mainannya direbut teman? Makanya tidak boleh merebut punya teman. Kalau mau pinjam, bilang minta ijin pinjam. Trus tunggu, ya?

Threats
Kalau mainannya tidak dirapikan, nanti ibu buang.
Mau pakai baju nggak? Kalau enggak, ibu mau makan nih, kamu pakai sendiri.

Wow. Rasa-rasanya semua yang kita bilang ke anak salah ya? Hahaha. Sama! Aduh mau tos tapi kok sedih. Jadi semua di atas itu nggak boleh? Ya boleh-boleh aja sih, yang nggak boleh itu kalau nggak shalat. Tapi, judul bukunya kan gimana caranya ngomong sama anak supaya anak mau dengar, jadi kalau ada cara yang lebih baik, tanpa marah-marah dan efektif buat bikin anak mau melakukan sesuatu, ya kenapa masih pakai cara lama. Ya nggak?

Mak, kok contohnya kasar banget sih. Aku kalo ngomong sama anak lembut kok. Coba-coba, lembut itu yang gimana sih? Pakai please gitu ya? Atau kalau bahasa Indonesia ya ditambahin tolong dan ya.
   Ambil tasnya.
   Tolong ambil tasnya ya.
Gitu kan? 

Kalau cara itu berhasil, pakailah. Tapi kalau anak berontak, melakukan kebalikannya, ada tips bagus yang bisa kita pakai nih. By the way aku baru baca sampai tips pertama, jadi aku cuma akan highlight tips pertama ya. Dan yang aku tulis ini juga udah aku praktekin, jadi aku bisa ngasih honest review whether it's a yes or a no go.

BE PLAYFUL

Anak mana yang nggak suka bermain? Anak mana yang nggak suka berimajinasi? Nah jadikan itu celah untuk memberi instruksi. Buat objek berbicara. Misalnya, kita mau menyuruh anak pakai sepatu. Bikinlah suara cempreng sepatu "Aaaa mana kaki Afiqaa, aku kedinginaan, aku mau dipakaiiii.", atau ketika kita menyuruh anak merapikan mainan, buat suara bernada rendah "Hoh hoh hoh aku adalah kotak mainan, kenapa aku kosong? Mana mainanku Afiqaaa.."

Atau buat perlombaan, misalnya "Afiqa, bobok siang yuk. Kita balapan ke kasur tapi lompat-lompat, oke?" atau "Itu ada sampah, aaah ibu duluan nih yang buang sampah nih." sambil lari ke arah sampah. Yang ini sudah aku praktekkan sejak Afiqa 1,5an tahun dan super ampuh memang. Cuma ya kadang aku nggak mood aja ngajak balapan, moodnya nyuruh-nyuruh. Fyuh.

Tapi, cara ini nggak bisa dipakai di semua kondisi. Karena ya kita ngga selalu mood untuk playful. Iya kan? 

Tadi sore, aku cobain cara objek berbicara pas nyuapin Afiqa. Jadi aku pegang sendok, dia pegang garpu buat ayam. "Aku nasiii, mana perut, aku mau ke perut, lewat mana nih? Ooo lewat mulut." dan wow Afiqa mangap lebar, ngunyah cepat. Makanan habis nggak sampai 15 menit, sisa dua suap padahal dia baru aja makan wingko dan popsicle kacang ijo. Dalam kondisi biasa, butuh 30 menit lah minimal, atau yaa habis setengah aja udah syukur kalau baru aja ngemil gitu. Itu pun disambi main atau dia lari-larian, aku harus teriak manggil-manggil supaya dia datang nyamperin sendok. Kali ini dia duduk, full di depan piring tanpa main apapun, apapun gengs, buku pun enggak. Wow. Dan aku nggak perlu nyuruh-nyuruh nih nih mangap aakkk. Wow.


Dan sadly, Afiqa udah nggak mau duduk di highchair hahahaha 😭😭 

Gimana, udah dicoba? Atau udah pernah makai trik playful ini? Cerita ya di kolom komentar 😉







Kisah Cinta yang Tertunda

Monday, February 11, 2019
Hai!
Aku lagi buka-buka draft lama di laptop, dan aku menemukan cerita singkat, not to call it cerpen karena ya gitu doang, dan wow aku blushing bacanya 😂 Membaca cerita orang yang sedang jatuh cinta memang beda ya 😂

***

Dia datang begitu saja dan ingin pergi begitu saja, tanpa tahu betapa sulit menghapus bayangannya di setiap sudut kampus. (Baca selengkapnya di sini)

***

Empat tahun kemudian…
Kampus masih tampak sama sekilas. Pohon-pohon masih tegak di tanah tempatnya menyerap nutrisi, gedung-gedung masih kokoh dan tampan dari kejauhan. Lorong-lorong, yang kata orang seperti lorong rumah sakit, masih sama misteriusnya. Semua masih sama kecuali dua hal, pertama bahwa aku bukan lagi mahasiswa dan kedua adalah bahwa orang-orang berseragam putih biru yang kutemui kini asing. Aku masih dikenal, disapa banyak orang, walaupun dengan sapaan ‘kak’ bukan lagi namaku seperti dulu. Aku tak lagi menemui sebayaku, orang-orang yang bisa dengan bebas kuteriaki dari jarak belasan meter. Aku tak bisa sebebas dulu berjalan berjingkat-jingkat sambil sesekali melompat mencoba meraih kayu-kayu di atap lorong kampus. Saat ini ada predikat yang harus kujaga. Aku adalah dosen muda yang baru diangkat di kampus tempatku mendapatkan gelar sarjana.

Jumat, 23 Desember 2017. Matahari Bandung bersinar terik, menyengat setiap penghuni Bandung pinggiran yang sering disebut Bandung coret. Dayeuhkolot tak terkecuali. Siang ini aku berjalan melewati lapangan futsal. Senyap. Hanya ada beberapa rompi seragam dijemur, didiamkan begitu saja di lantai lapangan yang memantulkan panas terik.

Mataku menoleh ke satu sudut lapangan yang begitu familiar. Ada sesosok bayangan disana, tengah duduk memegang botol minum, menoleh dan tersenyum. Ia mengerjap, bayangan itu hilang dalam kedipan mata. Ini bukan kali pertama. Dulu aku percaya bayangan seperti ini adalah hantu, tapi belakangan aku sadar ini rindu.

Aku terus berjalan, berharap apa yang baru saja kulihat adalah nyata.

Berjalan menyusur lorong sendirian melemparkan ingatanku pada empat tahun lalu. Orang-orang dengan seragam yang sama tapi dengan cerita yang berbeda. Dari ribuan mahasiswa kampus ini, yang tiap hari berseragam putih dengan rok atau celana biru dongker, ada satu orang yang selalu berhasil menangkap mataku. Ada satu orang yang setiap sapaannya ingin aku rekam untuk diputar berulang. Ada satu orang yang hanya dengan senyumnya saja rasanya masalah terselesaikan. Satu orang yang tatapannya saat menyimak cerita seperti memberi solusi.

Ia teringat kutipan Kahlil Gibran dalam bukunya Almustafa, “Dan selalu saja cinta menyadari kedalamannya ketika perpisahan tiba.” Ah… Selalu pula, rindu menemukan pemiliknya ketika jarak menjadi sesuatu yang bisa diukur.

Banyak orang memilih jujur ketika rindu, aku jelas bukan salah satunya. Cukuplah mengirim kode-kode yang hanya kupahami sendiri. Menyapanya dalam dialog dengan Tuhanku.

Ia berakhir di depan gedung tempatnya mengenal laki-laki itu, mahasiswa yang selalu berhasil menangkap matanya. Rindunya menemukan pemiliknya. Rahmad.



Question Mark (?)

Saturday, January 19, 2019
Ada banyak kesempatan dalam hidup, dimana kita mempertanyakan diri kita sendiri. Dan akan ada lebih banyak kesempatan mempertanyakan diri sendiri, jika kita membebani diri dengan pertanyaan orang lain.

Tanda tanya.
Satu karakter yang memberi arti berbeda.

Suamiku bahagia menikah denganku.
Aku memilih cara pengasuhan yang benar.
Aku ibu yang galak dan pemarah.
Memutuskan tidak bekerja di ranah publik adalah keputusan yang tepat.

Suamiku bahagia menikah denganku?
Aku memilih cara pengasuhan yang benar?
Aku ibu yang galak dan pemarah?
Memutuskan tidak bekerja di ranah publik adalah keputusan yang tepat?

Seringkali mempertanyakan diri sendiri memberikan ruang untuk perbaikan, tapi tak jarang ia justru bersifat destruktif bukannya konstruktif. Tanda tanya memberimu kesempatan untuk ragu-ragu namun dalam satu waktu juga memberimu waktu untuk menyusun rencana agar menjadi lebih baik.


Sukses Sapih dalam 3 Hari Tanpa Drama

Sunday, July 01, 2018
Assalamu'alaykum! 😊

Apa kabar selepas Ramadhan? Ibu-ibu yang hamil dan nyusuin sehingga banyak bolongnya, udah pada bayar fidyah kan? Jangan ditunda nanti-nanti, umur orang siapa yang tahu kan. Masa iya mau mati bawa hutang 😓

Kabarkuuu....... em in case you want to ask me back, bahagia! Termasuk bahagia karena akhrinya bisa buka laptop lagi setelah hampir dua bulan dianggurin. Nah kali ini aku bakal cerita tentang salah satu achievement keluarga pak Gheza, yaitu sapih tanpa drama cuma dalam 3 hari. Kalau kamu baru ini baca angsajenius, mungkin kamu penasaran, emang siapa pak Gheza? Ya siapa lagi kalo bukan suami aku 😂



Kapan mulai sapih?

Sebenernya kalo ngikutin kalender Masehi, 2 tahunnya Afiqa itu akhir Juli. Kalo hitungan kalender Hijriah, 2 tahunnya tu akhir Syawal. Nah mempertimbangkan hal itu, mulai Maret aku udah sounding-sounding dengan kalimat ajaib yang nanti aku kasih tahu detailnya di bawah 😉 Trus kapan aku mulai sapih? Minggu terakhir Ramadhan. Soalnya suami aku libur kerja mulai Senin kaya PNS, huahaha enak yaa padahal bukan PNS, dan extend cuti setelah lebaran Kamis-Jumat. Artinya suami aku bakal full di rumah selama dua minggu. DUA MINGGU! Kapan lagi yakan ada libur sepanjang itu, akhirnya aku memutuskan sapih Afiqa akan dimulai ketika ayahnya mulai libur.

Kenapa?
Karena aku butuh bala bantuan buibuuk. Sapih ini bukan cuma tugas ibu, tapi tugas seluruh anggota keluarga untuk mengkondisikan anak lepas mimik ASI. Kalau ternyata Afiqa minta gendong sebelum bobo, ada ayahnya. Kalau dia bangun tengah malem jejeritan, aku bisa bangunin ayahnya buat ikut ngeronda tanpa merasa bersalah karena besok dia kerja 😛 Oiya soal gendong ini aku beneran butuh bantuan ayahnya soalnya aku lagi hamil 4 bulan dan sama dokter masih dilarang gendong-gendong kakaknya.

Nah.. Jadi timing untuk sapih silakan ditentukan sendiri, kapan paling nyaman, biar semua bisa siap-siap. Ibu siap, anak siap, bapaknya juga siap.

Persiapan sapih

Yang pertama harus banget disiapkan adalah mental ibu. Siap mental denger anaknya nangis, siap mental denger anaknya memelas "Buk mimik aja." sambil nahan air mata. Siap untuk nahan emosi kalau anak bangun tengah malem dan ngga tidur-tidur sementara mata kita udah aduhaaai kaya dilem pake alteco lengketnya. Siap kalau anak ngga tidur-tidur sampe malem melebihi jam tidur biasanya. Siap kalau minta makanan tengah malam sementara pantat kita rasanya sudah menyatu dengan kasur! Dan tentu saja, buat yang tinggalnya bareng orangtua atau mertua, kalau ternyata orangtua dan mertua suka komentar, berarti harus siap pasang tameng anti baper denger komentar "Kenapa anaknya nangis terus? Kok jadi cengeng? Kok ini kok itu?!" Hempaskan buuk. Dengar, telan lalu hempaskan. Bilang baik-baik kalau lagi sapih jadi minta pengertian kakek-neneknya untuk sabar-sabar ya denger cucunya nangis.

Kedua, siapkan mental anak. Gengs, ini sungguh berat dan merupakan perubahan drastis bagi anak. Mimik, hal pertama yang dikenali sebelum wajah ibunya, harus direlakan untuk berpisah. Masih inget ngga waktu anak kita baru lahir, dengan matanya yang masih terpejam, kepalanya geleng-geleng mencari sumber ASI dengan mengandalkan indera penciumannya. Selain kebutuhan gizi, mimik itu memberi ketenangan buat anak. Obat stres anti galau paling mujarab buat bayi yang udah menemani selama dua tahun penuh. Bayangkan betapa beratnya hal ini buat anak. 

Jadi, gimana dong caranya menyiapkan mental anak? Sounding. Dari dua bulan sebelumnya bilang bahwa nanti mimiknya berhenti ya, soalnya udah 2 tahun udah besar. Biasanya kalimat ini bakal direspon dengan penolakan atau tangisan, Afiqa sih gitu 😁 Langsung bad mood gitu deh si anak. Tapi jangan berhenti, tetep sounding dan jelaskan alasannya kenapa harus stop mimik ASI.

Ketiga, kesiapan support system. Be it your husband or your family, or the availibility of toddler's favorite snack and drink; semua harus tersedia. Suami harus siap kalau istrinya minta bantuan boboin anak, atau gantian pegang sementara istrinya atur nafas karena hampir habis sumbu kesabarannya. Suami dan semua anggota keluarga yang serumah harus siap kalau anak jadi caper, atau nangis melebihi biasanya. Dan yang ngga kalah penting, cemilan kesukaan si anak harus tersedia, termasuk pengganti ASI, yang sebagian ibu memilih susu formula dan sebagian lain memilih UHT. Jangan sampe out of stock, bisa berguncang nanti dunia 😅

Cara sapih step by step

Btw udah kaya tutorial make up aja ya step by step 😂 Awkay, kita mulai! Ohya, ini adalah cara sapih yang aku lakukan dan alhamdulillah sukses dalam 3 hari Afiqa udah ngga minta mimik sama sekali, ritme tidur juga udah normal dan aku stress-free.
  1. Sounding dari April, berarti sekitar 2 bulan sebelum waktu yang aku tentukan untuk sapih. Kalimat ajaib yang aku pake adalah:
    "Sayang sebentar lagi mimiknya udahan ya berhenti ya.", tapi to be honest aku ngga rajin juga sih sounding, seingetnya aja. Biasanya sebelum tidur, itu pun kalau aku ngga pengin Afiqa bad mood trus nangis ya aku ngga sounding. Karena tiap kubilang gitu, pasti nangis. Pasti bad mood.
    Nah memasuki bulan Ramadhan, sounding makin intens buibuk. Aku lakukan tiap hari dengan parameter yang jelas.
    "Sayang sekarang kan bulan puasa, nah nanti pas puasanya mau selesai, mimiknya udahan ya stop ya. Habis buat Afiqa, udah 2 tahun."
    "Ada, mimik ada."
    "Iya ada tapi jatah Afiqa udah habis, kan sudah 2 tahun. Allah suruh berhenti nak."
    "Aaaaa adaaaaa mau mimik ajaaa!" trus nangis.

    Gimana aku ngga jiper di awal yakan, tiap sounding masih gitu aja responnya 😥 Kadang-kadang kalimatku diiyakan, tapi pas aku clarify lagi dia berubah pikiran dan jawaban. Dari iya mimiknya udahan, ganti jadi mau mimik aja. Meeehhhh.................
  2. Pilih timing yang tepat, Yang suami paling available buat bantu, minimal bantu pijitin kita *loh 😂 Makanya aku ambil waktu pas suami libur lama buat sapih.
  3. Kasih susu pengganti supaya anak kenalan dulu. Aku pake Ultra Mimi, yang setelah aku observasi Afiqa paling doyan rasa stroberi. Jadinya aku nyetok itu aja, ngga galau lagi mau susu apa. Ada yang nyuruh buat naroh susu UHT ke dot, yang aku tolak mentah-mentah. Nanti sukses sapih ibu tapi masih harus sapih dot dong aah ku tak mauuu. Selain itu juga karena aku penganut dot bisa merusak tatanan gigi, dan bikin gigi bolong ngga sih ngedot malem-malem sambil dibawa tidur. Apalagi kan kandungan gulanya banyak ya di sufor sama UHT, dibanding ASI nih. Aaah ku tak mau gigi anakku geripis item-item 😫
  4. Berdoa. Minta Allah bantu, minta Allah kuatkan kita dan anak kita. Ini step yang sering manusia lupa, merasa ah sapih doang maah tinggal cas cis cus go! Ngga perlu doa. Padahal siapa yang ngasih ijin sapihnya sukses? Siapa yang bikin hati anak ikhlas buat lepas dari best friend sejak 2 tahun pertama kehidupannya? Asli deh, step ini semua kurasa ngga akan sukses kalau aja aku skip bagian doa. Jadi, gelar sajadah, angkat tangan menengadah, sambil hati pasrah, doa sama Allah. Doa yang kenceng. Allah dengar semuanya, dan semoga jadi jalan mudahnya proses sapih ini.

    Lalu hari H pun datang.........................
  5. Pas jam bobo biasanya, ajak ke kamar. Jangan skip rutinitas jelang tidur, karena anak butuh sesuatu yang teratur dan predictable. Gosok giginya, tawarkan air putih, dsb. Matikan lampu. Anak pasti minta mimik, ingatkan bahwa hari ini kita mulai sapih ya, jatah mimiknya habis udah 2 tahun. Aku anti bohong sih, makanya kutambah kata jatah. Ya karena ASInya masih ada, cuma jatah anak aja yang habis yakan buibuk. Dan, Afiqa nangis kejer!

    "Enggaaa engga engga, mau mik ajaa!"
    Lalu aku tawarkan, mau gendong apa baca cerita?
    Masih nangis.
    Baca cerita mau? Mau gajah Abrahah apa semut nabi Sulaiman? Dua ini kupilih karena anak aku sukanya cerita binatang. Afiqa pilih gajah. Mulailah aku cerita mengandalkan daya ingat yang pas-pasan, sambil garuk punggungnya. Setelah 3 kali repetisi cerita yang sama, Afiqa bobo. Waw!

    Kenapa cerita? Karena anak nangisnya diem kalau kita cerita bisik-bisik. Kalau digendong, anak masih ada kemungkinan nangis kejer kan, sedangkan kalau aku cerita dia harus diem supaya bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Ohya jangan pake buku dan nyalain lampu ya, makin terang benderang nanti si anak. Cerita aja, salah-salah nggapapa 😂
  6. Hari kedua, dengan tangis yang sama mintanya mimik aja, aku tawarin cerita atau shalawat, Afiqa milih shalawat. Akhirnya aku ulang entah berapa puluh kali shalatullah salamullah 'ala thoha Rasulillah..... sambil garuk punggung dan voila! Anaknya bobo pules.
  7. Hari ketiga, menolak bobo. mau main aja. Tapi karena udah jam bobo maka lampu kumatikan dan tawaran-tawaran bertebaran. Mendadak ada sinden nyanyi taklelo lelo lelo ledhung di kamar kami. Bukan horor! Aku yang jadi sindennya. Awalnya bukan bobo tapi Afiqa malah ikutan nyanyi "iyoo yo dung", tapi lama-lama hilang suaranya. Terpejam matanya.
  8. Tengah malem gimana? Alhamdulillah aman. Kebangun minta mimik tapi pas kuingetin "kan sekarang mimiknya ganti air putih", Afiqa mau minum air putih aja. Boboinnya sekali harus pake cerita, sisanya merem dengan sendirinya.
  9. Lepas 3 hari, Afiqa sama sekali ngga minta atau nyebut mimik. Jam tidur pun kembali normal jam 9an. Ohiya dari bayi banget emang ngga kami biasakan begadang main tengah malam, jadi misal Afiqa masih ngajak main tapi udah jam lewat jam 9, ya aku bawa ke kamar, matiin lampu. Nangis pasti, tapi ini salah satu upaya kami ngajarin disiplin.
  10. Setelah 10an hari aku sama sekali ngga nyebut mimik, iseng lah pas lebaran aku tanya Afiqa mau mimik ngga, dan katanya mau 😂😂 Enak mana mimik sama susu sapi? Pertanyaan ini sengaja naroh susu sapi di belakang karena Afiqa masih cenderung jawab dengan opsi terakhir, misalnya daging apa ikan? ikan. Ikan apa daging? daging. Nah ternyata jawabannya enakan mimik 😂😂 Dijawab sambil senyam-senyum dan pasang pose pura-pura mimik, tanpa nangis. Oh so cute!
Begitu buibuuk, Kemaren banyak yang watsap dan nanya di instagram gimana sapihnya kok bisa tanpa drama sukses cepet gitu, nah itu cara yang aku lakukan. Standar banget kan ngga ada yang spesial, tapi satu kunci yang aku yakin bikin semua lancar dan mudah dan stress free adalah part DOA. 

Tapi kata orang, sapih bakal lebih gampang kalo ibunya hamil. Mungkin bener ya, karena sekarang Afiqa sering bilang mimiknya buat adek. Tapi di masa sounding dan sapih aku ngga nyebut mimiknya mau buat adek sehingga Afiqa harus stop. Aku takut yang ketangkep adalah "gara-gara adek, aku ngga boleh mimik lagi, aku ngga suka sama adek!" makanya aku bener-bener memisahkan perihal punya adek dengan sapih, tapi ternyata anaknya paham sendiri 😆

Sebenernya aku udah nyiapin back up plan sih, kalo ngga sukses WWL aku mau oles daun pepaya diperes trus dioles-oles biar pahit 😅 tapi alhamdulillah cara ekstrim ini ngga harus dipake. Ya apa lagi kalo bukan karena Allah mudahkan.
 
Demikian, selamat memulai sounding dan proses sapih! 😊